PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 32 Hasil Maha karya Dimas


__ADS_3

"Aku gak tahan Dim..Ahhh."Tubuh Dinda menggeliat lalu menegang menandakan pelepasan pertama untuk Dinda.


Tentu itu membuat Dimas tersenyum senang karena bisa membuat Dinda nya seperti ini.


Dinda sudah terbawa na*su terlihat dari tatapan nya pada Dimas begitu juga dengan Dimas.


Ini masih begini uda pelepasan..aahh Dimas kamu membuatku candu.. kenapa aku tak pernah mendapatkan dari mereka..


"Bagaimana? kita lanjutkan?"


Dinda hanya mengangguk sebagai jawaban.Dimas mengulangi lagi menciumi wajah Dinda penuh kasih sayang.


"Sungguh aku mencintaimu Din."Ucap Dimas setengah berbisik dengan suara berat diselimuti kabut g*irah.


"Aku juga sangat mencintaimu Dim.."


Dimas sudah beralih di gunung kembar Dinda.Bibir sudah mulai meng**um,Melu***, menghi***p.Menciptakan tanda kepemilikan disana.


Dinda hanya bisa mendesah nikmat atas perlakuan Dimas di atas tubuh nya.


Bahkan mereka tak pernah membuatku senikmat ini Dim.Gumam Dinda di sela-sela kenikmatan.


Seluruh tubuh Dinda tak luput dari cumbuan Dimas.Menciptakan tanda kepemilikan di tempat yang ia cumbu.Ia benar-benar membuat Dinda mendesah hebat padahal belum ke permainan inti.


"Dim..masukin aku gak tahan."Racau Dinda mendapat pelepasan kedua kali.


"No sayang..tunggu kita menikah."Jawab Dimas yang masih menahan hasratnya.


"Diiimm..."Rengek Dinda sekali lagi.


"Mau dengan cara lain?"Tawar Dimas.


Dinda hanya mengangguk sebagai jawaban.


Dimas memulai aksinya.


Dimas kembali memberi kenikmatan pada Dinda dengan memainkan bagian sensitifnya itu dengan lidah dan jarinya,hingga membuat Dinda menggelinjang hebat,karena sebelumnya ia tak pernah melakukan ini.


"Dim...Eeuumm aahh."Racau Dinda kembali mendapat pelepasan untuk ketiga kalinya.


"Enak sayang?".Tanya Dimas mendekatkan wajahnya mencium bibir Dinda nya.


Dinda hanya tersenyum.Dimas beranjak untuk menyudahi permainan.


"Mau kemana Dim?"


"Aku harus ke kamar mandi untuk menyelesaikan ini sayang.."


Dinda tersenyum menggoda dan bertanya lagi. "Butuh bantuan ku?"


Lantas Dimas senang dan naik ke ranjang kembali mengambil posisi dan Dinda melakukan aksinya.


"Din..eeumm kamu hebat sayang."Racau Dimas merasakan kenikmatan untuk pertama kali.


Setengah jam kemudian..


"Sshh euumm Din,bolehkah keluar di mulutmu sayang?"Erang Dimas saat merasakan akan mencapai puncaknya.


"Tentu."Jawab Dinda dengan senang hati karena ini adalah pengalaman pertamanya memuaskan tanpa permainan inti.


Dimas beranjak berdiri di samping tempat tidur dan Dinda mengikuti lalu berjongkok dan melakukan aksi nya kembali.


Selang beberapa menit,Lahar kenikmatan pun keluar membuncah mengisi rongga mulut Dinda nya.


Di jilat nya lahar yang keluar dari mulut Dinda. Di lu**t bibir Dinda nya yang sudah memuaskan nya.


"Terimah kasih sayang,tunggu aku kembali dan menikah maka kita akan seharian di kamar."


"Aku yang lelah."


"No,kita bekerja sama seperti tadi."


Dinda tak menjawab,Ia masuk ke kamar mandi dan ia berteriak kaget saat melihat keadaan dirinya.


"Dimaaasss..Apa yang kamu lakukan pada tubuh ku?kenapa seperti macan tutul huhh?Teriak Dinda dari dalam kamar mandi.


Dimas hanya terkekeh dan ia juga baru menyadari kenapa ia bisa sebuas itu terhadap Dinda.Padahal ini adalah pengalaman pertama nya.


FLASHBACK OFF


Saat ketiganya sedang asyik memakan makanannya.Riyo tidak sengaja melihat punggung kedua tangan Dinda terdapat tanda kepemilikan disana.

__ADS_1


Riyo menggeleng-gelengkan kepala seraya bergumam. Gila si Dimas,bagaimana bisa tangan pun di kasih tanda kepemilikan begitu. Sungguh posesif Lo Dim. Apa gue juga begitu ya?


Dinda yang melihat Rio geleng-geleng bertanya. "Kamu kenapa Yo?"


"Uda aku bilang gak boleh ngomong dengan orang lain saat bersama ku Din.."Yang mengatakan kalimat itu bukan Rio melainkan Dimas.


Rio yang mendengar itupun berdecak sebal.Ia baru menyadari jika bos sekaligus sahabatnya ini begitu cemburuan.


"Iya maaf lupa Dim."


"Jangan diulangi sayang."Dimas membelai pipi Dinda dengan punggung jari-jemari Dimas.


Tentu hal itu membuat Dinda bahagia.Ia bisa merasakan cinta yang tulus untuknya.Ia juga sangat kagum pada Dimas saat kejadian tadi di kamar,ia bisa menahan itu semua.


"Yo,setelah makan antar aku ke Medan.Siapkan mobil."titah Dimas dengan mode bos.


"Kamu mau ninggalin aku sendiri Dim?"tanya Dinda.


"Kamu ikut ya..Mana mungkin aku meninggalkan mu sendirian disini."


"Tapi ngapain ke Medan Dim?Kamu lupa suamiku disana?"


"Yaudah gak jadi."


"Kok batal?"


"Gapapa sayang."Dimas membelai rambut coklat Dinda nya.


Beralih ke arah asisten pribadi nya.


"Yo,Carikan pembuat tatto terbagus disini bila perlu dari Medan."


"Tatto?" Tanya Dinda dan Rio bersamaan.


"Ya.Tidak ada bantahan."


"Baiklah bos."


Satu jam kemudian..


Ketiganya sudah berada di kamar Dimas dengan dua orang ahli tatto.


Dinda melihat itupun sontak bergidik ngeri seakan ia yang sedang berada di posisi Dimas saat ini.


Berulang kali Dinda mengalihkan pandangan agar tidak melihat kearah Dimas sedari tadi menatapnya.


"Sudah selesai Bang."Ucap salah satu ahli tatto tersebut.


Dimas hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Urus pembayaran nya Yo."


"Oke."Jawab Rio singkat.


Dimas beranjak berjalan kearah Dinda.


"Kenapa hem?"tanya Dimas melihat raut wajah Dinda nya berubah setelah Dimas akan membuat tatto.


"Gak ada, hanya ngerih." Dinda melihat dada bidang Dimas yang sudah bertatto.


"Kenapa tatto nya namaku Dim?"


"Biar orang melihat kalau aku uda ada yang punya.Uda hak paten Dinda ku."


"Segitunya?"Dinda tak menyangka dengan cinta Dimas kepadanya.


Dimas mengangguk dengan senyuman manis.


Dinda pun melihat tatto Dimas,Di kecup tatto itu.Tenttu hal itu membuat Dimas sangat bahagia.


"Sudah ku setujui hak paten nya."ucap Dinda.


"Terimakasih Din."


"Untuk apa Dim?"


"Untuk segalanya..tunggu aku menjemputmu." Dimas mendekap erat tubuh Dinda nya.


"Aku akan menunggumu Dim,tapi ingatlah.. aku sungguh tak apa bila nanti ada hati lain yang kamu cintai."


Dimas melepas pelukan dan memegang kedua bahu Dinda.Di pandang wajah Dinda nya.Ia menarik nafas dan membuang nya sedikit kasar.

__ADS_1


"Ternyata kamu masih meragukan cinta ku Din?"


"Enggak Dim,aku sama sekali gak ragu."


"Bahkan aku lah yang seharusnya ragu akan cinta mu.Dunia mu begitu dekat dengan pria lain."


"Memang aku akui,Toni juga mencintai ku.Tapi lihatlah..Aku memilihmu.Bersabarlah..Ada masalah yang butuh waktu untuk ku selesaikan sebelum bercerai."


"Ya aku akan menunggu."Ucap Dimas dengan wajah sendu.


"Jangan sedih gitu dong Bule Medan ku."Dinda tersenyum manis menatap kekasih hatinya.


Dimas menarik Dinda dalam dekapannya lagi.Sangat erat seakan ingin waktu berhenti agar mereka tetap bersama.


"Tolong Din,jangan pernah tersenyum pada laki-laki lain.Senyum mu sangat memabukkan yang bisa membuat mereka jatuh cinta padamu."


Dinda terkekeh mendengar ucapan Dimas sangat posesif menurutnya.Tapi ia mengerti mengapa Dimas seperti itu.


"Bagaimana bisa aku tidak tersenyum pada orang lain Dimas?Aku bukan kamu."


"Maksudmu apa Din?Memang nya aku gimana di mata mu?"


"Kamu kaku,sulit tersenyum pada orang lain.Dan itu mengakibatkan wajah mu terlihat tua daripada aku.Hahaha..." Dinda terbahak saat ia mengungkapkan penilaian nya pada sang kekasih.


"Ck..kamu ini senang sekali sampai tertawa begitu."


"Iya dong,dan aku senang juga kamu kaku begitu pada orang lain,Kamu hanya boleh tersenyum dan tertawa padaku saja."


"Sama-sama posesif ni yee.."


"Biarin,Dim..antar aku ke kamar..Aku lelah hari ini."


"Kenapa gak bilang dari tadi?Aku gendong ya.."


"Oh tidak tidak..Aku jalan saja.."


"Baiklah."


Setelah berjalan dari kamar Dimas kini keduanya sudah di depan kamar Dinda.


Dimas memeluk Dinda nya kembali.Seakan perpisahan itu kembali lagi.


"Malam aku jemput makan malam ya..Sekarang istirahat jangan kelelahan lagi."


"Kamu yang buat aku kelelahan tadi pagi Dim kalau kamu lupa dan aku masih sebal dengan mu karena tubuhku seperti macan tutul."


"Hei..itu Hasil Maha Karya Dimas Dinata."


"Begitu bangga? nyebelin."


"Iya deh maaf,Kamu sih menggoda dan aku sangat suka."Dimas tersenyum penuh arti.


Dinda mengerti maksud dari senyuman itu.Tapi tunggu,Dinda teringat sesuatu dan itu membuat ia memicingkan mata kearah Dimas penuh curiga.


Dimas dilihat seperti itu langsung bertanya.


"Ada apa sayang?"


"Kau begitu ahli dalam hal itu apa kau sudah pernah melakukan dengan yang lain?"Dinda mulai menginterogasi kekasihnya dengan bahasa orang Medan.


Dimas terkekeh saat mendengar Dinda nya menginterogasi dengan bahasa orang Medan itu berarti ia dalam mode marah.


"Enggak sayang,hanya kamu yang ku sentuh dan kamu lupa bila kekasih mu ini Bule? tentu durasi ku lebih lama dari penduduk lokal."


Ah ya aku lupa, pantas saja hanya make out sampai satu setengah jam lebih.


"Yaudah deh,aku masuk.Awas aja jika ada wanita lain."


"Iya,malam aku jemput ya.."


Dinda mengangguk dan masuk ke kamar untuk istirahat.


🌸


🌸


Maaf lama up nya ya readers kesayangan ..


Author lagi gak enak badan.


salam sehat semua..

__ADS_1


__ADS_2