
Hari sudah menjelang sore, saat Vara dan sahabat-sahabatnya berjalan keluar dari resort menuju parkiran, dan bersiap-siap untuk pulang kembali ke kota B. Begitupun Bry, Kevin dan Daniel tampak sudah memasukan barang-barang mereka kedalam mobil. Perasaan Bry begitu buruk, saat Vara bilang kalau dia akan berada satu mobil dengan Brandon. Bry ingin sekali melarang Vara bersama Brandon, tapi saat ini Bry tidak bisa melakukan apa-apa. Bry sadar kalau saat ini dia masih bukan siapa-siapa bagi Vara.
"Wah kita pulang sama-sama ya. Sayang sekali kita dalam mobil yang terpisah, jadi tidak bisa mengobrol." Vanny sesungguhnya ingin lebih lama berdua dengan Kevin, tapi sepertinya akan sulit.
"Tidak apa-apa. Selama aku tidak menyetir, aku akan menemanimu mengobrol via chat ya." Vanny tersenyum sumringah, membuat semua orang ikut tersenyum melihat tingkah mereka. Kecuali Samuel, yang sangat jelas memasang ekspresi jengah dan malas.
"Hati-hati ya.." Tangan kanan Kevin memegang tangan Vanny, sedangkan tangan kirinya mengelus lembut punggung tangan Vanny.
"Daniel, jangan lupakan janjimu untuk mengajakku nonton minggu ini." Nila mengingatkan ajakan Daniel tanpa malu. Daniel yang sedang memeriksa mesin mobil langsung menoleh dan mengangkat ibu jarinya, tanda mengiyakan.
Vara melihat Vanny dan Nila, ada kehangatan dihatinya saat melihat kedua sahabatnya itu tampak bahagia. Lamunan Vara buyar saat Brandon memyentuh lengannya.
"Vara.. Masuklah, kita berangkat sekarang." Vara mengangguk, tapi Vara terlebih dulu menghampiri Bry, Kevin dan Daniel.
"Terima kasih karena kalian sudah bergabung bersama kami. Sampai ketemu di kota B ya. Hati-hati dijalan." Vara mengulurkan tangannya kearah Bry, lalu Bry menarik tangan Vara membuat Vara masuk kedalam dada Bry. Bry memeluk Vara dengan sedikit erat. Brandon tampak sangat terkejut dan hendak melepaskan pelukan Bry dari Vara. Tapi Brandon mengurungkan niatnya saat melihat kedua tangan Vara yang melingkar di punggung Bry. Seketika semua orang menyadari, telah terjadi sesuatu antara Bry dan Vara. Meskipun mereka tidak tahu sampai sejauh mana.
"Vara, tolong jangan membuatku terlalu lama menunggu." Wajah Vara menegang saat Bry berbisik di telinganya.
__ADS_1
Bry melepaskan pelukannya, membuat Vara tersadar. Vara langsung membalikan badannya dan berjalan menuju mobil Brandon tanpa mengatakan apapun. Disusul oleh Brandon yang langsung membukakan pintu mobilnya untuk Vara. Setelah Vara masuk, semua orang langsung masuk ke mobilnya masing-masing. Tidak lama Brandon langsung menjalankan mobilnya disusul oleh mobil Samuel dan Daniel.
Sejak pulang berlibur dari pantai, Bry sengaja menyibukan diri dengan urusan beberapa perusahaannya, BR Group yang ada di beberapa kota di Indonesia. Bukan menyerah tapi Bry memberi Vara waktu untuk menyadari perasaannya. Terlebih lagi Bry sedang dipusingkan dengan urusan perusahaannya yang mendadak banyak masalah.
Bry terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Baru saja Bry tiba di kota B jam 4 pagi, pagi harinya dia langsung bekerja. Hanya karena ingin mengalihkan pikirannya dari Vara. Bry masih tampak serius dengan laptopnya saat suara derap langkah terdengar mendekat ke ruangan Bry.
"Bry kamu harus lihat ini." Kevin masuk ke ruangan Bry setengah berlari tanpa mengetuk pintu. Lalu meletakan laptop yang dibawanya diatas meja Bry. Kevin menyusul masuk dengan membawa tab-nya. Berniat memberitahukan kabar penting pada Bry.
"Bry, ada orang kurang ajar yang berani meretas dan mengotak-atik system kita." Bry langsung menajamkan matanya kearah laptop Kevin.
"Cari tahu siapa orangnya. Aku mau tahu siapa orang yang berani mengusikku." Bry berbicara dengan nada datar namun sedikit menakutkan. Kevin tahu, pribadi Bry telah kembali saat ini.
"Ada yang sedang bermain-main dengan kita. Kalian cari tahu siapa dalangnya. Aku akan pastikan mereka hancur, jika berani mengusikku." Aura dingin itu sudah kembali. Kevin dan Daniel tahu mereka harus bersiap, karena akan ada banyak hal yang terjadi setelah ini.
Sementara di kampus, Vara mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut area tempat parkir. Sudah 5 hari sejak kepulangan Vara dari liburannya ke pantai, Vara masih belum bertemu dengan Bry. Di hati kecilnya, Vara sangat berharap bisa melihat Bry yang selalu menungguinya di tempat parkir kampus. Bry tidak menemuinya, bahkan menelpon atau mengirim pesan pun tidak. Hati Vara terasa sepi, terlebih lagi teman-temannya hari ini masih ada kuliah tambahan, dan Vara memilih pulang lebih dulu.
Vara masuk ke mobil kesayangannya. Namun Vara hanya duduk diam, belum berniat menjalankan mobilnya. Vara mengeluarkan benda pipih dari tasnya. Vara sedang berpikir, apakah sebaiknya dia menghubungi Bry lebih dulu atau tidak. Perasaan Vara mulai tersiksa karena ingin tahu kabar Bry saat ini.
__ADS_1
Dengan ragu-ragu Vara menelpon Bry. Setelah beberapa lama terdengar nada panggil, namun Bry tidak juga mengangkat telepon Vara. Vara akhirnya mematikan panggilan teleponnya dan memilih melajukan mobilnya menuju rumah.
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya..
__ADS_1