Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 90 Kemarahan Seseorang dari Masa Lalu


__ADS_3

Cahaya mentari pagi menghangatkan kulit Vara yang sengaja menghabiskan waktunya dengan sarapan dan membaca novel di taman belakang rumah. Secangkir teh hangat dan setangkup roti isi cokelat menjadi menu sarapannya pagi ini.


Mama Irena mendekati Vara diam-diam dan melihat novel yang sedang dibaca Vara dari arah belakang.


"Mama kira kamu sedang mengobrol via chat dengan Bry, ternyata membaca novel." Mama duduk berhadapan dengan Vara.


"Tidak Ma.. Tadi Bry sudah mengirim chat kalau dia sudah dijalan menuju kantor."


"Oh begitu.. Bagaimana persiapan pernikahanmu Sayang?"


"Lancar Ma.. WO-nya sangat profesional. Aku tidak perlu pusing memikirkan semua detail persiapannya, mereka mengurusnya dengan sangat baik."


"Syukurlah.. Oh iya Sayang, waktu acara lamaran kemarin kenapa kamu tidak mengundang Brandon dan Samuel?"


"Samuel sedang diluar kota Ma.. Dan Brandon sudah pulang ke Korea."


"Apa? kenapa kamu tidak cerita Sayang? Dia kan sahabat baik kamu. Dan setahu Mama dia sangat tidak ingin kembali ke Korea, karena sudah merasa betah di Indonesia. Kenapa sekarang tiba-tiba kembali ke Korea?"


Vara terdiam mendengar Mamanya yang sedikit mengomel. Vara selama ini tidak pernah bercerita tentangnya dan Brandon kepada Mamanya. Dan sekarang dia merasa cukup bingung memberikan alasan yang cukup masuk akal kepada Mamanya.


"Sudahlah Ma.. Itu sudah keputusannya, mungkin dia bisa lebih bahagia disana."


"Hmm, Iya.. Disana kan ada orangtuanya ya."


Vara mengangguk pelan lalu menyesap tehnya dengan perlahan.


"Hari ini kamu mau kemana?"


"Aku mau ke gallery souvenir pernikahan Ma.. Aku mau menambah jenis souvenirnya."


"Kamu kan bisa meminta tim WO, kenapa kesana sendiri?"


"Supaya lebih puas memilihnya Ma."


"Hmm, baiklah. Tapi Mama tidak bisa temani ya. Mama harus ke kantor hari ini."


"Iya Ma.. Aku bisa sendiri."


"Baiklah.. Tapi hati-hati ya Sayang..!"


"Iya Ma.."


Mama tersenyum memandang putri kesayangannya yang selalu tampak bahagia menjelang pernikahannya. Sesaat ada rasa khawatir dalam hati Mama Irena, namun segera ditepisnya.

__ADS_1


1 jam kemudian Vara sudah memarkirkan mobilnya di parkiran gallery souvenir. Baru saja Vara keluar dari mobil dan hendak menutup pintu mobilnya, tiba-tiba seseorang bermasker dan memakai hoodie bergerak menghampirinya. Tanpa sempat menebak apa yang akan dilakukan orang itu, Vara merasakan bagian perut sebelah kanannya terasa sakit. Saat diarahkan pandangannya kearah perut, tampak darah membasahi dan mengotori kemejanya yang berwarna biru terang.


Orang yang menusuk perutnya tampak berlari kencang, namun masih sempat dilihat oleh Vara, beberapa orang berpakaian hitam sudah berhasil membekuk orang tersebut.


Sebelum kesadarannya hilang, Vara masih bisa melihat seseorang berlari dan menahan tubuh Vara yang hendak roboh.


"Varaaa.. Sayaaang.. Bangun, please!"


"Bran..don.."


Seketika Vara kehilangan kesadarannya didalam pelukan Brandon. Tanpa membuang waktu, Brandon segera melarikan Vara ke Rumah Sakit terdekat, ditemani Jared dan 2 orang anak buahnya.


Brandon hanya fokus pada keselamatan Vara, dia tidak ikut mengurusi pelaku penusukan Vara karena tahu anak buah Bry yang menjaga Vara dari kejauhan, sudah berhasil meringkus pelakunya. Meskipun mereka terlambat menyelamatkan Vara karena pergerakan si penusuk yang tidak mereka prediksi. Tapi Brandon tetap meminta 3 orang anak buahnya untuk mencari tahu siapa sebenarnya pelaku penusukan Vara.


ใ€€


BR GROUP


Bry sedang memimpin meeting management, saat tiba-tiba Daniel yang selesai menerima telepon menghampiri dan membisikinya sesuatu.


"Bry, ikut aku keluar ruangan, ada hal penting yang harus aku laporkan."


"Kita sedang meeting Daniel."


Bry yang mendengar perkataan Daniel segera keluar dari ruangan dengan mendahului Daniel.


"Ada apa Daniel?"


"Vara di Rumah Sakit, ada yang menusuknya."


"Apaaa? Siapa yang berani melakukannya?"


Teriakan Bry yang keras sampai ke dalam ruang meeting, membuat Kevin menyusul keluar.


"Kim Ha Ni."


"Shiiiit... Bastard!!!"


Bry langsung berlari dengan Daniel menyusul dibelakangnya, sementara Kevin kembali masuk kedalam ruang meeting untuk mengumumkan pembatalan meeting management, lalu berlari menyusul Bry dan Daniel.


Bry menyetir dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Sakit. Daniel yang berada disebelahnya tidak berani mengingatkan Bry untuk memelankan laju mobilnya, karena hanya akan membuat Bry semakin emosi. Kevin yang menyusul Bry dengan mobilnya pun tampak kesulitan menyusul laju mobil Bry yang terlalu cepat.


Sesampainya didepan lobby Rumah Sakit, Bry bergegas turun tanpa memarkirkan mobilnya dengan benar. Sehingga Daniel-lah yang akhirnya memarkirkan mobil Bry di tempat parkir. Sedangkan Bry sudah melesat naik ke lantai 5 Rumah Sakit setelah mengetahui kamar perawatan Vara dari Receptionist.

__ADS_1


Saat berlari kearah kamar Vara, Bry terkejut melihat wajah yang paling tidak disukainya keluar dari kamar bertuliskan nomor kamar Vara. Brandon, seseorang yang paling tidak diharapkannya malah muncul lagi dihadapannya. Didepan kamar juga berdiri beberapa anak buah Brandon, juga beberapa anak buah Bry yang seketika membungkukan badan mereka kearah Boss mereka yang baru saja datang.


Brandon yang menyadari kedatangan Bry, menatap Bry dengan kilat mata tajamnya. Saat Bry sampai dihadapan Brandon, tanpa aba-aba Brandon mengarahkan pukulannya ke wajah Bry yang sama sekali tidak siap menerima pukulan Brandon.


"Saekkiyaaa.. Awas kubunuh kamu, kalau sampai sesuatu yang lebih buruk terjadi pada Vara."


Anak buah Bry hendak membalas pukulan Brandon, namun Bry mengangkat tangannya, melarang anak buahnya untuk membalas.


Bry tidak mengeluarkan sepatah katapun meskipun emosi sudah begitu menguasai hati dan pikirannya saat ini. Sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah akibat pukulan Brandon yang tidak pelan sama sekali. Tapi Bry tidak peduli, yang paling penting untuknya saat ini adalah melihat keadaan Vara.


Bry melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kamar perawatan Vara. Daniel dan Kevin datang bersamaan dan sama terkejutnya seperti Bry saat melihat Brandon. Akhirnya Daniel dan Kevin hanya menunggu diluar, membiarkan Bry menemani calon istrinya tanpa gangguan siapapun.


Vara tampak sedang tertidur saat Bry masuk. Bry mengambil kursi ke sisi tempat tidur Vara, kemudian duduk sambil memegang tangan kiri Vara dengan kedua tangannya.


"Sayang, bangunlah.. Maafkan aku yang lagi-lagi gagal melindungimu. Maafkan aku yang benar-benar tidak berguna ini."


Diciumnya punggung tangan Vara dengan penuh kasih sayang. Airmatanya menetes tepat di punggung tangan Vara yang lembut.


Tiba-tiba mata terbuka dan mengarahkan pandangannya ke wajah kekasihnya yang sudah tampak kusut.


"Aku tidak apa-apa Sayang. Jangan sedih ya."


"Ini semua gara-gara aku. Kamu terluka parah karena aku. Maafkan aku Sayang."


"Saat di Granada, kamu juga tertembak gara-gara aku. Aku mendengarnya tadi, apa benar yang menusukku adalah Kim Ha Ni?"


Bry menganggukan kepalanya mengiyakan.


"Kenapa kita disukai oleh orang-orang psikopat ย yang tidak punya akal sehat."


Brandon yang baru saja masuk kedalam kamar, merasa tersindir sekaligus tersinggung.


"Siapa yang kamu maksud psikopat? Jangan bandingkan aku dengan pacarmu yang gila itu."


*****************


ใ€€


ใ€€


Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.


Biar Author tambah semangat nulisnya ๐Ÿ˜Š

__ADS_1


Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..


__ADS_2