
Pesta perayaan untuk Vara dan Bry sudah selesai 1 jam yang lalu, Satya dan Larry beserta seluruh anak buahnya sudah kembali ke hotelnya. Reyvan pun sudah kembali ke Apartemennya. Sedangkan Kendrick, Daniel dan Kevin sudah lelap di kamarnya masing-masing karena terlalu mabuk.
Hanya Vara, Bry dan Reyvan yang sama sekali tidak minum, sedangkan yang lainnya menghabiskan berbotol-botol vodka, wine dan beberapa jenis minuman lain untuk merayakan kebahagiaan Bry dan Vara.
Vara dan Bry duduk berdua di sofa kamar yang ditempati Bry. Dokter baru saja selesai memeriksa keadaan Bry, namun Bry menolak untuk kembali merebahkan dan mengistirahatkan tubuhnya yang masih lemah.
Bry merapihkan helaian rambut Vara dan mengelusnya dengan lembut.
"Sayang, maafkan aku karena melamarmu dalam suasana yang tidak romantis. Aku merasa tidak mau lagi membuang-buang waktu, dan aku ingin semua orang terdekat kita mengetahui keseriusanku untuk menikahimu."
Vara mengulas senyum manisnya lalu membelai pipi kiri Bry.
"Aku mengerti maksudmu Sayang."
Bry membalas senyum Vara dengan senyum sumringah yang penuh kebahagiaan.
"Sayang, apa kamu bahagia sebentar lagi menjadi istriku?"
"Tentu saja Bry, aku benar-benar bahagia."
"Syukurlah.."
Bry merengkuh pelan tubuh Vara, karena menjaga agar tidak terlalu menekan luka di bahunya. Lalu beberapa detik kemudian kembali melepas pelukannya, seolah tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Tapi Sayang, ada yang ingin aku tanyakan, sebelum kita menikah."
Vara mengernyitkan keningnya penuh tanya tanpa mengeluarkan suara.
"Bagaimana perasaanmu sesungguhnya terhadap Brandon? Apa kamu sama sekali tidak memiliki perasaan cinta terhadapnya?"
"Tidak Bry.. Aku hanya menganggapnya sebagai sahabat baikku."
"Benarkah kamu tidak merasakan perasaan nyaman, sayang atau takut kehilangan dia setelah semua yang dia lakukan selama beberapa tahun ini?"
Vara terdiam mendengar pertanyaan Bry, menelaah hatinya yang tiba-tiba terasa aneh.
"Apa kamu merasakannya terhadap Brandon?"
Vara tersadar dari lamunannya setelah mendengar Brandon kembali bertanya.
"Tidak Bry, aku benar-benar tidak punya perasaan cinta padanya. Aku hanya mencintaimu. Berhentilah meragukan perasaanku padamu."
"Aku tidak meragukan perasaanmu padaku, aku hanya takut dihatimu terselip perasaan cinta padanya juga."
__ADS_1
Vara menangkap rasa khawatir di wajah Bry yang menatapnya sendu.
"Segera nikahi aku, agar kamu yakin perasaan cintaku hanya untuk kamu."
Perkataan Vara seketika menenangkan hati Bry yang kacau, dan menyejukan hatinya yang sejak tadi terasa panas.
"Terima kasih Sayang. Aku mencintaimu."
Bry mencium kening Vara menyalurkan kehangatan, agar Vara dapat merasakan ketulusan cintanya.
"Aku juga mencintaimu Bry." Jawab Vara lirih.
Bry kembali menatap Vara, tapi kali ini tatapan penuh cintanya berubah menjadi tatapan menyelisik.
"Sayang, kamu masih berhutang satu penjelasan padaku."
Vara yang tahu arah pembicaraan Bry, tidak dapat menyembunyikan rasa gelisahnya.
"Sayang, tolong jujurlah.. Apa sebenarnya yang dikatakan Brandon saat itu, yang tiba- tiba membuatmu merasa sangat kesal?"
"Itu.. Itu.. Hmm.."
"Aku calon suamimu, Sayang. Tolong jangan berbohong atau menutupi apapun dariku."
"Brandon bilang.. Dia menciumku saat aku tertidur."
Bry berdiri dari duduknya, lalu mencengkeram kasar rambutnya berusaha menahan emosi yang saat ini hendak membuncah.
"Maafkan aku Bry. Aku benar-benar tidak tahu kenapa dia bisa melakukannya."
"Aaaaarrrggh.. Kenapa dia selalu saja mencari kesempatan untuk menyentuhmu."
Emosi Bry sudah tidak bisa dia tahan, bukan kecewa terhadap Vara, tapi rasa marah terhadap Brandon juga dirinya sendiri terasa sangat menguasai.
"Sayang aku akan mempercepat rencana pernikahan kita dari yang sebelumnya aku persiapkan. Aku sudah tidak bisa lagi menunggu. Aku benar-benar takut kehilanganmu, aku tidak mau lagi ada laki-laki lain yang mencoba merebutmu dariku."
"Maksudmu mempercepat bagaimana? Kita kan sudah membahasnya tadi kalau kita akan menikah 6 bulan lagi."
"Tidak, 6 bulan terlalu lama. Aku ingin kita menikah 1 bulan lagi."
"Apaaaa? Jangan bercanda Bry."
Vara ikut berdiri menghampiri Bry yang sejak tadi sudah terlihat gelisah.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin bercanda untuk hal seperti ini Sayang. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Tolong mengertilah."
Bry memegang kedua tangan Vara dengan kedua tangannya yang terasa dingin dan sedikit lembab.
"Tapi itu terlalu cepat Bry.."
Suara Vara terdengar lirih, Bry menangkap keraguan dibalik perkataan Vara.
"Sebenarnya apa yang membuatmu ragu?"
Nada penuh kekhawatiran tergambar jelas pada perkataan Bry, dia juga sebenarnya merasa takut mendengar jawaban Vara yang mungkin akan mengecewakannya.
"Aku kan masih kuliah Bry. Hanya tinggal skripsi saja, kenapa kamu tidak mau menunggu."
"Kamu juga masih bisa kuliah setelah menikah, apalagi hanya tinggal skripsi Sayang."
"Tapi apakah persiapan pernikahan kita bisa dilakukan hanya dalam waktu satu bulan?"
"Aku akan meminta Wedding Organizer terbaik untuk mengurus pernikahan kita. Kamu hanya perlu mengatakan seperti apa pernikahan yang kamu inginkan."
Vara terdiam, wajahnya menggambarkan pikirannya yang sedang bekerja lebih keras mempertimbangkan semua yang Bry katakan.
"Baiklah.. Kita akan menikah satu bulan lagi."
Jawaban Vara seperti oase yang menyejukan hatinya, Bry menghela nafas lega setelah akhirnya berhasil meyakinkan calon istrinya itu. Senyum sumringah terpampang di wajahnya yang berubah sangat ceria.
Bry memgang bahu Vara dengan kedua tangannya.
"Terima kasih Sayang, karena mau menikah denganku secepatnya. Aku benar-benar mencintaimu."
Bry dengan sekali gerakan mendaratkan bibirnya di bibir Vara yang manis, mencium dan meluapkan perasaan bahagianya karena hanya perlu waktu satu bulan lagi sampai Vara bisa menjadi miliknya seutuhnya. Tidak perlu menunggu lama, Vara pun membalas ciuman Bry dengan penuh cinta.
*********************
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1