Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 62 Kenapa Kamu Tidak Memberiku Kesempatan?


__ADS_3

Langit sore sudah menebarkan semburat jingga dihiasi awan putih yang berarak indah, namun suasana hati Bry masih tidak kunjung membaik sejak pagi tadi. Rasa khawatirnya pada keadaan Vara membuat fokusnya benar-benar teralihkan dari pekerjaan yang seharusnya dia selesaikan. Setiap beberapa menit sekali jarinya tidak henti memeriksa posisi Vara melalui beberapa alat pelacaknya. Posisi Vara tidak berubah, tetap di dalam rumah membuat Bry merasa khwatir sekaligus bingung.


Braaaaakk..


Pintu ruang kerja Bry terbuka dengan kencang karena didorong begitu keras oleh Daniel yang kemudian disusul oleh Kevin yang berlari dengan nafas terengah-engah.


"Bry.. Kamu harus tahu ini." Daniel dan Kevin mendekat dan berdiri di depan meja kerja Bry dengan tatapan yang sangat serius.


"Ada apa?" Bry berdiri dari duduknya mendekati kedua sahabatnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Danila bilang Vara pergi ke Spanyol pagi tadi."


"Apaaa?"


Perkataan Daniel begitu mengejutkan Bry. Sama sekali tidak pernah ada dalam bayangannya, Vara akan meninggalkannya dan pergi ke tempat yang jauh. Bry tahu Vara sangat marah dan membencinya, tapi berkali-kali Bry memohon pada Vara agar jangan pernah berpikir untuk meninggalkannya. Bry masih bisa menahan jika Vara membencinya, tapi tidak dengan meninggalkannya sendiri.


Kevin memperlihatkan daftar nama penumpang sebuah maskapai penerbangan menuju Granada Spanyol yang berangkat tadi pagi, nama Zivara memang jelas terdaftar sebagai penumpang pesawat itu.


Tubuh Bry melemas, dia menghempaskan tubuhnya dengan kasar diatas sofa. Dihelanya nafas dengan begitu kasar, menyadari kebodohannya yang tidak mengetahui bahwa Vara lepas dari pengawasannya. Bry bisa menyimpulkan kalau Vara sudah menemukan alat pelacak yang selama ini terpasang pada perlengkapan pribadi Vara.


Bry pun menyadari saat ini pasti Vara lebih marah dari perkiraannya. Karena bukan hanya merasa dibohongi tapi juga dimata-matai. Bry mengusap wajahnya dengan kasar lalu mengeluarkan ponselnya mencoba menghubungi Vara, dan ponsel Vara dalam keadaan tidak aktif. Mungkin Vara mematikan ponselnya atau mengubah mode ponselnya ke airplane mode selama berada di pesawat yang membawanya ke Spanyol.

__ADS_1


"Aku akan mencari tahu alamatnya di Granada. Aku akan mengerahkan semua koneksiku untuk menemukan kekasihmu, Bro."


Pikiran Bry  tertuju pada kekasihnya yang pergi ke negara yang teramat jauh, membuatnya tidak mampu mencerna perkataan Kevin.


"Bro.. Jangan seperti ini. Semua belum berakhir, kita masih bisa menemukan Vara dimanapun dia bersembunyi."


Daniel menepuk bahu Bry menyalurkan semangat dan dukungan pada sahabatnya yang sedang kehilangan itu, namun lagi-lagi Bry tidak menggubris apapun yang dikatakan sahabatnya.


Bry berdiri mengambil jasnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya. Daniel dan Kevin mengikutinya dari belakang, namun Bry mengangkat tangannya menandakan agar Daniel dan Kevin tidak mengikuti Bry. Dengan terpaksa Daniel dan Kevin membiarkan Bry sendiri dengan kesedihannya.


Bry segera memasuki mobilnya sesampainya di parkiran kantor, lalu mobilnya dilajukan dengan kecepatan tinggi seolah meluapkan segala emosi yang mendesak keluar dari hatinya.


Bry sampai di apartemennya dengan perasaan yang sangat kacau, segera diarahkan tubuhnya menuju meja bar di salah satu sudut apartemennya. Diambilnya sebotol wine berukuran kecil dengan sangat kasar, namun sesaat kemudian Bry mengurungkan niatnya dan malah mengambil vodka berukuran besar yang langsung dituangkannya ke dalam gelas. Diminumnya segelas vodka itu dalam sekali tegukan, namun seolah merasa tidak puas, Bry langsung meminum vodka itu langsung dari botolnya.


"Vara.. Kamu boleh membenciku, aku tidak peduli berapa lama harus menerima hukumanku darimu, tapi jangan meninggalkanku seperti ini! Aku akan selalu berjuang setiap saat agar kamu bisa memaafkanku. Tapi kenapa kamu tidak memberiku kesempatan? Apa perasaan cintamu padaku sudah menghilang? Apakah semudah itu kamu melupakanku Vara? Tidakah kamu merasakan perasaan cintaku yang sangat besar terhadapmu?"


Bry tidak berhenti meracau dan mengungkapkan isi hatinya yang teramat pedih. Jauh di lubuk hati Bry yang terluka, terbersit harapan bahwa Vara akan kembali dan memberinya kesempatan untuk menebus kesalahannya. Tidak peduli berapa lama dia harus membuktikan perjuangannya, tapi Bry butuh satu kesempatan saja.


"Varaaaa... Aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu. Kenapa kamu meninggalkanku sendiriiiii?"


Bry beranjak dari meja bar dan berjalan dengan sempoyongan menuju kamar sambil menenteng botol vodka yang lain karena sebotol vodka yang diminumnya tadi sudah habis tidak bersisa.

__ADS_1


Bry memasuki kamar dengan susah payah lalu didudukan dirinya diatas tempat tidur dengan cukup kasar karena merasa beban tubuhnya terasa sangat berat. Kembali diteguknya sebotol vodka ditangannya. Air mata mulai mengaliri pipinya.


"Aku tahu aku brengseeek.. Aku memang pantas kamu benci, tapi aku tidak bisa jauh dari kamu Vara. Kamu tahu.. Aku bisa gila kalau kamu tidak ada disampingku."


Berkali-kali diteguknya minuman yang membuat kesadarannya semakin menghilang itu, sampai akhirnya tidak ada setetespun di dalamnya. Bry berniat turun dari tempat tidur, namun tubuhnya limbung dan malah berakhir tidak sadar dengan posisi meringkuk seperti janin. Mungkin itulah yang diperlukan Bry saat ini, sejenak melupakan kepedihan dan rasa sakit di hatinya yang Bry sendiri tidak yakin akan bisa diobati.


 


 


 


 


 


Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.


Biar Author tambah semangat nulisnya 😊


Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..

__ADS_1


 


 


__ADS_2