
Setelah sarapan usai Dinda dan Toni masih saling mendiami.Dinda mencoba mengontrol emosi dan menyusun kalimat-kalimat yang tidak akan menyakiti hati Toni.Sedangkan Toni sudah siap menjadi santapan amukan perempuan hamil di depan nya.
"Kakak jahat."Kalimat itulah yang keluar dari mulut Dinda.
Toni masih diam,ia masih ingin mendengarkan semua ucapan Dinda.Ia akan berbicara setelah dinda selesai bicara.Ia tahu jika ia ikut berbicara sekarang maka akan ada amarah.
"Kakak sama saja sama bang Arga yang ambil keputusan untuk hidup Dinda tanpa bertanya apa Dinda setuju atau tidak."Mata Dinda mulai berkaca-kaca saat ini.
"Jangan menangis Din.."Toni beranjak kemudian berlutut di samping Dinda menghapus air mata Dinda.
"Kakak boleh bicara?"Tanya Toni lembut sambil mengelus perut Dinda.
Dinda mengangguk.Toni pun menghela nafas panjang.
"Mari kita menikah Din."Satu kalimat ajakan Toni membuat Dinda shock.
"Apa kamu gila kak? Bagaimana bisa kita menikah sedangkan aku sudah bersuami." Dinda mulai tersulut emosi.
"Dengarkan kakak Dinda,jangan emosi sayang." Toni berkata lembut,ia juga mengerti mengapa Dinda emosi selain memang ia salah juga Dinda masih sangat muda membuat emosi tidak beraturan karena kelabilan Dinda.
"Kak,Dinda gak mau semua orang tersakiti.Bagaimana bisa kakak ingin menikahi Dinda sementara Dinda masih bersuami?". Nada bicara Dinda mulai rendah saat ini.
"Kakak tahu kamu sedang hamil maka kamu tidak bisa bercerai,Jadi sebelum kamu bercerai biarkan kita menikah siri,setelah kamu resmi bercerai dan masa Iddah selesai kita akan mendaftarkan pernikahan kita ke KUA agar sah secara hukum dan agama." Toni memberi penjelasan agar Dinda mudah mengerti.
Lalu bagaimana dengan Dimas?
"Kak,gak semudah itu?"
"Kenapa?apa karena Dimas Din?"
Dinda terpaku, bagaimana bisa Toni mengetahui apa yang dipikirkan Dinda?
Ya, Toni mengetahui semua nya karena ia memerintahkan anak buah nya mengawasi Dinda saat berlibur ke Danau Toba dan hal itu membuat Toni sangat cemburu.Maka dengan menikahi Dinda lah cara Toni mendapatkan Dinda walau ia harus melihat Dinda mencintai laki-laki lain.
"Maaf."Cicit Dinda menunduk kepala menatap lantai marmer itu.
"Gak perlu minta maaf,Kakak akan mengijinkan mu bertemu dengan nya."
"Benarkah?"Dinda senang tapi ia sedikit takut.
"Benar,tapi ada syaratnya."
"Apa syarat nya kak? Kakak duduk gih,jangan berlutut terus."titah Dinda.
__ADS_1
Toni pun bangkit duduk di sebelah Dinda,ia menatap Dinda dengan wajah datar.Sungguh ia tak rela akan Dinda bertemu dengan laki-laki lain jika Dinda menjadi istrinya.
"Boleh bertemu tapi di tempat umum,jangan berduaan,gak boleh bersentuhan apalagi sampai kalian melakukan itu. Jika kalian melakukan itu maka setelah nya kakak akan membunuhnya."Peringatan untuk Dinda dengan tegas.
Dinda mendengar pun menelan saliva kasar seperti menelan nasi tanpa di kunyah terlebih dahulu.Ia pun bergidik ngerih.
"Kak, bagaimana bisa kakak menikahi ku padahal aku tidak mencintaimu meski aku sayang padamu." Dinda masih berusaha menolak.
"Kamu percaya bahwa cinta akan hadir karena terbiasa? Kamu sudah mengakui sayang sama kakak,maka tidak sulit untuk membuatmu jatuh cinta."
"Ck..kamu mengatakan seolah aku ini murahan."Jawab Dinda ketus.
"Enggak Din,kamu wanita spesial.Terimakasih telah hadir di hidup kakak." Toni mengecup kening Dinda sangat tulus.
"Bisakah aku menolak?"
"Enggak sayang,jawaban kamu hanya iya dan oke.Apalagi tadi Mama sudah mengetahui kalau kamu sedang hamil anak kakak." Toni tersenyum menang saat ini.
"Oke tapi ada syaratnya."
"Kakak harus menerima anak Dinda seperti anak kakak sendiri dan sebelum kita Sah secara hukum kakak gak boleh minta hak kakak."
"Syarat pertama tentu bisa Din..Karena kakak juga sudah ingin punya anak tapi syarat kedua kakak mana bisa,ganti yang lain deh.. ganti ya." Rengek Toni dengan wajah memelas.
Dinda tertawa melihat wajah memelas Toni,Ternyata benar..sepertinya olahraga di atas tempat tidur itu kebutuhan utama bagi laki-laki.
"Sayang,ganti ya syarat nya." Toni mengikuti Dinda.
"Kak, Dinda harus kuliah..nanti saja kita bahas oke..Dan lagi,kakak melamar Dinda tidak ada romantis nya."
Toni tertawa,benar ia menyadari acara melamar tadi tidak ada romantis malah kesan hanya memberi tahu jika akan menikah karena Dinda sama sekali tidak di beri kesempatan menolak.
"Kakak antar ya.."tawar Toni tersenyum.
Dinda mengangguk.
Setelah turun dari lift dan menaiki mobil,Dinda terdiam,ia bingung akan hidupnya.Kenapa menjadi sangat rumit pikirnya.Seperti benang kusut tak nampak ujungnya.
Dinda teringat ada janji makan siang bareng dengan Zaki sopir travel menyebalkan.Apakah harus ijin?
"Kak.."Panggil Dinda.
"Hem.."
__ADS_1
"Kakak ikutin Dinda gak di kampus?"Tanya Dinda hati-hati karena ia juga takut jika Toni sampai menghajar Zaki.
Toni mengernyitkan dahi heran karena tumben Dinda bertanya seperti ini.
"Kenapa?"Bukan menjawab malah bertanya tetap fokus ke jalanan sesekali menatap Dinda curiga.
Tuh kan..curiga, mendingan jangan di tanya tadi.
"Nanti Dinda mau makan siang bareng temen."Ucap Dinda tanpa menatap Toni dan itu membuat Toni semakin curiga.
Temen?gile aje Zaki gue kata temen.
"Temen?" Toni semakin curiga pada Dinda karena Toni mengenal Dinda luar dalem bahwa Dinda tidak mudah akrab dengan orang baru.Dan ia juga mengetahui siapa-siapa teman Dinda.
Dinda hanya mengangguk,ia bingung harus bagaimana.Jika di beritahu pasti Toni melarang,gak di kasih tahu malah semakin runyam.
Toni benar-benar curiga sehingga ia menepikan mobil di depan toko.
"Jujurlah Dinda."Toni menatap mengintimidasi Dinda.
"Zaki.Namanya Zaki kakak tingkat Dinda."Jawab Dinda cepat sambil memejamkan mata karena ia takut dengan tatapan Toni.
"Kamu dekat dengan laki-laki lain? apa tidak cukup Dimas saja yang mendekati mu Din? rasanya benar-benar ingin mengurung mu saja." Toni merasa frustasi dengan keadaan,Ia juga menyadari selain masih muda,Dinda juga sangat cantik.
Dinda melongo mendengar ucapan Toni sedang cemburu.
Apakah begini ya berhubungan dengan laki-laki dewasa,tapi wajah kak Toni sungguh sangat menggemaskan jika sedang cemburu.Seperti laki-laki seusia ku.Hahaha .. Dinda tertawa dalam hati.
"Iya Zaki,kami juga semalam belanja perlengkapan bayi Dinda kak."Dinda melipat bibir menahan tawa.Ia sengaja memanasi Toni agar lebih cemburu.
"Gak akan kakak biarkan kamu bertemu dia lagi bahkan laki-laki lain.Kamu hanya punya kakak."
Toni benar-benar tidak bisa mengontrol perasaan cemburu jika menyangkut Dinda.
Dinda tidak tahan akhirnya tertawa terbahak-bahak sampai memegang perut buncitnya.
"Aduh..sakit pipi Dinda..Sudah jangan cemburu dong..Kakak ikut makan siang bareng setelah itu kita belanja gaun untuk acara suami Dinda ya.."
"Baiklah,dan sekaligus nanti malam adalah malam kita sayang."Toni menyeringai penuh arti.
"Eh maksudnya.."
🌸
__ADS_1
🌸
TBC