
Cahaya mentari pagi yang menyeruak dari sela-sela tirai, membangunkan Vara dari tidur lelapnya. Vara memicingkan kedua matanya menahan silau cahaya terang yang mendarat di wajahnya.
Alangkah terkejutnya Vara, saat menyadari dirinya yang tertidur di sebelah Brandon dengan posisi tangan Brandon melingkar di punggungnya. Vara berusaha melepaskan tangan Brandon dengan perlahan, agar tidak membangunkan Brandon dari tidurnya, yang justru akan membuat malu.
Vara segera keluar dari kamar Brandon dan pergi ke kamar yang semalam ditempatinya. Tanpa Vara sadari, Brandon ternyata sudah terbangun saat merasakan adanya gerakan dari tubuh Vara, namun dia tetap pura-pura tertidur. Brandon baru membuka matanya saat merasa yakin, Vara sudah keluar dari kamarnya.
'Pagi yang indah, semalaman bisa melihat wajah gadis yang aku cintai, memeluknya saat tertidur dan bangun pagi dengan masih memeluknya. Andai aku bisa segera menikahinya, saat membuka mata di pagi hari, aku bisa selalu melihat wajahnya yang cantik dan menenangkan.'
Sementara itu Vara yang sudah berada di kamar, segera masuk ke kamar mandi dan berendam di bathtub yang terlebih dulu diisi air hangat.
Vara menengadahkan wajahnya menatap langit-langit kamar mandi. Mencoba menahan air mata yang mendesak keluar dari kelopak matanya. Rasa bersalah begitu kuat menyeruak dari hatinya, saat pikirannya melayang pada kejadian semalam. Bagaimana bisa dia tidur di tempat tidur yang sama bersama Brandon, padahal dia ingat dengan sangat jelas, dia menunggui Brandon di sofa saat Brandon demam karena efek lukanya.
Vara berpikir tidak mungkin Brandon yang sakit menggendongnya dan membaringkan Vara di tempat tidur Brandon. Namun itulah kenyataannya, memang Brandon-lah yang memindahkan Vara ke tempat tidurnya, saat Vara sudah begitu nyenyak terlelap di sofa kamar Brandon. Bahkan Brandon tidak melewatkan kesempatan untuk memeluk gadis yang dicintainya itu saat tertidur, yang entah kapan dapat dilakukannya lagi.
'Aku merasa sangat bersalah pada Bry. Aku merasa telah menjadi seorang pengkhianat sekarang. Bagaimana aku bisa berada di tempat tidur yang sama dengan seseorang yang telah begitu kejam menyuruh orang untuk membunuh Arya dan menembak Bry? Bagaimana aku bisa melakukan hal seburuk itu? Tapi sejujurnya, aku merasa bersalah karena telah membuat Brandon berubah menjadi sejahat ini. Dia tidak seperti Brandon yang kukenal dulu, yang begitu lembut, perhatian, dewasa dan begitu melindungiku. Apakah aku bersalah karena tidak bisa membalas perasaannya? Tapi aku tidak bisa memaksa hatiku untuk mencintainya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku akan tetap terkurung disini?' Batin Vara
Vara baru keluar dari kamar mandi setelah lebih dari 1 jam berendam dan mandi untuk membersihkan sekaligus berusaha menenangkan tubuh dan hatinya. Vara hanya mengenakan kimono mandi yang tersedia di kamar mandi, dia berniat meminjam baju pada pelayan wanita yang beberapa kali dilihatnya berjalan di depan kamar, karena bajunya sudah sangat kotor.
Tiba-tiba mata Vara membulat dengan sempurna saat dilihatnya Brandon sedang merebahkan dirinya di atas tempat tidur dengan mengembangkan senyumnya yang paling sempurna.
"Selamat Pagi Vara.."
Vara seketika menutupi bagian dadanya yang tertutup kimono mandi, karena menyadari dibalik kimono yang dipakainya, dia tidak mengenakan pakaian dalam apapun.
"Vara.. Aku sudah meminta pelayan menyiapkan pakaian untukmu. Kamu bisa membuka walk in closet di ruangan itu."
Vara mengikuti arah yang ditunjuk Brandon, sebuah ruangan lain di dalam kamar itu yang baru disadari keberadaannya oleh Vara.
"Iya.. te.. terima kasih. Hmm, bisakah kamu keluar? Aku harus mengganti bajuku."
"Tidak mau, kamu bisa melakukannya didepanku."
"Brandoooon.."
"Hahaha... Baiklah, aku akan keluar. Pakailah sesuatu yang cantik. Aku menunggumu untuk sarapan dibawah."
Brandon beranjak keluar dari kamar itu dan Vara segera mengunci kamar yang sudah lupa dikuncinya itu.
'Dia benar-benar membuatku hampir kena serangan jantung.'
***************
RUMAH SAKIT GRANADA (GRANADA HOSPITAL)
Kendrick dan Reyvan menyesap secangkir kopi, sambil menunggui Bry yang masih belum sadar dari pengaruh obat.
__ADS_1
"Sekarang sudah lebih dari waktu yang dikatakan dokter, kenapa Bry belum sadar juga? Dan soal Vara, apa yang harus kita lakukan? Apa kamu yakin Brandon yang menculiknya? Aku takut Brandon melakukan hal buruk pada Vara."
Reyvan terdengar sangat khawatir dengan keadaan Bry dan Vara yang sama-sama dalam bahaya.
"Dokter bilang tidak apa-apa, kita hanya perlu menunggunya sadar. Luka di bahu kirinya tidak terlalu parah dan bisa segera sembuh dalam beberapa minggu. Dan soal Vara, orang-orangku bisa memastikan keadaannya baik-baik saja. Tidak ada pergerakan yang mencurigakan dari mereka. Aku akan bergerak begitu Kevin Hyung dan Daniel Hyung datang karena mereka menyuruhku menunggu dan tidak gegabah mengambil tindakan."
"Baiklah.. Aku akan mengikuti rencanamu."
Reyvan kembali menyesap kopinya, berusaha mengurangi rasa khawatir di dalam hatinya.
Kendrick mendekati sisi tempat tidur Bry, dan memandang wajah Kakaknya yang masih terlihat damai dalam tidurnya.
"Bangunlah Hyung.. Apa kamu berniat menyerahkan Vara padaku? Aku akan merebutnya jika Hyung tidak kunjung bangun. Jangan salahkan aku ya, jika nanti Vara mencintaiku. Aku akan membawanya pergi dan membuatnya melupakanmu. Tentu Vara tidak mau membuang-buang waktu menunggu kamu bangun. Memangnya kamu Putri Tidur, Hyung? Apa harus aku cium dulu agar kamu bangun?"
Tiba-tiba Bry perlahan membuka matanya dan menatap langsung ke dalam mata adiknya yang terbelalak.
"Menjijikan.. Jangan pernah berani menciumku.. Dan jangan bermimpi kamu bisa merebut Vara dariku."
Kendrick setengah berteriak karena senang melihat Kakaknya sudah sadar.
"Hyuuuung.. Akhirnya kamu sadar.. Syukurlah, aku bahagia melihatmu bangun."
"Bukankah tadi kamu berniat merebut Vara dariku, kenapa sekarang terlihat senang?"
Bry menunjukan perasaan kesalnya pada Kendrick yang membalas dengan tertawa keras.
"Hahaha.. Sepertinya kata-kataku sangat ampuh untuk membangunkanmu. Kenapa tidak aku coba sejak semalam ya..Hahaha.."
Reyvan yang sejak tadi hanya memperhatikan interaksi diantara kedua kakak beradik itu, berjalan menghampiri Bry dengan posisi berseberangan dengan Kendrick.
"Syukurlah, kamu sudah sadar Bry."
Bry terkejut saat menyadari Reyvan, Kakak dari kekasihnya juga ada di ruangan itu.
"Eh.. Kak Reyvan.. Maafkan aku Kak, karena tidak bisa menjaga Vara dengan baik. Aku berjanji, aku akan menyelamatkannya dari Brandon dan membawanya pulang."
"Sebaiknya kamu beristirahat saja, kamu baru saja sadar dan lukamu masih belum pulih. Serahkan semua pada kami."
"Iya Hyung, sebentar lagi Daniel Hyung dan Kevin Hyung datang. Mereka menggunakan penerbangan tercepat dengan waktu transit tersingkat untuk datang kesini. Tapi Hyung, dari mana kamu tahu Vara diculik oleh Brandon?"
"Seseorang memberitahuku.."
Kendrick juga Reyvan tampak mengerutkan keningnya, karena merasa bingung. Sampai instruksi Bry memecah kebingungan mereka.
"Kendrick kumpulkan anak buahmu, bersiap-siap dengan senjata lengkap. Koordinasi dengan pengawal pribadiku yang disewa Daniel. Aku juga akan bersiap-siap sambil menunggu Daniel dan Kevin datang. Kak Reyvan, kembalilah ke apartemen. Aku akan menghubungimu nanti."
"Tidak, aku harus memastikan keadaan adikku baik-baik saja. Izinkan aku ikut bersama kalian."
Bry tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengiyakan permintaan calon kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Baiklah Kak.. Kamu boleh ikut dengan kami."
"Terima kasih Bry.. Oh iya bagaimana kamu tahu kalau aku adalah Reyvan kakaknya Vara?"
Bry tersenyum mendengar pertanyaan dari Reyvan yang tampak sangat penasaran.
"Tentu saja karena Vara sering bercerita tentang kakaknya yang begitu perhatian padanya. Aku juga sering melihat photomu yang banyak dipajang di ruang tamu rumah kalian." Reyvan tersenyum mendengar jawaban dari Bry.
"Jangan memanggilku Kakak.. Rasanya aneh sekali, sepertinya umur kita tidak terlalu jauh selisihnya."
"Vara bilang umurku setahun lebih muda dari Kak Reyvan.. Eh jadi aku harus memanggilmu apa? Rasanya tidak sopan memanggil nama pada seseorang yang lebih tua. Terlebih lagi kamu.. calon kakak iparku."
Perkataan Bry seketika membuat tawa Reyvan dan juga Kendrick pecah.
"Panggil aku Reyvan, aku akan tetap mengizinkan kamu bersama adikku biarpun tidak memanggilku Kakak."
"Baiklah Reyvan.. Jangan ingkari perkataanmu ya. Karena aku akan melamarnya sebentar lagi."
"Benarkaaah?"
Reyvan dan Kendrick berteriak bersamaan, merasa sangat terkejut dengan apa yang diucapkan Bry.
"Aku tidak mau kehilangan Vara. Aku ingin menjaganya sepanjang waktu tanpa ada batasan apapun. Kejadian ini lebih meyakinkan niatku untuk segera menikahi Vara, karena aku begitu mencintainya dan tidak ingin ada yang merebutnya dariku. Tolong izinkan aku menikahinya Rey..!"
"Semua keputusan aku serahkan pada Vara, jika dia mau menikah denganmu, maka akan aku izinkan. Aku mendukung apapun keputusan kalian. Aku ingin kamu berjanji untuk menjaganya dan tidak pernah menyakitinya."
"Terima kasih Rey.. Aku berjanji akan selalu menjaganya, tidak menyakitinya dan membahagiakannya dengan sepenuh hatiku."
"Aku pegang janjimu Bry.."
"Tentu saja, kamu bisa memegang janjiku."
****************
Image Source : Instagram
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1