
Sejak mengetahui kehamilan Vara, Bry semakin protektif memperlakukan Vara. Setiap kali Vara keluar harus ditemani oleh Bry, dan jika Bry bekerja sedangkan Vara harus ke kampus, maka Bry akan memerintahkan banyak pengawal pribadi untuk menjaga Vara.
Sepulang bimbingan skripsi, Vara memutuskan untuk ke mall melihat-lihat perlengkapan bayi yang mungkin akan dibelinya beberapa bulan lagi. Vara meminta semua pengawal untuk mengawasinya dari kejauhan, karena Vara tidak ingin dirinya menjadi pusat perhatian orang lain.
Vara tampak begitu bersemangat saat memasuki toko perlengkapan bayi yang menjual segala macam barang berukuran kecil. Sungguh sangat menggemaskan untuk Vara yang semakin menyadari bahwa dalam waktu beberapa bulan lagi, dia akan bertemu dengan versi mini dari dirinya dan Bry.
'Lucu sekali, nanti aku akan membeli masing-masing 2 buah dari semua jenis barang yang aku perlukan.' Batin Vara.
Saat matanya sibuk mengagumi berbagai benda mungil dihadapannya, tidak sengaja matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya diluar toko. Vara sedikit berlari keluar toko dan mendapati sosok yang dilihatnya memanglah suaminya, Bry.
Bry tampak menenteng banyak tas belanjaan dengan seorang perempuan berdiri disebelahnya. Perempuan yang sangat cantik berwajah khas Korea, dengan make-up bold berlipstick merah, dan mengenakan baju semi formal yang sexy namun elegant.
Vara merasa dadanya sesak, lututnya mendadak lemas dan seketika badannya limbung hendak terjatuh. Beruntung tangannya masih bisa menggapai dinding. Vara melihat para pengawalnya hendak mendekat untuk menolong, tapi Vara mengangkat sebelah tangannya keatas meminta mereka untuk berhenti.
Vara masuk ke toilet perempuan, lalu menelpon suaminya yang terakhir kali terlihat memasuki restaurant khas Jepang.
"Hallo Sayang.. Ada apa?"
Vara sedikit gemetar dan ragu dengan pertanyaan yang hendak dilontarkannya pada Bry.
"Kamu dimana?"
"Aku di kantor Sayang. Kenapa?"
Deg.. Jantung Vara terasa dihantam batu besar yang seketika membuat dadanya terasa begitu sakit.
"Kamu sedang bersama siapa?"
Vara menahan debar jantungnya, menunggu jawaban Bry yang mungkin akan membuat jantungnya kembali merasa sakit.
"Aku sedang meeting bersama client Sayang."
'Meeting? Client? Cih..' Dengus Vara dalam hati.
"Ok.. Aku tutup ya."
"Iya Sayang.. Jangan lupa makan ya!"
'Sok perhatian.. Padahal kamu sedang bersama perempuan lain.' Teriak hati Vara.
Vara mematikan panggilannya, lalu segera keluar dari toilet. Vara mendekat menuju restaurant, dan dilihatnya Bry masih bersama perempuan cantik tadi. Vara mengarahkan kamera ponselnya lalu mengambil beberapa photo Bry dan perempuan itu yang sedang asyik mengobrol.
Dengan menahan tangis, Vara segera pergi meninggalkan mall diikuti beberapa pengawal yang langsung mengikuti mobil Vara dari belakang. Vara mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, sehingga bisa sampai di mansion lebih cepat dari biasanya.
Jam 10 malam, Bry baru sampai di mansion. Vara sudah terlelap di tempat tidur sehingga Bry tidak tega membangunkan Vara. Bry segera membersihkan diri lalu menyusul Vara ke tempat tidur.
Vara sebenarnya belum tertidur, tapi dia berusaha menghindari interaksi dengan Bry karena merasa kecewa dengan kebohongan Bry tadi siang. Terlebih Bry pulang larut malam, entah apa yang dilakukannya sehingga pulang selarut ini. Ponsel Bry bergetar, namun Bry sudah terlelap tidur sehingga Bry tidak mengangkat panggilan yang masuk. Terlihat jelas nama "Jessy Kim" di layar ponsel Bry.
Vara berniat mengangkat panggilan itu, saat tiba-tiba Bry terbangun. Vara langsung merebahkan tubuhnya kembali, berpura-pura tertidur. Bry mengangkat panggilan dari kontak bernama "Jessy Kim" itu dengan nada malas.
"Iya.. Ada apa?"
Vara menajamkan pendengarannya namun tetap tidak bisa mendengar apapun yang dikatakan oleh perempuan bernama Jessy itu.
"Apa? Aku akan segera kesana."
Bry bergegas menuju walk in closet, berganti pakaian lalu memakai mantel tebalnya. Sebelum Bry melangkah keluar, Vara bangun dari tidurnya.
"Kamu mau kemana?"
"Aku ada urusan sebentar. Kamu tidurlah, jangan menungguku ya."
__ADS_1
"Kamu mau menemui siapa?"
"Aku harus bertemu Daniel sebentar."
'Cih..Daniel katamu.. Pembohong besar kamu Bry.' Vara berteriak dalam hati.
"Bisakah kamu tidak pergi Bry? Aku mohon, jangan pergi!"
Vara memohon dengan wajah memelas dengan menangkupkan kedua tangannya didepan dada.
"Maafkan aku Sayang.. Aku benar-benar harus pergi. Ini sangat penting Sayang."
Bry mendekati Vara lalu mengecup singkat puncak kepala Vara, lalu segera pergi dengan tergesa-gesa.
'Kamu memilihnya disaat aku memintamu jangan pergi, Bry.. Kamu sudah memilih apa yang menurutmu lebih penting, Bry.' Vara menjerit dalam hatinya.
Vara menyusul turun dan melihat Bry yang sudah hendak keluar halaman mansion dengan mobil sportnya. Vara segera memasuki mobil sportnya untuk menyusul Bry. Beberapa pengawal sempat menghentikan Vara saat akan keluar mansion, namun Vara yang sudah terlihat marah membuat mereka tidak bisa melarang.
"Buka gerbangnya, atau aku pecat kalian semua."
Security segera membukakan gerbang untuk Vara, seketika Vara melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. 4 pengawal segera masuk kedalam mobil dan menyusul mobil Vara.
Vara terus melajukan mobilnya dengan membabi buta. Saat mobil Bry sudah terlihat, Vara baru menjaga jarak agar Bry tidak menyadari keberadaannya.
Vara menghubungi ponsel Bry, namun ponsel Bry mati.
"Shiiiitt.. Kamu sengaja mematikan ponselmu karena tidak ingin diganggu Bry? Brengseeek kamu, Bry.."
Vara terus mengejar mobil Bry yang melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi pula. Sampai dia tidak menyadari kalau lampu lalu lintas berubah merah, dan sebuah mobil box menghantamnya dari arah samping kirinya.
"Aaaaaaaaaaaa...."
Pemandangan serba putih yang pertama kali Vara lihat saat membuka mata. Seorang laki-laki tampak mendekat kearah Vara yang masih lemah.
"Satya?"
"Iya ini aku.. Vara apa yang telah kamu lakukan? Kamu hampir kehilangan nyawamu."
Rasa khawatir masih tergambar jelas di wajah Satya, dia sempat merasa takut kehilangan perempuan yang sangat berharga di hatinya itu. Namun ada kelegaan yang terselip disana karena kini Vara sudah sadar.
Vara yang mulai menyadari sesuatu segera melihat kearah perutnya.
"Bagaimana dengan bayiku?"
Rasa panik tergambar jelas dari wajah Vara yang mulai mengeluarkan keringat karena takut mendengar jawaban Satya.
"Kamu mengalami pendarahan hebat. Beruntung kedua janin dalam perutmu bertahan dengan sangat kuat. Dokter pun menganggap ini sebuah keajaiban. Kamu benar-benar hampir kehilangan kedua janinmu. Kamu harus banyak istirahat. Dokter sudah memberi pengobatan juga penguat untuk kandunganmu."
Vara seketika menangis dengan keras, merasa lega dengan apa yang didengarnya. Satya merengkuh tubuh Vara dan membiarkan air mata Vara membasahi dadanya yang hanya terbungkus kemeja tipis.
"Diluar ada 4 pengawal pribadimu, mereka sudah menghubungi Bry tapi ponselnya tidak aktif. Sehingga mereka menghubungi Daniel dan Kevin. Mungkin sebentar lagi mereka akan tiba disini."
"Cih.."
Vara menyunggingkan senyum sinisnya tanpa melihat kearah Satya, namun sikap Vara tidak luput dari pengamatan Satya.
"Ada apa Vara? Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?"
Satya memegang lembut kedua bahu Vara dan menatap manik mata Vara meminta jawaban.
__ADS_1
"Satya.. Tolong aku."
Vara lalu menceritakan semua kejadian hari ini pada Satya, lalu meminta bantuan Satya untuk bisa menolongnya kali ini.
"Tapi Vara, kamu tidak bisa mengambil kesimpulan Bryllian mengkhianatimu. Kamu harus menyelidikinya lebih dalam lagi."
"Satu hal yang pasti, dia membohongiku. Dan aku akan memberi dia jawaban atas kebohongannya itu. Maka tolonglah aku."
Satya tampak berpikir keras, permintaan Vara padanya terasa sangat kejam dan tidak masuk akal.
"Satya, aku mohon.. Aku yang akan menanggung semua akibatnya."
Akhirnya dengan berat hati Satya menyetujui permintaan Vara yang dirasa akan mengubah banyak hal kedepannya. Tapi kali ini Satya sudah memutuskan akan membantu Vara sampai akhir.
Satya segera menghubungi dokter yang menangani Vara dan menjelaskan rencananya. Tentu saja itu bukan hal yang sulit, mengingat Satya adalah Pemegang Saham terbesar Rumah Sakit ini, sehingga apapun permintaannya adalah sebuah perintah.
Tok.. Tok..Tok..
Vara merebahkan dirinya lalu berpura-pura tertidur seolah belum sadar dari pengaruh obat. Daniel dan Kevin masuk tanpa dipersilahkan.
"Mana Bryllian?" Satya bertanya tanpa basa-basi.
"Ponselnya masih belum aktif, tapi aku sudah meninggalkan pesan agar dia segera kemari."
Kevin berusaha memberi penjelasan atas pertanyaan Satya.
"Kamu kan bisa melacak keberadaan mobilnya, kenapa harus menunggu ponselnya aktif?"
Kevin segera menyadari kebodohannya, rasa panik membuat otaknya tidak bisa berfungsi dengan baik.
"Aku sudah menemukannya, aku akan segera menyusulnya."
Baru saja Kevin hendak keluar dari kamar perawatan Vara, panggilan masuk dari Bry muncul di ponsel Kevin.
"Bry cepatlah datang ke Rumah Sakit SEC, Vara mengalami kecelakaan."
Bry yang mendengar kabar buruk tentang istrinya segera menutup panggilannya dan bergegas menuju Rumah Sakit SEC. Tidak sampai 15 menit, Bry sudah sampai di kamar perawatan Vara dengan keringat didahinya karena melajukan mobilnya dengan membabi buta dan berlari kencang menuju kamar Vara.
Bry yang melihat Vara terbaring tidak sadarkan diri segera menggenggam erat tangan Vara yang dingin.
"Sayang apa yang terjadi? Kenapa hal ini bisa terjadi?"
Bry meneteskan air matanya melihat Vara yang tidak berdaya di tempat tidur.
"Bagaimana keadaannya? Apa yang terjadi?"
Bry menatap Satya meminta penjelasan dengan tidak sabar.
"Vara keguguran.."
"Apaaaaaa???"
*************************************
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1