
Udara dingin di Jungle Resort yang terletak di ketinggian daerah L, terasa menusuk kulit Vara yang hanya terbungkus selimut. Vara mengeratkan selimut di tubuhnya, sesaat kemudian dirabanya tempat tidur di sebelah kiri Vara karena tidak merasakan tubuh Bry yang biasa memeluk tubuhnya dari belakang. Vara segera membuka matanya saat tidak mendapati Bry di sebelahnya, kemudian diedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar.
Tiba-tiba Bry yang sudah segar dengan mengenakan kemeja light blue dan celana pendek warna navy, berjalan membawa nampan berisi setangkup sandwich dan juice strawberry. Senyumnya mengembang lalu menyimpan sarapan untuk Vara diatas nakas, lalu mendudukan dirinya di tepi tempat tidur.
"Sayang, aku bawa sarapan nih buat kamu. Mau langsung sarapan atau mandi dulu Sayang?"
Vara mengubah posisinya menjadi duduk, sambil tetap membungkus tubuhnya dengan selimut sampai sebatas leher.
"Aku mandi dulu aja ya Honey. Terima kasih sudah membawakan sarapan untukku."
Vara mengulas senyum manis sambil memasang wajah imutnya, membuat Bry gemas lalu mengacak-acak rambut Vara yang memang sudah berantakan.
"Jadi mana hadiahnya?"
"Hadiah karena membawakan sarapan pagi?"
Bry mengangguk dengan senyum jahilnya, membuat Vara memutar kedua bola matanya.
"Kamu pamrih sekali, Honey.. Memangnya kamu mau hadiah apa?"
Bry menyentuh bibirnya dengan dengan jari telunjuknya.
"Morning kiss dulu dong Sayang."
Vara seketika mengecup bibir Bry dengan sangat singkat lalu segera beranjak dari tempat tidur hendak menuju kamar mandi dengan tetap memakai selimutnya.
Bry tersenyum puas meskipun ciuman Vara terlalu singkat untuknya. Baru saja Vara sampai di depan pintu kamar mandi, perkataan Bry menghentikan langkahnya.
"Sayang, dilepas dong selimutnya. Masa mandi bawa selimut."
"Aku lepas di kamar mandi saja, kalau disini, aku tahu apa yang akan kamu lakukan."
Bry tertawa lepas, sementara Vara mengerucutkan bibirnya.
"Niatku terlihat jelas ya Sayang, ya sudah kamu mandi sana. Sahabat-sahabat kita sudah ada di Jungle Resort ini. Mereka sampai jam 3 dini hari tadi. Kita sudah janjian untuk kumpul di Rooftop 2 jam lagi."
"Kenapa mereka bisa kesini? Dan kenapa harus dini hari?"
"Tadinya aku mau memberi kamu kejutan Wedding Anniversary malam tadi, tapi karena kemarin terjadi insiden yang tidak kita inginkan dan masih ada sahabat kita yang belum sampai di kota B, jadinya aku mengubah rencananya menjadi pagi ini. Aku juga mengatakan rencanaku, karena kamu sudah mengingat semuanya, barangkali kamu mau memberi mereka kejutan."
Bry tersenyum jahil yang dibalas senyum jahil juga oleh Vara.
"Honey, memangnya siapa sahabat kita yang semalam belum sampai di kota B?"
"Brandon dan Sharon, Sayang."
Vara mengerutkan keningnya dalam waktu yang cukup lama.
"Mereka datang jauh-jauh dari Korea, demi Wedding Anniversary kita?"
"Iya Sayang, mereka excited sekali, saat aku bilang akan memberi kamu kejutan. Mereka langsung berangkat dari Jeju kemarin siang."
Vara mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar mandi, dia berjalan menghampiri Bry dan mendudukan dirinya di tepi tempat tidur, tepat di sebelah Bry.
"Sayang, sebelum kita berkumpul, aku ingin bertemu dengan Brandon. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Brandon. Aku minta tolong Honey, bisakah kamu memesankan private room untuk gym dan olahraga, untukku berbicara dengan Brandon?"
"Tapi kamu mau membicarakan apa dengan Brandon? Please jangan membuatku cemburu Sayang!"
__ADS_1
"Apa-apaan sih kamu Honey. Aku hanya ingin membicarakan sesuatu dengan Brandon, sesuatu yang belum selesai."
"Soal apa? Kenapa kamu membuatku penasaran Sayang?"
"Kalau kamu penasaran, kamu ikut saja. Dengarkan pembicaraanku dengan Brandon. Sharon juga boleh ikut, jika dia penasaran dengan apa yang akan aku katakan pada Brandon."
"Baiklah Sayang, aku akan menghubungi Brandon. Kamu mandi dulu ya."
Vara mengangguk pelan kemudian berjalan masuk menuju kamar mandi.
Sedangkan Bry langsung menghubungi Brandon dan menjelaskan permintaan Vara tadi, yang langsung disetujui Brandon.
Setengah jam kemudian Brandon dan Sharon sudah lebih dulu sampai dan menunggu di private room khusus gym dan olahraga yang sudah dipesan oleh Bry.
Vara dan Bry yang baru sampai 10 menit kemudian, segera memasuki ruangan itu dan menyapa Brandon dan Sharon. Vara mencium pipi kanan dan kiri Sharon dan menyambut uluran tangan Brandon, tapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Vara.
Brandon dan Sharon tidak ambil pusing dengan sikap Vara, karena mengira ingatan Vara masih belum kembali.
Vara dan Bry segera duduk berhadapan dengan Sharon dan Brandon. Bry melihat Vara yang memandang Brandon dengan tatapan tajam, merasa aneh dengan sikap istrinya itu.
"Vara, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kamu sudah mulai bisa mengingat kenangan-kenangan lamamu?"
"Aku sudah bisa mengingat semuanya, tanpa terkecuali."
"Benarkah?"
Brandon dan Sharon bertanya dengan sedikit berteriak dan mata membelalak sempurna. Vara hanya mengangguk singkat menanggapi pertanyaan Brandon dan Sharon.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Brandon."
Brandon memandang wajah Vara dengan ekspresi khawatir, karena menyadari ada yang tidak beres dengan nada bicara Vara yang to the point dan tegas.
"Aku sudah mengingat semua perbuatan burukmu padaku, Brandon."
Lagi-lagi ekspresi penuh keterkejutan tergambar jelas di wajah Brandon, dia tidak menyangka Vara akan mengungkit perbuatan buruknya dulu. Begitupun Bry dan Sharon yang tidak menyangka sama sekali kalau Vara akan membahas hal ini.
"Aku sudah memaafkan perbuatanmu sejak kamu meminta maaf padaku setahun yang lalu. Tapi saat itu, kamu membuatku merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaanmu padaku. Kamu memojokanku, seolah perbuatan buruk yang kamu lakukan adalah karena salahku. Kamu membuatku terfokus pada rasa bersalahku padamu dan melupakan betapa bejatnya perbuatan kamu yang hampir memperkosa aku. Kamu sibuk dengan rasa sakitmu, tanpa menyadari rasa sakit dan trauma yang kamu ciptakan untukku. Sesalah apapun aku menurutmu, tapi kamu tetap tidak boleh melakukan perbuatan bejat itu padaku."
Brandon menundukan kepalanya karena menyadari kesalahannya. Air mata sudah mulai menggenang di kelopak mata Sharon, dia paham sekali dengan apa yang dirasakan Vara. Saat pertama kali Brandon menceritakan kisahnya yang hampir memperkosa Vara, Sharon pun marah besar. Tapi Sharon tahu sekali kalau Brandon sangat menyesali perbuatannya dulu.
Bry hanya menatap wajah Vara yang masih bertahan dengan tatapan tajamnya ke arah Brandon. Ada rasa khawatir dan sesak saat Vara kembali membuka luka lamanya.
"Aku yakin, Allah membuatku mengalami Amnesia Disosiatif karena banyak alasan. Allah ingin aku menjadi pribadi yang lebih kuat dan terbebas dari semua rasa bersalahku. Aku benar-benar sudah memaafkanmu, tapi aku ingin melakukan sesuatu untuk terakhir kalinya agar perasaanku lega."
Brandon seketika mengangkat wajahnya dan memandang wajah Vara dengan tatapan penuh tanya.
"Apa yang ingin kamu lakukan Vara?"
Tanpa menjawab pertanyaan Brandon, Vara seketika mendaratkan pukulannya di wajah dan dada Brandon yang sesaat kemudian terhuyung dan terjerembab ke arah belakang.
Bry dan Sharon sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Vara, terutama Brandon yang tidak menduga sama sekali dengan pukulan yang akan Vara layangkan di wajahnya. Tapi sesaat kemudian senyumnya mengembang.
"Akhirnya kamu melakukannya, aku sudah lama menunggumu melakukannya. Karena sikapmu yang langsung memaafkanku tanpa berniat membalas perbuatanku, justru membuat rasa bersalahku semakin bertambah. Terima kasih Vara, kamu juga sudah melepas beban di hatiku."
Kini air mata meluncur dari kelopak mata Brandon, tanpa bisa ditahan. Sharon segera memeluk tubuh Brandon yang seketika membenamkan wajahnya di bahu Sharon.
__ADS_1
Vara sesaat terkejut dengan apa yang dikatakan Brandon, namun sesaat kemudian Vara segera keluar dari ruangan itu diikuti oleh Bry di belakangnya.
Bry memeluk pinggang Vara dengan sebelah tangannya.
"Sudah lega Sayang? Apa kamu baik-baik saja?"
"Aku sudah baik-baik saja dan aku sangat lega.."
Bry tersenyum melihat Vara yang terlihat tenang dan baik-baik saja.
"Baguslah.. Ayo kita ke kamar Bradley & Briley.. Wonder woman."
Vara mendelik memandang wajah Bry yang memasang ekspresi jahil.
"Ok.. Superman.."
"Hmm, Sayang bisakah kamu memanggilku Iron man saja?"
"Tidak, kamu lebih cocok jadi Superman."
"Tapi aku tidak suka memakai underwear di luar celana."
Vara tertawa keras, karena tidak menyangka dengan alasan yang diungkapkan oleh Bry.
"Tapi kamu tetap tampan meskipun memakai underwear di luar celana."
"Aku lebih tampan jika tidak memakai underwear, Sayang."
Vara melepas tangan Bry yang melingkar di pinggangnya, lalu segera berjalan lebih cepat menuju kamar si kembar.
"Ih dasar mesum."
Bry mencoba mengejar langkah Vara sambil berbicara sedikit keras pada istrinya itu.
"Tapi kamu menyukai suami mesummu ini kan Sayang?"
Vara berlari kencang dan melindungi wajahnya dengan kedua tangan, saat menyadari beberapa tamu resort disekitarnya tertawa dan tidak henti memandang Bry dan Vara.
'Aduh memalukan sekali suami mesumku itu.' Keluh Vara dalam hati.
*************************
Akhirnya, bonus chapternya up juga.. 😄
Ada yang kangen sama Bry & Vara ga nih?
Terima kasih ya, karena tidak meng-unfavorite novel ini. Masih ada beberapa stock bonchapt lagi nih.
Semoga semua readers dan author yang mampir kesini dan mendukung novel ini selalu diberikan kesehatan, kesuksesan, perlindungan dan kebahagiaan. Aamiin..
Jangan lupa Like, Vote, Favorit & Rate bintang 5-nya ya.. 😊
Terima kasih banyak. Semangaaaaaaattt... ❤❤❤
Love u all.. ❤❤❤
(IG : zasnovia #staronadarknight)
__ADS_1