PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 124


__ADS_3

Seakan terhempas dari ketinggian, dan jatuh terperosok ke dalam jurang yang sangat terjal. Membuat semua tulang seakan lepas dari tubuh. Itulah yang dirasakan Dinda. Seluruh tubuhnya melemas seketika, untuk berdiripun ia tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Ia menahan kuat sesak di hati dengan menekan dadanya kuat. Hati Dinda benar-benar hancur. Ia menahan sekuat mungkin agar air matanya tidak jatuh. Apa yang bisa ia lakukan saat ini? Apakah ini memang kenyataan pahit yang harus di terima seumur hidupnya? Tidak bolehkah ia bahagia?


Dunia nya runtuh. Tubuh Dinda gemetar hebat. Ia benar-benar terguncang mendengar pengakuan Merry beberapa saat lalu. Ia menatap bibi Jubaidah, Maya, dan Zaki secara bergantian. Tatapan penuh luka tidak dapat di sembunyikan.


"Bi.. Kenapa kak Toni tega? Apa karena Dinda gak bisa masak?" tanya Dinda di tengah Isak tangisnya.


Bibi Jubaidah menggeleng dan ikut menangis merasakan apa yang Dinda rasakan.


"Nggak Nyonya. Tuan gak mungkin ngelakuin itu." ia mencoba meyakinkan Dinda walau ia sendiri tidak tahu kebenaran nya.


Dinda menggeleng tanda tidak setuju dengan apa dikatakan bibi Jubaidah. Ia beralih menatap Maya. "Sus.. Kenapa suami ku tega? apa aku gak becus mengurus anak? apa karena aku menunda punya anak lagi jadi suamiku tega lakukan ini padaku?"


Maya tidak mengerti dan tidak tahu harus jawab apa hanya mencoba menenangkan Dinda. "Nyonya jangan begini.. Kasihan El Nyonya."


Setelah mendengar ucapan Maya, tangis Dinda semakin menjadi. Ia meraung bak anak kecil menangis meminta mainan pada ibunya.


Zaki melihat Dinda seperti itu semakin tidak tega. Di peluk tubuh sedang rapuh tersebut. "Jangan menangis Din.. Bisa jadi ini termasuk jebakan Merry."


Suara tangis Dinda meredah. Ia hapus kasar air matanya. Wajah yang biasanya cantik nan ceria itu kini merah sembab penuh luka.


Dinda dan Zaki bersitatap dengan mata Dinda masih terus berkaca-kaca.


"Dinda yakin ini bukan jebakan bang.. Kau tahu, hal apa yang buat aku salah paham pada kak Toni malam tadi?"


Zaki menggeleng karena ia tidak tahu. "Abang gak tahu Din.."


"Ada tanda cinta disana bang.. ada kissmark di leher kak Toni." bahu Dinda kembali bergetar. Ia kembali menangis dalam pelukan Zaki.


****


Beberapa saat lalu Merry datang seperti dia lah pemilik rumah ini.


"Anu Nyonya ada tamu cari Nyonya." kata Pak Amad.


"Siapa Pak?"


"Katanya dosen Nyonya. Dia sudah di ruang tamu."


"Merry. Mau apa dia kesini?"


Dinda beranjak menuju ruang tamu. Zaki dan yang lainnya mengikuti karena khawatir jika Dinda akan di celaka oleh Merry.


"Hai Dinda." Sapa Merry saat sudah berada di ruang tamu, duduk menyilang kan kaki.


"Ada perlu apa ke rumah saya?" tanya Dinda ketus.


Merry bangkit dengan tatapan mengejek. "Sayang sekali kalau sebentar lagi rumah ini akan menjadi milik saya." Merry tersenyum miring sereya tangan bersidekap di dada.

__ADS_1


Dinda mengerut dahi bingung atas ucapan Merry. "Apa maksud anda?"


"Sebentar lagi aku lah Ratu di rumah ini dan saya lah yang akan menjadi istri dari Toni Sanjaya." ucap Merry dengan lantang.


Deg


Apa maksud ucapan nya?


Dinda mencoba mengendalikan diri agar tidak terlihat terpancing atas ucapan Merry.


"Maksud anda apa?


"Saya tahu jika anak kamu bukan darah daging dari Toni dan dia juga menginginkan anak darah daging nya sendiri."


Hati Dinda merasa seperti di remas. Pikiran-pikiran nya sudah berkelana ke arah yang sama sekali tidak di inginkan.


"Saya hamil."


Duaarr


Semua mata menatap ke arah Merry dengan tatapan terkejut seraya tidak percaya.


"Hamil anak Toni." ucapnya lagi.


Dinda menggeleng, matanya memanas mendengar pengakuan dari Merry.


Merry menyerahkan selembar kertas dan benda kecil bernama testpack pada Dinda.


"Ini buktinya. Baiklah saya permisi. Saya harap kalian cepat pergi dari rumah calon suami saya." Merry berlalu begitu saja dengan seringai nya.


*****


"Bang.. Dinda harus pergi dari rumah ini kan bang?" tanya Dinda dengan tatapan kosong.


"Din.. Apa kau tidak ingin bertanya lebih dulu pada suamimu?" Zaki benar-benar tidak ingin Dinda berpisah dengan Toni. Karena ia tahu jika keduanya saling mencintai.


"Aku udah gak sanggup mendengar kebenaran ini bang. Aku dan El udah gak berhak ada di hidup kak Toni. Tapi aku gak tahu harus kemana."


Dinda teringat sahabatnya. Ia pun mengambil ponsel menghubungi sahabatnya.


Dinda : Sari..


Dinda tidak dapat menahan air matanya lagi.


*Sari : Hei.. kau kenapa?


Dinda : Kak Toni khianati aku.. Bu Merry hamil.

__ADS_1


Sari : Breng sek.. Apa aku harus kesana untuk menghajar nya?


Dinda : Jangan. Tolong aku carikan tempat untuk aku tinggal. Aku gak mungkin pulang ke Kalimantan.


Sari : Baiklah. Nanti ku kirim alamat nya. Sekarang kau tenang jangan menangis lagi. Kendalikan dirimu beb.. Semua akan baik-baik aja.


Dinda : Makasih beb..


Sari : Apapun untuk sahabat cengeng ku. Udah dulu ya.. Aku masih ngerjakan tugas kuliah*.


*****


Di kantor Sanjaya Group.


"Rina. Kosongkan jadwal saya dari tanggal 13 sampai 15." titah Toni.


"Tapi tuan tanggal 13 ada meeting pada pemegang saham."


"Kosong kan. Ubah jadwalnya menjadi tanggal 16."


"Baik Tuan."


Setelah Rina keluar. Toni memandangi foto istrinya juga baby El dengan senyuman manisnya. Sangat jarang Toni tersenyum jika tidak pada Dinda dan baby El.


"Kalian adalah hidupku. Bahagialah bersama ku. Teruslah hidup bersama ku." ucap Toni mengelus foto tersebut dengan ibu jari.


"Lusa kita liburan ya.. Kita ajak semua pekerja rumah kita menginap ke hotel hadiah ulang tahun mu. Kita buat mereka bahagia disana. Hotel kamu ada SPA dan Salon sayang.. Kakak tahu kamu suka hal kecantikan tubuh mu. Disana juga ada ruang karaoke sesuai hobby mu bernyanyi. Dan ada kafe dan restoran juga."


"Maaf jika hadiahnya nantinya tidak kamu suka. Tapi kakak yakin kamu akan menerima nya."


*****


"Bang. Ayo kita ke KUA." ajak Dinda pada Zaki saat sudah berdua di ruang tamu.


Zaki terlonjak mendengar ajakan Dinda. "Kau belum juga pisah dari Toni udah ngajak nikah."


Dinda terkekeh di tengah isak tangisnya. "Dasar Playboy cap ikan teri Medan. Aku ajak kesana ngurus pernikahan mu sama suster Maya."


Zaki menyadari ke bo dohan nya hanya bisa cengengesan dan menggaruk bagian belakang kepala yang tidak gatal sama sekali.


"Baru ngeh? sebentar Dinda siap-siap dulu." Dinda beranjak menuju kamar dengan tatapan kosong.


*Mencoba baik-baik saja itu tidaklah mudah. Kisah kita selesai kak.. Kisah kita sudah tidak dapat di lanjut kembali. Kisah cinta kita sudahTamat.


🌸


TBC*

__ADS_1


__ADS_2