PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 123


__ADS_3

Pagi yang cerah menyinari seisi jagat raya. Tampak Toni sudah berada di ruang makan dengan wajah kusut nya.


Dinda melihatnya merasa iba. Ia yakini jika Toni sedih sama hal dengan dirinya. Terlihat jelas lingkar hitam di mata Toni sama dengan mata Dinda, hanya saja mata Dinda sudah di samarkan dengan foundation.


"Pagi kak.." sapa Dinda ramah tapi tatapan mata itu menyiratkan kepedihan.


Toni mengerutkan dahi merasa heran dengan sikap Dinda mengapa tidak marah-marah lagi. Mata keduanya bersitatap sama-sama menyiratkan luka.


"Maafkan kakak Din.."


Dinda tersenyum dipaksakan. Ia bersikap seperti ini karena tidak ingin Toni curiga jika ia akan pergi meninggalkan dirinya walau sangat berat.


"Jangan di bahas lagi." Dinda memalingkan wajah karena mata sudah memanas.


Toni beranjak memeluk Dinda. Ia tahu jika Dinda hanya berpura-pura.


"Hukum kakak jika itu membuat mu memaafkan kakak sayang. Tapi jangan berpura-pura semua baik-baik saja. Maafkan kakak."


Dinda menggeleng di dada Toni, ia tidak sanggup menyembunyikan sedihnya pada suami tercinta nya.


Apakah benar aku bisa meninggalkan kak Toni? mengapa aku menjadi egois? bukankah masa lalu ku juga sama buruknya dengan masa lalu kak Toni?


"Jangan menangis sayang." Toni membelai rambut Dinda.


"Maaf kak." ucap Dinda dalam tangisnya.


Maaf jika nantinya Dinda pergi tinggalkan kakak. Ibu.. Mengapa ini sakit sekali..


"Kakak yang salah sayang.. Tanda itu memang di buat Merry tapi kakak tidak melakukan apapun. Kakak berani bersumpah."


Dinda mendongak lagi setelah mendengar pengakuan suaminya.


"Beneran?"


Toni mengangguk."Benar sayang. Duduk ya biar kakak cerita kan."


Dinda pun menurut duduk untuk mendengarkan penjelasan Toni.


FLASHBACK ON


Sesampainya di lobby ada seseorang memanggil namanya.


"Toni."


Toni menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah sumber suara karena ia mengenali suara tersebut. Dia adalah orang yang di carinya karena telah merusak hubungan antara ia dan istrinya. Ya wanita itu adalah Merry.


"Kita bicara di ruangan saya." titah Toni.


Toni berjalan menuju lift di ikuti Merry. Ia sama sekali tidak perduli pada Merry berdiri di sebelah sedang melihatnya begitu intens. Di hati dan pikiran Toni sekarang hanya Dinda dan baby El. Ia tidak ingin kehilangan Dinda.


Ting


Pintu lift terbuka segera Toni melangkah ke ruangan kerjanya. Berada dalam satu ruangan dengan Merry begitu tidak nyaman.Pikirnya.


Ia mempersilahkan Merry duduk di sofa dan ia duduk di sofa tunggal berhadapan dengannya. "Katakan tujuan mu sekarang ada apa datang ke kantor saya." ketus Toni.


"Aku hanya ingin minta maaf Ton."


Toni tercengang mendengar permintaan maaf dan Merry menangis? Benarkah?


"Saya hanya ingin berdamai dengan masalalu. Saya harap kamu tidak lagi mengganggu keluarga saya." titah Toni mencoba seformal mungkin.


Merry mengangguk sambil terisak-isak.


"Aku janji tidak akan ganggu kamu lagi Ton."


"Baiklah. Saya rasa cukup sampai disini pertemuan kita. Saya harap jangan pernah temui saya lagi." Toni berdiri menuju meja kebesarannya.


"Boleh aku peluk kamu terakhir kalinya Ton?"

__ADS_1


Toni diam saja. Ada rasa iba melihat Merry menangis seperti itu. Tapi ia juga harus menjaga perasaan Dinda walau tidak ada disampingnya.


Namun Merry tetap memeluk Toni sangat erat tanpa di balas oleh Toni. Merry menyeringai kemudian melakukan rencananya.


"Apa-apaan kamu Merry." bentak Toni saat menyadari apa yang dilakukan Merry terhadapnya.


"Aku merindukan mu Ton."


"Pergi." bentak Toni lagi.


Merry pun pergi begitu saja. Dia merasa puas rencana awalnya berhasil.


Satu langkah lagi maka kau akan menjadi milikku dan aku yang akan menjadi ratu Toni Sanjaya.


FLASHBACK OFF


"Jadi seperti itu sayang. Maafkan kakak."


Dinda mendengar penjelasan Toni merasa bimbang untuk meninggalkan nya. Sadar akan ke egoisan pada Toni ia langsung memeluk Toni.


"Maaf."


"Kakak yang salah. Sekarang kita ke kamar yuk." ajak Toni.


Dinda melepas pelukan sembari bertanya. "Mau ngapain kak?"


"Aku inginkan dirimu." bisik Toni.


"Ck.. Dasar mesum. Kakak mau ke kantor." Dinda tidak habis pikir kenapa Toni begitu mesum padanya.


"Sekali saja sayang. Masih ada waktu 1 jam lagi." rayu Toni karena ia begitu menginginkan Dinda saat ini.


"Bener cuma sekali ya.."


Toni mengangguk kemudian menggendong Dinda ala bridal style dengan tangan Dinda melingkar di leher Toni.


Aku harap kisah berakhir bahagia kak.. tanpa ada orang ketiga.


****


Satu jam kemudian.


Dinda dan Toni menuruni anak tangga dengan pakaian rapi kembali.


"Kakak berangkat ya.."


"Nggak sarapan dulu kak?"


"Kakak sudah sarapan kamu tadi." Toni mengerling sebelah matanya.


Sontak keduanya tertawa. "Dasar mesum." ucap Dinda setelah tawa keduanya mereda.


Toni mengecup kening dan juga bibir nya. Sebuah kebiasaan Toni saat ia akan berangkat bekerja.


"Hati-hati ya kak.." Dinda mencium punggung tangan Toni.


Di pandang mobil Toni sudah melesat ke jalan raya. Ia menghela nafas dalam-dalam. Ia semakin merasa bersalah telah berpikir untuk meninggalkan Toni.


Dinda melangkah menuju rumah belakang dimana baby El di bawa bermain Maya dan Zaki.


Saat berada di rumah belakang ternyata baby El,Maya, Zaki, dan Bi Jubaidah berada di ruang tengah.


"Hai El.." sapa Dinda pada anak semata wayangnya.


Zaki berdecak sebal karena ia tahu yang terjadi pagi tadi antara Dinda dan Toni.


"Halaahh.. Malam nangis-nangis mau kabur, pagi di ajak e na- e na mau aja." cibir Zaki.


"Abang.. iihh jangan gitu." Rengek Dinda pada Zaki.

__ADS_1


"Makanya ambil keputusan jangan gegabah kalau lagi emosi."


"Iya bang.. Kenapa abang jadi cerewet gini sih?" protes Dinda pada Zaki.


"Karena kau kebiasaan kalau ada masalah langsung yang ada di otak mu ini kabur terus." omel Zaki seraya menjitak kepala Dinda.


Bi Jubaidah dan Maya merasa tidak enak hati pada Dinda atas perlakuan Zaki karena Dinda notabene adalah majikan mereka.


Dinda meringis sembari mengelus kepala di tempat Zaki menjitak nya tadi.


"Sakit bang.." Dinda merajuk dan memanyunkan bibirnya.


"Rasakan. Siapa suruh membuat ku bergadang untuk membereskan pakaian ku."


"Mas Zaki mau kemana?" bukan Dinda bertanya melainkan Maya lah yang bertanya.


Bi Jubaidah juga menatap Zaki dan Dinda seolah bertanya.


"Di ajak kabur sama Dinda bawa El."


"Apa? Jangan bilang mas Zaki punya hubungan dengan Nyonya Dinda juga." seketika wajah Maya berubah sendu.


"Maafin aku suster Maya.. Aku-"


"Maya kecewa sama mas Zaki. Mas bilang udah gak punya pacar lagi. Tapi sekarang mas berhubungan dengan majikan kita." ucap Maya menyela ucapan Dinda.


Dinda dan Zaki serta Bi Jubaidah melongo mendengar ucapan Maya. Bi Jubaidah kembali menatap Dinda dan Zaki intens penuh selidik dan curiga.


"Nggak mungkin sus. Suster salah paham. Malam tadi Dinda berantem sama kak Toni jadi mau kabur karena Dinda salah paham. Bu Merry jebak kak Toni lagi."


"Saya ikut kalau mas Zaki pergi."


"Kau boleh ikut pergi jika kalian berdua menikah." titah Bi Jubaidah pada Zaki dan Maya.


****


"Saya mencari Dinda Larasati. Apa dia ada?" tanya seseorang pada penjaga rumah.


"Nyonya siapa ya?"


"Saya dosen Dinda."


Dengan rasa percaya penjaga rumah pun membuka pagar untuk seseorang itu.Merry.


Merry berjalan dan masuk ke dalam rumah Dinda tanpa di persilahkan. Ia melihat-lihat isi rumah berlantai dua itu.


Sebentar lagi ini menjadi milikku. Rumah ini dan semua harta milik Toni akan menjadi milikku.


****


Pak Amat tukang kebun melihat tamu nyonya rumah masuk begitu saja dalam keadaan rumah kosong karena ia melihat Dinda masuk ke dalam rumah belakang bergegas menuju rumah belakang untuk memberitahu Dinda.


Setiba di rumah belakang. Pak amat menghampiri Dinda sedang tertawa.


"Maaf Nyonya."


Sontak Dinda berhenti tertawa. "Ah ya Pak." jawab Dinda saat tahu tukang kebun nya memanggil.


"Anu Nyonya ada tamu cari Nyonya."


"Siapa Pak?"


"Katanya dosen Nyonya. Dia sudah di ruang tamu."


"Merry. Mau apa dia kesini?"


Dinda beranjak menuju ruang tamu. Zaki dan yang lainnya mengikuti karena khawatir jika Dinda akan di celaka oleh Merry.


"Hai Dinda." Sapa Merry saat sudah berada di ruang tamu.

__ADS_1


🌸


🌸


__ADS_2