
Setelah 1 jam perjalanan, Vara sudah sampai di sebuah resort yang mewah. Resort yang terletak di sebuah bukit yang dikelilingi pemandangan hutan dengan pohon-pohon dan hamparan kebun teh, juga danau luas yang indah.
Vara segera menuju kamar yang dipesan sebelumnya, meletakan tasnya lalu bersiap-siap untuk berenang. Vara benar-benar ingin meluapkan perasaannya dengan berolahraga, seperti kebiasaannya sejak lama.
Vara berjalan menuju kolam renang yang hanya diperuntukan pengunjung kelas VIP saja. Sama sekali tidak ada orang disana, sehingga tanpa ragu Vara langsung masuk ke kolam renang. Lagipula Vara mengenakan baju renang model skirtini yang tidak terlalu seksi. Jadi Vara tidak akan merasa risih saat ada orang lain yang melihatnya.
Vara berenang bolak-balik dari ujung ke ujung, tidak peduli badannya mulai lelah. Vara hanya ingin melepaskan bebannya saat ini. Tiba-tiba Vara yang sedang berenang menubruk badan seseorang yang baru saja masuk ke kolam renang.
"Aaaw.." Vara langsung mengubah posisi berenangnya dan berdiri di kolam renang. Sejenak matanya yang terkena air masih menyesuaikan dengan objek di hadapannya. Namun betapa terkejutnya saat Vara melihat wajah yang sama dengan wajah yang dilihatnya semalam di restaurant.
Laki-laki itu mengembangkan senyumnya yang menawan, tampak kontras dengan alisnya yang tebal dan rambut-rambut yang tumbuh di wajahnya.
"Hai.. Kita bertemu lagi. Mungkin saja kita jodoh."
Satya berusaha bersikap ramah dan menyimpan rapat karakter dinginnya di depan Vara. Satya ingin terus mengingatkan Vara pada Arya yang lembut dan ramah. Sedangkan sifat asli Satya keras, dingin dan bisa bersikap kejam.
Vara merasa canggung berhadapan dengan Satya. Vara berniat menyudahi acara berenangnya, saat tiba-tiba tangan Satya menahan pergelangan tangan Vara dengan lembut.
"Ayo kita berenang lagi, tolong jangan pergi hanya karena ada saya disini. Saya mohon izinkan saya menebus kesalahan saya semalam karena telah mengotori gaun anda." Satya bersikap sangat formal, karena memang pribadinya tidak bisa santai dengan orang yang tidak dekat.
Vara dengan berat hati melanjutkan kegiatan berenangnya tanpa memperdulikan keberadaan Satya. Satya tersenyum lalu ikut berenang bersama Vara dengan arah yang berlawanan. Pelayan mengantarkan makanan dan minuman yang dipesan Satya. 2 piring spagheti, 2 mangkuk salad quinoa dan 2 gelas orange juice, dalam sebuah keranjang yang dapat mengapung di kolam renang.
"Nona.. Beristirahatlah. Aku sudah memesan ini untuk kita berdua." Satya mendekat ke arah Vara dengan sedikit mendorong keranjang makanannya yang bergerak diatas air.
Vara melihat menu makanan yang dipesan Satya sekilas. Cukup menggoda, karena tadi saat sarapan Vara hanya memakan salad buah dalam porsi kecil. Apalagi tenaganya sudah terkuras karena berenang. Tapi Vara benar-benar tidak ingin menerima pemberian apapun dari orang asing. Satya melihat gelagat Vara yang akan menolak pemberiannya.
"Tolong jangan menolak. Anggap ini sebagai permintaan maaf saya karena telah mengotori gaun anda semalam." Setelah beberapa saat menimbang-nimbang, akhirnya Vara menerima pemberian Satya.
Vara memakai kimono handuknya untuk menutupi lekuk tubuhnya, sedangkan Satya begitu percaya diri memamerkan roti sobeknya di depan Vara. Membuat Vara tidak berani memalingkan wajahnya ke arah Satya.
Vara dan Satya makan dengan duduk di pinggir kolam renang, dengan posisi kaki masuk ke kolam renang. Vara memakan spagheti dengan lahap, tanpa berusaha menjaga image di depan Satya, yang memperhatikan tingkah Vara. Satya pun memakan sarapannya dengan bersikap kalem. Mereka tidak mengatakan apapun sampai makanan mereka habis.
"Nona.. Kita belum berkenalan. Nama saya Satya, kalau nama anda?" Satya mengulurkan tangannya ke arah Vara. Lalu Vara membalas uluran tangan Satya.
"Vara.." Satya tersenyum mendengarnya, karena tidak menutupi namanya. Wajah dinginnya seketika tergantikan dengan wajah tampan yang lembut. Sekejap Vara merasa terpesona, entah karena teringat pada Arya atau memang karena Satya memiliki pesona yang tidak terbantahkan.
Vara memalingkan wajahnya, Satya bersorak senang dalam hati melihat tingkah Vara. Karena merasa Vara mulai jatuh pada pesonanya.
__ADS_1
"Tuan Satya, terima kasih untuk makanannya. Saya harus kembali ke kamar, karena sudah terlalu lama berenang."
"Sama-sama, terima kasih juga karena anda menerima itikad baik saya. Tapi tolong panggil saya Satya, Nona Vara." Satya berkata sambil mengerlingkan matanya.
"Begitupun anda, tolong panggil saya Vara." Satya tersenyum menanggapi perkataan Vara.
"Tentu saja Vara.."
Vara berjalan pergi menuju kamarnya. Satya menyesap orange juice-nya sambil menatap Vara yang berjalan menjauh.
'Sungguh menarik.. Brother, sepertinya kita memiliki selera yang sama soal wanita.'
APARTMENT BRYLLIAN
Bry tiba-tiba tersentak dari tidurnya. Langsung diambilnya handphone diatas nakas, dan Bry langsung panik begitu melihat jam sudah menunjukan pukul l0 pagi.
'Aduh.. aku kesiangan. Aku sudah berencana ke rumah Vara pagi-pagi sekali, dan mengajaknya jalan-jalan untuk menghiburnya.'
Bry bangun terlambat karena semalam dia bersama Daniel dan Kevin sibuk mencari tahu tentang laki-laki yang ditemui Vara di restaurant. Masalah mengenai orang yang bernama Satya Efrain Scott juga belum menemui titik terang. Seolah ada orang yang sengaja menutup akses ke semua data terkait orang itu, termasuk photo-photonya.
Di ruang TV, Bry melihat Kevin sudah bangun. Semalam mereka memang menginap di apartment Bry. Meskipun Kevin dan Daniel merasa lelah karena habis berjalan-jalan dengan Vanny dan Nila, tapi demi Bry mereka rela bergadang mencari informasi yang dibutuhkan Bry.
"Bry, kamu benar-benar harus lihat ini." Bry menghampiri Kevin, dan mengarahkan pandangannya ke laptop Kevin.
Photo seorang laki-laki berpakaian formal dengan pandangan angkuh berada di sebuah acara resmi. Dan wajahnya sangat familiar di ingatannya.
"Aku menemukannya di dokumentasi acara pesta ulang tahun perusahaan Z baru-baru ini. Katanya dia tamu kehormatannya."
"Kevin.. Dia Arya?" Mata Bry terbelalak. Bry menatap Kevin untuk mencari penjelasan.
"Bukan. Dia Satya Efrain Scott."
Bry memegang dahinya dengan tangan, merasa tidak percaya dengan hal ini. Daniel yang mendengar suara Bry yang keras segera mendekat. Lalu melihat ke arah laptop.
"Itu Arya?" Daniel mengulang pertanyaan Bry.
__ADS_1
"Bukan. Satya Efrain Scott." Kevin pun mengulang jawaban yang sama. Daniel menatap Bry yang sudah duduk di sofa dengan tubuh melemas.
"Pantas saja selama ini kita kesulitan mencari info mengenai Satya. Sepertinya Satya sengaja menutup akses datanya. Kita bahkan baru mendapat photonya setelah berhari-hari, padahal dia pengusaha besar dan terkenal di Inggris." Daniel memberikan analisanya yang langsung dibenarkan Bry dan Kevin.
"Bry apa mungkin Satya ada hubungannya dengan Arya?" Bry hanya diam menanggapi pertanyaan Kevin.
"Dengan melihat wajahnya, kita bisa menyimpulkan seperti itu. Meskipun belum ada buktinya." Daniel menjawab dengan asumsinya.
"Jika Satya adalah saudara Arya. Apa mungkin dia tahu tentang masalah kematian Arya? Apa yang terjadi dengan perusahaan juga karena niatnya untuk membalas dendam?" Kevin lagi-lagi bertanya dengan gamblangnya. Tanpa memperhatikan ekspresi dan mata Bry yang semakin tajam.
"Sudah pasti karena itu. Dengan kekayaan dan kekuasaannya, dia bisa dengan mudah mengetahui semua hal tentang kematian Arya." Bry menjawab dengan nada dingin.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan Bry?" Daniel belum bisa menebak apa yang ada di pikiran Bry.
"Aku akan menemui Satya.. Memenuhi apa yang dimintanya, untuk membalaskan dendamnya padaku." Bry berkata dengan ringan seolah baik-baik saja.
"Bry, kematian Arya bukan sepenuhnya salahmu. Itu hanya kecelakaan." Kevin mencoba meyakinkan Bry.
"Kecelakaan atau aku sengaja membunuhnya, kenyataannya tidaklah berbeda. Dia mati karena aku." Bry berkata dengan nada tanpa emosi. Tapi Kevin dan Daniel tahu, perasaan Bry sedang berkecamuk saat ini.
Akhirnya Kevin dan Daniel memilih diam. Mereka tahu selama ini Bry sudah merasa sangat bersalah dengan kematian Arya. Dan apa yang ingin dilakukannya, adalah cara untuk melepaskan rasa bersalahnya.
Bry kembali menelpon Vara, namun lagi-lagi tidak diangkatnya. Bry memutuskan menelpon rumah Vara. Pembantu rumah tangganya mengatakan Vara sudah pergi dari jam 6 pagi tapi tidak mengatakan akan pergi kemana. Hal ini membuat Bry panik.
"Vin.. lacak posisi Vara!"
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1