
Vara sedang duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya yang basah, saat terdengar ketukan di pintu kamarnya.
"Siapa?" Namun tidak terdengar sahutan dari luar. Vara yang masih mengenakan kimono mandinya bergegas membuka pintu kamar, sebelah tangannya tidak lepas memegang handuk yang masih tetap digosokan pada rambutnya yang panjang.
"Good morning My Love.." Vara tidak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya melihat Bry berdiri di depan pintu kamarnya dengan sebuket bunga mawar putih yang dikelilingi mawar merah berukuran besar di depan dadanya.
"Oh My God, Sayaaaaang." Vara mengurai wajah sumringahnya saat menerima buket mawar yang disodorkan Bry.
"Terima kasih Sayang. I Love it.." Bry melangkah masuk ke dalam kamar, memeluk pinggang Vara dan mencium lembut kening Vara. Kemudian ditatapnya wajah Vara yang memerah dengan sangat lekat.
"Iya Sayang.. Aku begitu bahagia melihat senyummu pagi-pagi begini. Andai saja aku bisa melihat wajahmu setiap hari saat pertama kali membuka mata, pasti terasa sangat membahagiakan." Vara mengurai senyum manisnya, namun tiba-tiba Vara menyadari sesuatu. Vara menutupi bagian dadanya dengan buket bunga mawar dari Bry, begitu sadar dia masih mengenakan kimono mandi tanpa mengenakan apapun di dalamnya.
"Astaga Bry.. Tunggulah di ruang tamu, aku akan berpakaian dulu." Bry hanya mengangguk sambil tersenyum melihat ekspresi Vara yang merona karena malu.
"Baiklah Sayaaang." Vara langsung menutup pintu kamarnya setelah mendengar jawaban Bry. Lalu Bry turun menuju ruang tamu dengan senyum yang masih enggan pergi dari wajahnya.
'Wah benar-benar sarapan pagi yang enak.' Batin Bry.
10 menit kemudian Vara sudah turun dari kamarnya dan menghampiri Bry yang terlihat sedang menyesap kopi tanpa gula yang baru saja disuguhkan Bi Rahma.
"Hmm.. Terlalu manis." Bry menyimpan kembali gelas kopinya diatas meja dan menatap Vara yang duduk di sebelahnya, dibalas kerutan di kening Vara. Sekilas Vara melirik kopi yang Bry tadi minum.
"Apa Bi Rahma memberikan terlalu banyak gula?"
"Tidak, itu kopi tanpa gula." Vara semakin mengerutkan keningnya membuat Bry gemas sehingga mengurai senyumnya yang paling sempurna.
"Kopinya jadi terlalu manis, karena aku meminumnya di depan kamu yang paling manis."
Vara memukul lembut lengan Bry menanggapi gombalan receh Bry. Namun tak ayal gombalan Bry tetap menyebarkan rona merah di pipi Vara membuat Bry tidak berhenti tersenyum menatap kekasihnya itu.
"Sayang, jam 6 pagi tadi Mommy sudah meneleponku, katanya Mommy dan Daddy sudah harus kembali ke Korea besok pagi. Rencana mereka yang akan tinggal sampai minggu depan terpaksa dibatalkan karena Daddy ada urusan bisnis yang mendesak. Maukah malam ini kamu menemaniku untuk makan malam di mansion orangtuaku?"
__ADS_1
Vara terlihat berpikir keras setelah mendengar perkataan Bry. Selain karena merasa gugup akan bertemu kedua orangtua Bry, Vara juga bingung menutupi bercak-bercak merah keunguan yang masih terlihat di leher dan dadanya. Vara tidak memiliki gaun yang dapat menutupi bercak-bercak itu.
Sesaat kemudian Bry menyerahkan sebuah paper bag dengan sebuah kotak berukuran cukup besar di dalamnya. Vara membuka kotak tersebut dan seketika matanya tampak berbinar senang. Sebuah gaun berwarna putih dengan model bagian leher tertutup, dihiasi taburan mutiara di bagian leher dan dadanya.
Bry memang sengaja membelikan gaun yang menutup bagian leher Vara, sejenis dengan beberapa pakaian bermodel turtleneck yang kemarin diberikannya pada Vara, karena bercak-bercak merah di dada dan leher Vara masih terlihat cukup jelas.
"Terima kasih Sayang.. Aku akan memakainya malam ini."
Senyum malu-malu Vara menarik Bry untuk mengelus punggung tangan Vara dan mengecupnya penuh cinta. Hati Vara berdesir setiap kali menerima perlakuan Bry yang menunjukan perasaannya dengan terbuka.
"Terima kasih ya Sayang.." Senyuman paling sempurna kembali terukir di wajah Vara mendengar ucapan terima kasih dari Bry.
Sesaat kemudian Vara menarik tangan Bry dan mengajaknya menuju ruang makan.
"Sayang, ayo kita sarapan.. Aku sudah sangat lapar." Bry mengangguk lalu mengikuti Vara menuju ruang makan.
Vara dan Bry baru selesai sarapan saat tiba-tiba handphone Bry bergetar. Tampak sebuah panggilan berasal dari nomor yang tidak dikenal. Untuk beberapa saat Bry hanya memandangi layar handphonenya, namun karena si penelepon tidak juga menghentikan panggilannya dan isyarat mata Vara menyuruhnya mengangkat telepon, akhirnya Bry terpaksa mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa Ha Ni?"
Vara pun tidak dapat menyembunyikan rasa tidak nyamannya mendengar kekasihnya menyebut nama mantan kekasihnya. Bry menatap Vara yang mengalihkan pandangannya dari Bry ke arah lain. Bry sengaja menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara dengan Kim Ha Ni untuk menghindari kecurigaan Vara, karena Kim Ha Ni pun terbiasa berbahasa Indonesia saat bersama Bry dan keluarganya.
"Siro (tidak mau).Kamu pergi saja sendiri." Bry langsung menutup teleponnya, tidak peduli dengan perkataan Kim Ha Ni selanjutnya.
"Kim Ha Ni memintaku menemaninya jalan-jalan. Tapi kamu sudah mendengar sendiri kalau aku sudah menolaknya."
"Kenapa kamu menolaknya? Bukankah menyenangkan menghabiskan waktu dengan mantan pacar sambil mengenang masa lalu? Kamu juga pasti merindukan saat-saat bersamanya dulu. Apalagi dia sengaja datang ke Indonesia untuk menemuimu. Kamu pasti.."
Tiba-tiba perkataan Vara yang belum selesai terhenti saat bibir Bry mengecup bibir Vara dengan gemas.
"Kenapa kamu menciumku?" Vara memperlihatkan raut wajahnya yang kesal.
__ADS_1
"Tentu saja untuk membuatmu berhenti mengomel." Bry menanggapi Vara yang sedang kesal dengan senyuman menggoda.
"Ih kamu.. Aku kan belum selesai bicara." Bry malah tertawa lebar menanggapi kekesalan kekasihnya itu.
"Maafkan aku Sayang.. Saranghaeyo.."
Seketika pipi Vara merona mendengar Bry mengucapkan "Aku Mencintaimu" dalam bahasa Korea. Pikirannya melayang, merasa seperti tokoh utama dalam drama Korea yang sering ditontonnya.
Bry mengikis jarak diantara mereka dan menempelkan hidungnya dengan hidung Vara.."
"Nan jeongmal saranghaeyo (Aku sungguh mencintaimu)."
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1