
Vara, Bry, Kevin dan Daniel sudah tiba di Indonesia. Sesampainya di Bandara Soekarno Hatta, mereka sudah dijemput oleh sopir dan beberapa orang pengawal pribadi. Mereka sama-sama akan menuju Kota B, namun Kevin dan Daniel akan langsung diantarkan ke apartemen mereka masing-masing. Sedangkan Bry akan mengantar Vara terlebih dahulu kerumahnya, sekaligus menemui kedua orangtua Vara untuk menyampaikan niatnya berkunjung bersama kedua orangtuanya beberapa hari lagi.
Kendrick dan Reyvan sebenarnya ingin ikut pulang ke Indonesia, tapi setelah mempertimbangkan banyak hal, mereka memutuskan untuk pulang beberapa hari sebelum acara pernikahan Vara dan Bry. Sedangkan Satya, Larry dan anak buahnya akan pergi ke Inggris terlebih dahulu sebelum pulang ke Indonesia.
Langit sudah berubah jingga, saat sopir Bry memasukan mobil yang ditumpangi Bry dan Vara ke halaman rumah Vara. Sedangkan 1 mobil berisi pengawal pribadi memantau dari jarak aman, agar tidak mengundang perhatian keluarga Vara.
"Assalamu'alaikum.. Ma.. Pa.. Vara pulang."
Mama Irena yang merasa mendengar suara putrinya, segera keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.
"Wa'alaikumsalam.. Sayang, Mama kira Mama hanya salah dengar."
Mama Irena memeluk Vara dengan mata berkaca-kaca.
"Mama kira kamu tidak akan lama disana Sayang. Mama sedih sekali."
"Maafkan Vara ya Ma.. Vara sudah membuat Mama sedih."
"Iya Sayang.. Eh kenapa bisa Bry pulang bersama kamu? Apa dia menjemputmu di bandara?"
Mama Irena melepas pelukannya saat menyadari keberadaan Bry yang berdiri dibelakang Vara. Dihampirinya Bry seraya merentangkan kedua tangan berniat memeluk Bry yang langsung disambut Bry dengan pelukan hangat.
"Bry menjemput Vara ke Granada Ma.."
Penjelasan Vara mengejutkan Mama Irena yang seketika melepas pelukannya pada Bry.
"Apa benar itu Bry?"
Bry mengulas senyumnya kearah Mama Irena yang memasang raut penuh tanya.
"Benar Tante.. Bry tidak bisa jauh dari Vara, jadi Bry sengaja menjemput Vara untuk mengajaknya pulang."
"Bry, terima kasih ya, kamu sudah membawa Vara pulang."
"Pa.. Sini Pa.."
Mama Irena memanggil Papa Devan yang sedang berada di kamar, sesaat kemudian Papa Devan keluar dan tampak terkejut melihat keberadaan Vara yang diketahuinya berada di Granada. Begitu juga saat melihat Bry di sebelah Vara.
"Vara, akhirnya kamu pulang Sayang."
Papa Devan merengkuh tubuh Vara dan mencium pelipis Vara.
"Katanya Bry menjemput Vara ke Granada, Pa."
__ADS_1
Penjelasan Mama Irena membuat Papa Devan membulatkan matanya, dan melepas rengkuhannya pada Vara.
"Serius Bry?"
Bry yang melihat raut penuh tanya di wajah calon mertuanya itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Terima kasih ya Calon Mantu."
Perkataan Papa Devan mengundang tawa Bry, Vara dan Mama Irena.
"Sama-sama calon Papa Mertua."
Lagi-lagi mereka tertawa senang, terlebih Bry yang merasa rencananya menikahi Vara tidak akan terhambat restu kedua orang tua Vara, karena mereka sudah menganggapnya sebagai calon menantu.
"Om.. Tante.. Ada yang mau Bry bicarakan."
"Oh iya, Papa, Vara dan Bry duduklah dulu. Mama tinggal sebentar ya, mau meminta Bi Rahma menyiapkan makanan dan minuman untuk kita semua."
Mama Irena meninggalkan ruang tamu menuju dapur, sedangkan Papa Devan, Vara dan Bry duduk di ruang tamu.
"Apa yang ingin kamu bicarakan Bry?"
"Begini Om, saya meminta izin Om untuk menikah dengan Vara dalam waktu dekat."
Rasa terkejut tergambar jelas di wajah Papa Devan, yang segera diubah menjadi raut menyelisik kearah Bry yang memandang serius Papa Devan.
Mama Irena yang baru saja kembali ke ruang tamu, merasa terkejut saat suaminya bertanya tentang menikah kepada Bry.
"Om.. Tante.. Bry sangat serius dengan hubungan ini, Bry juga sudah yakin dengan perasaan Bry terhadap Vara. Bry tidak mau lagi jauh dari Vara. Bry ingin selalu menjaga Vara tanpa batasan waktu atau jarak. Bry berjanji akan mencintai dan menjaga Vara sepanjang hidup Bry."
Papa Devan dan Mama Irena menelaah semua perkataan Bry dengan dalam. Tidak adanya keraguan sedikitpun dalam nada bicara Bry, membuat Papa Devan dan Mama Irena dengan mudah menangkap keseriusan Bry untuk menikahi putri mereka.
"Lalu kamu Vara.. Apa kamu mau menikah dengan Bry? Kamu sedang skripsi saat ini, apa kamu yakin bisa menjalani kuliah sekaligus pernikahan kamu dengan baik?"
"Vara yakin, Pa.. Kami sudah membicarakan ini. Hal itu sama sekali bukan masalah, karena Bry sangat mendukung Vara, Pa.."
Papa Devan mengangguk-anggukan kepalanya berusaha mengerti dengan keinginan anak dan calon menantunya.
"Tapi, maafkan Mama.. Sebelumnya Mama mau bertanya, apa kalian melakukan kesalahan sehingga ingin menikah secepatnya?"
"Tidak Maaaa.."
Vara berteriak kesal, sedangkan Bry hanya menahan senyum karena mendapat pertanyaan yang sama seperti pertanyaan dari Mommy-nya.
__ADS_1
"Tidak Tante.. Kami tidak pernah melakukan hal yang terlalu jauh yang bisa merusak nama baik keluarga."
"Syukurlah, Tante hanya khawatir saja."
Bry tersenyum memandang Mama Irena yang menghembuskan nafas lega saat mendengar penjelasannya.
"Bry meminta restu dari Om dan Tante untuk segera menikahi Vara, dan lusa kedua orangtua Bry akan datang kesini untuk secara resmi melamar Vara untuk menikah dengan Bry."
"Baiklah Bry.. Apapun yang membuat Vara bahagia, kami akan mendukungnya. Om dan Tante menerima niat baik kamu untuk menikahi Vara. Kami ingin yang terbaik untuk kalian berdua."
"Terima kasih banyak Om dan Tante.."
"Mulai sekarang panggil kami Mama dan Papa ya Calon Mantu."
Sekarang giliran Mama Irena yang menggoda Bry sambil mengerling kearah Papa Devan, membuat Vara dan Bry tersenyum sumringah.
"Terima kasih Ma.. Pa.."
Bry menghampiri Papa Devan dan Mama Irena, mencium tangan dan memeluk mereka bergantian, menguarkan rasa haru yang kental diantara mereka. Mama Irena bahkan sampai tidak sanggup menahan airmatanya yang menetes dengan deras sambil memeluk Bry dengan erat.
Tolong jaga anak Mama ya Sayang. Bahagiakan dan jaga Vara dengan baik ya!
Bry janji Ma.. Bry akan selalu menjaga, melindungi, membahagiakan dan mencintai Vara di sepanjang hidup Bry.
Mama melepas pelukannya dari Bry dan mengangguk pelan berusaha mempercayai janji calon menantu dihadapannya.
Tepati janjimu Bry, meskipun terkadang banyak hal akan berusaha menggoda dan menggoyahkan usahamu.
Bry mengangguk yakin sambil menatap dalam kearah Papa Devan.
Iya Pa.. Bry akan menepati semua janji Bry pada Vara.
Papa Devan dan Mama Irena tersenyum senang melihat keyakinan dan keseriusan yang ditunjukan oleh Bry. Mereka merasa yakin melepas anak mereka untuk Bry, yang menurut mereka adalah sosok yang sangat tepat untuk mendampingi putri kesayangan mereka.
***************
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
__ADS_1
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..