Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 151 Perasaan yang Belum Hilang


__ADS_3

Vara terkulai lemas dan pandangannya mengabur, namun Bry berhasil menopang tubuh Vara sebelum jatuh ke lantai.


Vara sangat shock melihat Aric yang bersimbah darah di perut sebelah kanannya, terlebih saat Vara melihat asal peluru yang ternyata ditembakan oleh Bry, suaminya.


Kesadaran Vara masih ada, saat Bry memeluk erat tubuhnya dengan wajah yang jelas sekali memancarkan kekhawatiran akan keadaan Vara yang tidak baik-baik saja. Terlebih  saat melihat lebam dan memar di beberapa bagian tubuh Vara, membuat Bry mati-matian menahan tangisnya.


“Sayang bangun! Ada aku disini. Maaf,  karena aku datang terlambat.”


Air mata sudah menggenang di kelopak mata Bry, dadanya terasa sesak, merasa tidak berguna karena gagal lagi menjaga dan melindungi Vara yang berkali-kali hampir kehilangan nyawa.


Sebagian pengawal yang datang bersama Bry segera membawa Aric dan Celline ke Rumah Sakit milik Bry, sebagian lagi menyadarkan para pengawal Vara yang diberi obat tidur oleh Celline dan disembunyikan di area belakang taman Resort, juga mengamankan 8 anak buah Aric yang berjaga di depan area kolam renang.


Jofran segera menemui pihak resort dan meminta bertemu dengan Management tertinggi untuk menutupi dan mengamankan insiden ini, agar tidak sampai diketahui orang lain.


Bry segera membawa Vara menuju kamarnya dan menghubungi pihak resort via telepon kamar untuk mendatangkan dokter untuk memeriksa keadaan Vara.


Bry mengganti baju renang Vara dengan baju yang hangat dan nyaman. Raut khawatir masih tergambar jelas di wajah Bry. Bry duduk di pinggir tempat tidur dengan kedua tangan menggenggam erat tangan Vara yang dingin, tangisnya kini pecah. Rasa bersalah itu kembali menyeruak di hatinya, karena kejadian buruk bertubi-tubi menimpa Vara. Sebagai suami yang berkewajiban menjaga dan melindungi Vara, Bry sudah jelas-jelas gagal.


Tok..Tok..Tok..


Bry segera membuka pintu kamar, berharap yang datang adalah Dokter yang ditunggunya untuk memeriksa keadaan Vara. Namun ternyata bukan hanya Dokter yang berdiri di depan pintu, tapi juga Satya.


“Satya? Apa yang kamu lakukan disini?”


“Biarkan Dokter masuk dan memeriksa Vara, aku sebagai pemilik Jungle Resort ini, ingin menjenguk tamuku yang sedang sakit.”


“Kamu Pemilik Jungle resort?”


Satya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Bry, lalu menerobos masuk ke dalam kamar Vara, diikuti Dokter yang mengikuti langkah Satya di belakangnya. Bry yang sudah sadar dari rasa terkejutnya, segera menyusul masuk dan berdiri berseberangan dengan Satya di samping tempat tidur Vara.


Bry begitu fokus mengawasi Dokter yang sedang memeriksa keadaan Vara. Dokter melihat beberapa memar dan lebam wajah, lengan, kaki dan beberapa bagian tubuh Vara yang lain.


“Nyonya Vara tidak apa-apa, hanya perlu istirahat saja. Tolong salep ini dioleskan secara teratur, agar memar dan lebamnya cepat hilang. Dan obatnya diminum 3 kali sehari.”


“Iya baik Dokter, terima kasih banyak.”


Dokter segera pergi meninggalkan kamar Vara setelah tugasnya selesai, namun Satya masih bertahan di kamar itu sambil melihat Vara yang tertidur lelap dengan tatapan sendu.


Bry yang menyadari tatapan Satya, merasa cemburu. Bagaimana pun juga, laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya itu, pernah terang-terangan berniat merebut Vara dari Bry. Bry juga tahu dengan pasti kalau Satya pernah mencintai Vara, dan belum yakin kalau saat ini perasaan cinta Satya terhadap Vara sudah hilang.


Satya adalah orang yang sangat penting di hidup Vara, Bry sadar dia tidak boleh menjauhkan Vara dari Satya. Bagaimana pun, Satya adalah Kakak dari Arya, seseorang yang begitu berarti di hati Vara, terlebih Vara begitu dekat dengan semua anggota keluarga Arya.


Satya adalah orang yang paling berperan dalam perkembangan karier Vara, karena Satya jugalah, Vara bisa menjadi seorang Interior Designer yang menangani semua design interior pada proyek-proyek pembangunan Apartment dan Hotel-hotel milik Satya.


Bry paham, jika bukan karena Satya, Vara tidak akan menyadari kemampuannya yang besar sebagai seorang Interior Designer yang sangat berbakat dan kompeten.

__ADS_1


“Satya duduklah di sofa.”


Satya mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju sofa dan mendudukan tubuhnya di atas sofa dengan sedikit kasar, sedangkan Bry mengambil dua buah minuman kaleng dari lemari es yang tersimpan di pojok ruangan. Bry mengulurkan 1 buah kaleng minuman bersoda ke arah Satya, yang segera disambut dan dibuka oleh Satya. Satya meminum minuman bersoda itu sampai tinggal setengahnya.


"Jadi apa yang terjadi pada Vara? Kenapa Jofran memintaku menghapus beberapa rekaman CCTV?"


Satya bertanya dengan ekspresi penuh tanya, sedangkan Bry berusaha bersikap tenang fi  hadapan Satya.


"Kamu belum melihat rekaman-rekaman CCTV itu?"


Bry bukannya menjawab, tapi malah balik bertanya pada Satya. Satya hanya menggeleng, namun Satya segera menghubungi Larry untuk mengiriminya rekaman CCTV yang tadi diminta dihapus oleh Jofran.


5 menit kemudian, rekaman CCTV yang diminta Satya sudah masuk ke ponselnya. Bry pun ikut melihat rekaman CCTV itu karena begitu ingin tahu dengan apa yang terjadi sebelum dirinya datang.


"Bast*ard.."


Rekaman CCTV yang tidak dilengkapi membuat Bry dan Satya hanya bisa menebak apa yang terjadi dari gesture Vara saja. Namun sesaat kemudian, Bry tidak bisa menahan makian yang keluar dari mulutnya saat melihat Vara disakiti oleh Celline dan Aric. Terlebih saat Vara tiba-tiba memegangi kepalanya seperti kesakitan. Bry sama sekali tidak berpikir bahwa Vara mengingat kilasan kejadian-kejadian buruk yang dialaminya, bahkan Vara sudah mengingat semua kejadian buruk di hidupnya. Bry menganggap apa yang terjadi pada Vara adalah karena efek perlakuan kasar Celline pada Vara.


Bry dibuat geram dengan semua tindakan Celline dan Aric pada istrinya, berkali-kali Bry mengepalkan tangannya dan memukul sofa. Tapi ada perasaan bangga saat Vara berani melawan mereka dengan skill beladirinya yang masih kurang. Kini Bry merasa latihan beladiri yang Vara lakukan begitu berguna, dan Bry bangga Vara bisa melakukan perlawanan pada Celline dan Aric. Bry tidak bisa membayangkan jika Vara tidak melawan sama sekali, mungkin saja Vara saat ini sudah kehilangan nyawanya.


Tanpa Bry ketahui, kalau Vara sudah mengingat


"Bryllian,  apa aku boleh membunuh kedua orang ini?"


Satya bertanya dengan nada datar dan raut wajah tanpa ekspresi.


Bry berusaha mengubah pikiran Satya yang sedang dipenuhi emosi.


"Tapi dia menyakiti Vara sampai seperti ini Bryllian."


"Aku tahu. Aku yang akan membuat mereka menderita."


Satya menghela nafas kasar, kembali diminumnya minuman bersoda sampai tandas, lalu diremas dan dilemparnya kaleng minuman itu ke tempat sampah.


Bry menyandarkan punggungnya di sofa, tatapannya mengarah tepat ke mata Satya yang tajam.


“Apa benar kamu pemilik Jungle Resort ini?”


“Iya, aku membelinya setahun yang lalu?”


“Setahun yang lalu? Kenapa kamu membelinya?”


“Tentu saja karena Jungle Resort ini begitu potensial dan aku bisa mendapat keuntungan yang besar dengan membeli dan mengembangkannya. Kamu seperti bukan seorang pengusaha saja.”


“Hmm, apa bukan karena kamu memiliki kenangan khusus disini?”

__ADS_1


Pertanyaan Bry menohok hati Satya, raut terkejut yang seketika terpampang di wajah Satya, tidak luput dari pengamatan Bry. Namun sesaat kemudian Satya segera mengubah ekspresinya dengan senyuman tipis yang terulas di wajahnya.


“Hmm, kenanganku dengan Vara maksudmu? Jangan bilang kalau kamu masih cemburu padaku. Kamu tahu aku hanya menganggapnya adik, kami juga rekan kerja yang baik. Kamu tidak usah khawatir, aku tidak akan merebutnya darimu.”


“Baguslah kalau begitu. Aku tahu dengan jelas, kamu pernah mencintainya dan berniat merebutnya dariku. Jadi aku sedikit ragu, apa kamu masih memiiliki perasaan terhadapnya atau tidak.”


Satya tiba-tiba tertawa, seolah perkataan Bry adalah sesuatu yang lucu baginya.


“Aduh kamu ada-ada saja Bry, waktu itu kan aku sedang dalam misi balas dendam. Aku ingin merebut Vara darimu, agar kamu menderita. Kalau sekarang, kita kan sudah bersahabat, aku hanya akan menganggap Vara sebagai adikku. Aku sudah tidak sabar menunggu dia bangun.”


“Tapi dia tidak akan mengingatmu.”


Satya mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Bry.


“Apa maksudmu?”


“Vara kehilangan ingatannya.”


“Apaaaa?”


*************************


Image Source : Instagram


Hallo Readers semuanya.. Mohon maaf ya kalau Novel Star on A Dark Night ini banyak sekali tokohnya dengan kisah mereka yang masih gantung, karena novel ini adalah awal dari novel-novel berikutnya.


Tapi saat ini, saya akan fokus dulu di novel ini sampai selesai.


Terima kasih banyak untuk semua readers & author2 kece yang sudah mampir dan juga mendukung novel ini.. 😍


Kalian semua begitu berharga buat author. Love u so much.. ❤❤❤


Semua silent readers yang mampir, mohon dukungannya juga ya. Like & vote boleh banget kok 😊


Sekali-kali comment juga ya, biar author abal-abal ini bisa ngucapin "Terima Kasih" secara langsung 😄


Semoga semuanya selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊


#staysafe #stayhealthy


Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.


Biar Author tambah semangat nulisnya 😊


Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..

__ADS_1


(IG : zasnovia #staronadarknight)


__ADS_2