Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 140 Perempuan Terakhir adalah Pemenangnya


__ADS_3

Vara baru saja menutup panggilan dari Celline, Bry memegang kedua bahu Vara dengan lembut sambil menatap langsung ke manik mata Vara yang masih terlihat kesal.


"Sayang, apa yang dikatakan perempuan rubah itu?"


"Dia mengajakku bertemu."


Vara menjawab dengan sangat datar.


"Untuk apa dia mengajakmu bertemu? Sayang, jangan ladeni dia. Aku mohon.."


"Aku ingin tahu apa yang ingin dia katakan."


"Apa kamu masih meragukanku Sayang? Semua yang aku katakan adalah kebenaran, kenapa kamu masih ingin bertemu dengannya? Dia akan menggunakan berbagai cara untuk memisahkan kita. Tolong percayalah padaku, kenapa kamu seperti ini?"


Air mata mulai menggenang di kelopak mata Bry, dadanya sesak karena istrinya masih saja bersikap dingin dan tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Aku percaya kamu mencintaiku, tapi sikapmu yang tidak terbuka, membuatku ragu. Kamu selalu menunggu aku salah paham, dibanding menjelaskan lebih awal. Aku tidak tahan dengan sikapmu."


"Ya ampun Sayang, aku bukan tidak bersikap terbuka, tapi aku justru tidak ingin kamu berpikir yang tidak-tidak tentangku. Aku berusaha menyelesaikan masalahku sendiri tanpa perlu membuat kamu sedih."


"Sudahlah Bry, lakukan apapun sesuai keinginanmu dan aku akan melakukan apapun sesuai keinginanku."


"Sayang.."


"Tolong minta Brandon, Sharon, Vanny dan Samuel masuk. Kasihan mereka terlalu lama di luar. Tapi setelah makan malam, minta mereka kembali ke hotel, jangan merepotkan mereka. Aku saja yang jaga Briley."


Bry tidak menjawab perkataan Vara, namun dilangkahkan kakinya untuk memanggil semua sahabatnya masuk.


************************


Keesokan harinya, Briley sudah dibawa pulang ke Hotel. Bradley terlihat senang bertemu dengan saudara kembarnya, mereka berceloteh seakan sedang mengobrol meskipun tidak dimengerti siapapun yang mendengarnya.


Vara dan Bry bersyukur melihat anak mereka sudah sehat dan kembali ceria, meskipun keadaan Bry dan Vara sendiri masih belum baik-baik saja. Vara sadar kalau dirinya sudah sangat egois dan keterlaluan memperlakukan Bry, tapi rasa kecewa dan kekhawatiran kalau Bry akan membohonginya, membuat Vara memberi pelajaran pada suaminya itu.


Sore harinya, Vara sudah bersiap-siap akan bertemu dengan Celline di rooftop restaurant, sesuai permintaan Celline.


'Kenapa harus di tempat itu lagi? Nampaknya aku harus meminta Brandon menutup tempat itu walaupun pemandangannya sangat bagus.' Batin Vara.


Di dalam ruangan walk in closet, Vara memperhatikan penampilannya dari pantulan cermin. Ekspresinya tampak ragu saat melihat gaun merah marun yang menempel di tubuhnya. Gaun semi formal yang menampakan bahunya yang terbuka itu tidak juga membuat Vara puas. Padahal ini sudah gaun keempat yang Vara coba. Mungkin karena Vara ingin berpenampilan sempurna di depan Celline. Vara tidak ingin berpenampilan biasa di depan mantan kekasih suaminya itu, karena Vara yakin Celline pun akan melakukan hal yang sama, yaitu berpenampilan sesempurna mungkin.


Bry yang baru saja masuk ke dalam walk in closet, tersenyum manis menatap Vara yang tampak begitu cantik. Matanya tidak dapat menyembunyikan kekaguman terhadap istrinya yang masih saja bersikap dingin padanya.



"Sayang, kamu cantik sekali. Bisakah malam ini kita makan malam saja? Penampilan kamu terlalu cantik, kalau hanya untuk menemui perempuan itu?"


"Jadi kalau untuk bertemu dia, aku harus berpenampilan biasa saja? Kamu ingin dia menghinaku karena aku tidak terlihat cantik dan seksi seperti dia, begitu?"


Vara terlihat kesal menatap tajam ke arah Bry.


'Aduh, aku salah bicara nih.' Batin Bry.


"Maksudku, bukan begitu. Aku hanya.."


Vara langsung memotong perkataan Bry, karena malas mendengar perkataan Bry.

__ADS_1


"Sudah Bry, aku mau berangkat sekarang. Jangan ikuti aku, apalagi menguping pembicaraanku dengan perempuan itu."


"Baiklah Sayang.."


Bry terlihat kecewa mendengar perkataan Vara, tapi dia tidak berniat membantah perkataan Vara, karena tidak ingin membuat Vara semakin marah padanya.


*************************


5 menit kemudian, Vara sudah sampai di rooftop restaurant, tempat dimana Celline meminta bertemu. Dari pintu masuk, Vara langsung bisa melihat Celline yang sedang duduk di tempat yang sama seperti pertemuannya dengan Bry kemarin.


'Kenapa harus di meja yang sama seperti kemarin? Benar-benar membuatku kesal saja?' Teriak Vara dalam hati.


Vara berjalan mendekat ke arah Celline dengan langkahnya yang anggun, ekspresinya dia atur sesantai mungkin. Celline yang melihat kedatangan Vara menyunggingkan senyum sinisnya, namun Vara yang menyadari ekspresi Celline berusaha terlihat biasa saja.


Celline sesungguhnya sedikit terkesima melihat penampilan Vara yang begitu cantik, dia merasa memiliki saingan yang berat untuk membuat Bry kembali padanya. Meskipun saat ini Celline berpenampilan begitu seksi dengan gaun berwarna hitam tanpa lengan, dan mempunyai belahan dada rendah, tapi tetap saja tidak membuat Celline percaya diri.


"Aduh maaf ya, saya terlambat."


Vara mengulas senyum tipisnya ke arah Celline.


"Oh tidak apa-apa, silahkan duduk!"


"Terima kasih."


Vara segera duduk dengan sangat anggun, memancing ekspresi tidak suka di wajah Celline. Tidak lama kemudian, seorang pelayan menghampiri mereka untuk menuliskan pesanan.


"Saya pesan americano."


Celline menyebutkan pesanannya, membuat Vara mengerutkan keningnya karena menyadari minuman itu adalah favorit Bry.


"Hmm, kalau saya pesan orange juice saja."


"Bry benci sekali orange juice.. Minuman kesukaan kami kebetulan sama, karena itulah kami sering menghabiskan waktu di coffee shop saat kami kuliah dulu. Bahkan kemarin saat kami bertemu disini, Bry memesan minuman yang sama."


'Hmm.. Tenyata perempuan ini benar-benar ingin memancing emosiku.'Β Lagi-lagi Vara menahan kesal dalam hati.


"Oh begitu, saya baru tahu. Karena selama ini dia tidak pernah protes saat saya memesan orange juice, malah sejak kami pacaran, dia sering kali meminta minuman yang sudah saya minum. Oh mungkin karena ada bekas bibir saya kali ya."


Vara tersenyum tanpa dosa ke arah Celline, yang justru terlihat sangat kesal.


Tidak lama kemudian minuman pesanan mereka datang. Vara segera mengaduk minumannya lalu menyeruput pelan orange juice-nya. Celline pun meneguk americano-nya, namun ekspresi aneh di wajah Celline membuat Vara ingin tertawa.


"Pahit ya americano-nya. Kalau tidak suka, lebih baik jangan memaksakan diri meminumnya."


"Saya menyukainya kok, meskipun pahit."


Vara terkekeh geli melihat tingkah Celline yang terlihat sangat memaksakan diri.


"Hmm, kamu ingin terlihat cocok bersama Bry, bahkan sampai mengikuti kesukaan Bry, padahal kamu tidak menyukainya. Mungkin itulah bedanya saya dan kamu. Kalau saya memilih menjadi diri saya sendiri, tidak peduli Bry menyukainya atau tidak. Dan sampai sekarang, dia tidak pernah protes soal apapun."


Vara tersenyum menampakan ekspresi bahagianya karena memiliki suami yang sangat pengertian seperti Bry.


"Hmm, jadi sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?"


Vara langsung bertanya pada intinya, karena tidak ingin terlalu lama menanggapi drama murahan dari Celline.

__ADS_1


"Aku ingin Bry kembali padaku. Aku sangat yakin, dia masih mencintaiku. Tapi dia kasihan padamu dan tidak tega meninggalkan anak-anakmu."


"Oh jadi begitu. Apa Bry mengatakannya sendiri kalau dia masih mencintaimu tapi kasihan padaku kalau harus meninggalkanku?"


"Dia memang tidak mengatakannya secara langsung, tapi aku begitu memahami perasaan yang keluar melalui kata-katanya. Dia masih sangat mencintaiku, tapi dia bingung bagaimana caranya untuk meninggalkanmu."


"Hmm, kenapa aku harus melepas suamiku, sedangkan dia tidak mengatakan secara langsung kalau dia menginginkanku pergi dari hidupnya. Kenapa kamu begitu percaya diri kalau Bry masih sangat mencintaimu?"


"Karena aku adalah perempuan pertama yang membuatnya merasakan kenikmatan.."


Vara memotong perkataan Celline yang tidak sanggup didengarnya.


"Maksudmu? Kalian sudah pernah melakukannya?"


"Iya, baguslah kalau kamu mengerti. Kamu pasti paham, kalau yang pertama tidak akan mudah dilupakan."


Vara sekuat tenaga menahan emosinya yang akan meluap. Rasanya ingin sekali menjambak perempuan rubah itu dan juga menampar suaminya, jika ada dihadapannya. Tapi Vara berusaha menutupi perasaannya dengan seulas senyum tipis di wajahnya.


"Ah untuk apa menjadi yang pertama, kalau rasa nikmatnya bisa dikalahkan oleh yang terakhir. Bry selalu memintanya setiap malam, seperti tidak pernah ada bosannya. Dia bilang aku jago di atas tempat tidur. Aku suka sekali kalau des*han dan lenguhannya sudah keluar, katanya aku membuatnya tergila-gila. Bahkan setiap malam, kami melakukannya berkali-kali dengan berbagai gaya. Aku tidak bisa menyalahkannya, pesonaku memang terlalu kuat untuk ditolak. Aku sih senang-senang saja saat suamiku memintanya berkali-kali, berarti aku bisa memuaskannya dan membuatnya ketagihan."


'Aduh rasanya aku ingin muntah, mendengar perkataanku sendiri. Tapi hanya ini satu-satunya cara untuk membuatnya menyerah.' Batin Vara.


Ekpresi Celline semakin menggelap, sedangkan Vara malah tersenyum manis menatap wajah kesal Celline.


"Maaf ya Celline, kamu benar-benar membuang waktu saya. Saya pamit dulu, karena malam ini saya ada janji makan malam bersama suami saya."


Vara segera pergi meninggalkan Celline yang terlihat begitu kesal. Untung saja Celline tidak melihat ekspresi Vara yang berjalan membelakanginya, karena saat ini Vara pun terlihat sangat kesal. Ingin sekali dia secepatnya dia sampai di kamar dan memberi pelajaran pada Bry, karena rasa kecewanya dengan apa yang dikatakan Celline.


Begitu membuka kamar, Vara segera menuju tempat tidurnya. Dan ternyata Bry sedang menyandarkan kepalanya di kepala tempat tidur, sambil tersenyum begitu manis ke arah Vara.


Sesaat kemudian Bry mendekati Vara yang masih memasang wajah kesalnya. Tapi Bry tidak peduli, bahkan dia melingkarkan tangannya di pinggang Vara, sambil menatap dalam ke manik mata Vara yang jernih.


"Sayang, ayo kita berangkat untuk makan malam. Dan.. Bolehkah aku memintanya malam ini? Aku akan mengeluarkan des*han dan lenguhanku yang kamu sukai, karena kamu memang selalu membuatku puas dan tergila-gila."


Bry menyunggingkan senyum penuh godaan, membuat Vara yang menyadari sesuatu, terlihat merona karena malu.


'Aduh, kenapa dia bisa tahu?'


Vara mengeluh dalam hati sambil membenamkan kepalanya di dada Bry, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah merah seperti kepiting rebus, saking malunya.


*************************


Terima kasih banyak untuk semua readers & author2 kece yang sudah mampir dan juga mendukung novel ini.. 😍


Kalian semua begitu berharga buat author. Love u so much.. ❀❀❀


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung πŸ˜„


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊


#staysafe #stayhealthy


Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.

__ADS_1


Biar Author tambah semangat nulisnya 😊


Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..


__ADS_2