
Vara sudah kembali ke ruang rawat VVIP yang pertama kali ditempatinya. Kedua bayi Vara dan Bry saat ini masih berada di kamar khusus perawatan bayi dan akan diantar ke ruangan Vara sebentar lagi. Padahal baru sebentar saja tidak melihat kedua bayi mereka, tapi Bry dan Vara sudah merasa rindu melihat malaikat kecil yang kini hadir di kehidupan mereka.
Bry masih saja terbayang dengan proses kelahiran kedua bayi tampannya. Melihat secara langsung perjuangan Vara melahirkan bayi kembar, membuat Bry lebih banyak diam saat Vara begitu keras berjuang. Bry sedih dan bingung harus membantu menguatkan Vara seperti apa, dia pasrah saat Vara meluapkan rasa sakitnya dengan meremas kuat tangan Bry bahkan menancapkan kuku-kukunya yang cukup tajam di tangan Bry. Bry begitu kagum dengan istri mungilnya, yang ternyata bisa begitu kuat berjuang melahirkan anak kembar mereka.
Tidak henti dikecupnya kening dan punggung tangan Vara dengan penuh cinta. Bry merasa rasa cintanya semakin besar terhadap istrinya. Bry tidak peduli pandangan juga candaan orangtua, mertua dan juga sahabatnya yang sejak tadi terus saja meledeknya. Bry hanya ingin mengungkapkan dan meluapkan perasaan cintanya yang sangat besar terhadap istri juga ibu dari kedua anaknya itu.
Mommy Irena, Papa Devan, Mommy Jhena dan Daddy Dave sudah begitu tidak sabar melihat kedua cucu mereka. Begitu juga dengan Daniel dan Kevin yang tidak sabar bertemu 2 Bry Junior yang pastinya sangat menggemaskan. Mereka sudah sangat penasaran dengan wajah kedua bayi Bry dan Vara, apakah mirip Vara ataukah mirip Bry.
Tok.. Tok.. Tok..
Terdengar ketukan di pintu kamar rawat Vara, lalu sesaat kemudian 2 orang perawat masuk sambil mendorong 2 box bayi berukuran kecil untuk masuk ke dalam ruangan.
Semua orang yang berada didalam ruangan langsung mengerubungi 2 box bayi itu. Sedangkan Bry tetap duduk disamping tempat tidur sambil memegang tangan Vara, memberi kesempatan bagi semua orang untuk melihat kedua bayi tampannya, meskipun Bry dan Vara juga begitu ingin memeluk kedua bayi mereka.
Mommy Jhena, Mama Irena, Daddy Dave, Papa Devan, Daniel dan Kevin memperhatikan kedua bayi yang tertidur pulas didalam box itu. Keduanya begitu tampan dengan bibir mungil berwarna merah, hidung mancung, alis yang cukup tebal dan rambut yang lebat.
"Wah lihatlah.. Baby ini mirip sekali dengan kamu Adeul, bibir, alis juga hidungnya sama persis dengan kamu. Dan baby yang satu ini juga alisnya sama persis denganmu kamu, tapi hidung dan bibirnya persis Vara. Menggemaskan sekali ya mereka.."
Mommy Jhena begitu antusias melihat kedua cucunya yang ternyata sangat tampan dan sangat mirip dengan anak juga menantunya.
"Benar sekali.. Bayi yang satu ini benar-benar mirip dengan Bry, sedangkan bayi yang ini sangat mirip dengan Vara."
"Iya benar Ma.."
Mama Irena dan Papa Devan setuju dengan pendapat Mommy Jhena, begitupun semua orang yang menyadari betul kemiripan kedua bayi itu dengan Vara dan Bry.
"Wah kedua cucuku benar-benar tampan, benar-benar menurun dari aku ketampanannya."
Mommy Jhena menyikut dada Daddy Dave pelan, karena perkataan Daddy Dave yang terlalu percaya diri, membuat semua tertawa dengan tingkah mereka. Sedangkan Daddy Dave hanya terkekeh geli melihat istrinya yang terlihat menggemaskan dengan ekspresi kesalnya itu.
"Bro.. Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk kedua bayimu?"
Pertanyaan Kevin membuat semua orang menolehkan kepala kearah Bry, menyadari pertanyaan di benak mereka yang sempat terlupakan, karena terfokus dengan ketampanan wajah kedua bayi mungil itu.
Bry tersenyum, perlahan melepas genggaman tangannya setelah sebelumnya mencium punggung tangan Vara, lalu mendekati kedua bayinya yang masih saja tertidur.
__ADS_1
Bry mengusap pipi bayi yang sangat mirip dengannya dengan tangan kanannya, lalu memegang tangan sang bayi dengan tangan kirinya. Bayi itu menggenggam jari telunjuk tangan kiri Bry dengan begitu kuat, padahal matanya masih saja betah terpejam. Bry merasa takjub, sesaat kemudian raut takjub itu berubah menjadi senyuman lembut seorang Ayah pada anaknya.
"Dia anak pertama kami, namanya Bradley Zeroun Harrison.."
Tangan kanan Bry lalu beralih mengusap pipi bayi yang mirip dengan Vara dan memegang tangan bayi itu. Dan sama seperti Bradley, bayi ini pun langsung menggenggam kuat jari telunjuk tangan kanan Bry. Senyum lembut kembali menghias wajah Bry.
"Dan ini, Briley Zephyr Harrison.."
Kedua bayi Bry dan Vara seketika melengkungkan senyumnya, seolah mengerti perkataan sang Daddy yang memanggil nama mereka, meskipun dengan mata yang masih tertutup. Tentu saja pemandangan ini mengundang senyum kagum semua orang. Mereka yakin Bradley & Briley akan memberi warna indah di kehidupan Bry dan Vara, juga keluarga besarnya.
*********************************
JEJU, SOUTH KOREA
Brandon keluar dari ruang kerja di hotel miliknya dengan perasaan gusar. Salah satu orang kepercayaannya di Kota B Indonesia, melaporkan bahwa Vara sudah melahirkan anak kembar. Tidak ada rasa bahagia, hanya perasaan di hatinya yang semakin hancur. Seolah jalan untuk bersama dengan Vara, semakin menjauh.
Saat ini Brandon hanya ingin melupakan wajah gadis itu yang selama berbulan-bulan masih saja menghiasi mimpi dan pikirannya. Tidak pernah sekalipun Brandon berniat melupakan Vara yang masih begitu kuat bertahta di dalam hatinya. Harapan untuk bersama dengan Vara selalu ada dalam pikirannya, meskipun Brandon tahu hal itu hampir mustahil saat ini.
Brandon berjalan cepat di koridor hotel hendak menuju bar di lantai 1, tapi tiba-tiba seorang perempuan yang sedang fokus menatap gadgetnya menabrak tubuh Bry dari arah berlawanan.
Tubuh perempuan itu terjerembab diatas karpet koridor, namun Brandon tidak berniat membantunya. Brandon justru menatap tajam tepat kearah perempuan yang membalas tatapan Brandon dengan sama galaknya. Brandon memasang senyum sinisnya kearah perempuan itu, pandangannya menyapu wajah perempuan itu yang terlihat sedikit familiar bagi Brandon.
"Babo (bodoh).."
Brandon berniat meninggalkan perempuan itu dengan melewatinya begitu saja. Namun seketika langkahnya terhenti, saat mendengar gumaman perempuan itu yang berhasil tertangkap oleh indera pendengaran Brandon.
"Dasar laki-laki kurang aj*r, bukannya minta maaf, malah menyebutku bodoh dan pergi begitu saja."
Brandon menghentikan langkahnya dan berbalik menatap perempuan itu yang terlihat terkejut, karena Brandon kembali menghampirinya yang masih terduduk.
"Kamu orang Indonesia?"
Tanya Brandon dengan tetap memasang ekspresi dinginnya.
"Hah? Apa kamu bisa bahasa Indonesia?"
__ADS_1
Brandon tidak merespon pertanyaan perempuan itu, dan malah semakin menatap tajam menunggu jawaban atas pertanyaannya tadi. Tapi perempuan itu justru terlihat takut tanpa berani menatap mata Brandon yang sangat mengintimidasi.
Tiba-tiba datang 2 orang perempuan yang merupakan staff hotel dan terlihat panik melihat perempuan itu terduduk dengan raut wajah sedikit mengenaskan. Mereka bertanya mengenai keadaan perempuan itu dengan ekspresi khawatir.
Namun seketika wajah mereka memucat dengan badan kaku mematung, saat menyadari keberadaan Brandon dihadapan mereka.
"Daepyoniiiiim.."
Panggil mereka bersamaan seraya membungkukan tubuh mereka kearah Brandon dengan penuh hormat.
Sedangkan perempuan tadi ikut berdiri dengan masih bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Daepyonim? CEO?"
Perempuan itu hanya membelalakan matanya dengan sempurna, setelah menyadari situasi yang dihadapinya.
'Jadi ini CEO yang katanya tampan tetapi dingin dan tidak pernah tersenyum itu? Dia memang sangat menyeramkan. Tapi.. apakah dia akan balas dendam padaku, karena aku mengatainya kurang ajr?'* Batin perempuan itu.
Sedangkan Brandon yang melihat ekspresi terkejut dari seseorang dihadapannya, mulai menatap nama yang terpampang di name tag perempuan itu.
"Sharon.."
***********************************
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1