PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 66 Ali dan Rian


__ADS_3

"Terus?"Ali semakin penasaran dengan cerita sahabatnya.


FLASHBACK ON


"Hei..sudah jangan menangis.Ini ambillah belanjaan mu."Rian menyerahkan belanjaan Dinda.


Dinda mengangguk kemudian keluar dari minimarket.Ia menunggu seseorang disana.Tak berapa lama keluarlah orang yang di tunggu Dinda.


Tapi yang di tunggu Dinda hanya berjalan lurus tanpa melihat Dinda.


Astaga..apa gue kecil banget kali ya Sampek gak di lihat begitu.


Dinda berlari kecil mengikuti laki-laki yang sudah menolong nya dari rasa malu tadi di dalam minimarket.


"Woy.." Teriak Dinda namun orang itu tidak menoleh maupun berhenti berjalan.


"He..Siapa sih kau woy.."Teriak Dinda lagi tapi tetap nihil.


"Abang minimarket...heee tunggu jangan masuk mobil dulu."Dinda mempercepat langkahnya karena orang itu tampak celingukan.


Saat Dinda sudah sampai di belakang orang itu Dinda menimpuk punggung orang itu dengan nafas tersengal-sengal.


"Hah..kenapa budek sih?"Dengan masih nafas memburu dan Dinda bicara tanpa melihat orang yang di maksud.


Auh... Rian berbalik melihat siapa yang berani menyentuhnya.


Orang itu adalah Rian.Ia hanya menatap Dinda bingung."Maaf,apa saya mengenal anda?"


Dinda langsung berdiri tegak.Hingga tatapan mereka bertemu.Seperti ada yang bilang,jangan menatap seseorang lebih dari 10 detik maka bisa mengakibatkan jatuh cinta.


*Deg..deg..deg..


Kenapa jantung ku seperti ini saat menatap mata gadis kecil ini? gumam Rian*.


Dinda tidak menjawab pertanyaan Rian.


"Terimakasih ya.."Dinda tersenyum.


Senyuman yang cantik.


"Dinda.."Dinda menjulurkan tangan menunggu balasan Rian agar di jabat.


Rian mengangguk dan membalas jabatan tangan dari Dinda.Lagi-lagi jantung Rian menghantam dada nya dengan keras.Tangan nya tiba-tiba gemetar,sentuhan tangan gadis polos bernama Dinda itu membuat tubuh Rian seperti tersengat listrik berskala besar.


Untuk kali pertama pemuda berusia 25 tahun itu merasakan hal aneh seumur hidupnya. Di dunia kerja berjabat tangan dengan seorang perempuan adalah hal biasa.Tapi saat berjabat tangan dengan gadis kecil itu membuat hati Rian berbeda.Seperti ada rasa ingin memilikinya.


"Bang,dimana bisa Dinda temuin abang?"Dinda menyadarkan Rian dari lamunan.


"Untuk apa?"Rian mencoba senormal mungkin.


"Untuk bayar jajanan Dinda lah.Dinda kan berhutang."


"Tidak perlu,Nama lengkap kamu siapa?" Rian akan mencari tahu tentang gadis kecil di depan nya ini.


"Dinda Larasati Wijaya,tapi Dinda Larasati saja deh,Wijaya nya nama Bapak."


Rian manggut-manggut."Baiklah Dinda..saya permisi."Rian ingin segera pergi dari hadapan gadis kecil ini.Karena detak jantung nya sudah tidak terkontrol lagi.

__ADS_1


"Oke,Semoga di lain waktu kita bertemu lagi dan Dinda akan mentraktir abang mini market." Dinda tersenyum melihat Rian yang sudah masuk ke dalam mobil.


Sejak saat itu Rian tidak berani bertemu Dinda,ia hanya mengikuti kemana Dinda pergi.Dan saat Rian kembali ke Jakarta maka ia memerintahkan anak buah nya untuk melaporkan kegiatan Dinda beserta foto-foto Dinda.


FLASHBACK OFF


"Tapi Rian,saat acara pernikahan mantan suami Nyonya kamu disana kan?Apa Nyonya mengenali mu?"


Rian mengangkat bahu."Aku juga tidak tahu,mungkin saja sudah lupa."


"Boleh aku bertanya?"


"Tanyakan saja."


"Jika suatu saat Nyonya tahu perasaan mu,apa yang kamu lakukan?"


"Aku bisa apa jika Tuan-tuan kita juga menginginkan Dinda kecilku? aku tak akan bisa melawan mereka."


"Aku harap kamu bisa sabar dan menemukan cinta yang lain sob."Ali memukul bahu Rian pelan pertanda ia simpati pada sahabatnya.


"Aku tak apa Ali,aku hanya berharap Dinda kecilku bisa seceria dahulu."Bahkan setelah menikah dengan Tuan nya Rian memergoki Dinda tengah melamun jika sedang sendiri.


"Kau benar-benar ingin mundur Rian?"Tanya Ali sekali lagi.


Rian menghela nafas."Aku bisa apa Ali?Yang mengejar Dinda adalah 3 laki-laki berkuasa. Aku bisa apa hanya orang biasa."


*****


"Kak,besok kita berangkat pagi atau siang?"Tanya Dinda yang sedang berbaring memunggungi suami nya.Saat ini Toni sedang mengelus-elus pinggang Dinda karena pinggang Dinda sakit.Setelah hamil trimester ketiga, Dinda sering mengalami sakit pinggang tiba-tiba.


"Pagi sayang,agar kamu tidak terlalu lelah."


"Setelah di rumah ya..ART juga sudah ada di rumah kita,kamu juga bisa meminta bantuan mereka."


Dinda mengangguk."ART nya masih muda?"


"Memang kenapa hem?"Toni ingin tahu istrinya cemburu atau tidak.


"Jadi masih muda?"Bukan di jawab lantas bertanya lagi.Pertanyaan nya seperti menuduh lagi.


Toni mengangguk.Sebenarnya ART mereka sudah paruh baya.Ia hanya ingin menguji Dinda saja.


"Umur berapa kak?"


"35 an gitu lah sayang..Kenapa sih?"Ia semakin antusias mengerjai istrinya.


Tampak perubahan wajah Dinda menjadi datar.


"Ponsel kakak mana?"Dinda menengadah tangan di depan Dinda.


Toni pasrah memberikan ponselnya,jika begini maka keputusan tidak terbantahkan.Tapi untuk apa ponsel nya?


Dinda mengetik sesuatu kemudian meletakkan ponsel di telinganya.


*Tutt..Tut..


Rian:Halo Tuan*.

__ADS_1


*Seperti mengenal suara ini.Tapi siapa ya?dan dimana? gumam Dinda saat mendengar suara Rian dari seberang sana.


Toni:Asisten Rian,tolong carikan ART yang umur nya di atas 40 ya..Suruh mereka besok masuk kerja jika sudah ada,dan untuk ART yang di rumah Dinda umur di bawah 40 bawa pergi*.


Rian:Baik Nyonya.


****


Rian memegang dada nya.Ia merasakan detak jantung nya tak lagi berteman baik dengan paru-paru sehingga membuat sesak dan jantung hampir copot setelah mendengar pujaan hatinya berbicara padanya.


Perut ku seperti ada ribuan kupu-kupu yang menari di perut ku saat mendengar suara mu.


*Dinda kecilku..


Bolehkah sekali saja aku mengatakan jika aku telah jatuh cinta padamu?


Kau adalah wanita yang mengajarkan ku arti kesabaran dalam mencintai.


Aku tidak menuntut mu untuk melihat kearah ku,aku tidak akan memberi tahu mu tentang cinta ku,


Biarlah cinta ini mengalir hingga aku lupa pernah mencintai mu.


Karena aku sadar diri sebelum menggapai mu.


Aku bukanlah laki-laki yang pantas untuk mu. Biarlah cinta ini ku pendam.Melihat wajahmu, memandang foto mu saja sudah membuatku bahagia.


Kau bagai bintang di langit,


Indah namun tak dapat ku gapai.


Saat ku mencoba terbang,


Aku sudah terjatuh saat berada di tengah jalan.


Kau bagai bunga karang,


Indah namun sulit ku raih.


Saat ku coba menyelam,


Aku sudah tenggelam di dasar lautan.


Hanya satu yang ku pinta.


Kembalilah menjadi Dinda yang ceria seperti dahulu.


Jangan seperti ini,


Ingin rasa aku datang memeluk mu.


Membantu mu keluar dari masalah mu.


Mengapa mereka tidak ada yang mengerti dirimu? Mengapa mereka egois tanpa tahu kebahagiaan mu?


Dinda..


Kembalilah seperti Dinda kecilku seperti dahulu..

__ADS_1


🌸


Emak sedih, part 60 belum lulus juga 😭 padahal udah gak vulgar amat loh*..


__ADS_2