
Rian mendekati brankar Dinda.
"Din."
Dinda yakin aman karena yang memanggilnya adalah Rian.
"Kurang ajar kau Rian."
Rian terkekeh."Maaf,tapi kamu puas kan?"
Dinda mendengus."Puas apa nya?Apa kau tidak dengar dia mesum?"Dinda mengomel dengan logat bahasa Medan.
"Nikmati saja,besok baru siuman oke.."Kata Rian.
"Ingin rasanya aku menghajarmu Rian..Beruntung perut ku masih perih begini,jika tidak maka akan ku kejar sampai ke Kualanamu."Dinda benar-benar geram dengan rencana Asisten suaminya ini.
FLASHBACK ON
Saat Dinda pendarahan dan melihat bagaimana khawatir Tuan nya pada istri nya,Rian meyakini jika Tuan nya ini sudah mencintai sang istri,namun karena Tuan nya masih memikirkan mantan tunangan nya jadi Tuan nya masih bimbang dengan hatinya.
Rian tentu tahu bagaimana kisah Tuan dengan mantan tunangan itu.Sangat jauh berbeda dengan sekarang.Bila dahulu mantan tunangan nya lah yang mengejar cinta sang Tuan,setelah berhubungan pun Tuan nya lebih banyak sibuk bekerja daripada menghabiskan waktu bersama.
Tapi lihatlah sekarang,sewaktu jadi pengawal istrinya benar-benar istrinya seperti berlian.Berteman dengan laki-laki lain saja di larang.Beruntung Dinda.Istrinya itu tipe perempuan yang memang tidak terlalu suka banyak teman.Sampai sudah menjadi istrinya,Tuan nya lebih suka di rumah bersama sang istri,raut wajah bahagia terpancar selalu di wajah Tuan nya.
Jadi Rian meminta bantuan sang Dokter saat Toni berjalan menuju resepsionis untuk mengurus administrasi.Mungkin terlalu khawatir dan panik sehingga Toni melupakan ia memiliki bawahan yang bisa ia perintah untuk mengurus hal sekecil itu.
"Dokter."Panggil Rian saat dokter berjalan menuju ruang Operasi Dinda.
"Ya,bisa saya bantu?"tanya sang dokter dengan ramah.
"Bisakah membantu saya untuk menyelamatkan pernikahan seseorang?" Rian begini juga karena merasa bersalah pada Dinda.
Tampak dokter mengerutkan kening."Maksud nya gimana ya mas?"
"Dinda,apa keadaan nya parah?"Tanya Rian.
"Tidak,hanya harus segera di operasi karena air ketuban sudah sisa sedikit,dan darah yang keluar adalah darah dalam kandungan nya.Tidak parah,Nyonya Dinda juga sadar."Jelas sang dokter.
"Bisakah katakan pada suami nya kalau keadaan Dinda parah,koma bila perlu.Agar suaminya sadar dan agar Dinda tidak minta pisah dok.Saya mohon."
"Tapi itu melanggar hukum mas."
"1 hari,hanya 1 hari saja dok.Saya mohon." Rian mencoba memohon lagi.
Dokter Lita mengangguk."Baiklah 1 hari."
"Terimakasih Dok,tolong sampaikan rencana ini pada Dinda.Katakan ini perintah Abang minimarket ya dok." Rian membungkuk hormat pada sang dokter.
FLASHBACK OFF
"Bagaimana keadaan mu Din?" Tanya Rian berubah serius.
__ADS_1
"Dinda baik,jangan serius begitu wajah nya bang."
"Apa yang terjadi di kamar mandi sehingga pendarahan seperti itu?"Tatapan Rian mengintimidasi Dinda.
"Sebenarnya sudah dua hari perut Dinda sering mules,pinggang panas.Tapi Dinda tidak tahu kalau itu gejala berbahaya untuk usia kandungan 8 bulan."Dinda bicara dengan suara pelan.
"Sudahlah, terpenting kamu baik-baik saja, ku harap kamu memilih suamimu daripada Dimas Din,dan sekarang nikmatilah akting mu."Rian senyum mengejek.
Dinda terhenyak,ia tidak menyangka asisten sang suami juga mengetahui nya.Padahal ia tidak pernah bercerita kesiapan pun selain ke sahabatnya.Sari.
Tiba-tiba handle pintu ruang rawat bergerak.Dinda dan Rian saling pandang.
Dinda segera memasang alat bantu pernapasan dan Rian segera kembali ke tempat semula.
Ruangan Dinda mendadak ramai.Keluarga dari Kalimantan datang.Bapak,Ibu,Cantika,dan Edo datang.
Terdengar tangisan dari suara Ibu,Terdengar juga suara Bapak sedang memarahi seseorang yang di yakini Dinda itu adalah sang Suami.Toni.
"Kau jadi suami bagaimana tidak bisa menjaga putriku?Jika memang sudah tidak sanggup menjaga putriku katakan saja."Amarah Bapak sudah tidak terbendung lagi.
"Aku sudah menyusul Dinda di kamar mandi Pak,Tapi Dinda sudah dalam keadaan berdarah."
"Sudahlah,kalian sama saja.Setelah Dinda pulih,saya akan membawa Dinda pulang."
Dinda gak mau pak..
"Jangan pisahkan kami Pak..Bagaimana anak kami?Aku sangat mencintai anak Bapak.Tolong jangan pisahkan kami."
"Keputusan saya sudah bulat,saya masih bisa mengurus cucu saya."
Tanpa terasa air mata air mata Dinda mengalir.Ia tidak bisa menahan air mata agar tidak keluar.Ia tidak mau di pisahkan oleh sang suami.
Ibu sedang berada di samping brankar Dinda melihat air mata Dinda mengalir.
"Pak,Dinda menangis."
Semua orang mendekat begitu juga Rian.
Rian juga semakin merasa bersalah pada Tuan nya.Karena ide gila nya jadi semakin runyam.
Dinda sudah tidak sabar dengan akting nya,selain ia tidak tega pada sang suami,ia juga merasa haus.
Dan Dinda memulai kembali akting nya.Ia membuka mata perlahan.
"Air."Beruntung suara Dinda benar-benar lemas.
"Sayang.."Toni mendekat,ia kecup dahi Dinda dengan lembut.
Cup
Dinda terpejam kembali merasakan kelembutan kecupan sang suami,ia bisa merasakan kasih dan sayang yang tulus dari sang suami.
__ADS_1
Dinda membuka mata kembali dengan mata sudah berkaca-kaca.Ia benar-benar berdosa.Bagaimana bisa hati nya mendua? Bagaimana bisa ia marah pada sang suami yang masih teringat dengan mantan tunangan nya yang sudah tiada? Bahkan kesalahan lebih fatal berpihak padanya.
Toni menghapus air mata Dinda."Kenapa menangis hem?"
Dinda menggeleng."Perut Dinda sakit dan perih kak."
"Biar saya panggilkan Dokter."Ujar Rian,karena ia harus bekerja sama lagi dengan sang dokter.
Ketika Asisten Rian keluar ruangan,Ibu mendekat."Kenapa bisa begini Nak?"
"Dinda gak apa-apa Bu.Perut Dinda tiba-tiba sakit saat selesai buang air kecil dan mengeluarkan darah,setelah itu Dinda tidak ingat."
"Sekarang apa yang kamu rasakan?"
"Perut Dinda perih Bu."Ucap Dinda pelan.
"Kak, bagaimana keadaan boy?"Tanya Dinda pada sang suami.
"Boy sehat dan sangat tampan seperti kakak."Toni tersenyum dipaksakan, ia tidak ingin memberi tahukan keadaan bayi nya lebih dulu.
Sebenarnya Dinda sudah mengetahui bagaimana keadaan bayi nya.
Lihatlah Dinda,apalagi yang kau cari dari suamimu ini? belajarlah untuk mencintai suamimu,lupakan dia yang jauh disana.
Dinda bermonolog pada diri sendiri.
"Dinda.setelah kamu pulih,Bapak akan bawa kamu pulang."Ujar sang Bapak mengejutkan seisi ruangan.
"Kenapa Dinda ikut Bapak?"Dinda harus aktif lagi.Hahh..Sungguh memuakkan bukan?
"Karena suami barumu ini tidak becus menjaga mu."Ternyata sang Bapak belum terima atas kejadian menimpa sang putri.
"Dinda tidak mau Pak-"
Belum selesai Dinda bicara, seorang dokter masuk di ikuti Asisten Rian di belakang.
"Malam Nyonya Dinda,sudah baikan?" Dokter tersenyum penuh arti pada Dinda.
Dinda pun membalas senyuman dokter."Sudah dok.Saya tidak tahan."Cicit Dinda lirih.
Dokter sedari tadi menahan tawa.Bagaimana tidak?Dinda adalah pasien satu-satunya pasien yang ia tangani selalu membuat ulah dari saat kali pertama pemeriksaan kehamilan.
"Semua normal,hanya menunggu pemulihan.Usahakan banyak gerak kaki nya ya.. Agar tidak kaku."
Dinda mengangguk."Terimakasih semuanya dok."
Dokter mengangguk."Baiklah,saya permisi."
Saat dokter keluar ruangan,seketika ruangan menjadi hening.Cantika dan Edo sudah tertidur.Tampak adik-adik Dinda kelelahan saat di perjalanan.
"Bapak...
__ADS_1
🌸
🌸