
Vara dan Bry berjalan menyusuri pantai tanpa saling bicara. Berusaha menghilangkan kecanggungan karena kejadian di kamar Bry beberapa saat yang lalu. Bry memutuskan memberi Vara waktu untuk meyakinkan perasaannya sendiri, sampai Vara tahu jawaban apa yang akan dia berikan pada Bry.
Vara masih memikirkan jawaban apa yang sebaiknya dia berikan pada Bry. Dia sendiri masih tidak yakin dengan perasaannya. Vara akui, Bry mulai menempati celah hatinya. Vara selalu nyaman setiap bersama Bry dan merasa ada yang kurang saat Bry tidak ada. Tapi apakah itu cinta? Vara pun belum yakin.
Saat pikiran Vara masih melayang, Bry memegang tangan Vara dengan lembut. Vara menoleh seketika, melihat Bry menatapnya dengan sebuah senyuman.
"Jangan melamun.. Aku disini. Kenapa kamu mengacuhkan aku?" Vara tersenyum ragu, sesaat matanya menatap tangan Bry yang memegang tangannya. Ada rasa senang dihati Vara, dan dia tidak berniat melepas genggaman tangan Bry saat ini.
"Maafkan aku.." Bry tersenyum lagi dan mengajak Vara duduk di pinggir pantai, memandang ke arah laut yang indah.
"Bry ceritakan tentang kamu. Aku ingin lebih mengenal kamu." Vara sedikit menolehkan wajahnya.
"Kamu ingin tahu soal apa?"
"Asal kamu, pekerjaan kamu, keluarga kamu, apapun tentang kamu." Vara memasang ekspresi seriusnya, terlihat sangat ingin tahu tentang Bry.
"Hmm.. aku mempunyai seorang adik, ayahku asli Inggris, sedangkan Ibuku keturunan Korea-Indonesia. Aku lahir di Inggris dan tinggal disana sampai umurku 14 tahun. Lalu aku sekeluarga pindah ke Korea karena Ayahku membuka beberapa perusahaan disana. Sejak umur 15 tahun, setiap bulan orangtuaku selalu pulang ke Indonesia dan mengunjungi keluarga Ibuku. Mereka juga membuka beberapa perusahaan di Indonesia. Aku pun sering ikut dan lama kelamaan semakin mencintai negara ini. Aku sempat kembali ke Inggris untuk kuliah, tapi di umur 24 tahun, aku pindah dan membuka perusahaan sendiri di Indonesia." Vara masih menatap Bry tanpa menyela, saat Bry selesai dengan cerita panjangnya.
"Apa sekarang aku boleh bertanya tentang kamu?"
__ADS_1
Sebenarnya Bry tidak perlu bertanya pada Vara. Bry sudah mengetahui semua hal tentang Vara. Dari mulai tanggal lahir, urutan sekolah, anggota keluarga, hobi binatang peliharaan, bahkan sampai ukuran sepatu Vara. Tentu saja semua informasi penting itu, didapat Bry dari kedua sahabatnya, Daniel dan Kevin.
“Aku belum selesai bertanya Bry." Vara memasang ekspresi cemberut, membuat Bry tertawa keras.
"Baiklah.. apa lagi yang ingin kamu tahu?"
"Hmm.. Aku ingin tahu, kenapa kamu bisa mencintaiku?" Bry cukup terkejut dengan pertanyaan Vara. Namun Bry mencoba menetralkan raut wajahnya, agar Vara tidak curiga.
"Apa untuk mencintai butuh alasan?" Bry menatap manik mata Vara dengan sangat dalam.
"Mungkin tidak semua orang butuh alasan untuk mencintai. Tapi tidak untuk kamu.. Kamu tiba-tiba datang dalam hidupku, aku sama sekali tidak mengenalmu. Jadi kenapa kamu mencintaiku?" Tatapan lekat Vara membuat Bry tidak bisa mengelak.
"Aku tidak pernah berencana untuk mencintai kamu. Awalnya aku hanya ingin mengenal dan lebih dekat dengan kamu. Tapi entah kenapa, setiap kali bersama kamu, aku merasa sangat bahagia. Aku selalu ingin tahu kabar kamu, dan aku sedih saat tidak bisa melihatmu sehari saja. Sejak saat itulah, aku menyadari perasaanku. Ternyata aku mencintaimu.. Aku selalu ingin bersamamu dan melihatmu tersenyum karenaku." Vara tersentak dengan jawaban Bry. Apa yang Bry rasakan sama persis dengan apa yang Vara rasakan. Vara bertanya-tanya, apakah dia juga memiliki perasaan yang sama terhadap Bry.
"Tentu saja bukan Vara.. Aku mencintaimu karena itu kamu. Aku mencintai semua yang ada padamu." Vara menghela nafas panjang saat mendengar penjelasan Bry. Rasa ragu belum juga enyah dari hati dan pikirannya.
"Vara, apa jawabanku cukup?" Vara menganggukan kepalanya sedikit ragu.
"Iya.. Untuk saat ini, cukup." Vara mengalihkan pandangannya dari wajah Bry, lalu berdiri.
__ADS_1
"Ayo kita kembali ke resort. Rasanya perutku sudah lapar." Bry tersenyum lalu berdiri mengikuti Vara. Tangan Bry merapikan rambut Vara yang berantakan tertiup angin. Perasaan Vara menghangat, dia menyadari bahwa dia menyukai banyak hal yang dilakukan Bry padanya.
Tanpa Bry dan Vara sadari, ada sepasang mata yang sejak tadi tak lepas menatap dengan tajam kearah mereka.
'Aku tidak akan membiarkan kamu merebut kekasih adikku. Kamu harus membayar kematian adikku dengan kematianmu.'
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya..
__ADS_1