
Bug.. Bug.. Bug..
Bry memukuli wajah, dada dan perut Satya dengan sekuat tenaganya, meluapkan emosi yang ditahannya sejak siang tadi. Satya menyentuh wajahnya yang terluka karena pukulan Bry, tapi Satya sama sekali tidak berniat melawan meskipun sorot matanya menyiratkan kemarahan.
"Bastard.. Sudah puas kamu membodohiku? Kamu memanfaatkan rasa bersalahku akan kematian Arya untuk merebut Vara dariku kan?"
"Tidak ada hubungannya dengan kematian Arya.. Aku hanya ingin Vara terlepas dari laki-laki tidak berguna seperti kamu, yang tidak becus menjaga Vara. Dia tidak akan bahagia bersamamu."
Nada datar yang keluar dari mulut Satya membuat kemarahan di hati Bry semakin memuncak.
"Cara yang kamu gunakan terlalu pengecut. Jika kamu bukan pengecut, kamu tidak akan menggunakan cara ini. Kamu pasti mengatakan kebenarannya padaku, dan membuatku berhenti menyalahkan diriku selama berbulan-bulan."
"Salahkan orang-orangmu yang terlalu bodoh dan lamban. Kenapa kamu jadi menyalahkanku."
Bry semakin emosi melihat Satya yang tidak terlihat merasa bersalah sedikitpun dengan apa yang sudah dilakukannya.
"Brengseeekk.."
Bry kembali memukuli Satya dengan membabi buta. Namun anehnya, meskipun Satya tidak memperlihatkan rasa bersalahnya, tapi dia sama sekali tidak melawan bahkan tidak melakukan pertahanan apapun.
Bry menghentikan pukulannya setelah Satya roboh di lantai dengan banyak luka. Satya memandang Bry dengan tatapan tidak terbaca. Bry membalas tatapan Satya dengan sorot mata tajam dan kemarahan yang seakan enggan sirna.
"Dengan cara licik, kamu sudah berhasil membuat Vara meninggalkanku. Kamu memang benar-benar pengecut Satya.."
Braaaaakk...
Bry membuka pintu ruang baca dengan kasar, tampak Larry berdiri tepat di luar ruangan dengan perasaan khawatir. Bry sekilas melirik namun tak mengatakan apapun, dia melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu Satya mengajak Daniel dan Kevin untuk meninggalkan mansion Satya.
__ADS_1
Setelah memastikan Bry dan kedua sahabatnya sudah pergi meninggalkan mansion Satya, Larry memapah Satya menuju kamarnya. Sesaat kemudian dokter Robert yang merupakan dokter pribadi Satya datang untuk mengobati semua luka Satya tanpa banyak bertanya.
Larry memang sudah tahu hal ini akan terjadi, jadi sejak 1 jam yang lalu dokter pribadi Satya memang sudah menunggu di salah satu kamar tamu di mansion Satya.
"Berikan obat ini secara teratur pada Tuan Satya, dan oleskan salep ini agar lukanya cepat mengering dan tidak berbekas."
"Baik dokter.." Larry menyimpan obat-obat tersebut diatas nakas.
"Semoga lekas sembuh Tuan Satya. Saya pamit dulu."
Dokter Robert menundukan kepalanya yang dibalas sedikit anggukan kepala dari Satya, kemudian meninggalkan kamar Satya tanpa diantar Larry seperti biasanya.
Pandangan Larry yang terlihat biasa saja dan tidak menunjukan rasa khawatir mengusik pikiran Satya.
"Apa kamu senang aku terluka parah seperti ini? Kenapa kamu tidak terlihat khawatir sama sekali?"
Satya menunjukan raut penuh tanda tanya ke arah Larry yang masih memasang wajah datarnya.
"Lalu kenapa ekspresimu terlihat biasa saja? Dan kenapa kamu tidak masuk saat Bryllian memukuliku?"
Satya lagi-lagi mengajukan pertanyaan yang sedikit terlihat menuntut penjelasan dari Larry
"Bukankah Tuan yang melarang saya masuk? Tuan bilang saya dilarang masuk meskipun kalian berdua saling baku hantam."
Larry tidak terlihat mengubah raut wajah maupun nada bicaranya saat menjawab pertanyaan Satya.
"Tapi aku tidak tahu Bryllian akan memukuliku dengan membabi buta seperti itu. Lukaku ternyata lebih parah dari yang aku perkirakan."
"Kenapa Tuan tidak melawan? Saya yakin Tuan lebih jago berkelahi dibanding Tuan Bryllian."
__ADS_1
Larry memberikan pertanyaan yang memancing perasaan Satya saat ini.
"Karena aku tidak ingin melakukannya?"
Satya berusaha menjawab dengan nada yang sangat biasa, namun bagi Larry terasa sekali Satya menyembunyikan perasaannya yang lain.
"Karena Tuan merasa bersalah bukan?"
Satya sedikit terkejut mendengar perkataan orang kepercayaannya itu, terlebih Larry sama sekali tidak takut dan ragu mengkritik tindakannya.
"Iya.. Aku memang merasa sangat bersalah terhadap Bryllian.."
**************************
Image Source : Instagram
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1