
"Adapun sambutan yang pertama akan di sampaikan oleh Tuan Toni Sanjaya sebagai pemilik Sanjaya Hotel. Waktu dan tempat kami persilahkan."
Toni merasa namanya di panggil segera memasukkan ponsel ke kantong celana kemudian beranjak melangkah maju ke panggung. Saat ini Toni menggunakan slim jas warna hitam dengan kemeja putih sebagai dalaman.
"Selamat malam dan salam berbahagia untuk kita semua. Yang terhormat Ketua panitia beserta anggota panitia. Yang saya sayangi adik-adik alumni SMA NUSA INDAH dan yang paling saya cintai istri saya yang sedang sibuk dengan sahabatnya hingga saya di biarkan duduk sendiri." Sindir Toni pada Dinda.
Seketika Dinda diam mematung saat mendengar sindiran Toni.Ia pun langsung menghadap ke depan melihat Toni dengan senyum canggung.
Di ruangan tersebut menjadi riuh penasaran siapa istri seorang Bule kaya di depan sana.
"Fine. Istri saya sudah fokus ke arah saya sekarang." Ucap Toni tetap pandangan lurus ke depan.
"Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmat-Nya lah kita masih bisa berkumpul bersama dalam acara ini dalam keadaan sehat dan tidak kurang satu apa pun."
"Adik-adik, saya hanya berpesan rajinlah belajar jangan pernah menyerah menggapai impian. Jangan pernah putus asa atas kegagalan. Jadikan kegagalan sebagai pengalaman untuk lebih semangat lagi. Dan saya sedang senang hati menerima kalian di Perusahaan saya sesuai kriteria yang kami butuhkan."
"Terimakasih dan Selamat malam." Toni akan melangkah kembali namun di cegah oleh Kiki sebagai MC.
"Sebentar Tuan Toni. Karena acara kita adalah acara semi formal jadi kami pihak panitia membuat peraturan untuk para nama yang di panggil akan di beri pertanyaan minimal 3 pertanyaan dan maksimal 5 pertanyaan dan harus jawab jujur."
Toni hanya mengangguk tanda setuju.
"Baiklah.. Pertanyaan pertama. Apakah Tuan mencintai istri anda?"
"Sangat." Jawab Toni singkat,padat,dan jelas seraya menatap Dinda juga menatapnya.
"Oke. Kedua. Hal apa yang sangat berharga di hidup anda?"
"Istri dan anak saya." Jawab Toni.
"Wow.. Sepertinya Tuan Toni sangat mencintai istrinya. Kita lanjut ya.. Pertanyaan ketiga. Apa yang anda sukai dan tidak anda sukai dari istri anda?"
Toni menatap Dinda dengan lekat dari depan panggung. " Semua hal tentang istri saya semua saya suka. Kesederhanaan, keceriaan, kemanjaan nya, kecerobohan, kebiasaan tidak mendengar kan larangan saya, bahkan kemarahan istri saya juga suka."
Dinda mendengar jawaban Toni tersenyum. Bahagia? tentu Dinda sangat bahagia.
"Waahh saya semakin ingin tahu wanita mana yang memiliki Tuan. Baiklah. Anda tadi mengatakan jika istri anda ada disini. Setelah saya amati, tamu disini hanya para alumni SMA NUSA INDAH. Itu berarti istri anda ada di antara kami. Dimana orang nya yang beruntung menjadi istri anda Tuan?"
"Dia duduk tidak jauh dari tempat duduk saya."
"Yaaahh Tuan Toni gak mau ngasih tahu woy.. Baiklah pertanyaan yang terakhir. Hal apa yang anda takuti dalam hidup anda?"
Toni masih terdiam seolah berpikir apa yang paling ia takuti dalam hidupnya.
__ADS_1
"Yang paling saya takuti di hidup saya adalah jika istri saya pergi meninggalkan saya sendiri. Istriku..Maaf sering membuatmu menangis, Maaf telah menyakiti mu." Toni melangkah kembali ke tempat duduk semula.
Jawaban Toni membuat seisi ruangan bertepuk tangan bangga. Mereka takjub dengan cinta Toni.
Dinda sudah menangis haru mendengar semua jawaban Toni tentang dirinya. Ia berdiri seketika hal itu menjadi pusat perhatian karena yang lain sedang duduk.
Dinda melangkah maju ke meja terdepan dimana Toni duduk santai seolah bukan dia yang menjadi pusat perhatian.
Kini Dinda berdiri di depan Toni yang sudah berdiri kembali saat melihat Dinda berada di depan nya. "Terimakasih kak. I love you more." Ia memeluk erat suaminya dengan tangis haru.
"I love you too."
"Aahhh so sweet nya... Gue juga pengen di peluk." Celetuk Kiki melihat adegan romantis tersebut.
Para alumni bertepuk tangan untuk Dinda dan Toni. Kini Dinda menjadi terkenal wow alumni SMA NUSA INDAH. Bukan lagi Dinda anak kelas pojokan.
Ehem...
Kikir berdehem untuk menetralkan keadaan riuh tersebut. "Udah ya ke uwuan nya kak Dinda.. kita lanjut acara udah bisa kan?"
Dinda tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia duduk di sebelah Toni dengan tangan saling menggenggam. Menjadi kebiasaan Toni jika duduk sambil memangku tangan Dinda pasti selalu mencium punggung tangan Dinda berkali-kali walau mata Toni tengah fokus ke lain hal.
"Oke gaes.. Skip adegan keuwuan kak Dinda ya.. Kita lanjut lagi kata sambutan dari salah satu most wanted di sekolah kita.. Abang Rendi ketua OSIS kita.. Waktu dan tempat kami persilahkan dan siap-siap menjawab pertanyaan dari kita."
Terdengar suara tawa di ruangan itu.
Dinda memperhatikan Rendi tengah berbicara santai. Ia mengagumi sosok Rendi karena dia adalah sosok yang ramah pada sesama, perduli, Rendi bukan tipe dingin,kaku, dan datar seperti suaminya.
"Kakak tidak suka cara melihat kamu ke dia." bisik Toni.
Glek..
Susah payah Dinda menelan saliva. Ia lupa jika di sebelahnya adalah suami pencemburu nya.
Dinda hanya tersenyum canggung.
"Oke baiklah.. Sudah waktunya menjawab pertanyaan ya.. Siap kan bang?" Tanya Kiki melalui microfon.
"Siap."
"Yeee... Kesempatan aku ini woy.. Bang aku fans mu loh..." Gurau Kiki.
"Huuu ingat pacar woy.." Celetuk salah satu alumni.
__ADS_1
"Iya loh... Oke ya bang.. Kelas berapa abang udah pacaran?"
Rendi tersenyum. "Kelas XI."
"Sama dong. Jangan-jangan kita jodoh." Gurau Kiki lagi.
Terdengar sorak-sorai yang di tujukan untuk Kiki. Begitu juga Dinda ikut bersorak-sorai. Itu tidak luput dari pandangan suaminya.
"Jangan protes ya woy.. Inilah keuntungan jadi MC acara semi final." Canda Kiki lagi.
"Pertanyaan kedua. Pernah cium an bibir kah?"
Rendi tampak tersenyum. "Pernah."
"Aigo... Pengen di cium juga."
Ruangan kembali riuh sebab ulah Kiki. Dia memang terkenal centil di NUSA INDAH.
"Baiklah.. Aku serius sekarang. Puas kalian? Pertanyaan ketiga ya bang.. Pernah lebih dari cium an gak bang?"
"Belum kalau saat ini." Rendi tersenyum.
"Uuhh makin greget deh sama abang.. Lanjut ya.. Keempat. Abang udah punya pacar belum?"
"Saat ini single."
"Daebak... Kelima ya bang. Mau gak jadi pacar aku?"
"Huuuhh... dasar."
"Ck... cari kesempatan."
Rendi tersenyum kemudian berdehem untuk menjawab pertanyaan konyol Kikir. "Emang kamu mau sama abang? Selamat malam dan terimakasih semua." Rendi berlalu tanpa menjawab pertanyaan Kiki.Penolakan secara halus gaes.
"Yaaahh abang ketua OSIS gak mau sama aku. Baiklah.. Kita lanjut kata sambutan dari most wanted kita. Tertampan di NUSA INDAH. Serkan Dimas Dinata waktu dan tempat kami persilahkan."
Dinda mendengar nama Dimas disebut mendadak ketakutan. Ia takut di lihat Dimas. Ia takut ketahuan datang bersama Toni. Dan ia takut Dimas mengetahui jika Dinda dan Toni adalah pasangan suami istri. Tapi mengapa harus takut? apa di hatinya masih ada nama Dimas? pikir Dinda.
"Sayang sekali.. Dimas gak hadir gaes.. Tapi ada berita bahagia dari Dimas dan Bella sahabat ku yang sudah bertunangan. Maaf Bella.. aku gak bisa datang di acara pertunangan mu 5 bulan lalu."
Deg
🌸
__ADS_1
🌸