
Sekedar info,untuk part Dinda dan Dimas sisa beberapa episode doang ya..Karena kisah Dinda dan Dimas ada di novel kedua aku nanti ya..
Dan...
\**Deg*
*Secepat itukah?Mau bagaimana pun perasaan ku padanya,tapi hati istri mana yang tak sakit bila melihat suami sendiri akan bertunangan dengan wanita lain?Bahkan kita belum berbicara sama sekali bang*.
Air mata Dinda meluncur deras saat melihat ruang tamu sudah berdekorasi indah bertulis nama Arga suaminya dan Mira kekasih suaminya.
Saat Dinda sedang melihat ruang tamu bertepatan Arga dan Mira baru turun dari mobil. Dinda belum menyadari kedatangan sepasang kekasih itu.
Mira yang sudah turun lebih dulu dari mobil menyadari kedatangan Dinda kemudian memanggil nya.
"Dinda.."Panggil Mira.
Dinda dan Arga sama-sama terpaku.Mendengar namanya di panggil ia segera menghapus air mata dengan kasar.Ia menarik nafas dalam-dalam untuk mengendalikan diri.Ia berbalik kearah Arga dan Mira.
Dinda tersenyum terpaksa."Hai mbak.."Sapa Dinda dan beralih melihat Arga masih berdiri terpaku menatap Dinda dengan perasaan bersalah.
"Hai Din,baru pulang?"Tanya Mira menghampiri Dinda masih berdiri di depan pintu.
Dinda tersenyum terpaksa."Iya mbak,mbak sama abang dari mana?"
"Kami dari butik mengambil baju untuk acara tunangan kami besok Din."
Dinda mengangguk dan tatapannya beralih ke arah Arga.Tatapan mereka bertemu.Terlihat jelas tatapan keduanya mengartikan rasa bersalah dan kecewa.
Zaki melihat semua adegan di depan nya hanya acuh walau ada rasa penasaran kenapa penumpang cantik nya menangis.
"Woy Din,jadi kasih makan gak ini?"Tanya Zaki pada Dinda yang masih bertatapan pada suami nya itu.
"Hampir lupa kan kalau kita mau makan.Yauda ke dapur ayo."Ajak Dinda tanpa menoleh kearah suaminya lagi.
Zaki pun masuk dari pintu samping,tinggallah Dinda,Mira,dan Arga.
"Mbak masuk ke kamar ya Din.Capek."
"Mbak tinggal disini?"
"Loh,Arga belum ngabarin kamu?Mbak uda tinggal disini lima hari yang lalu."
Dinda terkejut,sampai hati suami nya melakukan ini padanya.Tapi Dinda terus mencoba mengendalikan diri.
"Ah iya mbak,Dinda belum buka ponsel selama pergi.Yauda mbak istirahat gih."Dinda sudah tak sabar untuk meminta penjelasan pada suami nya.
Setelah Mira masuk dan sudah naik ke lantai atas Dinda menatap Arga suami nya.Cukup lama Dinda melihat suaminya yang tertunduk.
"Ada yang ingin Abang jelaskan sama Dinda?"tanya Dinda pelan penuh kekecewaan.
Dinda tidak marah namun ia kecewa,
ia kecewa kenapa harus sampai meresmikan hubungan dengan wanita lain padahal masih ada dirinya.
__ADS_1
Bukankah Minggu lalu suaminya mengatakan jika tak ingin berpisah padanya?
Jika sudah seperti ini,untuk apa Dinda di pertahankan?
"Maafin abang Din,Abang terpaksa lakukan ini."Sesal Arga begitu tampak dari raut wajah Arga.
Dinda menatap irish mata Arga,ia melihat luka disana,tapi ia tetap tidak membenarkan keputusan suaminya.
"Cukup bang,kita bicarakan lain waktu.Dinda akan pergi lagi.Jangan cari Dinda."
"Kamu mau kemana dek?Kamu baru pulang,kasihan anak kita."Tanya Arga benar-benar khawatir pada kondisi Dinda.
"Jangan pura-pura peduli sama Dinda bang."Jawab Dinda ketus kemudian ia masuk menghampiri Zaki sedang makan di dapur.
Zaki tampak sedang makan sambil bersenda gurau dengan bi Imah.
*Ck..cowok menyebalkan ini cepat sekali akrab*.
Bi Imah mengetahui Dinda datang langsung membungkuk hormat pada Dinda.Zaki melihat bi Imah membungkuk hormat menolah ke arah pandang bi Imah.
Zaki berdecak kesal ternyata Dinda lah orang yang di maksud bi Imah.
"Ck.. Ternyata lo cewek bunting yang di segani di rumah segede ini."
*Kan..itu mulut gak bisa baik kalau ngomong,sangat menyebalkan*.
"Diam gak lo bang,gue mau pergi.Cepetan dikit makan nya.Lambat."Dinda berbicara gak kalah ketus pada Zaki.
"Lo gak makan?dari tadi lo gak ada makan Cebun?"
"Cerbun apaan?"Ia penasaran akhirnya bertanya juga.
"Cewek Bunting.Ayelah begitu doang gak ngerti.Makan dulu gih."
"Gue uda gak napsu.Sumpek rame banget."
"Boleh gak \*\*\*\*\* tapi harus inget anak lo lo juga."Tumben perhatian Zaki.
"Uda gak usah perhatian gitu,jijik gue.Cepat anterin."
Bi Imah bingung dengan sikap Nyonya kecilnya. Tumben sekali Nyonya Dinda berbicara pada orang lain begitu kasar.Padahal orang tersebut lebih tua dari Nyonya Dinda.Biasanya Nyonya nya ini begitu lembut dan menghormati yang lebih tua.Terbukti bagaimana cara Nyonya nya memperlakukan para pelayan.
"Nyonya.."Panggil Bi Imah pelan.
"Iya Bi.."Sahut Dinda.Ia sudah pasrah dengan panggilan yang memang seharusnya seperti itulah panggilan nya di rumah.
"Nyonya sehat?"Tanya bi Imah hati-hati.
Dinda bingung dengan pertanyaan dari pelayan satu ini.Apa ia terlihat sakit saat ini? Dinda pun mengambil ponsel lalu membuka kamera, Di lihat wajah nya tampak pucat atau tidak.
"Gak pucat,hanya sedikit lapar,tentu sangat sehat bi,emang nya kenapa?"
"Maaf Nya,tumben Nyonya ngomong kasar dengan Den Zaki padahal kakak tingkat Nyonya."
__ADS_1
Bi Imah mengetahui hal itu karena Zaki memberitahukan bahwa dia kakak tingkat Dinda berprofesi sebagai sopir *travel* yang di sewa Dinda.
Ah Dinda baru menyadari benar di katakan bisa Imah,Tapi ia begitu juga karena kakak tingkat nya sangat menyebalkan.
"Biarkan saja Bi..Hanya dia saja yang Dinda kasarin kalau bicara." Jawab Dinda dengan cemberut.
"Lihat lah Bi Imah,majikan bibi ini persis bebek jika seperti itu."Ejek Zaki karena merasa lucu dengan wajah Dinda bibir cemberut begitu.
"Kok bebek Den?"Tanya bi Imah bingung.
"Lihat lah Bi,perut buncit, pan tat tonggek, dan lihat bibir nya cemberut panjang ke depan persisi mulut bebek."
Zaki tertawa terbahak-bahak atas ejekan nya untuk Dinda, Bi Imah hanya menggeleng kan kepala tentu ia juga merasa lucu,namun ia tak seberani Zaki menertawai Nyonya nya. Sedangkan Dinda sudah emosi,sebal,dan sedih menjadi satu.
"Kenapa kau menyebalkan sekali sih Zaki sopir *travel* gilaaa.."Dinda geram lantas memukul bahu Zaki dari belakang.
Zaki masih tertawa terbahak-bahak dengan pukulan Dinda yang tidak terasa sama sekali untuknya.
Di tengah perdebatan keduanya,Arga memperhatikan dari ruang tamu.
"Maafin abang dek,andai kamu tahu bila hati abang sudah mencintai mu.Abang cemburu dek."Ucap Arga masih melihat istrinya bersama laki-laki lain.
Di dapur Dinda masih cemberut jengkel dengan Zaki yang notabene orang baru di kenal nya tapi bisa mengejeknya sampai di tertawa kan seperti itu.
Zaki tentu berani mengejek Dinda karena yang diketahuinya suami Dinda tidak berada di dekat Dinda yaitu Dimas.
"Baiklah ayo ku antar sekarang."
"Terimakasih makan siang nya Bi."Sambung nya lagi.
"Ayo,Bayar gak ni?"
"Bayarlah."Jawab Zaki enteng.
"Kenapa lo perhitungan sekali sih?"Tanya Dinda sangat jengkel pada Zaki.
"Lo lupa kalau gue sopir *travel*?"
"Ah ya gue lupa."
Saat Dinda dan Zaki sampai di ruang tamu, Sisa melihat Arga yang sedang melihat ke arah nya juga.Dinda menghampiri Arga diikuti Zaki di belakang Dinda.
"Bang,minta duit."Dinda menengadah tangan nya ke depan Arga.Dinda memulai peran nya sebagai adik angkat.
Arga masih terdiam menatap istrinya,ada rasa ingin memeluk dengan erat.Ia sangat rindu tidak bertemu dengan istrinya selama seminggu tanpa kabar.Terlebih anak dalam kandungan istrinya.
"Bang kok ngelamun?gak mau ngasih ni?"Tanya Dinda membuyarkan lamunan Arga.
Dan..
🌸
🌸
__ADS_1
*Sambung di episode selanjutnya ya*..