PENYESALAN DINDA

PENYESALAN DINDA
Episode 132


__ADS_3

Satu tahun berlalu, selama di tinggal Dinda dan baby El ia lebih sering menyibukkan diri dalam pekerjaan. Ia merasa lebih baik saat Rian menjelaskan semua akan baik-baik saja. Dinda dan baby El pasti akan kembali.


Tapi ada rasa cemburu di hatinya. Ia cemburu Dinda di dekati pria lain. Sebenarnya hal mudah jika Toni menjemput Dinda. Tapi ancaman Rian membuat ia undur diri. Katanya itu adalah ancaman dari Dinda dan Rian juga takut hal itu.


"Jangan coba-coba kasih tahu pada kak Toni Dinda dimana. Kalau sampai tahu, Dinda gak akan mau kenal kalian."


Tapi Toni merasa ini terlalu lama. Sudah satu tahun ia memendam rasa rindu dan ingin sekali ia menghukum Dinda sekarang juga.


Terlebih besok adalah hari penting. Bagaimana jika Mama Rahma tahu Dinda selama ini pergi darinya? Bisa di gantung jika itu terjadi. Maka dari itu dia tidak pernah mengunjungi Mama Rahma selama setahun ini.


Sudah banyak desas-desus di perusahaan menyatakan Toni dan Dinda berpisah, dan rumor kedekatan ia dengan Merry. Bahkan ada yang mengatakan Merry adalah calon Nyonya baru.


Ingin sekali ia membantah hal itu tapi lagi-lagi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Rian selalu bisa mengendalikan dirinya jika sudah Dinda sebagai ancaman nya.


Terlalu bucin !


Sekali lagi ia berpikir, mengapa bisa sampai secinta ini pada Dinda. Wanita muda dengan segala masalalu nya. Wanita yang kekanakan-kanakan. Selalu lari dari masalah, manja, keras kepala dan cengeng.


Mengingat sifat yang manja. Apa kabar disana? siapa yang memanjakan nya? ia berharap tidak ada pria lain yang perhatian pada Dinda. Ia sangat cemburu.


Dan apa yang di lakukan Dinda disana? kenapa tidak pernah memakai uang yang ia transfer ke rekening pribadi Dinda? pakai uang siapa dia?


Memikirkan Dinda selalu membuat ia uring-uringan.


Toni sudah bertekad jika sampai Minggu ini Dinda belum juga kembali maka ia sendiri yang akan mencari dan menjemput Dinda. Selama ini Rian sangat pintar agar jejaknya tidak di ketahui oleh nya. Tapi kali ini tidak akan lagi. Ia harus membawa Dinda dan baby El pulang.


Toni menghembuskan nafas dengan kasar. Rindu lebih mendominasi relung hatinya.


"Kakak rindu sayang. Alasan apa yang membuatmu pergi hingga lama sekali." ucapnya menatap bingkai foto Dinda di atas meja.


"Apa kamu bahagia tanpa kakak? kamu jahat sudah meninggalkan kakak. Tapi tetap saja kakak rindu."


"Kamu tahu, sekarang Merry sering mengunjungi kakak. Apa kamu tidak cemburu dan membiarkan Merry mendekati kakak?"


"Pasti kamu tidak cemburu kan? buktinya kamu tidak pulang-pulang."


*****


"Din." panggil Rian.


"Hem.."

__ADS_1


"Sudah waktunya kamu kembali." ujar Rian.


"Ya Dinda tahu." jawab Dinda lirih.


"Kenapa begitu jawabnya? masih kurang lama main nya? ingat kamu ini masih istri orang. Dan waktunya membalas perbuatan Merry." ujar Rian.


"Iya tapi mau bagaimana pun Dinda gak dendam dengan Merry bang.. Dia hanya terobsesi pada kak Toni aja."


"Apa ibu juga akan datang ke acara kak?" tanya Dinda.


"Ya." jawab Rian singkat.


"Urusan balas perbuatan Merry Dinda serahkan pada abang aja."


"Itu yang abang tunggu. Persiapkan dirimu untuk besok Din."


Dinda mengangguk.


Dua bulan setelah Dinda pergi meninggalkan Toni, Rian datang menemui Dinda mengatakan semuanya hanya perbuatan Merry. Dan ia di minta Rian untuk kembali. Tapi Dinda menolak. Bukan lagi karena masalah rumah tangganya tapi ia tidak ingin pindah-pindah kuliah lagi.


Dan pastinya menikmati kebebasan menjadi orang biasa. Tanpa harus takut di ikuti kemana pun. Zaki dan Maya selalu mendukung apapun keputusan Dinda.


Baby El sudah berusia 1,8 tahun. Mulai lancar berbicara. Maya juga sudah memiliki bayi perempuan bernama Zima Alina.


Bukan lagi tidak cinta pada Toni. Tapi ia juga sedang membenahi diri. Ingin menjadi lebih baik. Mulai belajar membuat masakan luar negeri. Lebih tepatnya masakan Amerika kesukaan Bule Gila nya.


Informasi yang ia dapat tentu dari Mama Rahma. Ia juga menceritakan masalahnya dengan Mama Rahma. Dan juga Mama Rahma sering bertemu dengan Dinda juga baby El tanpa sepengetahuan kedua anaknya.


Setiap pembicaraan nya dulu selalu bujuk Dinda agar segera kembali. Setelah mendekati hari dimana Dinda akan kembali, semua jurus jitu menghadapi Toni adalah bahan pembicaraan dua wanita beda usia ini.


"Nanti kalau anak mama yang satu itu marah, kamu harus pasang wajah polos atau rayu saja. Itu kan kelemahan nya?" ucap mama Rahma.


"Iya ma.."


"Eh jangan-jangan. Jangan di rayu. Kamu harus jual mahal. Biar saja pusaka nya yang sudah karatan setahun itu. Biarkan dia yang memohon padamu."


Masalahnya Dinda bisa tidak Ma? Dinda juga berasa udah karatan. Astaga otak mesum ku.


"Iya ma.. Tapi apa gak kasihan?"


"Biarkan saja. Mama sebal dengan Toni. Bisa-bisanya dia bodoh sekali. Masih saja mau di dekati mantan pacarnya itu. cantik juga tidak. Sudah tua." gerutu mama Rahma.

__ADS_1


Astaga.. Mama apa kabar? berasa muda ya ma?


"Mungkin dia butuh seseorang seperti kak Toni Ma.."


"Tapi bukan Toni juga Din.. Ahh.. Sudahlah. Kalau ngomongin Merry sama kamu tambah buat sebal. Tidak ada marahnya. Pantas kalian berjodoh."


Dinda terkekeh mendengar ocehan Mama Rahma. Ia tidak marah. Karena itu kenyataan nya.


"Mama tambah cantik bila mengomel begitu." goda Dinda.


"Mama memang cantik. Jangan menggoda mama Din."


"Enggak ma. Mana berani."


"Din.. Kamu masih rajin pakai produk yang Mama kasih kan? masih sering pelajari gaya itu kan?" selidik mama Rahma.


"Masih ma. Kalau gaya itu dan olah raga khusus seminggu sekali Dinda latihan."


"Bagus. Ah.. anak bungsu ku pasti sangat senang saat bercocok tanam."


****


Di Bandara Soekarno Hatta seorang gadis mengenakan jas praktek warna putih tampak berlari mencari dimana keberadaan keluarganya. Ia sudah terlambat 30 menit karena macet sepanjang jalan.


"Dimana ayah dan ibu? Kenapa nomor mereka tidak aktif sih? kebiasaan kalau udah turun dari pesawat bukan langsung di aktifkan lagi ponselnya." gerutu nya sembari celingukan mencari keluarganya.


"Mbak Cantika.." Panggil seorang pemuda remaja dari arah sebelah kanan.


Ya gadis tersebut adalah Cantika adik perempuan Dinda. Cantika saat ini menjemput keluarga nya ke Jakarta untuk menghadiri acara pernikahan Tara besok.


Keluarga Dinda tidak ada yang tahu masalah Dinda dan Toni selain dirinya. Dinda lah yang meminta Cantika untuk merahasiakan semua.


"Mbak Kinan gak ikut?" tanya Cantika saat sudah bersama keluarga nya.


"Enggak. Suami mbak mu gak bisa." jawab Ibu.


"Ya udah ayo kita ke apartemen Cantika." ajak Cantika sembari mengambil alih tas di tangan Ibu Ayu.


"Di apartemen kamu ada teh kan ndok?" tanya Bapak.


"Ada pak. Semua udah Cantika sediakan."

__ADS_1


🌸


🌸


__ADS_2