
Hari sudah menjelang sore, Vara tertidur dengan posisi duduk di sofa kamar perawatan Briley. Terlihat jelas gurat lelah di wajah cantiknya, membuat Bry yang duduk terhalang Vanny dan Sharon, merasa khawatir melihat Vara. Brandon dan Samuel yang duduk di seberang Bry dan Sharon ikut merasa kasihan melihat keadaan Bry dan Vara yang jelas tidak baik-baik saja. Sejak kedatangan Bry, suasana kamar berubah sedikit tegang, meskipun saat itu Jayden langsung pamit karena masih banyak pasien yang menunggunya.
Semenjak Bry datang, Vara selalu terlihat menghindar dari Bry. Menghindari kontak mata bahkan menepis tangan Bry setiap kali Bry hendak membantu Vara mengurus Briley. Bry tidak protes atau bertanya, karena dia pikir Vara masih marah dengan kemunculan Celline yang tiba-tiba.
'Aku tahu kamu marah Sayang, tapi kamu juga harusnya tahu, kalau aku tidak pernah suka melihat kamu dekat dengan laki-laki lain.' Batin Bry.
Bry sekilas melihat tatapan tidak suka di wajah Vanny yang menatap intens wajahnya.
"Vanny, kenapa kamu melihatku seperti itu?
Senyum sinis seketika tersungging di wajah Vanny, membuat Bry heran sekaligus kesal dengan tingkah sahabat istrinya itu.
"Ah rasanya menyebalkan sekali melihat drama receh sejak tadi. Seorang suami yang beracting seolah peduli dengan anaknya yang sakit, padahal aku tahu pasti, kalau dia baru saja bertemu dengan perempuan lain di belakang istrinya."
Perkataan Vanny bukan saja menohok tepat di dada Bry, tapi juga membuat Brandon, Sharon, dan Samuel terkejut.
"Apa maksudmu Vanny?"
Bry bertanya karena masih belum paham dengan perkataan Vanny, meskipun pikiran buruknya sempat terlintas, kalau Vara mengetahui pertemuannya dengan Celline.
"Sudahlah Bry, jangan terlalu banyak beracting. Vara tahu kok, kalau kamu bertemu perempuan lain, bahkan kamu membawanya ke rooftop restaurant."
Deg..
Hati Bry terasa dihantam palu besar, bibirnya terasa kelu. Apa yang dia khawatirkan ternyata terjadi juga.
"Kamu mengkhianati sepupuku?"
Pertanyaan Sharon yang to the point seketika dijawab Bry dengan tegas.
"Tidak. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah mengkhianati Vara."
Bry yang sedikit berteriak, membuat Vara terbangun dari tidurnya.
"Apa-apaan sih mengganggu saja. Tidak bisakah aku tidur dengan nyenyak sebentar saja."
Vara menatap tajam ke arah Bry yang memandang sendu wajah istrinya yang terlihat sangat kesal. Brandon memberi isyarat pada semua orang untuk keluar dari kamar itu, untuk memberi Bry dan Vara waktu membahas permasalahan mereka. Akhirnya Sharon, Samuel dan Vanny mengikuti langkah Brandon keluar dari kamar perawatan itu.
Vara kembali memejamkan matanya, mencoba mengistirahatkan kembali tubuh dan pikirannya. Sebenarnya Vara malas mendengar penjelasan Bry, sehingga dia lebih memilih tidur kembali. Bry mendekati Vara dan duduk tepat di sebelah Vara.
“Sayang, bukalah matamu. Aku ingin menjelaskan sesuatu.”
__ADS_1
Vara masih enggan membuka matanya karena tidak ingin mendengar penjelasan Bry yang menurut Vara tidak penting lagi.
“Tolong buka matamu, aku tahu kamu tidak tidur.”
Bry menyentuh paha Vara dengan perlahan, tapi Vara tidak berniat membuka matanya. Bry menghela nafasnya sebelum mulai memberi penjelasan pada Vara.
“Perempuan itu bernama Celline, dia mantan kekasihku saat kuliah di Inggris. Aku berpacaran dengannya selama 6 bulan, aku memutuskan hubungan dengannya, karena dia berselingkuh dengan seorang pengusaha kaya yang sudah beristri. Aku sudah 5 tahun tidak bertemu dengannya, entah sedang apa dia di Jeju, aku pun tidak peduli."
Mata Vara masih saja terpejam meskipun telinganya begitu jelas mendengar semua penjelasan Bry.
“Sayang, tolong jangan marah lagi. Jangan pernah ragukan perasaanku padamu, aku tidak akan mungkin mengkhianatimu dengan wanita mana pun.”
Bry mulai kesal karena Vara terus saja mengacuhkan dirinya yang sudah panjang lebar menjelaskan hal yang sebenarnya.
“Zivara, aku bilang bangun. Dengarkan aku dan hormati aku sebagai suamimu.”
Suara Bry yang terdengar keras dan lebih mirip bentakan seketika membuat Vara mau tidak mau membuka matanya. Tapi tatapan Vara sangat tajam, menghujam tepat di manik mata Bry yang juga menahan emosi.
“Berhenti menjelaskan apapun yang tidak ingin aku dengar.”
“Kamu harus mendengarkan penjelasanku, berhenti marah karena sesuatu yang tidak penting. Ini bukan pertama kalinya kamu marah padaku karena sesuatu yang tidak aku lakukan. Kamu memilih diam dan pergi daripada mendengar penjelasan dariku."
Jawab Vara dengan emosi yang mulai memuncak. Bry mencengkeram lengan Vara, membuat Vara meringis kesakitan. Vara sangat terkejut dengan apa yang Bry lakukan.
'Kamu berubah Bry.' Batin Vara.
“Kamu berbicara sesukamu, seolah-olah aku benar-benar mengkhianatimu. Jika yang kamu maksud masalah kita dulu, perlu kamu ingat, saat itu aku dijebak. Dan tadi, aku tidak menemui Celline, aku tidak sengaja bertemu dengannya di koridor hotel. Jujur, aku mengajaknya bicara di rooftop hotel karena ingin memperingatkannya untuk tidak menggangguku lagi.”
“Apa perlu sampai mengajak ke tempat sepi?”
Vara masih dikuasai emosi, cengkeraman Bry pun masih kuat di tangan Vara.
“Tempat sepi apa? Itu restaurant, disana banyak orang.”
Emosi Bry mulai turun, tatapannya berubah sendu. Vara memandang lengannya yang masih dicengkeram oleh Bry.
"Lepaskan tanganmu."
Bry mengikuti arah pandang Vara, Bry yang baru menyadari tindakan kasarnya, seketika melepas cengkeraman tangannya di lengan Vara. Terlihat jelas tangan Vara yang memerah, membuat Bry merasa sangat bersalah. Tangan Bry beralih memegang kedua tangan Vara dan menciumnya perlahan.
"Sayang, maafkan aku. Aku sungguh tidak sadar telah menyakitimu."
__ADS_1
Vara menarik tangannya dari genggaman Bry.
"Jangan pegang tanganku, kamu pasti lebih senang saat tanganmu dipegang perempuan itu."
Bry terdiam mendengar perkataan Vara, sedikit terkejut karena Vara bahkan mengetahui saat Celline memegang tangannya.
“Dia hanya memegang tanganku, tidak lebih.”
“Lalu kamu mengharapkan dia melakukan apa lagi? Memelukmu? Menciummu?
“Varaaa..”
Bry berteriak dengan kencang memanggil nama istrinya tanpa panggilan Sayang, karena merasa tidak suka dengan perkataan Vara. Namun suaranya seketika membangunkan Briley dari tidur lelapnya.
Vara segera mendekati Briley dan menggendongnya. Vara mendekap erat tubuh Briley dan berusaha menenangkan anaknya itu, namun tangis Briley tidak juga berhenti. Bry mendekat dan mengambil alih Briley dari dekapan Vara, lalu digendongnya Briley dengan penuh kasih sayang. Tidak sampai 10 detik, tangis Briley berhenti, bahkan Briley kembali tertidur dengan lelapnya.
Kelegaan jelas terpancar dari wajah Bry, Vara menatap Briley dengan sendu. Bry segera menidurkan kembali Briley di atas tempat tidurnya. Bry memeluk tubuh Vara dengan erat dan mengecup puncak kepala Vara. Sedangkan Vara hanya diam mematung, tidak membalas pelukan Bry sama sekali.
Tiba-tiba ponsel Vara berbunyi, membuat Vara melepas pelukan Bry padanya. Kemudian Vara mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Vara sedikit mengernyitkan keningnya saat melihat nomor tidak dikenal yang muncul di ponselnya.
'Sepertinya nomor Korea.' Batin Vara.
Raut wajah Vara berubah keruh, emosi terlihat jelas di wajah Vara yang beberapa saat lalu sempat terlihat sendu. Tatapan tajam Vara tepat menghujam di manik mata Bry, membuat Bry merasa heran dan bertanya-tanya siapa yang menelepon. Dan perkataan Vara berikutnya membuat Bry membulatkan matanya dengan sempurna.
"Ok..See you..Celline.."
*************************
Terima kasih banyak untuk semua readers & author2 kece yang sudah mampir dan juga mendukung novel ini.. 😍
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya.. (like & vote boleh banget kok 😁)
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊
#staysafe #stayhealthy
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1