
Kendrick masih setia menekuk wajahnya karena kecewa dan kesal mengetahui fakta bahwa Vara adalah kekasih dari Kakaknya sendiri. Dia terus saja mengaduk-aduk spaghetinya tanpa berniat memasukannya ke dalam mulut.
"Kendrick.. Berhentilah bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Sebentar lagi, kamu pasti bisa melupakan perasaan sukamu pada calon kakak iparmu ini."
Bry yang menyebut kata "Kakak ipar" untuk kedua kalinya malah semakin membuat Kendrick kesal.
"Hyung.. Tidak usah mengatakan kata kakak ipar lagi, aku benar-benar tidak suka."
"Baiklah.. Sebentar lagi perasaanmu pada kekasihku akan hilang,hahaha.."
"Hyuuuung.. Kamu benar-benar menyebalkan!"
Bry semakin bersemangat untuk menjahili adiknya itu. Bry yakin, perasaan Kendrick terhadap Vara hanya sementara, karena selama ini Kendrick sering berganti-ganti pacar meskipun tidak sampai berhubungan terlalu jauh. Terlebih lagi dia mempunyai pesona yang dapat dengan mudah menaklukan hati perempuan.
Berbeda dengan Bry yang dapat menolak semua godaan dari perempuan secantik dan seseksi apapun selain Vara dengan tegas, Kendrick justru tidak bisa menolak perempuan-perempuan itu dengan terang-terangan. Alasannya karena dia tidak mau menyakiti hati perempuan. Meskipun pada akhirnya dia sendiri yang menghindar dan menyakiti hati perempuan-perempuan itu setelah merasa sudah cukup bosan.
"Bry berhentilah menggodanya. Kamu membuatnya semakin kesal."
Omelan Vara hanya ditanggapi Bry dengan lolosan tawa jahilnya.
"Maafkan aku Kendrick.. Aku yakin kamu bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih baik segalanya dari aku. Mari tetap berteman."
Vara mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Kendrick, yang disambut ragu-ragu oleh Kendrick dengan menyilangkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Vara.
"Baiklah Vara.. Untuk saat ini aku mengalah. Tapi jika kamu berubah pikiran, datanglah padaku. Aku akan dengan senang hati menggantikan posisi Hyung dihatimu."
Vara tertawa geli mendengar jawaban Kendrick. Namun jari telunjuk dan ibu jari Bry seketika mendarat di dahi Kendrick, menyentil dengan keras sehingga meninggalkan tanda kemerahan yang cukup jelas.
"Aaaww.. Sakit Hyung."
"Berhentilah bersikap konyol. Jangan membuat aku kesal. Kamu tidak tahu perjuanganku untuk mendapatkan dan mempertahankan Vara disampingku, jangan membuatnya menjadi rumit kembali."
Bry yang berubah sangat serius memancing rasa heran Kendrick, merasa aneh dengan perubahan sikap Bry yang sebelumnya tidak pernah menunjukan perasaan cinta yang begitu besar pada perempuan mana pun.
__ADS_1
"Hyung.. Apa kamu benar-benar menyukai Vara?"
"Aku bukan sekedar menyukai Vara seperti yang kamu rasakan, tapi aku sungguh-sungguh mencintainya."
"Baiklah Hyung.. Aku akan mengalah, demi Hyung."
"Kamu bukan mengalah padaku, kamu hanya tidak melanjutkan perasaanmu. Mengalah itu jika Vara juga menyukaimu tapi kamu memilih mundur."
"Ah Hyung.. Bisakah kamu cukup mengatakan IYA dan berterima kasih padaku?"
"Hahaha.. Baiklah. Terima kasih Nam Dongsaeng." (Adik laki-laki)
Bry tertawa sambil menggelengkan kepala melihat Kendrick yang bahkan tidak malu menunjukan ekspresi kekanakannya di depan Bry dan Vara.
Hari sudah beranjak malam, Kendrick sudah kembali ke apartemennya dan membiarkan Vara dan Bry menghabiskan waktu berdua. Tapi Kendrick meminta Bry datang esok hari ke apartemennya, karena ingin bercerita banyak hal dengan Bry. Tentu saja Bry mengiyakan permintaan Kendrick dengan senang hati, karena dia pun sangat merindukan adik laki-lakinya itu.
Bry dan Vara tiba di depan Hotel tempat Bry menginap, lalu mereka berjalan menuju kamar Bry melintasi lobby Hotel yang luas juga menaiki lift menuju lantai 8 Hotel mewah itu.
Di perjalanan menuju kamar, Vara menelepon Kakaknya dan menceritakan secara singkat tentang kedatangan Bry, begitupun kesalahpahaman mereka yang sudah terselesaikan. Reyvan sangat senang mendengarnya, karena selama ini dia begitu khawatir dengan keadaan Vara yang seolah baik-baik saja, tapi Reyvan tahu Vara seringkali menangis sendirian di dalam kamarnya.
"Sayang duduklah.."
Vara mengangguk pelan lalu duduk di sofa dan mengedarkan pandangannya ke semua sudut kamar yang begitu luas dan mewah itu. Bry berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil sebotol juice strawberry untuk Vara.
"Minumlah Sayang, mungkin kamu haus."
"Terima kasih Bry.."
Bry duduk di sebelah Vara dan menatap lekat Vara yang sedang membuka botol juice strawberry-nya lalu meminum setengah isinya sekaligus.
"Haus ya Sayang?
"Iya, aku haus sekali."
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak minum juga? Memangnya kamu tidak haus?"
"Aku juga haus.. Bahkan sangat haus."
Vara menyodorkan botol minuman yang tersisa setengahnya, namun Bry menggeleng cepat.
"Bukan itu Sayang.. Aku haus, ingin menyesap manisnya bibirmu."
Wajah Vara seketika merona merah, merasa sangat malu dengan perkataan Bry yang sangat terang-terangan.
"Bolehkah?"
"Biasanya juga kamu tidak pernah meminta izin dulu."
Nada manja keluar dari mulut Vara, sehingga menarik lengkungan indah di kedua sudut bibir Bry yang merah.
Bry tiba-tiba mendaratkan bibirnya di bibir Vara tanpa aba-aba, karena sudah tidak dapat menahan gejolak di dadanya. Bry menyesap dalam bibir Vara sehingga membuat Vara tidak tahan membalas ciuman panas Bry. Tangan kanan Bry bergerak menahan tengkuk Vara agar memperdalam ciuman mereka, sedangkan tangan kirinya melingkar pada pinggang Vara untuk mengikis jarak diantara mereka berdua.
Bry perlahan merebahkan tubuh Vara dan menyandarkan kepala Vara pada bantal sofa yang diletakan Bry sesaat sebelum kepala Vara menyentuh sofa. Bry memerangkap tubuh mungil Vara dibawah tubuhnya, lalu melanjutkan ciumannya yang sangat menuntut dan liar, seolah rasa rindunya yang menggebu meminta dilampiaskan.
Tiba-tiba Bry melepas pertautan bibirnya dari bibir Vara, dan bergerak menyusuri leher jenjang Vara, sehingga meloloskan desahan yang sejak tadi berusaha ditahan oleh Vara sekuat tenaga. Bry merasa saat ini rasa rindunya pada Vara sudah tidak bisa ditahan lagi. Sehingga dirinya tidak bisa mengontrol apa yang dilakukannya pada Vara, padahal sebelumnya Bry sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak melakukan hal diluar batas pada kekasihnya itu.
Bry menyesap kuat leher Vara, meninggalkan stempel kepemilikan berwarna merah keunguan di kulit Vara. Seketika Vara mendorong kuat dada Bry, sesaat pikirannya terlintas pada kejadian buruk saat Brandon mencoba memperkosanya, dan Bry menyadari hal itu dari raut wajah Vara yang berubah pucat dan ketakutan.
****************************************
Terima kasih banyak sudah mampir di novel ini. Semoga selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊
#staysafe #stayhealthy
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
__ADS_1
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..