Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 14 Maukah kamu jadi pacarku?


__ADS_3

Bry bangun dengan kepala yang berat, perutnya juga terasa mual. Bry memgambil segelas air minum diatas nakas lalu meminumnya sekaligus. Diliriknya jam dinding dikamarnya, sudah menunjukan jam 8 pagi. Bry berniat ke kamar mandi untuk membersihkan diri, namun kepalanya yang pusing menghentikan niatnya. Bry hanya bisa menyandarkan kepalanya di diatas tumpukan beberapa bantal.


Kevin dan Daniel masuk ke kamar Bry tanpa mengetuk pintu. Daniel membawakan sepiring bubur yang dia pesan, lalu meletakannya diatas nakas. Kevin menyodorkan sebotol minuman penghilang mabuk pada Bry. Bry langsung mengambil dan meminumnya.


"Makan buburnya.." Daniel menyuruh Bry makan, tapi Bry hanya menggeleng pelan.


"Perutku mual. Nanti aku muntah kalau memakannya. Nanti saja aku makannya."


"Ok.. apa kamu mau ke kamar mandi? biar aku bantu." Daniel menawarkan bantuan.


"Iya, tolong bantu aku ke kamar mandi." Daniel dan Kevin memapah Bry ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Bry mandi. Setelah itu Kevin dan Daniel turun untuk sarapan di restaurant.


Di Restaurant, Kevin dan Daniel melihat Vara, Vanny, Nila, Brandon, dan Samuel sedang sarapan. Kevin dan Daniel menghampiri mereka berlima.


"Hai.. Selamat Pagi semuanya.." Kevin menyapa mereka berlima.


"Hai Kevin." Vanny menjawab sapaan Kevin dengan memasang senyum manisnya, diikuto jawaban selamat pagi dari yang lainnya.


"Daniel..Kevin..  ayo sarapan bersama kami." Daniel langsung meneriwa tawaran Nila, lalu memesan menu sarapan yang mereka inginkan.


Vara sebenarnya sangat penasaran dengan keadaan Bry, tapi kejadian semalam membuat dia bingung dan ragu untuk menanyakan keadaan Bry pada Kevin dan Daniel.


"Vin.. keadaan Bry gimana?" Vanny bertanya seolah mewakili pertanyaan yang sejak tadi ada di kepala Vara.


"Keadaannya sudah membaik, hanya saja kepalanya masih pusing. Dia belum mau memakan buburnya karena perutnya mual. Dia sedang mandi saat kami tinggal untuk sarapan."


"Bagus kalau begitu." Vanny menganggukan kepalanya.


"Semoga dia cepat sehat ya." Nila menanggapi sambil melirik Vara yang hanya diam menunduk. Nila curiga ada yang terjadi antara Vara dan Bry, namun dia belum mengetahui apa. Karena Vara tampak gelisah sejak semalam. Vara sangat khawatir dengan keadaan Bry meskipun berusaha ditutupinya.

__ADS_1


"Oh iya.. kapan kalian pulang?" Brandon bertanya pada Kevin dan Daniel.


"Rencananya sore ini. Tapi tergantung kondisi Bry saja. Kita takut dia sakit di perjalanan." Brandon mengangguk-anggukan kepalanya saat mendengar penjelasan Daniel.


"Kalau kalian kapan?" Gantian Kevin yang bertanya.


"Kita juga rencananya sore ini." Brandon menjawab pertanyaan Kevin.


"Kevin.. Bolehkan aku menjenguk Bry?" Vara yang sejak tadi hanya diam, akhirnya memberanikan diri mengeluarkan maksudnya.


"Tentu saja boleh." Kevin mengizinkan dengan nada yang penuh semangat. Brandon tidak suka melihatnya.


"Nanti aku antar ya." Vara langsung menggeleng saat Brandon menawarkan untuk menemaninya.


"Tidak.. Biar aku saja. Kalian semua kan belum packing. Nanti setelah menjenguk Bry, kita ke pantai."


"Ok.." Akhirnya Brandon mengiyakan dengan berat hati.


Setelah sarapan Kevin, Daniel dan Vara menuju tempat Bry. Daniel dan Kevin langsung menuju kamar saat sampai di resort yang mereka sewa. Kevin mengetuk pintu kamar Bry. Lalu terdengar perintah untuk "masuk" dari dalam kamar. Tampak Bry duduk di sofa kamarnya dengan bubur diatas meja yang sudah tinggal setengah. Lalu Kevin dan Daniel masuk.


"Bry.. Ada yang mau jenguk." Bry mengernyitkan keningnya sesaat. Lalu Bry tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya, saat Vara perlahan masuk ke kamarnya.


"Duduk Var.. Kita tinggal dulu ya." Tanpa mendengar jawaban Vara, Kevin dan Daniel langsung turun dan berjalan hendak menuju pantai untuk berjalan-jalan menikmati pemandangan.


Vara duduk di sebelah Bry yang masih sedikit terkejut. Setelah mandi tadi, Bry sudah mengingat potongan-potongan kejadian semalam. Termasuk ciuman mereka. Bry merasa sedikit canggung karena mengingat kejadian semalam, Vara pun merasakan hal yang sama. Apalagi Vara dalam keadaan sadar sepenuhnya. Karena Vara tidak minum minuman beralkohol sama sekali.


"Gimana keadaan kamu? masih pusing dan mual?" Vara bertanya dengan memiringkan sedikit tubuh dan kepalanya ke arah Bry.


"Sudah baikan. Terima kasih kamu mau menjengukku." Bry menatap Vara dengan penuh ketulusan.

__ADS_1


"Iya sama-sama. Aku khawatir sama kamu." Bry yang mendengarnya merasa senang dan tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang mulai mengembang.


"Kamu khawatir sama aku?" Vara salah tingkah, tapi akhirnya menganggukan kepalanya.


"Terima kasih Var.. Aku benar-benar senang mendengarnya." Bry semakin melebarkan senyumnya, badannya terasa lebih membaik seiring membaiknya suasana hatinya pagi ini.


Sesaat Vara hanya menatap mata Bry, mencoba menelaah kenapa jantungnya selalu berdetak lebih cepat setiap kali berdekatan dengan Bry. Bry menyentuh dan mengelus pipi kiri Vara dengan lembut. Vara salah tingkah dengan apa yang dilakukan Bry. Bry mendekatkan wajahnya ke arah Vara. dan memeluk pinggang Vara. Vara mendorong Bry agar sedikit menjauh, tapi tiba-tiba Bry mengecup bibir Vara dengan sangat lembut. Vara berusaha melepaskan ciuman Bry, namun Bry tidak berniat menyudahi ciumannya. Perlahan Vara membalas ciuman Bry dengan sedikit ragu dan mulai menutup matanya.


Bry merebahkan tubuh Vara dan menyandarkan kepala Vara pada tangan sofa yang lembut, tanpa melepaskan ciuman mereka. Tangan kanan Bry menyentuh pipi Vara lalu turun ke leher Vara membuat Vara sedikit kegelian. Vara langsung membuka matanya karena menyadari apa yang dia lakukan, lalu  menegakan tubuhnya dan duduk di sofa. Bry pun melakukan hal yang sama, duduk seperti posisinya semula.


Vara memalingkan wajahnya ke arah lain. Masih merasa tidak habis pikir dengan sikapnya sendiri yang membalas ciuman Bry, bahkan sampai 2 kali. Apa sebenarnya yang dipikirkannya sampai tidak bisa menolak pesona Bry. Vara mencoba menelaah perasaannya sendiri, tapi dia belum menemukan jawabannya.


Bry memegang kedua pipi Vara dengan kedua tangannya, membuat Vara menatap tepat kedalam mata Bry.


"Vara.. Aku minta maaf untuk kejadian semalam. Tapi aku melakukannya bukan karena mabuk. Aku mengingat semuanya, bahkan setiap detailnya. Dan aku tidak akan meminta maaf untuk yang baru saja aku lakukan, karena apa yang aku lakukan berasal dari hatiku." Pipi Vara berubah merona karena malu mendengar perkataan Bry.


"Vara.. Aku mencintaimu. Maukah kamu jadi pacarku?"


 


 


 


 


Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.


Biar Author tambah semangat nulisnya 😊

__ADS_1


Terima Kasih banyak atas dukungannya..


__ADS_2