PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
episode 17


__ADS_3

Dinda tiba dirumah ketika waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ada rasa cemas dan bersalah pada diri Dinda.


Ia sudah mengkhianati suaminya.


Ia sudah mengkhianati janji suci pernikahan.


Ia tak bermaksud, namun ia melakukan pengkhianatan salah satu faktor nya adalah ia tak mengerti pernikahan apa yang ia jalani sekarang ini.


Ia memiliki suami namun suaminya tak pernah bersama dengan nya.


Ia memiliki suami namun tak pernah menghubungi nya sebelum ia sendiri menghubungi suami nya.


Ia bertemu dengan suami nya ketika bangun pagi keesokan harinya.


Ia tak pernah tahu kapan suami nya sudah tidur disampingnya.


Kemudian ia memulai aktivitas nya dan kembali pulang juga tidak mendapati suaminya dirumah.


Begitu seterusnya hingga lima bulan umur pernikahan mereka ini ia terbuai dengan bujuk rayu sang pengawal.


Ia mulai terbiasa dengan perhatian sang pengawal.


Ia mulai menikmati segala kehangatan yang diberikan untuknya.


Apakah ia sudah jatuh cinta pada sang pengawal?


Jawaban nya adalah BELUM.


Perasaan nya belum sampai ke tahap itu.


Ia hanya merasa lebih nyaman saat berada di dekat pengawal itu.


Dinda masuk ke kamar setelah disambut para pelayan. ia semakin bersalah ketika kepala pelayan mengatakan jika suami nya belum makan malam menunggu kepulangan dirinya.


Padahal ia sudah makan saat bersama pengawalnya.


FLASHBACK ON


Sesudah mencapai kenikmatan bermandikan keringat menjadi satu.


Keduanya tertidur saling berpelukan dibalik selimut.


Waktu berjalan hingga pukul tujuh malam. Toni sudah bangun terlebih dahulu.


"Din bangun.. kita udah terlambat pulang Din."


Dinda menggeliat saat tidurnya terusik.


"Aku lelah kak.."


"Maaf telah membuatmu kelelahan, tapi kita harus pulang."


"Iya, tapi aku juga lapar kak."


"Kakak pesan kan makanan ya.."


Dinda mengangguk dan tersenyum kearah Toni.


"Aku mandi dulu kak."


Setelah keduanya selesai mandi dan bersiap pulang, mereka menghabiskan makan malam mereka terlebih dahulu.


Sesaat mereka terdiam saat diperjalanan. Hanyut dalam pemikiran masing-masing.


Hingga tiba di depan pintu utama rumah Arga, mereka masih diam.


"Din.."


"Ya kak.."


"Kemari lah.." Di tarik tubuh Dinda dalam pelukan nya.


"Aku akan merindukan mu, jaga kesehatan mu di dalam rumah ya.. Langsung istirahat, kamu sedikit pucat sayang." Toni benar-benar khawatir saat melihat wajah Dinda sedikit pucat.


"Iya kak, aku hanya kelelahan. jangan khawatir ya."


"Mari kita turun."


Saat sampai di depan utama.


"Selamat malam Nona Dinda." Para pelayan menyapa didepan pintu utama.


"Malam Paman, Apakah Abang sudah pulang?"


"Sudah Non dari sore tuan sudah pulang sang sedang menunggu nona."


"Tumben, ada apa ya?"


"Tuan ingin makan malam bersama nona."


"Ini sudah terlambat untuk makan malam Paman. Kenapa masih menungguku?"


"Tapi tuan belum makan malam non."


"Baiklah." Dinda beralih kearah pengawal nya.


"Pulanglah kak, terimakasih ya."


"Sama-sama, istirahat lah jangan lupa minum vitamin mu Din."


Dinda berjalan menaiki tangga ke lantai dua menuju kamarnya.


Dibuka pintu kamar, ia mendapati suami nya sedang duduk di sofa kamar.


"Abang.." panggilnya.


"Ya..sini." Ditepuknya sofa agar Dinda duduk di sampingnya.


Dinda mendekat lantas duduk di samping suaminya itu.


Arga memeluk Dinda secara tiba-tiba membuat Dinda terkejut diperlukan seperti itu.


"Kamu kemana saja hari ini hem? kenapa pulang terlambat? apa terjadi sesuatu?" Serbu Arga banyak pertanyaan tetap dalam keadaan memeluk Dinda.


"Maaf." Hanya kata itulah yang mampu keluar dari mulut Dinda.


"Iyaa gak apa-apa Din." Masih dalam keadaan memeluk Dinda.


"Bang.. ayo kita makan malam."ajak Dinda merasa bersalah kepada suaminya telah menunggu untuk makan malam bersama.


"Iya.. Tapi.." Arga tidak melanjutkan ucapannya, ia ragu untuk mengatakan pada Dinda.


"Tapi apa bang?"


"Boleh Abang meminta sesuatu dan meminta izin mu?"

__ADS_1


Dinda mengernyitkan dahi nya, Dinda merasa ambigu atas pertanyaan pria di depan nya ini.


"Katakanlah bang."


"Abang rindu.. Boleh?"


Dinda mengerti arah pertanyaan suaminya.


Lagi? aku sangat lelah tapi gak mungkin aku menolak, Arga bisa curiga karena kami sudah lama tidak melakukan ....


"Boleh, tapi hati-hati ya bang."


"Iya Abang janji."


Dikecup kening istrinya, Arga menempelkan keningnya dengan kening istrinya.


"Maafkan Abang belum bisa menjadi suami yang baik untukmu Din, setelah ini Abang akan berusaha untuk menjadi suami yang baik."


Dinda tersenyum dan mengajak Arga ke tempat tidur, Biarlah ia yang memulai permainan ini. Selain untuk menyenangkan suami nya, ia juga bertambah merasa bersalah setelah mendengar penuturan suaminya.


Walau ia sangat lelah setelah pergulatan bersama pengawalnya tadi, tetapi ia tahan hanya untuk menyenangkan suami nya.


Dil***** dan di h**** bibir suaminya.


"Dinda yang pimpin ya bang."


"Dengan senang hati."


Dinda mulai permainan nya, Arga sangat menikmati.


Desahan dan erangan bersautan di kamar tersebut menjadi saksi bahwa permainan Dinda begitu memberikan kepuasan untuk sang suami.


Selang satu jam pelepasan pertama Arga. Dinda ambruk diatas tubuh Arga dengan keadaan masih menyatu.


Arga merasa senang diperlakukan seperti ini pada istri nya.


Arga membalikkan posisi mereka.


ia kembali menggerayangi tubuh istrinya.


menciptakan kissmark percintaan mereka. Sebagai tanda bahwa tubuh Dinda hanya miliknya.


Dinda pasrah berada dibawah tubuh suaminya.


Tubuhnya sudah merasa lelah namun ia tetap mengimbangi permainan suami nya.


Dan kembali terjadi pergulatan panas penuh gairah.


Seperti tidak ada kata lelah untuk pria di atas tubuh nya itu.


Selang tiga jam berlalu. Dinda sudah tak tahan, perut nya terasa kram, tubuh nya sangat lelah.


"Bang, Dinda sangat lelah ssshh ah." keluh Dinda di sela-sela desahan nya.


"Sedikit lagi sayang aahh." Akhirnya Arga mencapai kenikmatan.


Cup


Di kecup singkat kening istrinya.


"Terimakasih."


"Bang, bisa pakaikan baju Dinda?"


"Bisa sayang, sebentar ya.."


Dinda masih terbaring karena sudah tidak tahan merasakan sakit dibagian bawah perut nya. Perlahan Arga memakaikan dalaman Dinda.


Saat memakaikan celana Dinda meringis.


"Kenapa Din?" Tanya Arga mulai khawatir.


"Perut aku sakit mas, mungkin hanya kelelahan."


Bagaimana aku tak kelelahan melayani dua pria selama delapan jam dalam keadaan hamil. ini sungguh sakit. Nak.. maafkan mommy.


"aku telpon Aril sebentar agar membawa dokter kerumah."


Arga mengambil ponsel di atas meja sofa kamar.


tuuttt..Tuutt...


Aril sedari tadi belum terlelap mendengar ponselnya berbunyi dilihat tuannya menghubungi.


Ada apa tengah malam tuan Arga menghubungi ku?


Ditekan tombol hijau diponsel miliknya.


📱Tuan Arga


*Segera panggilkan dokter kandungan sekarang.


Deg.


Dinda!!!


📲Aril


*Baik tuan.


Dengan cepat Aril melesat jalan raya menjemput dokter kandungan menuju kediaman tuannya.


Ia khawatir dengan keadaan wanita yang masih dicinta nya itu.


Ia sangat takut terjadi hal tak diinginkan pada anaknya di kandungan Dinda.


Arga juga menghubungi pengawal istrinya untuk diinterogasi apa saja yang dilakukan istrinya sehingga keadaan nya seperti sekarang ini.


Toni,Aril,dan Dr.Lita sampai di kediaman Tuan mereka.


Ketiga orang tersebut masuk ke kamar setelah mendapat ijin dari Arga.


Dr.Lita segera memeriksa keadaan istri Tuan Arga.


"Apa yang kamu rasakan sekarang Dinda?"


"Perut bagian bawah sakit Dok."


Dr.Lita membisikkan sesuatu pada Dinda karena hal ini termasuk privasi pasien.


"Apakah rasa sakit ini setelah berhubungan badan dengan suami?"


Pipi Dinda merona mendengar pertanyaan dari sang Dokter.


Seakan mengerti arti dari mimik wajah Dinda yang merona membuat dokter itu tersenyum.

__ADS_1


Arga memperhatikan keduanya semakin tidak mengerti.


"Apa yang terjadi dengan istri saya dok?"


Dokter itu tersenyum penuh arti.


"Sepertinya tuan harus libur selama seminggu."


Ketiga pria itu mengangkat sebelah alisnya seakan bertanya "Apa maksud dokter?"


"Maksud dokter?"


"Maaf Tuan jika saya lancang, apakah sebelum ini Tuan sedang berhubungan dengan Nona Dinda?"


Arga yang ditanya seperti itu juga merasa malu kepada kedua bawahannya itu.


Tetapi tidak dengan kedua pria tersebut, Rahang keduanya mengeras, tangan masing-masing terkepal seakan menyalurkan emosi karena cemburu.


"Iya dok." jawab Arga kikuk.


"Mungkin kali ini waktunya terlalu lama Tuan sehingga nona kelelahan."


"Tidak dokter, waktunya juga seperti biasa."


Arga menjeda berpikir sesuatu lalu bertanya kepada istrinya.


"Apakah karena kamu tadi memimpin permainan Din jadi kelelahan seperti ini?"


Sungguh aku malu.. ibuuuu sembunyikan Dinda..


Dinda tidak menjawab karena sangat malu.


Toni mendengar semua dan pertanyaan terakhir dari Arga membuatnya menjadi bertambah emosi.


Bahkan Dinda tak pernah melakukan seperti itu terhadap ku, apa Dinda tidak menikmati permainan ku? apakah Dinda terpaksa melakukan hal itu?


Toni menatap Dinda penuh amarah.


Tatapan mereka bertemu, Dinda menyadari Toni sedang emosi kepadanya.


"Tidak bang, sebelum nya Dinda memang sudah kelelahan."


Jawaban Dinda lagi-lagi membuat Toni merasa bahwa Dinda terpaksa melakukan hubungan 'itu' kepadanya dan menyalakan nya.


ia tak tahan ingin keluar dari kamar itu.


"Tuan, saya permisi ke dapur untuk membuat kopi."


"Ya.. bilang pada Pak Liyan untuk membuatkan bubur untuk Dinda."


"Baik Tuan."


"Saya juga permisi tuan." sambung Aril juga tak tahan berada di dalam kamar itu lebih lama lagi.


Melihat kedua bawahannya sudah keluar, ia segera menanyakan keadaan istrinya.


"Lalu bagaimana keadaan istri dan anak saya dok?"


"Istri anda hanya kelelahan, sebaiknya untuk seminggu ini biarkan nona istirahat dengan cukup."


"Baik dok."


"Sebaiknya untuk tiga hari ini nona Dinda istirahat total dan seminggu kedepan jangan dulu berhubungan ya."


"Loh kenapa bisa begitu?" protes Arga.


"Demi kebaikan ibu dan anak tuan dan apabila setelah seminggu ingin berhubungan kembali usahakan s*p*ma tuan di luar saja ya.. karena bila didalam bisa menimbulkan kontraksi dini seperti sekarang ini." Dokter mencoba menjelaskan panjang dan lebar agar Arga mengerti.


"Baiklah saya mengerti."


"Tetaplah meminum vitamin yang saya resepkan untuk anda nona Dinda."


"Iya dok. Terimakasih ya dok"


"Baiklah kalau begitu saya permisi Tuan."


"Mari saya antar kebawah, asisten saya akan mengantar anda pulang kerumah."


"Kak, tolong panggilkan Toni untuk kesini ya.. aku ingin meminta Toni mengurus izin kuliahku."


"Baiklah istriku.. aku juga akan mengambil kan bubur untukmu."


"Tapi sebelum membawa bubur untuk Dinda, Abang harus sudah makan ya.. Dinda tahu Abang belum makan karena menunggu Dinda tadi." Sebenarnya ini hanya alasan agar ia bisa berbicara dengan Toni.


Cup


Dikecup singkat kening Dinda lalu keluar diikuti sang dokter.


Tak berapa lama Toni masuk kamar masih dengan mimik wajah emosi.


Dan Dinda mengetahui itu.


Toni mendekat ke arah ranjang dan berdiri di samping Dinda yang sedang duduk bersandar di tempat tidur.


Keduanya masih terdiam tak ingin ada yang memulai pembicaraan.


Dinda tak tahan di diamkan seperti ini akhirnya ia pun berbicara.


"Kak.."


"Saya sudah meminta izin pada dosen anda untuk tidak hadir tiga hari ke depan nona." ucap Toni formal tanpa ditanya oleh wanita yang di cinta nya.


Dinda yang mendengar itu pun merasa sakit, ini kali pertama Toni berbicara seketus itu terhadap nya.


"Bukan seperti itu maksud Dinda kak.."


"Cukup Din, jika kamu tidak ingin menerima ku seharusnya katakan saja, jangan seolah kamu memberi peluang untukku."


"Jangan pernah berpikir seperti itu kak."


"Aku yang salah terlalu berharap padamu Din, Aku rela menjadi simpanan mu karena aku berpikir kamu menerima ku. Kamu tahu Din, bahkan ini lebih menyakitkan dari kehilangan dia untuk selamanya."


"Permisi." Sambungnya lagi dan melangkah menuju pintu keluar kamar bertetapan Arga masuk membawa bubur untuk Dinda.


"Kamu mau kemana Ton?"


"Ke bawah tuan."


"Tetap disini, kamu belum melaporkan kegiatan Dinda hari ini."


Arga duduk di tepi ranjang dengan memegang semangkuk bubur untuk Dinda.


🌸


🌸

__ADS_1


Mohon di like komen dan vote teman.. biar emak semangat mengahul.


__ADS_2