PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 90


__ADS_3

"Saya tidak akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti pada umumnya.Saya hanya memberikan peraturan tambahan."Ucap suara bariton itu mengisi keheningan ruang kerja.


Kini Dinda bersama dengan Zaki duduk di sofa berhadapan dengan Toni.Seperti dua terdakwa sedang di hakimi.Sedangkan Toni duduk di kursi kerjanya.


"Pertama.Kamu harus panggil istri saya Nyonya."


Dinda mendengar aturan pertama hendak protes."Kak.."


"Tidak ada bantahan."


Dinda hanya bisa pasrah.Sedangkan Zaki?ia harus menerima karena ia juga butuh pekerjaan untuk biaya kuliah dan biaya hidup.Jadi panggilan Nyonya untuk adik tingkat bukan masalah baginya.


"Kedua.Jarak duduk antara kamu dengan istri saya tidak boleh kurang dari dua meter."


Seketika Dinda dan Zaki saling pandang kemudian menggeser diri lebih menjauh satu sama lain.


"Kak,sofa ini panjang nya dua meter,jadi jarak Dinda dengan bang Zaki kurang dari dua meter." gerutu Dinda.


Toni tidak menjawab.


"Ketiga.Ini peraturan khusus untuk kamu Dinda Larasati."Toni menatap Dinda dengan serius.


Dinda pun membalas tatapan Toni tak kalah serius."Dinda akan menerima peraturan apapun dari kakak jika itu membuat hati kakak merasa aman."


"Kamu tidak boleh duduk di samping kemudi.Kamu harus duduk di belakang,di kursi penumpang.Paham?"


Dinda pun mengangguk.


"Kamu tidak boleh mendatangi Zaki sendirian.Tidak boleh minta masakan Zaki,tidak boleh belanja berdua."


Zaki mendengar itu hanya melongo.Ia tidak menyangka,suami adik tingkat nya begitu posesif dan cemburuan.


Dinda hanya tersenyum saat peraturan yang di tujukan untuknya.Ia mengerti mengapa Toni memberikan peraturan itu,karena hal itu lah membuat Dinda dan Toni terbiasa bersama hingga hubungan terlarang itu hadir.


"Hanya itu peraturan untuk Dinda kak?Kenapa lebih banyak peraturan untuk Dinda kak?"


"Karena tanpa kamu sadari,masih ada pria lain yang menyukai mu selain Dimas sayang."Seketika wajah Toni berubah sendu.


Dinda terperanjat mendengar apa yang baru saja Toni katakan.Sedetik kemudian Dinda merasa khawatir.


Ya..Khawatir kisah lama terulang lagi.Dinda sangat tidak ingin hal itu terjadi lagi.


"Maafin Dinda kak.."


tok..tok..tok..


Terdengar suara ketukan dari pintu.


Dinda bangkit membuka pintu,tampak Bi Jubaidah disana.


"Ada apa Bi?"


"Ada tamu Nya."


"Tamu? Malam-malam begini?Siapa Bi?"


"Anu Nya,wanita..Tamu Tuan."Ucap Bi Jubaidah takut-takut.


*Deg

__ADS_1


Wanita? malam-malam?apa dari masa lalu kak Toni*?


"Suruh tunggu di ruang tamu aja Bi."


Dinda menutup pintu.


"Bang Zaki tunggu di ruang makan ya,nanti kami nyusul."


Zaki hanya mengangguk dan keluar dari ruang kerja.Lidah nya terasa kaku untuk mengucapkan kata Nyonya pada Dinda.


Dinda menatap Toni dengan tajam.


"Kakak ada undang teman wanita kakak kerumah?"


"Tidak.Memang siapa?"


"Jujur sama Dinda kak?Kalau memang kakak masih berhubungan dengan wanita-wanita kakak,Dinda mohon jangan di bawa kerumah ini kak.Dinda tahu kalau Dinda ini nggak jauh beda sama mereka.Tapi tolong jangan di depan Dinda kak."Tanpa di ijinkan air mata Dinda sudah menetes tiada henti.


"Hei..Kakak tidak pernah lagi bermain wanita setelah bersama mu.Jangan menangis..Kita lihat siapa yang datang ya.."Toni memeluk Dinda sembari membelai rambut Dinda.


Dinda hanya mengangguk.


****


"Ada perlu apa?"Tanya Toni.


"Tidak ada Tuan.Saya mendengar Tuan sakit."


"Alasan! Kamu yang sakit.Sakit jiwa.Dasar ulet keket."Dinda ngedumel mendengar wanita yang mengincar suaminya.


Toni mendengar dumelan Dinda hanya bisa menahan tawa.


"Wangi sekali makanan nya,Tuan mau makan malam ya?"Tanya Rina.


Dinda dan Toni saling pandang.Tidak ada sopan santun pikir keduanya.


"Iya."Toni menjawab singkat.


"Kenapa?mau minta makan?"Tanya Dinda sewot.


****


"Sial.. Bagaimana jika Dinda tahu kalau Dimas akan kembali? Bagaimana dengan Tuan Toni?"Gerutu Rian.


"Kau harus memberi tahu Dinda,tapi tetap yakin kan Dinda untuk tetap bertahan pada Tuan Toni Rian."


"Ya..Malam ini juga aku akan memberi tahu Dinda."Suara Rian berubah lirih.


"Rian..Apa kau masih merasakan cinta pada Dinda?"Tanya Ali.


"Entahlah,aku hanya ingin Dinda bahagia Li,aku tak mau menjadi pihak ketiga."


"Ya sudah,ikut dengan ku malam nanti ke diskotik,kita bersenang-senang disana dengan para wanita."Tawar Ali yang memang senang bermain wanita.


"Kau saja.Mending sendiri.Sayang bibit unggul ku."


Ali hanya tertawa mendengar jawaban Rian.


*****

__ADS_1


Ruang makan.


Keadaan di meja makan sangat tegang.Sampai Bi Jubaidah menyiapkan makanan juga bergidik ngerih.Ia tahu Nyonya nya saat ini sedang tidak bagus hatinya dan ia tahu sebabnya karena wanita yang duduk berhadapan dengan Nyonya Dinda.Rina.


Tidak malu nya wanita itu meminta makan malam dirumah Dinda dan Toni.


Zaki merasa lucu dengan keadaan yang sedang berlangsung.


"Sini biar saya ambilkan makanan nya."Rina berdiri dengan cepat merebut piring yang sudah di pegang Dinda.


Dinda melongo.


Ulet keket ini benar-benar udah berani di depan ku.Aku harus hati-hati padanya.


Dinda kembali menetralkan diri.Ia tersenyum paksa.Kemudian ia mengambil makanan nya sendiri.


"Suamiku..Ayo di makan makanan yang di ambilkan mbak Rina."Dinda berbicara penuh penekanan dengan tatapan tajam pada Toni.


Dinda sama seperti kita,sering sekali kita berkata seolah menyetujui tapi sebenarnya ia sangat tidak setuju.


Toni sangat tahu istrinya cemburu dan marah.Tapi ia juga tidak bisa mengusir Rina.Mau bagaimana pun Rina adalah sekretaris handal menurutnya.


"Kakak makan makanan kamu saja ya."Toni mengambil makanan yang ada di depan Dinda.


Rina yang mendapat penolakan hanya bisa menahan geram.


Makan malam di rumah Dinda dan Toni sangat hening,hanya ada suara dentingan sendok dan garpu saling beradu.Bahkan Dinda dengan sengaja menekan sendok dan garpu agar suara dentingan lebih keras.


"Dinda selesai."Dinda merasa tidak bisa mengontrol emosi saat ini hingga ia menyelesaikan makan tanpa menghabiskan makanan di piring.


Dinda beranjak ingin ke kamar baby El namun tangan sudah di cekal oleh Toni.


"Tetaplah disini sayang..Setelah selesai makan kalian bisa pergi.Dan kamu Zaki,mulai besok pagi tinggallah di rumah belakang."


Zaki yang di sebut namanya hanya bisa mengangguk.Ia pasti setuju karena tidak akan membayar biaya kos lagi.


Bi Jubaidah datang membungkuk hormat terlebih dahulu. "Nyonya ada tamu."


"Akan saya temui,suruh masuk ya Bi.."


"Kakak selesaikan makan lebih dulu ya..Dinda akan ke depan."Sambung Dinda berjalan ke ruang tamu.


****


"Bang Riaaann..."Dinda berlari berhambur dalam pelukan saat Rian masih berbicara di telepon.


Rian tersenyum dan mematikan sambungan telepon nya kemudian membalas pelukan Dinda."Dimana Tuan Toni Din?"


"Lagi makan malam."Jawab Dinda saat pelukan sudah terlepas.


"Ada yang ingin abang bicarakan.Ini penting."Wajah Rian seketika berubah menjadi serius.


"Katakanlah bang."


"Dimas kembali Minggu depan."


*Deg


🌸

__ADS_1


🌸*


__ADS_2