PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 107


__ADS_3

"Abaaanngg..." Teriak Dinda girang saat melihat Rian sudah duduk di bangku taman.


Rian menoleh ke sumber suara yang sangat di kenal dan dirindukan. Ia pun merentangkan kedua tangan siap menerima pelukan dari Dinda.


Bugh...


Tubuh Rian terhuyung saat Dinda mendaratkan tubuh dalam pelukan. Ia pun membalas pelukan Dinda.


"Jangan sedih." Ucap Rian.


Dinda menggeleng."Nggak untuk sekarang."


"Kakak beli susu dan eskrim kesukaan kamu." Rian melepaskan pelukan memberi intrupsi dengan dagu nya ke arah bangku taman.


Dinda tampak girang melihat susu kedelai dan es krim itu. "Udah lama Dinda nggak minum susu kedelai ini bang." Ujar Dinda sembari membuka tutup botol susu kedelai.


"Loh kenapa? Kan banyak yang jual Din."


"Kalau melihat susu ini jadi ingat Dimas dan pasti Dinda merasa bersalah sama kak Toni." Ucap Dinda lirih dengan wajah sendu.


"Kamu masih mencintai Dimas?"


Dinda menggeleng. "Mungkin nggak. Karena Dinda baru menyadari jika Dinda telah jatuh dalam pesona kak Toni lebih dulu. Waktu kebersamaan kami telah mencuri cinta itu. Tapi semakin jauh hidup bersama dengan kak Toni semakin bertambah rasa takut itu kak." Dinda menatap kosong ke arah depan menelisik apa saja yang akan terjadi kemudian hari.


Dinda dan Rian saling diam menyelami perasaan masing-masing. Rian tidak ingin melihat Dinda sakit hati. Apalagi berita yang ia bawa sungguh ia tidak sanggup untuk menyampaikan pada Dinda.


"Ayo kita sarapan bang." Ajak Dinda memecah keheningan antara keduanya.


"Ayo. Kita cari taksi dulu."


"No... Kita jalan aja. Dekat dari sini. Kalau naik taksi bakalan muter jadi lama." Tolak Dinda.


"Kamu beneran mau jalan? Pagi ini cukup panas loh untuk ukuran jam tengah 9. Nggak capek?" Rian khawatir.


Dinda menggeleng dan tersenyum. "Tenang aja bang, waktu sekolah sering jalan kalau pulang sebelum di beli.in motor sama Bapak."


Dinda dan Rian menyeberangi jalan raya kemudian masuk ke perumahan sederhana. Sebelum masuk ke perumahan sederhana tampak banyak orang berjualan jajanan kuliner. Ada jual gorengan, Pempek Palembang , Warung bakso, Ayam krispi, dan Jual Kartu Perdana juga ada.


Dinda berjalan dengan girang sesuai umur dan sifat manja nya. Seakan melupakan jika ia adalah seorang istri dan seorang ibu. Ia hanya ingin menikmati kebersamaan dengan Rian yang sudah di anggap abang sendiri. Sekarang ia hanya seorang adik perempuan yang ingin menghabiskan waktu dan uang abang nya saja.


"Hati-hati Din." Titah Rian saat Dinda tersandung saat berjalan.


Dinda menoleh ke belakang dengan senyum nyengir kuda. "Hehehe iya bang.."


"Kamu capek?"


"Nggak. Bentar lagi sampek kok. Itu udah kelihatan warung nya." Dinda menunjuk warung tampak ramai itu.


*****

__ADS_1


Hari ini Toni tidak dapan konsentrasi bekerja memikirkan bagaimana pernikahannya dan bagaimana dengan Merry cinta pertama nya.


Ia tidak ingin menyakiti Dinda tapi ia juga ada rasa ingin memiliki Merry. Katakan lah Toni pria breng sek yang serakah ingin memiliki keduanya.


"Dinda.. Maafin kakak. Kakak akan memperbaiki ini semua. Kakak butuh waktu."


Tok..tok..tok..


"Masuk."


"Maaf Tuan sudah waktunya meeting." Ucap Rina memberitahu jadwal Toni.


"Perintahkan Jo untuk menggantikan saya." Toni tidak mungkin menghadiri meeting jika dalam keadaan kalut seperti ini.


"Maaf Tuan. Asisten Jo sedang mengadakan kunjungan bangunan hotel yang ada di Helvetia."


Oh shiit.. Kenapa bisa lupa.


"Rin. Boleh saya bertanya?"


Rina mendengar hanya mengangguk. "Tanyakan saja Tuan."


"Apa kamu bisa melupakan cinta pertama kamu?"


Tumben sekali Toni bertanya hal pribadi pada seseorang. Bahkan pada bawahan nya saat ini.


"Tentu sulit tapi saya akan tetap memilih seseorang yang sudah berada di samping saya saat ini Tuan."


"Kenapa kamu bisa berkata seperti itu?


"Karena yang mencintai kita tidak mungkin pergi meninggalkan kita. Atau bisa saja pergi jika hati terus tersakiti. Tidak ada wanita atau lebih tepatnya istri melihat suami bersama dengan wanita lain Tuan. Apalagi bersama masalalu."


"Saya permisi Tuan." Rina keluar setelah mengeluarkan peringatan pada Toni. Ia tentu tahu hal itu karena dua resepsionis selalu memberi informasi jika mengenai Toni.


*****


"Dengarkan yang abang katakan ini Din. Apapun yang terjadi kamu harus bertahan.Merry hanya masalalu. Abang dari dulu tidak suka dengan Merry. Dia hanya ingin kekayaan suamimu saja." Terang Rian saat keduanya sudah berada di taman Marelan.


"Tapi melihat pandangan mata kak Toni masih ada cinta disana bang. Bagaimana bisa Dinda menjadi penghalang cinta mereka?"


"Bukan penghalang. Merry hanya ujian cinta kalian. Kamu istri sah. Kamu lebih berhak atas Toni."


Dinda tampak tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan menerawang segala sesuatu yang akan terjadi walau ia sendiri tidak menemukan kejadian apa yang akan terjadi. Karena Dinda bukan cenayang.


"Hubungi kakak jika suatu saat kamu butuh bantuan." Ujar Rian.


Dinda tidak menanggapi karena Rian juga pasti tahu, Dialah yang akan Dinda hubungi jika terjadi sesuatu. Karena ia tidak mungkin menghubungi Sari karena ia tahu bahwa Sari juga masih dalam penyembuhan hati karena mantan suaminya walau ia juga menceritakan keluh kesah hidupnya.


Ia juga percuma mengaduh pada Zaki karena Zaki playboy yang belum menemukan cinta yang sesungguhnya.

__ADS_1


Mengaduh pada orang tua atau mertua? Dinda tidak akan segila itu untuk menceritakan masalah yang di buat oleh Toni. Dan 1 yang pasti. Ia tidak ingin orang tuanya khawatir lagi. Cukup sudah kesalahan fatal dan gagal sekali berumah tangga. Jangan ada masalah lagi yang di timbulkan oleh dirinya.


Hanya Rian yang bisa ia andalkan. Walau ia tahu tatapan Rian sama dengan tatapan Toni. Ada cinta di mata itu. Tapi ia harus tegas, ia tidak ingin mengulangi kisah lama dan ia juga bersyukur Rian tidak pernah melewati batas. Hanya antara abang dan adik.


"Nanti setelah jemput Sari, Dinda mau ke kantor kak Toni. Abang ikut?"i


Rian mengangguk. "Kita ajak makan siang bareng gimana?"


Dinda tampak ragu. "Dinda takut ganggu bang."


*****


"Ayo dong Ton makan siang bareng aku."


"Kamu saja."


Toni menolak karena ia mengingat perkataan Rina pagi tadi. Ia membenarkan apa yang di katakan Rina. Maka ia bertekad mencoba menghindari Merry.


"Kamu kenapa? Apa istri kamu akan datang?" cerca Merry.


"Tidak. Dinda saat ini pasti bersama sahabatnya."


Dinda,Rian,dan Sari sudah berada di Lobby kantor Toni. Tidak lupa Dinda menyapa dua resepsionis dengan ramah.


Ina dan Berta tampak kikuk saat mengetahui istri pemilik Perusahaan berkunjung. Bukan hal baru bagi mereka namun saat ini ada wanita yang mereka nilai calon pelakor.


Ketiganya menaiki lift khusus Presidir.


"Beb. kau beneran tajir sekarang.Hebat lo."


Dinda tertawa dan mengakui jika sahabatnya masih saja bicara nyablak, ceplas-ceplos, dan tajam bila saat emosi.


"Kau mau apa beb? mobil, motor, atau becak odong-odong aku belikan." Sindir Dinda.


Dinda dan Sari tertawa sedangkan pria yang berdiri di belakang mereka hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Aahh beb, aku pengen naik becak lagi keliling Medan." Seru Sari.


"Sama. Selama udah nikah naikan ku mobil mulu. Bosen."Keluh Dinda tentang fasilitas mewah yang di sediakan Toni untuknya.


"Gak malu cantik-cantik naik becak?" Tanya Rian.


Dinda dan Sari sontak menoleh kebelakang berbicara bersamaan. "Nggak."


Pintu lift terbuka ketiganya keluar tanpa memperhatikan sekitar. Saat mendekati ruangan Toni mereka berhenti saat seorang wanita bergelayut manja di gandengan seseorang memanggil Dinda.


"Dinda.."


🌸

__ADS_1


🌸


TBC


__ADS_2