PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 89 Baby El shopping


__ADS_3

"Udah selesai sus?"Tanya Dinda pada suster Maya.


"Sudah Nyonya,barang den El sudah selesai."


Dinda menghampiri Toni yang sedang bermain bersama El di ranjang.Dinda tersenyum melihat Toni yang sangat menyayangi El.


Apa salah suami mu Dinda?hingga kini hatimu masih terbagi. gumam Dinda dalam hati.


"Kak..Ayo kita berangkat."


Toni menoleh kearah Dinda.Ia memandangi Dinda dengan wajah datar.


"Kenapa mau belanja saja kamu dandan secantik ini?"


Ya..Saat ini Dinda memakai dress di atas lutut tanpa lengan dan high heels senada dengan dress.


"Memang Dinda cantik."Dinda menjawab enteng tanpa menatap Toni karena ia sedang asik bermain dengan baby El.


"Ganti."


"Hah??"Dinda menoleh kearah Toni barulah ia mengerti saat ia melihat mimik wajah Toni.


Dinda pun beranjak membuka lemari untuk memilih pakaian yang sangat simple.Dan pilihan nya jatuh pada baju bahan rajut berwarna putih dan celana panjang bahan kain warna hitam.


"Sudah ayo kak."Dinda berbicara berjalan kearah Toni.


"Itu juga masih cantik Dinda.."Protes Toni.Ia tidak rela jika kecantikan Dinda di nikmati orang lain.


Dinda menghela nafas kasar.Ia mulai kesal dengan Toni.


"Kak..Dinda udah pakek baju kayak ta'i cicak masih di bilang cantik?"


Dengan polos nya Toni mengangguk.


"Astaga..Jangan aneh-aneh deh,siapa suruh sediain baju bagus-bagus, skincare mahal untuk Dinda?"


"Kakak."


"Ya udah,kakak yang salah.Ayo dong berangkat,keburu siang kak.Suster Maya udah nungguin loh"Rengek Dinda.


Toni sangat gemas dengan Dinda.Ia selalu suka saat Dinda merengek padanya.


Toni meraih tengkuk Dinda seketika bibir mereka bertemu,lu matan sekilas untuk Dinda.


"Kak.."Pekik Dinda sembari menimpuk lengan Toni.


"Apa nggak malu dilihat suster Maya?"Sambung nya lagi.


"Sus,apa kamu melihat nya tadi?"Tanya Toni dengan wajah datar pada pengasuh baby El.


"Ti-tidak Tuan."Jawab suster Maya berbohong karena takut pada Majikannya.


Sering sekali Maya merasa takut jika berada dekat dengan Tuan nya karena selalu memasang wajah datar dan dingin hanya pada istrinya ia menjadi wujud yang hangat.

__ADS_1


"Dengar sayang,suster Maya tidak melihat kita."


"Ya terserah kau aja ya..Ayo kita berangkat."


Selalu saja ada kerempongan jika Dinda dan Toni akan pergi.Tapi itulah hal yang akan di rindukan.


"Sebentar malam Zaki akan kerumah kak."Ucap Dinda saat dalam perjalanan ke pusat perbelanjaan di Kota Medan.


Toni hanya mengangguk karena fokus pada jalanan. "Tapi janji jangan aneh-aneh ya."


"Aneh-aneh gimana kak?"


"Jangan seperti kita dulu,kakak takut."Toni meraih tangan Dinda kemudian di kecupnya.


Dinda mengerti arah bicara Toni.Ia tersenyum menatap Toni yang sudah fokus ke jalanan.


"Nggak akan kak, bagaimana mungkin Dinda seperti itu lagi kalau kakak saja sudah buat Dinda mabuk kepayang."Dinda mengerling kan mata kemudian tertawa.


"Kamu mesum sayang."


Akhirnya sepasang suami istri itu tertawa,suster Maya hanya bisa menggelengkan kepala.Ia merasa iri,siapa pun wanita yang melihat sepasang suami-istri ini akan mengalami hal sama.Di cintai dengan suami dan di nomor satukan oleh suami itu adalah anugerah.


Ia berharap suatu saat nanti akan mendapatkan suami seperti Tuan nya.Tapi bukan berarti ia menginginkan Tuan nya.


*****


"Jo,Tuan Toni nggak masuk?" Tanya Dinda saat Asisten Jo melewati mejanya.


"Tidak."Jawab asisten Jo dengan formal.


"Tuan Toni pasti sedang bersama anak dan istrinya dan kamu hanya sekretaris nya jadi bukan urusan kamu."Asisten Jo berlalu pergi dari meja kerja Rina.


Rina mendengar ucapan asisten Jo semakin membuat ia bertekad merebut Toni menjadi miliknya.


****


Asisten Jo masuk ke ruangan nya.Ia hanya bisa menggelengkan kepala memikirkan Rina.


"Kau nggak akan bisa menempati posisi istri Tuan Toni Rin.Karena aku mengenal Tuan Toni.Kau hanya melihat Tuan Toni saat jam kerja saja sedangkan aku?Aku lah yang mengurus keperluan nya sebelum Nyonya Dinda hadir."


"Dan aku juga yang mengurus para wanita ja lang yang akan di tiduri Tuan Toni selama tinggal di kota Medan.Aku senang Tuan Toni menikah dengan Nyonya Dinda,Tuan Toni tidak pernah lagi memintaku untuk mencarikan wanita ja lang.Itu berarti servis Nyonya Dinda sangat bagus."


Asisten Jo tersenyum."Jadi kangen istriku."


"Aku telepon saja."


*****


"Sayang..Kamu makan saja lebih dulu."


"Enggak kak,biar suster Maya lebih dulu makan.Dinda juga belum lapar sebenarnya."


Suster Maya merasa tidak enak."Iya Nya,biar saya jaga den El saja."

__ADS_1


"Nggak sus,makan lah lebih dulu."


"Ya sudah kamu dan suster Maya makan lebih dulu,biar kakak yang gendong El."


Dinda pun setuju,suster Maya makan di meja yang berbeda.


Dinda makan sembari melihat kearah Toni yang sedang mengelus-elus pipi baby El.Dinda merasa tidak enak dengan Toni pun menyodorkan sesuap nasi ke mulut Toni.


"Serius mau suapin kakak?biasanya kakak yang suapin kamu."Ejek Toni sembari menerima suapan Dinda.


"Terimakasih loh udah jujur."Dinda tersenyum saat makanan sudah masuk ke mulut Toni.


"Apa kamu senang hari ini sayang?"Tanya Toni saat suapan Dinda masuk kembali ke mulutnya.


"Tentu, terimakasih kak.Maaf udah nguras kartu kredit kakak."Dinda cengengesan.


"Tidak apa,yang kamu beli adalah yang kita butuhkan.Dan kakak bangga padamu tetap ingat pada para pekerja di rumah."


Dinda hanya tersenyum.


"Jangan tersenyum."Larang Toni.


Seketika senyum Dinda memudar."Kenapa kak?"


"Nanti ada yang melihat senyum kamu jadi jatuh cinta."Wajah Toni berubah datar.


"Kenapa kakak sangat posesif?"


"Jadi kamu tidak suka kakak posesif?"


"Suka.Dinda suka kakak seperti itu selagi tidak menggangu aktifitas Dinda."


"*I Love You."


"Love you too*."


"Sayang,kita mampir ke kantor sebentar ya.. Jam 2 kakak ada meeting dengan pihak Perusahaan Jakarta."


"Apa Asisten Rian datang?"


"Ya,dengan Asisten Ali juga."


Seketika wajah Dinda berbinar-binar mendengar jika Asisten Rian datang ke kota Medan.Ia rindu dengan Asisten Rian yang sudah ia anggap Abang sendiri.


Toni menyadari perubahan wajah Dinda menjadi tanda tanya,tapi ia tidak ingin curiga pada Dinda.Cukup satu orang saja yang membuat ia merasa terancam,jangan ada lagi.


"Ya sudah kita ke kantor kakak saja."Dinda masih terus mengembangkan senyuman.


"Kenapa senyum-senyum?"


"Ehh..nggak kak."Dinda menyadari kesalahannya.Ia pun diam tanpa senyuman lagi.


Toni hanya mengangguk.Ia berharap Dinda tidak menyembunyikan sesuatu padanya.

__ADS_1


🌸


🌸


__ADS_2