
"Dindaaaa..."Teriak Toni hingga terdengar oleh semua penghuni rumah berlantai dua itu.
Semua orang berlari menuju sumber suara teriakan.Betapa terkejut mereka melihat seorang perempuan berada dalam dekapan sang suami di lantai kamar mandi.Bukan adegan pelukan yang membuat mereka terkejut,melainkan darah mengalir di sela-sela paha perempuan itu.
"Dinda..bangun sayang.."Suara Toni mulai serak.
"Rian..segera sediakan mobil cepat.."Teriak Toni lagi.
Rian pun segera berlari menuju garasi,ia merutuki kebo dohannya,ia yakin pasti ini bersangkutan atas kejadian pagi tadi.
Toni menggendong Dinda dengan darah terus mengalir di bawah sana.Ia sudah tidak memperdulikan pakaian nya juga terkena darah Dinda.
Mobil dikendarai Rian melesat cepat,membelah jalanan kota Medan.Ia sama khawatir nya dengan Toni.Namun ia harus bisa mengendalikan diri agar semua nya selamat.
"Sayang..tetaplah sadar,ku mohon."Toni menepuk-nepuk pipi Dinda.
Dinda sebenarnya masih sadar,ia memejamkan mata hanya untuk menahan sakit perut nya.
"Din-da masih sshh sadar kak.Jangan pura-pura mengkhawatirkan Dinda."
"Apa maksud mu sayang? dalam keadaan begini pun kamu masih meragukan ku?"
Dinda tersenyum dengan wajah pucat."Terimakasih kak,Dinda bahagia menikah dengan kakak.Setidaknya Dinda sudah tahu isi hati kakak sebenarnya.Te-terimakasih." Dinda memejamkan lagi matanya ketika sakit menghantam pertahanannya.Darah semakin deras mengalir.
Beberapa menit kemudian,mobil Toni sampai di pelataran Rumah Sakit terdekat dimana Dr.Lita dokter kandungan yang menangani Dinda.
Toni berlari dengan menggendong sang istri. "Suster..tolong istriku."
Dengan sigap para suster mendorong brankar ke arah Toni.
Diletakkan Dinda di atas brankar,suster membawa Dinda ke ruang UGD.
Tampak Dr.Lita berlari memasuki ruang UGD dengan tergesa-gesa.
Toni semakin khawatir pada istrinya.
Tak lama dari itu,pintu ruang UGD terbuka lebar. Tampak beberapa suster mendorong brankar Dinda dengan langkah cepat.
Toni menghampiri Dr.Lita sedang berjalan cepat juga di belakang brankar.
"Apa yang terjadi dengan istri saya Dok?"
"Nyonya Dinda harus segera di operasi secepatnya.Nyonya sudah banyak mengeluarkan darah dan air ketuban sudah habis.Semoga Nyonya dan bayi nya selamat,karena detak jantung Nyonya melemah.Segera selesaikan administrasi nya Tuan.Saya permisi."
Toni terpaku,ia menjadi linglung.Toni teringat lagi akan hancur nya kehilangan,dan sekarang ia merasa akan mengalami hal itu lagi.
Mama Rahma menghampiri anak bungsunya.
"Kamu harus kuat Toni, Dinda pasti baik-baik saja."
__ADS_1
"Aku takut Ma."Ucap Toni dengan suara serak.
1 jam berlalu,Operasi Dinda belum juga selesai.
Sepasang manusia berjalan cepat ke arah Toni.
Dan satu bogeman melayang ke wajah Toni.
Bugh..
"Kurang ajar kau Toni,kau apakan Dinda hah? Jika memang kau tidak bisa menjaga Dinda dengan baik,kembalikan dia padaku.Aku melepasnya karena ku pikir kau bisa membahagiakan nya,tapi lihat lah..Dinda sedang berjuang antara hidup dan mati disana." Laki-laki tersebut benar-benar marah.
"Honey..tenanglah.Dinda pasti baik-baik saja.Aku keluar dulu cari minum untuk kita ya"
Sepasang manusia itu adalah Arga dan Mira,Keduanya mengetahui Dinda masuk rumah sakit saat Mira menghubungi Dinda untuk mengajak Dinda belanja bersama.Saat telepon terhubung,yang berbicara bukan Dinda melainkan pelayan rumah Dinda.Bi Jubeh. lDan Jubeh menceritakan kronologi kejadian Dinda tadi.
"Dinda sudah berdarah saat di kamar mandi Ga,aku juga tidak tahu kejadian nya."
"Aku bersumpah akan menghajar mu jika terjadi sesuatu pada Dinda dan anakku." Arga masih benar-benar emosi saat ini.
"Dia istri dan anakku Ga."
"Kau lupa jika kau sudah merebut Dinda ku?" Sekali lagi Arga mengingatkan Toni bagaimana cara Toni mendapatkan Dinda yang masih menjadi istrinya kala itu.
Toni tidak bisa menjawab karena apa yang dikatakan Arga benar adanya.Toni berpikir keras apa yang terjadi sesudah ia berangkat ke hotel pagi tadi.
"Rian."Panggil Toni.
"Pergilah kerumah ku,minta pada Jubeh untuk menyiapkan baju ganti Dinda dan baju ku."
"Baik Tuan."
"Satu lagi,tanyakan pada Jubeh apa yang di lakukan istriku setelah kita berangkat pagi tadi."
"Baik Tuan."Rian membungkuk hormat kemudian beranjak pergi menuju ke kediaman Tuan nya.
****
Praangg..
Terdengar piring kaca terjatuh dari dapur.Seisi rumah berlari mendatangi dapur melihat apa yang terjadi.
Kebetulan Bapak siang ini tidak bertugas menghampiri istrinya terpaku seperti tidak menyadari apa yang telah terjadi akibat ulah Ibu.
"Bu.."Panggil Bapak lembut pada sang istri.
Air mata Ibu menetes kemudian menatap suaminya.
"Pak,Ibu seperti merasakan firasat buruk pada Dinda.Seperti terjadi sesuatu pada anak kita Pak.."
__ADS_1
"Dinda pasti baik-baik saja Bu..Pasti menantu Ibu menjaga Dinda dengan baik."Sang Bapak menenangkan Ibu dan menuntun Ibu duduk di meja makan.
Bapak mengambilkan air segelas menyerahkan pada Ibu. "Minum Bu."
"Pak,cepat telepon Dinda Pak.Ibu sangat khawatir sekarang."
Bapak mengangguk.Di ambil ponsel di saku dan segera ia menghubungi Dinda.
Dinda:Halo.
Bapak merasa bukan suara anak manja nya.Di lihat kembali nama yang tertera di ponsel. "Putri manjaku" Nama itu yang tersemat di layar
ponsel.Benar nama anaknya.
*Bapak:Dinda nya ada?
Dinda:Maaf lancang pak,saya Jubaidah pelayan Nyonya Dinda.Nyonya masuk rumah sakit Pak.
Deg..deg..
Bapak:Tolong kirim pesan alamat rumah sakit anak saya sekarang*.
Wajah Bapak berubah khawatir.
"Kita pulang ke Medan sekarang.Bawa baju beberapa saja,Bawa dokumen yang perlu saja.Kita akan naik pesawat paling cepat hari ini."Titah sang Bapak.
"Apa yang terjadi Pak?"Tanya Cantika penasaran.
"Nanti kalian akan tahu."
****
Lima jam berlalu,Toni masih setia berada di depan pintu ruang operasi.Bersandar dinding ia berjongkok dengan kepala menunduk.
Menangis?Ya Toni menangis,ia takut kehilangan.Sangat takut terjadi apa-apa pada istrinya.Dinda.
Rian terus memperhatikan Tuan Toni.Ia merasa apa yang ia lihat seperti suami yang sangat mencintai istri.Lalu mengapa tadi Tuan Toni mengatakan berbeda dengan sikap nya saat ini.
Rian membuang nafas panjang.Ia meyakini bila Tuan nya ini belum menyadari isi hatinya bukan lagi nama mantan tunangan melainkan istri nya yang sedang berjuang antara hidup dan mati di balik pintu tersebut.
Tara hanya bisa duduk memasang wajah datar, dia sangat khawatir.Tapi ia lebih khawatir melihat sang adik.Biar bagaimana pun perasaan nya pada istri adiknya itu,ia juga sangat menyayangi adiknya.Toni.
Lampu indikator ruang operasi mati,itu berarti operasi sudah selesai dan pasien akan di pindahkan ke ruang pemulihan sebelum di pindahkan ke ruang perawatan.
ceklek...
Semua mata tertuju pada pintu yang terbuka.
"Suami Nyonya Dinda.."
__ADS_1
🌸
🌸