
Sudah satu Minggu berlalu setelah kejadian di taman Marelan Dinda tidak di ijinkan pergi sendirian tanpa Toni.Selain khawatir,ia juga masih merasa cemburu dengan asisten nya.Rian.
Toni sudah mencari tahu,ada hubungan apa antara Dinda dan Asisten nya itu.Tapi hingga kini Toni tidak menemukan hal mencurigakan dari keduanya.
Mungkin Toni terlalu takut kehilangan lagi menjadikan nya laki-laki posesif seperti ini.
Toni sedang duduk di meja makan menunggu sang istri menyiapkan sarapan untuknya.
Ya..Dinda benar-benar berusaha menjadi istri yang baik untuk Toni.
Dinda mulai belajar masak pada Bi Jubaidah namanya tapi Dinda memanggil pelayan khusus memasak di rumah nya itu dengan Bi Jubeh.Dinda beralasan itu adalah panggilan sayang untuk pelayan satu ini.Padahal sebenarnya adalah nama sang pelayan nama jaman dulu.Kurang ajar bukan?
Dinda juga sering menyambut sang suami bila pulang, melepaskan sepatu kerja suami,menyiapkan air mandi,menyiapkan pakaian ganti,memijat sang suami sebelum tidur walau berakhir dengan pijatan plus-plus.
Pagi ini Dinda menyiapkan nasi goreng kampung.Nama nasi goreng kampung itu ia tahu dari BI Jubeh, sebenarnya bumbu untuk membuat nya sama,bedanya hanya tidak pakai kecap.
"Di makan suamiku.."Dinda tersenyum manis pada suami nya.
Toni mengangguk."Kamu semakin pintar masak sayang."Puji Toni.
"Iya dong,Istri siapa dulu."Dinda membalas pujian sang suami.Dan kedua nya tertawa bersama.
"Kak,siang nanti makan di rumah atau di luar?"
Dinda selalu bertanya seperti ini setiap hari,ia bermaksud selain untuk waktu kebersamaan dengan sang suami juga dan bila makan di luar maka ia tak perlu memasak siang nanti.
"Makan di rumah saja,karena nanti siang Mama dan Kak Tara akan datang kerumah."
Dinda manggut-manggut."Bolehkah Dinda tidak hadir di acara malam nanti kak?"
Dinda masih saja belum siap untuk di akui di depan umum seperti itu.
"Apa kamu malu menikah dengan laki-laki tua seperti kakak?"
Dinda berdecak sebal.Selalu masalah usia di permasalahkan sang suami.
"Selalu saja,sudah tahu sudah tua kenapa cari istri yang usia muda?bukan perempuan baik-baik pula,hamil anak mantan pacar,menikah dengan orang lain berselingkuh pula." Terang Dinda dengan nada ketus sambil menyiapkan nasi ke mulut nya.Dinda menunduk karena mata nya sudah berkaca-kaca,ia tidak ingin menangis di depan sang suami.
Toni merasa bersalah,bukan itu maksud dari perkataan tadi.Ia tidak menyangka jika sang istri akan mengucapkan itu.Padahal nyatanya ia menerima sang istri bagaimana pun masa lalu nya.
Dinda hanya ingin memastikan hubungan nya.Hingga sekarang,bukan hanya cinta nya yang terbagi.Tapi ia ingin memastikan segalanya.Dari bagaimana perasaan nya dengan Dimas, bagaimana cinta sang suami pada nya.
Bukan kah ia harus curiga pada sang suami? Bukan kah ia datang ke Medan agar melupakan mantan tunangan nya.
Bukan kah sang suami sudah mengatakan jika dia sudah melupakan mantan tunangan nya karena kehadiran dirinya?
Sekarang,dirinya sudah di miliki nya.
__ADS_1
Lalu mengapa sampai sekarang sang suami mengajak ia ke Jakarta untuk menetap disana?
Bukan kah sekarang ia juga sudah sendiri di kota Medan ini?
Ada apa di Jakarta sehingga sang suami belum juga ada tanda-tanda membawa ia tinggal di sana?
Benarkah suami ini mencintai nya?
Ini adalah salah satu alasan mengapa ia tidak bisa menerima seutuhnya cinta sang suami.
Masih ada keraguan.
"Dinda belum siap dan Dinda tidak ingin datang di acara malam nanti,Dinda harap kakak tidak memaksa lagi.Dinda tidak suka acara orang kaya."
Toni masih diam.Ia akan bicara setelah sang istri bicara.
"Awas saja jika Dinda di paksa untuk datang.Nanti juga katakan pada Mama.Cari alasan yang tepat agar Mama tidak memaksa."
"Iya sayang iya.."Toni merasa lucu jika sang istri mulai mengomel.
"Sekali memaksa berarti satu bantal pembatas di tempat tidur." Dinda masih berbicara ketus.
"Jangan dong.." Protes Toni.
"Protes tambah satu bantal lagi."Ancam Dinda.
Dinda mengangguk dan mencium punggung tangan salam takzim.Kemudian Toni mengecup kening lalu bibir sang istri.
"Hati-hati kak."
Dinda dan Toni keluar rumah karena asisten Rian telah menunggu di depan rumah.
Asisten Rian membungkuk hormat kemudian membuka pintu penumpang.
Seoanjang perjalanan menuju Hotel,Toni tampak melamun.
"Rian."
"Ya Tuan."
"Menurutmu,Kenapa Istriku tidak ingin menghadiri acara sebentar malam?"
Karena ada keluarga Dinata's Group Tuan,karena Dinda masih ragu dengan cinta anda Tuan.
"Saya tidak tahu Tuan." Jawaban sebenarnya hanya di jawab di dalam hati Rian.
Hubungan Rian dan Dinda terjalin cukup baik.Rian sangat lihai menyembunyikan cinta nya.Dinda sudah mulai terbiasa menceritakan isi hati nya yang tidak bisa di ceritakan pada sang suami.
__ADS_1
"Bicara padamu sangat payah."
"Tuan.Boleh saya bertanya?" Ia akan bertanya mewakili Dinda.
"Hem.."
"Kenapa Tuan masih menetap di kota Medan jika Tuan sudah mendapatkan Nyonya?"
Toni diam sesaat."Aku masih ragu Rian..Aku takut jika aku kembali akan mengingat dia lagi, sangat sulit melupakan dia."
Rian geram atas jawaban Toni,itu berarti perasaan Toni belum sungguh-sungguh pada Dinda kecilnya.
Dan sialnya,jawaban Toni pasti terdengar oleh Dinda karena saat ini ponsel Rian sedang terhubung dengan ponsel Dinda.
"Rian.."Panggil Toni.
"Ya Tuan."Jawab Rian dengan menahan amarah.
"Apa aku salah menjerat Dinda dalam pernikahan?padahal aku tahu dia mencintai laki-laki lain.Tapi aku sayang Dinda.Dinda mengingatkan ku pada dia,hanya saja dia lebih mandiri dan Dinda sangat manja walau sekarang Dinda sudah belajar sedikit mandiri.Tapi aku menyukainya."
Rian tidak menjawab,ia merasa cukup untuk bertanya.Jawaban Tuan nya pasti sangat menyakiti hati Dinda kecil nya.
Terdengar suara tangis dari earphone bluetooth yang ia kenakan,ia yakin Dinda menangis saat ini.
Ku harap kamu akan selalu bahagia Dinda..Hanya itu harapan ku.Jangan pernah menyesal akan takdir,semua akan baik-baik saja.
*Andai aku berani melawan keluarga Sanjaya,aku ingin membawa mu pergi menjemput kebahagiaan mu.Tapi apa dayaku Dinda? Aku hanya butiran debu bagi keluarga ini.Aku hanya anak jalanan yang beruntung bertemu dengan keluarga berkuasa ini.
Bahagialah Dinda kecilku,
Buka lebar-lebar hatimu yang sakit hingga luka itu mengering di terpa angin.
Bahagialah Dinda kecilku,
Menangis lah saat ini hingga sakit mu meredah.
Berpura-pura baik-baik saja saat ini.
Dengan harapan kau benar-benar lupa akan luka yang sedang perih saat ini.
Aku,Rian Saputra
Perindu Bahagiamu.Dinda.
🌸
🌸*
__ADS_1