
Bry dan Vara kembali dari acara resepsi pernikahan Brandon dan Sharon lebih dulu, mereka mendapat kabar dari Bi Mona, bahwa kedua anak kembar mereka, Bradley dan Briley mengalami demam tinggi. Kejutan yang disiapkan oleh Bry terpaksa harus dibatalkan, karena tentu saja anak-anak mereka adalah prioritas utama.
Vara yang begitu panik segera menuju kamar yang ditempati Bradley dan Briley, disana tampak Bi Mona dan 2 orang baby sitter terlihat sangat khawatir menenangkan dua bayi yang terus saja menangis meskipun sudah di beri susu, digendong dan ditenangkan dengan berbagai cara.
"Tuan, Nyonya.. Tuan Kecil Bradley tadi panasnya 38,5 dan Tuan Kecil Briley 38,9. Dokter hotel sudah memeriksa dan memberikan obat, saya periksa suhu keduanya sudah sedikit turun menjadi 38,0."
Vara segera menggendong Briley yang menangis lebih keras dan segera mendekapnya erat. Bry pun menggendong Bradley dan melakukan hal yang sama seperti Vara.
"Honey, ayo kita bawa ke Rumah Sakit."
"Iya Sayang, ayo kita berangkat."
Bry dan Vara segera keluar dari kamar menuju tempat parkir, diikuti Bi Mona dan dua baby sitter yang sigap membawa tas berisi perlengkapan Bradley dan Briley. Empat orang pengawal Bry yang melihat Big Boss dan istrinya setengah berlari sambil menggendong anak mereka, segera mendahului langkah Bry dan Vara menuju parkiran dan segera membukakan pintu mobil. Bry dan Vara segera masuk dan duduk di kursi belakang. Satu orang pengawal duduk di kursi kemudi dan satu orang pengawal duduk di sebelahnya. Sementara Bi Mona, dua orang baby sitter dan dua orang pengawal masuk ke dalam mobil lainnya. Kedua mobil itu segera melaju meninggalkan area parkir hotel menuju hotel terdekat dari Hotel.
Sesampainya di Rumah Sakit, Bradley yang masih berada di dalam gendongan Bry segera dibawa masuk ke dalam, begitupun Briley yang kali ini berada dalam gendongan salah satu pengawal, karena Vara mendadak lemas yang langsung dipapah oleh Bi Mona.
Bradley dan Briley segera ditangani oleh dua orang perawat di sebuah kamar VIP. Vara yang sejak tadi memegang tangan Bradley dan Briley seolah menyalurkan kekuatan, kini terduduk lemas di sofa yang terletak 3 meter dari tempat tidur Bradley dan juga Briley. Vara begitu khawatir melihat kedua anaknya tertidur dengan selang infus menempel di tangan mereka.
Seorang Dokter laki-laki berwajah tampan memasuki ruangan dan mulai memeriksa keadaan si kembar. Dokter itu memberi penjelasan pada Bry mengenai kondisi Bradley & Briley yang sudah berangsur membaik. Bry menghela nafas lega seraya mengucapkan terima kasih pada Dokter laki-laki itu
"Kamsahamnida Euisanim (Terima kasih Dokter : formal)."
Dokter itu tidak menjawab, malah memandang Bry seolah sedang memastikan sesuatu. Bry tidak ambil pusing, dia menghampiri Vara yang masih menatap lurus ke arah si kembar.
"Sayang, tenanglah. Dokter sudah mengatakan kalau mereka hanya demam biasa. Mereka akan segera sembuh."
Bry mengelus lembut bahu Vara dari belakang.
"Iya Honey."
Vara menjawab dengan sangat lirih.
Dokter yang jika dilihat dari name tag-nya bernama Jayden Han itu, masih tampak fokus memandangi Bry dan juga Vara, lalu Dokter Jayden menghampiri Bry dan Vara.
"Maaf sebelumnya, jika saya salah mengenali orang apa kamu Bryllian?"
Tanya dokter itu dengan menatap Bry dengan penuh tanya, Vara dan Bry sedikit heran karena Dokter itu menggunakan bahasa Indonesia.
"Iya benar Dokter, apa kita saling kenal? Maaf jika saya lupa."
__ADS_1
"Saya Jayden, kita pernah satu kelas di Junior High School."
"Jayden? Benarkah ini kamu? Ketua Siswa (OSIS) yang kutu buku itu?"
Bry yang tidak sadar sudah berkata terlalu kencang langsung menutup mulutnya, menangkup kedua tangan meminta maaf pada Vara. Sedangkan Jayden menahan tawanya agar tidak lepas.
Bry mengajak Jayden untuk mengobrol di luar ruangan. Sedangkan Vara hanya tersenyum tipis sambil mengangguk pelan ke arah Jayden.
Sesampainya di luar ruangan, Bry dan Jayden duduk di kursi yang terletak tepat di depan ruangan.
"Jayden, aku tidak menyangka bisa bertemu kamu disini. Sebenarnya aku tidak heran sih, kamu menjadi dokter, kamu memang pintar sejak dulu. Hebat.."
Bry menepuk pelan bahu Jayden sambil mengulas senyum, yang dibalas senyuman Jayden.
"Ah biasa saja, kalau dibandingkan kamu yang seorang pewaris Harrison Group, aku tidak ada apa-apanya. Apalagi aku dengar dari teman-teman, kamu mendirikan banyak perusahaan di Indonesia."
"Perkataanmu terdengar sangat keren, tapi mereka terlalu melebih-lebihkan."
Bry berusaha merendah di depan teman sekolahnya itu.
"Hmm.. Benarkah?"
Jayden memicingkan matanya tanda tidak percaya, sambil melengkungkan senyum jahil. Bry ikut tertawa melihat tingkah Jayden. Seingatnya, dulu Jayden adalah orang yang kalem dan tidak banyak bicara. Mereka bahkan tidak akrab meskipun satu kelas. Jayden terkenal pintar, seorang Ketua OSIS dan wajahnya juga tampan. Tapi menurut teman-temannya, kacamata tebal Jayden sedikit mengurangi kadar ketampanannya. Terlebih saat itu ada idola sekolah yaitu Bryllian yang selalu ditemani dua sahabatnya yang juga tampan, yaitu Daniel dan Kevin.
"Awalnya hanya karena sepupuku yang tinggal di Indonesia, aku juga sempat menyukai gadis Indonesia, jadilah aku iseng belajar. Setelah bekerja, aku semakin sering menggunakan bahasa Indonesia, karena banyak pasien dan rekan kerja yang berasal dari Indonesia."
"Wah tidak ku sangka."
"Oh iya, aku tidak menyangka juga kalau kamu sudah menikah."
"Hahaha.. Aku juga tidak menyangka Tuhan mempertemukan aku dengan jodohku begitu cepat. Tadinya aku tidak berpikir untuk menikah sama sekali, hahaha.."
Jayden tersenyum lebar mendengar perkataan Bry.
"Sama sepertiku, aku tidak terpikir untuk menikah. Tapi setelah melihatmu menikah, aku jadi ingin menikah."
"Wah, menikahlah.. Kamu pasti menyesal."
"Menyesal?"
__ADS_1
"Iya, menyesal.. Menyesal kenapa tidak dari dulu saja, hahaha.."
"Hahaha.. Parah..!!! Bryllian, bolehkan aku minta nomor ponselmu?"
"Tentu saja."
Bry segera mengeluarkan ponselnya, lalu bertukar nomor ponsel dengan Jayden.
"Gomawoyo (Terima kasih)."
Jayden menyunggingkan senyumnya sambil menyimpan nomor ponsel Bry.
"Cheonmaneyo (Sama-sama)."
Bry tersenyum tipis sambil menepuk bahu Jayden.
"Bryllian, maafkan aku. Aku harus pergi, karena masih ada pasien menunggu."
"Iya, kamu pasti sibuk. Aku juga harus menjaga kedua anakku. Sampai jumpa Jayden."
"Iya sampai jumpa Bryllian."
Bry masuk lebih dulu ke dalam kamar perawatan Bradley & Briley. Sedangkan Jayden langsung berbalik hendak menuju ke ruangannya.
'Cantik, akhirnya kita bertemu lagi. Ternyata kamu yang datang mendekat padaku. Aku tidak akan melepasmu kali ini.' Teriak Jayden dalam hati.
***********************
Terima kasih banyak untuk semua readers & author2 kece yang sudah mampir dan juga mendukung novel ini.. 😍
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya.. (like & vote boleh banget kok 😁)
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊
#staysafe #stayhealthy
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
__ADS_1
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..