
Waktu menunjukan jam 8 malam saat Bry tiba di apartemennya. Bry bergegas mandi dan berniat langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Namun rasa lelah tidak menghilangkan senyumnya sejak siang tadi. Kedatangan Vara dan makan siang bersama di kantornya, ternyata cukup memberikan suntikan rasa bahagia untuk Bry sampai malam ini.
Bry baru saja selesai mandi dan hendak menghubungi Vara saat tiba-tiba panggilan dari Kevin lebih dulu masuk ke ponselnya.
"Ada apa Vin?"
"Bry, orang kepercayaan Brandon yang disekap Satya, sudah dihabisi oleh anak buah Satya. Pasti atas instruksi Satya."
"Shiiiiitt.. Apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang orang itu?"
"Orang itu bernama Kang In Pyo, orang kepercayaan klan Wang Eagle, tepatnya tangan kanan Ayahnya Brandon. Dia sama sekali tidak memiliki keluarga di Korea ataupun di Indonesia. Hanya itu yang aku dapat."
"Ok.. Dapatkan informasi yang lebih lengkap. Bawa semua teman-teman hackermu. Cari tahu soal Brandon, klan Wang Eagle dan semua hal yang perlu kita tahu. Aku tidak mau tertinggal lagi, selangkah pun dari Satya."
"Ok Bry.."
Bry langsung menutup teleponnya begitu mendengar jawaban dari Kevin. Bry memijat pelipisnya dengan sebelah tangan. Tanda tanya terasa berputar-putar di pikiran Bry. Dihembuskan nafasnya dengan sangat kasar mencoba membuang paksa beban pikiran yang berada dikepalanya.
Ponselnya tiba-tiba bergetar. Notifikasi pesan dari Vara tampak muncul disana membuat Bry bergerak tidak sabar membuka pesan Vara.
Nae Sarang:
'Bry, bisakah kita bertemu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan.'
Me:
'Baiklah Sayang. Aku ke rumah kamu ya.'
Nae Sarang:
__ADS_1
'Tidak.. Temui aku di Restaurant S. Aku sudah reservasi tempat.'
Me:
'Baiklah Sayang. Aku berangkat sekarang.'
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, akhirnya Bry sampai di Restaurant S. Pelayan segera mengantar Bry menuju Private room saat Bry menyebutkan reservasi atas nama Vara.
Pandangan Bry langsung jatuh pada wajah kekasihnya, saat pelayan membukakan pintu Private Room itu. Di meja terhidang banyak sekali makanan yang dipesan Vara. Senyum Bry seketika merekah seiring langkahnya menghampiri kekasih yang sudah dia rindukan itu. Tapi raut wajah Vara yang datar mengundang tanya di pikiran Bry.
"Sayang, kenapa kamu cemberut seperti itu? Ada apa Sayang?"
"Tidak apa-apa. Lebih baik kita makan dulu."
Nada bicara Vara memang tidak menunjukan emosi apapun, tapi Bry tahu ada yang berbeda dari kekasihnya itu. Vara mulai menyantap makanan di depannya, Bry pun mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya.
Selama makan tidak ada obrolan apapun diantara mereka. Karena setiap kali Bry hendak memulai obrolan, Vara selalu mengangkat tangan atau menempelkan telunjuk didepan bibirnya agar Bry tidak melanjutkan niatnya.
"Bry.. Apa ada yang kamu sembunyikan dariku? Sampai kapan kamu akan menutupinya dariku?
Vara berkata dengan nada datar namun pertanyaan itu seketika menghujam dada Bry. Pikirannya seketika menjadi kalut.
'Apa Vara sudah mengetahui tentang kematian Arya?' Batin Bry.
"Maksud kamu apa Sayang?"
Perkataan Bry terdengar sedikit memelas, Bry merasa sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi sebentar lagi.
"Sudahlah Bry.. Sampai kapan aku harus menunggu kamu bicara jujur. Aku menunggu, bukan berarti aku tidak tahu Bry."
__ADS_1
Vara terdengar menekankan perkataannya membuat Bry semakin sesak. Perasaan dihatinya berkecamuk, Bry bingung harus memulai dari mana karena bagaimanapun dia berpikir, semua kata-kata yang akan keluat dari mulutnya sudah pasti akan menyakiti Vara.
Bry menundukan kepalanya begitu dalam menghindari tatapan mata Vara yang terasa bagaikan pedang yang menghujam di hatinya.
"Vara, maafkan aku.. Maafkan aku yang tidak bisa jujur padamu sejak awal. Aku menutupinya darimu, karena aku tidak bisa kehilanganmu. Jika kamu mengetahui kenyataannya, aku takut kamu akan meninggalkanku."
Vara yang masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan Bry, sudah tampak tidak sabar dengan perkataan Bry selanjutnya.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku?"
Vara sedikit meninggikan nada suaranya menuntut penjelasan, sehingga membuat dada Bry semakin terasa sakit. Bry menatap mata Vara dengan tatapan sendu dan penuh penyesalan.
"Maafkan aku Sayang.. Tolong maafkan aku.. Aku.. Aku.. Akulah yang menyebabkan Arya meninggal."
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
__ADS_1
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..