PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 145


__ADS_3

"Awh.. Kenapa sakit?" cicit Dinda mencoba bangkit.


Saat ini Dinda masih dalam keadaan polos lagi setelah kemarin ia di gempur Toni di kantornya. Tapi permainan kali ini berbeda. Ada rasa tak nyaman pada perut nya.


Dan kini ia meringis menahan sakit yang ia rasakan. Dan hal itu pula di sadari Toni.


"Kamu kenapa Din?" tanya Toni.


"Perut Dinda sakit kak.."


Dengan sigap Toni menggendong Fadia ke kamar mandi membersihkan diri keduanya secepat kilat.


Toni gendong kembali Dinda ke tepi ranjang. Memilih pakaian untuknya dan juga Dinda. Setelah ia memakaikan pakaian nya,. ia beralih memakaikan pakaian Dinda.


"Kita kerumah sakit sekarang. Maafkan kakak terlambat sayang.. Seharusnya kakak bawa kamu langsung ke rumah sakit kemarin." tutur Toni pada Dinda yang berada di gendongan nya.


"Kak.. Jangan cemas. Ini hanya sakit perut biasa."


"No baby.. Kamu sangat jarang sakit, ini pasti sakit serius apalagi belakangan ini kamu merasa tidak sehat."


Dengan langkah tergesa ia menuju garasi, tak ada orang dirumah karena Zaki membawa istri dan anaknya juga baby El berlibur kerumah mama Rahma.


Ya.. Mama Rahma sudah menganggap Zaki sebagai anaknya sendiri sama seperti Rian juga Ali.


Setelah menempuh beberapa waktu kini Toni dan Dinda sudah berada di rumah sakit ternama kota Jakarta. Ia pun membuka pintu mobil berlari mengelilingi mobil lalu membuka pintu untuk istrinya. Di gendong tubuh mungil Dinda dan melangkah menuju ruang praktek dokter yang di rekomendasikan sahabatnya kemarin.


"Kak kenapa kita kesini?" tanya Dinda setelah berada di ruang tunggu.


"Kakak juga tidak tahu Din."


Dinda tahu ini adalah tempat praktek dokter kandungan. Tapi ia tidak mengerti kenapa harus kesini? ia memang merasakan sakit perut tapi ia tidak hamil pikirnya.


"Apa masih sakit?" tanya Toni seraya mengelus perut Dinda.


Fadia tersentak merasakan hal yang berbeda seperti dahulu saat baby El masih dalam kandungan. Ada rasa nyaman dan aman yang di berikan Toni dalam elusan di perut Dinda.


Ia semakin takut berharap jika hal yang dirasakannya bukan lah sebuah kenyataan. Bohong jika ia tidak menginginkan seorang anak dari suaminya. Tapi tak pernah ia utarakan karena takut menyinggung perasaan Toni.


"Kamu benar Din. Kenapa kita ada di sini ya? apa Alex ingin menipu kakak?" tanya Toni mulai menyadari.


"Ayo kita pergi saja." Toni beranjak bersiap untuk menggendong Dinda lagi.


"Nyonya Dinda Larasati.." panggil suster.


"Kak. Turunin Dinda.. Malu sama yang lain." rengek Dinda.


"Tapi kamu sakit Din."


Dinda hanya pasrah.


Kini kedua nya duduk berhadapan dengan dokter obgyn dan meja sebagai penghalang jarak antara mereka.


"Apa keluhan anda Nyonya?" tanya dokter obgyn tersebut.

__ADS_1


"Belakangan sering pusing dan mulai, sekarang malah sakit kayak keram begitu." jawab Dinda.


Dokter obgyn. " Itu hal wajar, nanti saya kasih resep mengurangi mualnya. Dan untuk kram perut itu karena rahim menerima rangsangan. Di usahakan saat berhubungan melakukan nya dengan sangat lembut ya tuan."


Toni tersenyum kikuk menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal karena menyadari ulahnya hingga di tegur langsung oleh dokter. Tapi percayalah keduanya belum paham apapun.


"Mari nyonya kita periksa dulu ya.."


Dinda rebahan di atas brankar dengan Toni yang setia di samping Dinda.


Sang dokter memberikan gel di perut Dinda dan menggerakkan alatnya disana. Ada perasaan yang tak menentu di hati Dinda. Ia tahu ini alat apa. Tapi tetap. saja ia tidak ingin berharap jauh.


"Lihat nyonya... Ini kantung rahim nya sudah ada embrionya."


Dinda menangis haru, ia sangat tahu apa yang di katakan sang dokter.


Namun tidak dengan Toni. Ia tahu apa yang di layar monitor itu karena dulu saat Dinda hamil, ia lah yang menemani istrinya.


"Sayang.. Kenapa ada embrio di kantung rahim kamu?" tanya Toni polos.


Dinda terkekeh mendengar pertanyaan suaminya itu.


"Istri Tuan hamil." jawab dokter itu.


"Oohh hamil." jawab Toni santai dan itu sukses membuat Dinda melongo.


Sedetik kemudian punggung Toni tampak bergetar menahan layar monitor dimana memperlihatkan calon anaknya. Daerah. daging nya.


Dinda mengangguk.


"Kakak tidak mandul Din. Makasih sayang.. Makasih banyak." Toni memeluk Dinda memberikan kecupan di seluruh wajah Dinda.


"Apa dia sehat dok?" tanya Toni menunjuk calon bayi mereka.


"Sangat sehat tuan. Pastikan nantinya jangan sampai kelelahan dan saya akan memberikan obat penguat kandungan. Usia nya memasuki Minggu ke 5."


Setelah tidak ada lagi yang perlu di bicarakan dan Toni juga sudah menebus resep di apotek, ia berjalan merangkul pundak Dinda dengan posesif.


"Kakak gendong ya.."


Dinda menggeleng. "Dinda gak capek. Nanti aja aku capek."


"Baiklah. Kakak akan hubungi sellioruh keluarga."


"Jangan kak.. Nanti saja kalau sudah 3 atau 4 bulan."


"Kenapa begitu?"


"Belajar mandiri kak.. Pasti semua orang rempong. Dan Dinda juga gak enak sama mbak Hartini kak.. Dia juga belum hamil."


"Gimana mau hamil? baru sekali di sentuh Tara itu pun karena mabuk dan terbayang kamu terus." gerutu Toni yang mengetahui bagaimana perasaan Tara pada Dinda.


Dinda menggenggam tangan Toni setelah mereka berada di dalam mobil. "Dinda hanya milik kakak."

__ADS_1


"Ya kakak tahu di tambah ada anak kita lagi disini." Toni mengelus perut Dinda.


"Kakak bahagia?"


Toni mengangguk. "Sangat bahagia. Kakak akan membuat surat wasiat dan mengubah aset-aset kakak untuk El dan calon anak kita nanti."


Dinda terperangah. "Untuk apa kak? kakak mau kemana? kayak mau ninggalin kami selamanya saja."


Toni tersenyum. "Untuk menjaga-jaga sayang.. Umur tidak ada yang tahu dan kamu benar, kamu harus mandiri."


Mendadak hati Dinda menjadi tidak karuan mendengar apa yang di katakan Toni.


****


Berlin.Jerman


"Kurang ajar.. Kau mengkhianati ku Dinda.."


*P**rang..


Prang*..


Seorang pria tengah mengamuk saat mengetahui pujaan hatinya telah menikah dengan orang yang ia ketahui adalah pengawal pujaan hatinya.


"Aku bahkan menerima segala masa lalu mu.."


Praanngg..


"Aku bahkan menuruti mu untuk pergi menjauh dari sana."


"Ternyata ini hanya akal bulus mu agar aku tidak menggangu hidup mu."


"Aaarrgghhh...."


"Bodohnya aku terlalu mencintaimu." Tubuhnya luruh kelantai dengan serpihan barang-barang yang telah pecah karena ulahnya.


"Dim. Jangan bodoh." ucap sahabat sekaligus asisten pribadi nya.


"Aku sudah bodoh sejak lama Rio.."


Dimas baru saja melanggar janjinya pada Dinda untuk tidak mencari tahu informasi tentang kehidupan Dinda jauh disana.


Tapi setelah mendapat informasi tersebut, hatinya hancur.


"Apa Sanjaya Group gak bisa di akuisi?" tanya Dimas.


"Jangan gila. Perusahaan itu berjalan lurus gak ada neko-neko Dim. Ingat ribuan orang mencari nafkah disana."


Dimas bergeming. Hatinya penuh amarah tapi tetap cinta itu begitu besar untuk Dinda.


🌸


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2