
Tepat jam 8 malam, Vara dan Bry menikmati makan malammya di sebuah Restaurant outdoor, berbentuk bangunan-bangunan kecil dari bambu beratapkan ijuk yang biasa disebut saung, di area taman Jungle Resort. Awalnya Bry ingin makan di kamar saja, karena mempertimbangkan keadaan Vara yang masih terlihat lemah. Tapi Vara memilih makan di Restaurant karena ingin menghirup udara sejuk di malam hari, sekaligus menikmati suasana sabtu malam yang romantis di Jungle Resort itu.
Bry menyuapkan nasi liwet, ikan bakar, lalapan dan sambal langsung dengan tangannya, masakan sunda yang sudah lama tidak dinikmatinya menjadi pilihan menu makan malamnya kali ini. Bry makan dengan sangat lahap, meskipun Bry masih kaku saat harus makan dengan menggunakan tangan. Tapi masakan sunda yang biasa dinikmati istrinya itu, sudah mulai menjadi salah satu menu favoritnya juga.
Berbeda dengan Bry, Vara terlihat tidak bersemangat, meskipun belum memakan apapun sejak siang tadi. Vara hanya mengaduk-aduk segelas juice strawberry dihadapannya.
"Sayang, makanlah.. Kamu belum makan apapun kan sejak siang tadi."
"Tapi aku benar-benar tidak lapar Honey."
"Aku suapi ya?"
Tanpa menunggu jawaban Vara, Bry segera mencuci tangannya di wastafel yang terletak tepat di samping pintu Saung. Sesaat kemudian Bry menyodorkan sendok yang sudah Bry isi dengan nasi liwet dan ikan bakar tepat dihadapan Vara, tapi Vara malah menggeleng pelan.
"Aku mau disuapi langsung dengan tangan kamu, dan kamu juga harus makan."
"Kenapa tidak mengatakannya dari tadi Sayang, aku kan jadi tidak perlu mencuci tangan dulu."
"Tadi tangan kamu belepotan sambal, aku tidak mau makan pedas."
"Oh iya, hehehe.."
Bry lalu segera menyuapi Vara langsung dengan tangannya.
"Aaaaaa..."
Vara menyambut suapan dari Bry dengan semangat. Tanpa Bry sadari, mata Vara berkaca-kaca, namun Vara berusaha menahan air matanya dan sesekali mengalihkan pandangannya agar Bry tidak melihat matanya.
'Honey, terima kasih karena selalu mencintai dan membuatku bahagia. Aku mencintaimu.' Batin Vara.
Bry terus menyuapi Vara, dan juga bergantian menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sampai mereka berdua kekenyangan.
Vara menatap wajah Bry yang begitu dicintainya dengan tatapan sendu.
"Honey, bolehkah malam ini Bradley dan Briley tidur bersama kita?"
Bry mengerutkan keningnya karena sedikit tidak setuju dengan keinginan Vara.
'Malam ini rencananya aku akan memberinya kejutan untuk Vara tepat jam 12 malam. Kalau Bradley dan Briley tidur di kamar kita, bisa gagal surprise Wedding Anniversary-nya. Gagal juga romantis-romantisannya. Karena kejadian tadi, membuatku semakin ingin memberi Vara banyak kejutan manis agar dia tidak sedih lagi.' Batin Bry.
"Kenapa Sayang? Kamu kan bisa menyusui si kembar di kamar sebelah, kalau mereka sudah tertidur, kamu bisa kembali ke kamar kita."
Bry berusaha mengubah pikiran istrinya dengan alasan yang dipikirnya cukup masuk akal.
"Tidak Honey, aku benar-benar merindukan kedua anak kita."
Bry sedikit membuka mulutnya saat mendengar perkataan Vara yang terasa menyejukan hatinya. Terlebih tatapan mata Vara yang sendu, membuat Bry tidak tega menolak keinginan istrinya.
Bry tidak curiga sedikit pun dengan gelagat aneh Vara, karena Bry tidak mengetahui sama sekali kalau ingatan Vara tentang semua kenangan buruknya telah kembali saat terjadinya insiden di kolam renang tadi siang. Begitu pun dengan semua ingatan selain kenangan buruknya, perlahan kembali masuk dalam alam bawah sadarnya, dimulai sejak Bry membawa Vara kembali ke kamar mereka dalam keadaan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
FLASHBACK ON
Alam bawah sadar Vara membawanya berjalan di sebuah padang rumput luas dan hijau. Pandangannya menyapu beberapa pohon buah dan bunga yang berada di samping kanan dan kirinya. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang muncul dari belakang dan berjalan mensejajari langkah Vara yang sangat pelan.
Vara menoleh ke samping kanannya, dan mendongakan kepalanya mencoba melihat wajah laki-laki disebelahnya. Alangkah terkejutnya Vara, saat laki-laki yang seringkali dirindukannya tiba-tiba muncul dengan senyuman di wajah tampannya.
"Arya?"
"Apa kabar Vara?"
Senyum indah Arya masih mengembang di wajahnya, berbanding terbalik dengan ekspresi Vara yang sangat terkejut.
"Ba..Bagaimana kamu bisa ada disini?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu Vara, tempat ini bukan untuk manusia yang masih hidup sepertimu."
Perlahan air mata membasahi wajah cantik Vara, setelah menyadari kalau Arya memang sudah benar-benar meninggal. Bukan rasa takut yang saat ini dirasakan Vara, melainkan rasa sesak dan rasa bersalah.
Arya memegang kedua bahu Vara dengan lembut dan berusaha menatap wajah Vara yang terus saja menunduk.
"Hei.. Kenapa kamu menangis, Vara?"
"Aku tidak ingin kamu meninggal Arya."
"Vara, ini semua sudah takdir Allah. Kita tidak bisa menolak semua yang digariskan dalam hidup kita. Aku tidak apa-apa. Kamu harus bahagia bersama dengan Bryllian dan kedua anak kembarmu yang sangat tampan."
"Iya Bryllian suamimu. Kamu pasti sudah mengingatnya kan? Laki-laki yang kamu ingat pernah hampir kehilangan nyawanya karena tertembak di Spanyol. Dia laki-laki yang begitu mencintaimu dan rela melakukan apapun demi dirimu. Dan anak kembarmu Bradley dan Briley, mereka benar-benar tampan dan menggemaskan."
Tangis Vara kembali pecah, Arya memeluk tubuh mungil Vara dan menenggelamkannya di dadanya yang bidang. Vara menangis semakin keras, dan Arya hanya mengelus punggung Vara tanpa berkata apapun lagi.
Ingatan Vara mengenai Bry dan kedua anak kembarnya perlahan muncul semakin jelas. Diikuti semua kenangan bersama keluarga, sahabat-sahabat juga semua orang terdekatnya. Kilasan ingatan itu seperti film yang terputar secara berurutan di dalam pikirannya. Hati Vara semakin sesak, karena Vara mengingat orang-orang yang sangat dicintainya, saat Vara berada dalam dekapan Arya, seseorang yang pernah sangat berharga di hatinya.
"Arya.. Maafkan aku.. Maaf, karena sudah mengisi hatiku dengan orang lain, hiks..hiks.."
"Sssttt.. Itulah yang aku inginkan. Kamu bisa bahagia dengan seseorang yang mencintaimu. Kamu tahu kan, aku selalu ingin kamu tersenyum? Aku tidak ingin kamu selalu bersedih karena kepergianku."
Vara mendongakan kepalanya dan memberanikan diri untuk menatap wajah Arya.
"Aku.. Aku merasa tidak pantas bahagia, disaat kamu.."
"Vara, jangan berpikir seperti itu lagi. Aku tahu rasa bersalah itu masih sering membayangimu. Saat Bryllian memberikan banyak kejutan dan membuatmu tersenyum bahagia, aku tahu beberapa saat kemudian kamu akan menghindar sesaat dari Bryllian, untuk meluapkan rasa bersalahmu padaku. Aku tidak suka itu Vara. Kamu harus tahu, kalau aku ikhlas melihatmu bahagia dengan Bryllian. Lepaskan beban di hatimu, aku tidak kecewa apalagi marah. Aku bahagia melihat kamu dan Bryllian bahagia."
Tangis Vara perlahan mereda, ditatapnya lekat-lekat wajah Arya yang masih saja dihiasi senyum tulusnya.
"Vara, aku pikir setelah melihatmu menikah dengan Bryllian dan juga melihat kedua orangtuaku yang telah lama berpisah kembali bersatu, aku akan bisa pergi menuju tempat terakhir yang Allah siapkan untukku. Tapi ternyata beban di hatimu membuatku masih tertahan disini. Bisakah kamu mengikhlaskan aku, juga melepaskan rasa bersalah di hatimu? Agar aku bisa pergi dengan tenang."
Benarkah karena aku, kamu masih tertahan disini?"
Arya menganggukan kepalanya dengan mantap.
__ADS_1
"Aku tidak menyalahkanmu, karena aku bersyukur bisa melihat semua moment penting di hidupmu. Dari sejak kamu menikah, wisuda, sampai saat kamu melahirkan kedua anak kembar yang sangat lucu seperti Bradley dan Briley. Vara, tahukah kamu.. Aku seringkali menjaga kedua anakmu saat babysitternya keluar sebentar, atau saat kamu sedang berduaan dengan Bryllian sampai lupa waktu."
Arya tersenyum jahil ke arah Vara, yang membelalakan matanya mendengar perkataan Arya yang menurutnya tidak masuk akal.
"Jangan terlalu sering meninggalkan Bradley dan Briley bersama babysitter, mereka sangat membutuhkanmu. Kamu juga jangan menyia-nyiakan cinta Bryllian.. Dia begitu mencintaimu dan takut kehilanganmu. Sekarang kembalilah.. Kamu harus bahagia bersama Bryllian dan kedua anak kalian."
Vara kembali terisak dan membenamkan kepalanya di dada Arya.
"Terima kasih Arya, karena kamu mau menemuiku dan mengatakan semua perasaanmu. Aku akan bahagia bersama dengan Bry juga Bradley dan Briley. Aku mengikhlaskanmu untuk pergi meninggalkanku. Aku juga ingin kamu bahagia di tempat terindah yang Allah siapkan untukmu."
Vara menahan tangisnya dan menarik kepalanya dari dekapan Arya yang masih memegang bahu Vara.
"Terima kasih Vara, aku bahagia mendengarnya. Sekarang, kembalilah.. Aku pun akan pulang ke tempat yang seharusnya aku tuju."
Arya mengecup kening Vara dengan sangat lembut, lalu menatap Vara yang terkejut dengan ciuman Arya di keningnya.
"Tolong sampaikan pesanku pada Bryllian.. Jangan hidup dalam dendam, cukup serahkan orang-orang jahat yang menyakiti kalian pada pihak yang berwajib. Karena dendam akan membuat kebencian itu semakin besar dan tidak berujung."
Vara menganggukan kepalanya dengan perlahan, membuat Arya mengulas senyum leganya.
"Baiklah, aku pergi ya.."
Arya perlahan melepas tangannya dari bahu Vara, lalu berbalik dan berjalan ke arah cahaya yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Arya masuk ke dalam cahaya terang itu, setelah sebelumnya berbalik dan menatap Vara sambil menggerakan bibirnya, mengatakan sesuatu tanpa suara yang membuat Vara kembali menangis.
"I love you Zivara.."
*************************
Terima kasih banyak untuk semua readers & author2 kece yang sudah mampir dan juga mendukung novel ini.. 😍
Kalian semua begitu berharga buat author. Love u so much.. ❤❤❤
Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊
Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄
Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊
#staysafe #stayhealthy
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
(IG : zasnovia #staronadarknight)
__ADS_1