
"Lo ngapain disitu aja sih Yo, kata Lo kebelet."Dimas berbicara dan menoleh kearah Asisten pribadi nya itu.
Dimas mengikuti arah pandangan mata Rio yang masih mematung di tempat tadi.
*Deg
Deg*
*Dinda...
Dimas*...
Jantung ku..ini kenapa sih?selalu saja didekat Dimas seperti ini,apa aku punya sakit jantung ya?jangan Tuhan..aku tak lama lagi melahirkan..aku tak mau anakku punya ibu penyakitan.Tapi sepertinya harus diperiksakan.
Rio melihat kedua orang di depan nya masih diam mematung lantas berdehem agar membuyarkan lamunan keduanya.
Eheemm...
Dan benar,keduanya tampak kikuk.Keduanya tampak canggung dan sama-sama tersenyum yang dipaksakan.
Rio terkekeh melihat keduanya,ia menyadari tatapan Dinda terhadap Dimas itu sama dengan tatapan Dimas.Ada kerinduan tersirat dimata keduanya.Dan Rio juga tahu,Dinda menciptakan jarak agar perasaannya tidak lepas kendali karena waktu dan keadaan tidak menyatukan mereka.
"Dim.."
"Din.."
Keduanya kembali terdiam setelah memanggil secara bersamaan.
"Kamu dahulu berbicara Din."Sambung Dimas.
"Kamu saja Dim."tolak Dinda.
Mereka masih saling memandang seakan mata sudah berbicara disana.
"Oke aku bicara."sambung Dinda lagi.
"Bicaralah."jawab Dimas masih memandangi wajah Dinda nya.
"Kau ini sudah berbohong padaku Dimas..'Kan sudah kukatakan jangan kembali kenapa datang lagi huhh? minta ku hajar kau ya?"Dinda mengomeli Dimas karena Dimas pulang ke Medan,dan Dinda mengomeli memakai logat orang Medan.
"Ck..kenapa ngomel sih Din..Aku merindukan mu setiap saat.Setelah bertemu dapat omelanmu ini."
"Kan sudah kubilang,jangan merindukan aku, cari pacar disana agar bisa melupakan ku."Masih dengan Omelan walau sebenarnya hatinya berbunga-bunga mendengarkan ucapan Dimas.
"Aku tidak mau punya pacar, langsung istri saja."Dimas memang memantapkan hati untuk terus menunggu Dinda.Walau tidak tahu sampai kapan penantian nya.Tapi yang pasti ia akan menikah jika itu dengan Dinda bila tidak,maka ia tak akan menikah.
Namun Dinda salah mengartikan,ia berpikir jika Dimas sudah tidak memiliki perasaan lagi dengan nya dan sudah memiliki pengganti dirinya dihati Dimas.
Kenapa sesakit ini mendengarkan perkataan Dimas?Bahkan sakit ini sangat berbeda saat tidak bertemu dengan Toni sipengawal itu.Tapi bukankah itu bagus?itu berarti dia akan bahagia.
Dimas melihat perubahan wajah Dinda nya.Ia menggenggam erat tangannya.Sesekali ia kecup dengan sayang punggung tangan Dinda nya.
"Aku akan menunggumu Din.."
Dinda mengernyitkan dahi menatap Dimas bingung.
"Menunggu?"
"Ya aku akan menunggumu sampai kapanpun."
"Ck..kau bilang menunggu tapi tadi kau bilang akan menikah.Pandai sekali lidahmu berbohong."Dinda mulai mengomel dengan logat orang Batak lagi.
Dimas tersenyum menyadari omelan Dinda ini menunjukkan kecemburuan.
"Kamu Cemburu sayang?"
"Percaya diri sekali anda Tuan."elak Dinda.
"Akui saja...Aku mendengarkan semua pembicaraan mu pada sahabatmu itu."Dimas tersenyum kemenangan, akhirnya ia tahu isi hati Dinda.
__ADS_1
"Kamu salah dengar Dim."Elak Dinda memalingkan wajah yang sudah memerah bak tomat ke sembarang arah menahan malu karena ketahuan mengakui perasaan pada sahabatnya tadi.
Ibu...telan Dinda sekarang ibu..Dinda malu..
Rio yang sedari tadi memperhatikan keduanya saling berdebat hanya geleng-geleng kepala. Aku tahu jika kamu juga merindukan dan memiliki perasaan yang sama dengan Dimas.Tapi kamu sadar dengan keadaan Din. semoga kalian bahagia.
Dimas tidak menjawab,ia menatap lekat manik mata Dinda sehingga Dinda salah tingkah dan membuat jantung Dinda semakin berdetak keras membuat sesak di dada.
Jantungku..dekat dengan Dimas sangat menggangu kesehatan jantung ku..
"Kenapa kamu sendiri Dinda?"Dimas masih menatap kedua bola mata Dinda.
"Emm itu karena aku sendirianlah apa lagi."
"Dimana suami dan pengawal tua mu itu?"tanya Dimas ketus.
"Ya mereka di Medan lah."Jawab Dinda tak kalah ketus dengan Dimas.
"Bagaimana bisa mereka membiarkan mu sendirian liburan dalam keadaan hamil seperti ini?Apa mereka tidak takut terjadi sesuatu pada mu huhh? Kalau terjadi sesuatu padamu bagaimana? bagaimana jika terjadi sesuatu pada bayimu?"Tanya Dimas bertubi-tubi dengan sedikit menaikan suaranya.
Dinda senang diperhatikan seperti ini.
"Aku hanya ingin liburan Dim, tentu mereka khawatir.Hanya saja aku tidak ingin di ganggu untuk beberapa hari."
"Apa kamu kabur Din?Apa mereka menyakiti mu Dinda?"
"Ti-tidak Dim,mereka baik.Hanya saja aku ingin menenangkan pikiran ku saja."
"Tapi tidak begini juga dong Din, harus sendiri liburan disini dalam keadaan hamil itu sangat berbahaya.Pokoknya selama disini kamu harus dalam pengawasan ku,kamu gak boleh pergi kemana-mana tanpa aku."
"Kenapa kamu sangat posesif sih.."
"Biarin,calon istri juga."
"Calon istri endas mu,aku istri orang kalau kamu lupa."
Hening..
Dinda tidak menjawab, bagaimana bisa ia menjawab jika Dimas berbicara itu,ia bahagia atas apa yang dikatakan Dimas,tapi sekali lagi ia menyadari bahwa takdirnya saat ini tidak akan mewujudkan keinginan Dimas.Entahlah.. seakan takdir sedang bermain-main untuk keduanya.
"Dim.."Panggil Dinda dan meraih tangan Dimas digenggam erat olehnya.
"Ya Din.."Jawab Dimas penuh kelembutan.
"Dengarkan aku,Kamu harus melupakan aku."
"Jangan meminta itu Dinda..aku sudah menuruti keinginan mu untuk meninggalkan kota Medan demi kebahagiaan mu,jadi biarkan aku untuk terus mencintaimu dan menunggumu."
"Dimas..kamu pantas bahagia bersama yang lain.Aku gak mau kamu menunggu ku."
"Enggak,aku akan menikahimu suatu saat nanti dan saat itu tiba kamu gak boleh menolak ku lagi."
"Aku bisa saja menerimamu jika waktu itu tiba,tapi sebelum waktu itu tiba,apakah cintamu akan tetap seperti ini?"
"Tentu,akan ku pastikan cintaku hanya milikmu."
"Jangan katakan seperti itu,waktu juga bisa menghapus cintamu."
"Tidak akan Dinda.."
"Kita tidak ada yang tahu Dimas.."
"Kalian ini,kenapa sama-sama keras kepala sih.."Rio menyela pembicaraan kedua orang di depannya karena merasa jengkel dengan perdebatan yang keduanya ciptakan.
Dimas dan Dinda menoleh kearah suara tersebut.Dinda hanya tersenyum menanggapi perkataan Rio, begitupun Dimas. Dimas dan Dinda membenarkan perkataan Rio.
"Oke baiklah aku mengalah Dim.. Tapi dengarkan aku oke.."
"Oke."
__ADS_1
"Jika suatu saat waktu,keadaan,dan semesta mendukung tekad mu untuk menikahiku,tolong pikirkan sekali lagi.Yakinkah perasaanmu untukku?Pantaskah aku untukmu?Siapkah kamu menerima segala keadaanku,masalalu ku? Dan kamu harus memikirkan terimakah kamu dengan kehadiran anakku? Mampukah kamu menjadi pelindung kami kelak? Semua harus kamu pikirkan matang-matang saat itu tiba Dim.."Dinda menjelaskan penuh kasih sayang kepada Dimas dan bermaksud agar Dimas ragu akan tekadnya.
"Aku tahu Din,pasti aku akan memikirkan itu semua,Tapi tetap akhirnya aku akan menikahi mu.Aku tidak mempermasalahkan ada anakmu Din,Anakmu juga akan menjadi anakku bukan?"
Mendengar jawaban Dimas membuat ia kesal karena ia ingin Dimas ragu akan cinta untuknya.
"Kau ini membuatku kesal Dim,Aku ingin kau melupakan aku bukan terus mencintaiku.'Lagi dan lagi Dinda mengomel dengan logat bahasa orang Medan.
"Tapi aku mencintaimu Din."
"Bagaimana bisa kamu mencintaiku Dim,bahkan kita jarang sekali berinteraksi di sekolah,diluar sekolah bahkan hanya membayar susu dan es krim ku di meja kasih minimarket mu.Lalu apa yang membuatmu mencintaiku?"
"Din,aku mencintai mu tanpa alasan.Jika seseorang mencintai dengan satu alasan maka akan memiliki dua alasan untuk tidak mencintai lagi."
Dinda kagum mendengarkan kata-kata Dimas, ia tidak pernah merasa begitu dicintai seseorang sedalam ini.Pantaskah ia dicintai pria di depannya ini? ia merasa tidak pantas untuk pria di depannya ini.
"Baiklah,tapi ingat perkataan ku tadi Dim, pertimbangkan segala hal oke?"
"Baiklah."
"Dan mulai sekarang ingat,kamu harus bekerja keras kumpulkan uang banyak-banyak."
"Ck.. uang ku sudah banyak Dinda..Bila perlu kau yang menyimpan Kartu-kartu sakti ku ini."
"Eehhh untuk apa?"
"Sebagai DP."jawab Dimas asal.
"Kau kira aku barang kreditan apa huhh?"Dinda menatap tajam kearah Dimas namun Dimas tersenyum dengan wajah tak bersalahnya.
"Enggak Din,kenapa kamu jadi cerewet sekali sih?"
"Uda tahu cerewet masih aja dicintai."
"Tentu,cerewet mu ini hal yang ku rindukan."
Lagi..Dinda merasa tersanjung dengan perkataan Dimas.
"Gombal.."
"Aku serius Din,semua hal tentangmu ku rindukan.Dan rindu itu menjadi penguat atas cintaku."
"Baiklah..Mulai sekarang selain memperkaya diri,kamu harus semangat jalani hari disana,aku gak mau kamu galau-galau disana,kamu jaga kesehatan,jangan merokok,belajar yang benar."
Dimas tersenyum menatap mata Dinda yang juga sedang menatapnya. ia tidak menyangka kepulangan nya untuk memeriksa minimarketya sedang ada masalah di daerah Parapat ini mempertemukan Dinda nya disini.Ia tidak akan menyia-nyiakan waktunya selama berada disini dengan Dinda.
Dimas..kenapa dirimu semakin tampan saja sih?pasti banyak wanita disana mengejar mu,tapi kenapa harus aku? wanita dengan segudang masalalu kelam bahkan aku masih istri orang.Salahkah aku berbicara seperti itu? seakan aku memberi harapan untukmu.
"Iya aku janji Din,tapi ingat..saat tiba waktu itu kamu tidak akan menolakku lagi."
"Iya..apa kamu lupa jika aku pernah berjanji untuk menerima mu walau aku belum mencintaimu?"
"Aku sangat ingat."
Rio sedari tadi menjadi penonton mulai sebal karena jiwa jomblo mulai meronta-ronta.Ia pun angkat bicara.
"Sudah selesai kangen-kangenan nya Tuan? ini sudah hampir tengah malam, tidak baik untuk Nyonya yang sedang hamil."
Dimas dan Dinda melihat wajah masam Rio terkekeh karena mereka lupa ada Rio bersama mereka.
"Baiklah, ini juga tidak baik untukmu berada diluar Din, ayo ku antar ke kamar mu."
Dinda mengangguk dan berjalan beriringan dengan Dimas menuju kamar nya.
🌸
🌸
TBC..
__ADS_1