
Di dalam kamar berukuran cukup luas, dilingkupi cahaya temaram dari lampu duduk diatas nakas, seorang laki-laki duduk di sofa dan tidak henti memandangi perempuan yang sedang tertidur lelap ditutupi selimut putih sampai bagian perutnya. Tatapannya nanar, melihat gadis berparas cantik yang sangat dicintai dan dirindukannya selama ini.
Kerinduan di dadanya terasa akan membuncah jika dia tidak menahan diri sekuat tenaga. Hati dan raganya terasa sulit dikendalikan. Rasanya ingin sekali tubuh mungil perempuan itu dipeluk dan didekapnya dengan erat. Namun perasaan sakit terselip diantara diantara perasaan cinta dan rindu yang bertahta di hatinya.
Brandon.. Saat ini perasaannya terasa berkecamuk. Fakta bahwa Vara saat ini berada dihadapannya tidak menjadikan keadaan dan suasana hatinya lebih baik. Dia memang sangat takut kalau Vara menyimpan rasa benci terhadap dirinya, karena perbuatan bejat yang pernah dia lakukan. Tapi rasa sakit yang terselip itu bukan karena ketakutannya, melainkan rasa kecewanya saat melihat tanda merah yang terlihat jelas di leher perempuan itu. Seakan menunjukan dengan jelas, bahwa Vara sudah benar-benar menjadi milik Bryllian.
'Vara.. Apakah hatimu hanya untuk Bryllian? Apakah aku sudah tidak punya kesempatan sedikit pun? Tidak sadarkah kamu, aku begitu mencintaimu sejak dulu. Aku berusaha menjadi yang terbaik untukmu, aku selalu ada disampingmu saat suka maupun duka, dan akulah orang pertama yang selalu bisa kamu andalkan. Tapi kenapa kamu selalu memilih orang lain untuk memilikimu? Sebegitu tidak pantaskah diriku untuk kamu Vara?'
Air mata Brandon mengalir tanpa suara, seiring rasa sesak yang terus menggelayuti hatinya. Pikirannya melayang ke masa SMA-nya bersama Vara, dimana mereka seringkali menghabiskan waktu bersama di sekolah ataupun diluar sekolah. Hubungan diantara Brandon dan Vara yang sudah terjalin sejak awal Kelas 1 SMA itu, hanya sebatas persahabatan bagi Vara, tapi tidak demikian bagi Brandon. Semua waktu yang mereka lewati bersama, adalah waktu terbaik bagi Brandon.
Sejak awal, dia sudah berharap dan berusaha untuk mendapatkan hati Vara. Tapi Vara seolah menutup hati untuk Brandon, dan tidak pernah memberinya kesempatan sekalipun. Brandon seringkali menahan perasaan dan amarahnya setiap kali Vara bersama dengan kekasihnya, dan dia harus selalu berpura-pura baik-baik saja agar Vara tetap berada disampingnya meskipun hanya sebagai sahabat.
Mata Brandon yang tajam menangkap pergerakan dari perempuan yang ditatapnya tanpa henti. Vara mengerjapkan matanya berkali-kali kemudian memicingkan matanya berusaha melihat dengan jelas pemandangan di depannya.
Tiba-tiba mata Vara membulat dengan sempurna karena rasa terkejut, namun sesaat kemudian raut wajah terkejut itu berubah menjadi raut penuh ketakutan. Vara beringsut ke sudut tempat tidur dengan posisi tangan memeluk kedua lutut dan menutupinya dengan selimut sampai diatas dada.
Brandon menyadari ekspresi Vara yang tidak pernah dilihatnya selama ini, lalu Brandon menghampiri Vara dengan langkah pelan dan hati-hati karena menyadari Vara sedang membentuk pertahanan dirinya.
"Vara.. Aku benar-benar minta maaf. Aku sama sekali tidak.."
"Jangan mendekat..!!"
Posisi Brandon yang semakin mendekat ke arah Vara, membuat Vara panik dan semakin memundurkan tubuhnya yang sudah terbentur kepala tempat tidur. Terlintas kejadian buruk dimana Brandon mencoba merenggut kehormatannya, membuat Vara menangis histeris dengan menjambak rambutnya dengan keras.
"Aaaaaaaaa....."
"Vara tolong jangan lakukan itu. Aku minta maaf Vara.."
__ADS_1
Brandon tidak peduli Vara akan semakin membencinya karena berani menyentuhnya, tapi dia tidak ingin Vara menyakiti dirinya sendiri. Brandon naik ke atas tempat tidur dan mencoba melepaskan tangan Vara dari rambutnya yang terus saja dijambaki sekuat tenaga.
Plak.. Plak.. Bug.. Bug.. Bug..
Vara menampar kedua pipi Brandon kemudian memukul dada Brandon berkali-kali dengan sangat membabi buta. Brandon tidak menghindar meskipun rasa sakit menghantam kuat di dadanya.
"Kamu jahat Brandon.. Kenapa kamu tega melakukannya padaku? Brengseeek kamu Brandon."
Brandon menundukan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan mata Vara yang terlihat membencinya dengan tangan yang tidak berhenti memukuli dada Brandon, meskipun tangan Vara sudah terasa panas dan sakit.
"Aku benar-benar minta maaf Vara."
"Kamu benar-benar jahat Brandon. Aku benci kamuuuu.."
Air mata Brandon jatuh tepat ditangan Vara yang sedang memukuli dada Brandon. Vara seketika menghentikan pukulannya dan berniat menarik tangannya dari dada Brandon, namun Brandon menahan tangan Vara agar tetap berada di dadanya.
"Pukul aku Vara.. Bencilah aku sepuasmu. Tapi aku akan bersikap egois kali ini. Aku tidak mau kehilanganmu lagi."
Brandon menegakan kepalanya dan menatap mata Vara dengan genangan air mata di kelopak matanya.
"Tapi kamu yang membuatku gila Vara. Kamu bilang aku jahat, tapi apa kamu tidak sadar selama ini kamu sudah menyakitiku? Kamu tahu perasaanku padamu, tapi kenapa kamu selalu pura-pura tidak tahu? Aku selalu menahan perasaanku setiap kali kamu bersama laki-laki lain, karena aku tidak mau kehilangan kamu. Kenapa kamu bahkan tidak pernah memberiku satu kesempatan untuk memilikimu? Apa aku benar-benar tidak layak untukmu?"
Mata Brandon semakin memanas, air matanya mengalir tanpa bisa ditahan lagi. Brandon memalingkan wajahnya menghindari tatapan mata Vara.
"Tapi kenapa kamu membunuh Arya? Dan sekarang kamu membunuh Bry juga?"
Brandon yang terhenyak mendengar pertanyaan Vara, langsung menatap dalam manik mata Vara.
"Aku tidak membunuh Arya! Dan berhentilah mengkhawatirkan Bryllian, dia tidak akan mati, anak buahku hanya melumpuhkannya agar Bryllian tidak menahanmu saat mereka membawamu kesini."
Ada rasa lega mengetahui Bry masih hidup, meskipun Vara yakin Bry tidak baik-baik saja karena tertembak di bahunya.
__ADS_1
"Brandon kenapa kamu tega menyuruh orang untuk membunuh Arya? Dan sekrang kenapa kamu harus menembak Bry untuk membawaku kesini? Berhentilah menyakiti orang lain Brandon!"
"Aku tidak pernah menyuruh siapapun untuk membunuh Arya. Soal Bry, aku memang ingin membunuhnya, namun saat ini tidak akan kulakukan. Percayailah apa yang ingin kamu percayai. Aku tetap akan terlihat buruk di matamu, apapun yang aku katakan. Bencilah aku semaumu, aku tidak peduli. Tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari hidupku lagi."
Bry beranjak dari tempat tidur dan berniat pergi dari kamar itu, tapi perkataan Vara menghentikan langkahnya.
"Tapi aku tidak ingin bersamamu."
Bry membalikan badannya dan menatap Vara dengan tatapan nanar.
"Kenapa kamu selalu menyakiti hatiku? Apa tidak pernah ada cinta, meskipun sedikit saja di hati kamu untukku?"
Air mata Brandon kembali menetes, membuat Vara mematung dan membeku seketika. Lalu Brandon berbalik membelakangi Vara.
"Aaaaaargggghhh..."
Brandon memukulkan kepalan tangannya ke tembok, membuat tangannya mengeluarkan darah segar yang cukup banyak. Brandon segera keluar dari kamar itu dengan langkahnya yang cepat dan penuh amarah, meninggalkan Vara yang masih terpaku dengan apa yang baru saja terjadi.
******************************
Image Source : Instagram (Edited)
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
__ADS_1
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..