Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 128 Kekecewaan Sharon


__ADS_3

Vara dan Brandon masih asyik bercanda di pinggir kolam renang, sesekali tawa keras terdengar dari mulut mereka. Pelayan yang hendak mengantarkan makanan dan minuman yang dipesan Bry, sedikit mengejutkan Bry, karena muncul tepat dibelakangnya. Untung saja Brandon dan Vara tidak menyadarinya, kalau saja mereka tahu Bry menguping pembicaraan mereka sedari tadi, pasti Bry akan merasa sangat malu.


Perlahan Bry keluar dari persembunyiannya dan memberi isyarat pada pelayan yang mengejutkannya tadi untuk mengikutinya. Bry berjalan mendekat ke arah Vara dan Brandon, dengan pelayan tadi berjalan di belakangnya. Bry berusaha memasang wajah cerianya, agar Vara dan Brandon tidak curiga kalau sejak tadi dia menguping apa yang mereka berdua bicarakan.


Bry bersyukur, dengan apa yang didengarnya. Brandon sudah benar-benar melupakan Vara dan sekarang Brandon sudah bahagia bersama Sharon. Jadi Bry merasa tidak perlu khawatir lagi melihat Vara bersama Brandon. Terlebih Vara begitu menjaga kepercayaan yang diberikan oleh Bry. Vara bisa menjaga dirinya dari laki-laki selain suaminya. Bry hampir saja bersorak senang saat tadi melihat Vara menolak pelukan dari Brandon secara tidak langsung.


“Hai Brandon, bagaimana kabarmu?"


"Kabarku baik Bro.."


Bry memeluk dan menepuk punggung Brandon yang dibalas perlakuan yang sama dari Brandon. Pelayan yang mengikuti Bry dari belakang, segera menyimpan makanan dan minuman yang dipesan Bry.


"Kamsahamnida.."


Pelayan itu membungkuk pelan seraya tersenyum, lalu segera meninggalkan tempat itu.


“Terima kasih karena bersedia hadir di resepsiku. Padahal aku tahu pasti, kamu begitu sibuk.”


Brandon menepuk pelan bahu Bry.


“It’s okay Bro, kita kan keluarga. Mana mungkin kami tidak datang.”


“Iya Bro, kita keluarga, dan aku bahagia dengan kata itu, hahaha..”


Bry ikut tertawa menanggapi perkataan Brandon yang terdengar sangat bahagia.


“Ayo kita nikmati sunset bersama-sama.”


“Kalian saja, aku sudah sedikit bosan dengan sunset di Pulau Jeju, hahaha…”


“Wah sombong sekali orang ini, hahaha…”


Kata Bry sambil memiting leher Brandon. Brandon meringis namun tawa kembali keluar dari mulutnya. Vara hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Bry dan Brandon yang terlihat akrab meskipun bertingkah sedikit kekanak-kanakan.


“Sudah Bry, kamu membuat Brandon sesak nafas.”


Bry lalu melepas tangannya dari leher Brandon.


“Kali ini kamu selamat Bro..”


“Ternyata kamu suami takut istri ya.”


Brandon langsung berlari setelah meledek Bry, membuat Bry menekuk wajahnya dengan kesal karena  tidak sempat membalas ledekan Brandon.


“Sudah Honey, ayo kita nikmati makanan dan minumannya. Terima kasih ya Honey, sudah memesankan makanan dan minuman favoritku.”


“Sama-sama Sayang.”

__ADS_1


Jawab Bry sambil mengelus lembut pipi Vara, sehingga menarik lengkungan di wajah Vara yang terlihat semakin cantik.


Vara dan Bry menikmati makanan dan minuman segar ditemani pemandangan super cantik di hadapan mereka. Sesekali Bry mencium lembut pipi dan punggung tangan Vara, membuat pipi Vara merona karena malu sekaligus senang.


"Hentikan Honey, orang yang lalu lalang memperhatikan kita."


"Biarkan saja, aku bahkan bisa melakukan yang lebih dari ini."


Bry lalu mengecup singkat bibir Vara, membuat Vara sukses membulatkan matanya dengan sempurna.


"Ih menyebalkan sekali."


Vara memukul lengan Bry sekencang mungkin, tapi Bry malah tertawa jahil menanggapi reaksi kesal dari istrinya itu.


*************************


Brandon berjalan menuju kamarnya dengan raut wajah yang ceria. Sesampainya di depan kamar, Brandon langsung mengeluarkan cardlock-nya untuk membuka pintu kamarnya, namun kamarnya tetap terkunci, itu tandanya Sharon mengunci pintu dari dalam dengan menggunakan kunci pintu manual yang juga terpasang disana.


Brandon mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Sharon, tapi Sharon tidak juga mengangkat panggilan teleponnya. Brandon mulai khawatir dengan keselamatan istrinya, Brandon menekan bel dengan sangat tidak sabar. Brandon baru saja hendak pergi ke ruang pengawasan untuk mencari keberadaan Sharon melalui CCTV, saat tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Brandon segera masuk mengikuti istrinya yang melangkah cepat menuju tempat tidur.


Brandon berjalan lebih cepat, lalu memegang tangan Sharon agar Sharon menghentikan langkahnya. Ditatapnya wajah Sharon yang sembab dengan sisa air mata yang masih membekas di pipinya yang halus.


“Sayang ada apa?”


Brandon begitu panik melihat Sharon yang terlihat sedikit berantakan saat ini.


“Tidak ada.”


“Aku sungguh tidak apa-apa.”


“Kalau kamu tidak apa-apa, kamu tidak akan menangis seperti ini.’


“Aku sudah bilang, kalau aku tidak apa-apa. Kenapa kamu seperti mengharapkan sesuatu terjadi padaku saat ini.”


Sharon yang meninggikan nada bicaranya, membuat Brandon sangat terkejut.


“Apa maksudmu? Kenapa kamu berkata seperti itu? Ada apa denganmu?”


Sharon tidak menjawab pertanyaan Brandon satu pun. Sharon merasa begitu kecewa dengan Brandon, dan dia ingin menenangkan hatinya terlebbih dahulu sebelum menjelaskan apa yang dia rasakan.


“Jawab aku, jangan pernah pergi disaat aku sedang berbicara padamu.”


Suara Brandon yang terdengar sangat keras begitu mengejutkan Sharon, tubuhnya mematung dan terasa kaku. Mulutnya bahkan tidak bisa terbuka. Ini pertama kalinya Brandon marah padanya, dan pikiran Sharon langsung mengarah pada Vara.


‘Brandon, kamu tega membentakku, padahal tadi kamu begitu bahagia dan tidak berhenti tertawa saat bersama dengan Vara. Mungkin aku memang hanya sekedar alat bagimu, agar kamu bisa bersama dengan Vara lagi.’ Batin Sharon.


Setelah sadar dari keterkejutannya, Sharon melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah shower, mengaburkan air mata yang mengalir di pipinya. Sedangkan Brandon mendudukan dirinya di tepi tempat tidur, menyesali perbuatannya karena sudah begitu keras membentak Sharon.

__ADS_1


Drrtt..Drrtt..Drrtt…


Panggilan masuk dari Jared, segera diangkat Brandon tanpa membuang-buang waktu.


“Ada apa Jared?”


“Kamu dimana Hyung? Ada beberapa dokumen yang harus kamu tanda tangani. Sekarang aku ada di ruang kerjamu.”


“Baiklah, aku kesana sekarang.”


Sharon segera keluar hanya mengenakan bathrobe setelah merasa yakin, Brandon meninggalkan kamar mereka.


Sharon segera mengganti bajunya dengan kaos hitam polos dan jeans. Sharon memutuskan untuk berjalan-jalan keluar untuk menenangkan pikirannya tanpa ditemani suaminya.


Sharon langsung turun dari kamarnya menuju tempat parkir. Langkahnya begitu hati-hati dengan kepala yang terus saja memandang ke kanan dan kiri, berusaha agar tidak diketahui para pengawal Brandon. Sampai akhirnya, dia bisa masuk dan menjalankan mobil pribadinya yang dia beli jauh sebelum menikah dengan Brandon.


Saat mobilnya berhasil keluar dari area parkir hotel, Sharon sedikit bersorak kecil. Rasanya senang sekali bebas dari pengawasan anak buah Brandon. Langit sudah berubah gelap, tidak dipedulikan Sharon. Saat ini Sharon hanya ingin menghindar dari Brandon dan menghibur hatinya yang sedang terluka. Namun Sharon tidak menyadari, bahwa sejak dirinya keluar dari kamar, anak buah Brandon sudah mengawasi dan mengikutinya dengan diam-diam.


Brandon yang sudah menerima laporan dari anak buahnya, bahwa Sharon pergi meninggalkan hotel, langsung bergerak mengikuti Sharon, meskipun jarak mereka sudah begitu jauh. Brandon meminta anak buahnya yang berada di belakang mobil Sharon, untuk tetap memantau pergerakan istrinya itu.


'Sharon sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Apa yang membuatmu menjadi seperti ini? Sekarang sudah menjelang malam, kamu mau kemana sebenarnya?' Batin Brandon.


Brandon menjalankan mobil sportnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya berkecamuk. Brandon begitu khawatir dengan keselamatan Sharon, dia merutuki kebodohannya karena sudah membentak Sharon dan membuatnya pergi meninggalkan hotel.


Brandon yang sudah merasa ada yang salah dengan diri Sharon, langsung meminta Jared mancari tahu apa yang terjadi dengan Sharon melalui rekaman CCTV.


Tidak sampai 10 menit kemudian, Jared sudah mengirimkan rekaman CCTV yang Brandon minta. Dan alangkah terkejutnya Brandon, saat membuka 2 rekaman CCTV yang dikirimkan Jared. Rekaman pertama adalah rekamanbdari CCTV di pinggir kolam renang, saat dirinya dan Vara tertawa bersama dan rekaman kedua adalah rekaman dari CCTV lantai 3, dimana Sharon memandang ke area kolam renang dengan mata berkaca-kaca.


Brandon memukul kemudinya dengan kasar sambil mengumpati dirinya yang sudah begitu bodoh karena tidak menyadari penyebab istrinya bersikap aneh.


"Sayang, maafkan aku!"


Brandon berteriak keras, namun suaranya hanya memenuhi mobilnya yang melaju kencang mengejar Sharon.


Brandon kembali menghubungi Jared dan meminta 1 rekaman CCTV lagi, namun lengkap dengan rekaman suara yang terekam pada CCTV itu.


***********************


Terima kasih banyak, sudah mampir dan juga tidak meng-unfavorite novel ini.


Semoga bisa selalu menyempatkan waktu untuk menulis 😊


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊


#staysafe #stayhealthy


Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.

__ADS_1


Biar Author tambah semangat nulisnya 😊


Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..


__ADS_2