
Hanya tinggal 5 menit lagi menuju pergantian hari, Vara sudah tidak sabar menunggu pukul 00.00 tanda bertambahnya angka di umur Bry. Hanya kejutan sederhana yang Vara siapkan, tapi dia ingin menjadi orang pertama yang memberikan ucapan selamat dan doa untuk suaminya itu.
Saat ini Vara memegang sebuah kue tart sederhana sambil bersembunyi dikamar sebelah kamarnya dan Bry, yang kelak akan digunakan sebagai kamar bayi. Kamar itu masih seperti kamar biasa, belum dibenahi sama sekali dengan interior & perlengkapan bayi. Karena Vara dan Bry belum diperbolehkan membeli perlengkapan bayi sebelum usia kehamilan Vara menginjak 7 bulan, sedangkan saat ini usia kehamilannya baru menginjak 6 bulan.
Vara yang mengenakan piyama dan topi bunny yang lucu terlihat lebih menggemaskan dengan ekspresi tidak sabar di wajahnya. 1 menit lagi dari waktu yang ditunggunya, Vara mulai menyalakan lilin-lilin yang berada diatas kue dan kembali menunggu dengan bosannya.
'Bry masih sibuk dengan laptopnya, aku harus menunggu disini sampai tepat jam 12 malam.' Batin Vara.
Tapi tiba-tiba pintu kamar itu terbuka sehingga mengejutkan Vara yang seketika membalikan badannya berlawanan arah dengan pintu masuk dan berjalan agak menjauh kearah depan, agar Bry tidak bisa melihat kue tart yang saat ini dipegang didepan dadanya.
"Sayang, sedang apa?"
Bry berjalan mendekati Vara dengan tatapan heran, sedangkan Vara melirik jam yang terdapat di tab-nya.
'Aduh, kenapa waktunya tidak juga berubah. Padahal kan tadi hanya tinggal 1 menit lagi.' Suara hati Vara berteriak tidak sabar.
Jantung Vara berdetak lebih cepat karena khawatir kejutannya akan gagal, khawatir Bry mengetahui rencananya sebelum jam 12 malam. Waktu menunjukan angka 00.00, bersamaan dengan Bry yang sudah berdiri tepat dibelakang Vara.
Vara membalikan badannya menghadap Bry secara tiba-tiba, membuat Bry spontan menarik mundur tubuhnya karena terkejut.
"Surpriseeeeee... Happy Birthday Honey."
Bry tersenyum setelah menghela nafasnya dengan panjang. Kemudian dirangkulnya bahu Vara dengan sebelah tangan menjaga agar kue tart didepan dada Vara tidak rusak karena tertekan dadanya. Lalu ditiupnya lilin yang berada diatas kue tart itu sampai padam.
"Terima kasih Sayang.."
Dikecupnya puncak kepala Vara dengan lembut, yang dibalas senyum manis Vara yang selalu melelehkan hati Bry.
"Selamat Ulang Tahun Honey.. Semoga selalu sehat, panjang umur, semakin sukses, selalu bahagia dan selalu menjadi suami & ayah yang baik. Aamiin..."
"Aamiin.. Semoga doa-doa kamu dikabulkan Allah ya Sayang, dan aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu dan anak-anak kita. Terima kasih ya Sayang, My Bunny.."
Bry mencubit kedua pipi Vara yang semakin terlihat menggemaskan karena kehamilannya.
"Ih sakit Honey.."
"Kamu benar-benar menggemaskan Sayang.."
"Bilang saja kalau aku gendut."
Vara mengerucutkan bibirnya sambil memalingkan wajahnya.
"Kamu semakin cantik Sayang, aku tidak bohong."
Pipi Vara seketika memerah mendengar pujian Bry, Bry menyimpan kue yang dipegang Vara diatas nakas. Lalu didekapnya tubuh Vara dan diciuminya puncak kepala Vara dengan penuh kasih sayang.
"Semakin hari aku semakin mencintaimu Sayang."
Vara mendongakan kepalanya lalu dikecupnya bibir Bry dengan singkat.
__ADS_1
"Aku juga Honey."
Bry tersenyum, dielusnya pipi Vara yang halus dan terlihat masih merona.
"Oh iya Sayang.. Kamu mau hadiah apa? Berhari-hari aku memikirkan hadiah apa yang sebaiknya aku berikan untukmu, tapi sampai saat ini aku masih belum tahu harus memberimu apa. Sepertinya kamu sudah memiliki semua yang kamu butuhkan, aku benar-benar bingung. Jadi katakan, kamu mau hadiah apa dariku Honey."
Dipegangnya pipi Vara dengan kedua tangan Bry, tatapan mata Bry jatuh tepat di manik mata Vara yang indah.
"Kamu dan anak-anak kita adalah hadiah terindah yang Allah berikan untukku. Aku tidak menginginkan apa-apa lagi. Karena dengan adanya kalian, hidupku terasa sempurna."
Rasa haru menyeruak di hati Vara, air matanya mulai menggenang di kelopak matanya.
"Sayang.. Aku bahagia dan ingin selalu membahagiakan kamu."
Akhirnya air mata Vara menetes mendengar kata-kata manis Bry yang begitu mendamaikan hatinya. Bry mendudukan Vara disamping tempat tidur lalu mendudukan dirinya disebelah Vara yang langsung menyandarkan kepalanya di bahu Bry.
"Oh iya Sayang.. 2 bulan lagi kamu ulang tahun. Kamu mau minta apa dariku?"
Bry menolehkan sedikit kepalanya untuk memandang wajah Vara yang masih menyandarkan kepala dibahu Bry."
"Seperti kamu.. Aku pun tidak mau apa-apa lagi."
"Apa kamu yakin?"
Ada nada menggoda di pertanyaan Bry, tapi Vara seketika menganggukan kepalanya dengan mantap. Tiba-tiba Vara menegakan badannya dan menatap kearah Bry yang balas menatapnya dengan penuh tanya karena sikap Vara.
"Hmm, tapi Sayang tahukah kamu, kalau ulang tahunku bersamaan dengan wisudaku. Bisakah kamu bayangkan aku wisuda dengan perut sangat besar di saat usia kandunganku 8 bulan? Aku sudah lulus sidang sejak 2 bulan yang lalu, tapi wisudaku malah baru akan dilaksanakan 2 bulan lagi. Andai saja wisudaku bisa dilaksanakan saat perutku masih belum terlalu besar. Apa aku tidak perlu ikut wisuda saja Sayang?"
"Wisudamu adalah akhir dari perjuanganmu di masa kuliah. Tentu kamu ingin membuat Mama dan Papa bangga saat melihatmu mengenakan toga. Kita harus bersyukur dengan semua proses ini. Bukankah tahun ini kita begitu banyak mendapat anugerah Sayang? Dimulai dengan pernikahan kita, kehamilanmu, perusahaanku yang semakin maju, karier kita yang semakin bagus, kelulusanmu, ulang tahunku, wisuda dan ulang tahunmu, dan kelak kelahiran kedua anak kita yang begitu kita harapkan. Kita mendapat banyak sekali anugerah setelah semua perjuangan dan pengorbanan yang kita lalui."
"Iya kamu benar Honey.. Kita harus lebih banyak bersyukur dan menikmati semua proses hidup yang kita jalani."
"Iya, kamu benar sekali Sayang. Oh iya, ayo kita makan kuenya."
Vara menganggukan kepalanya, lalu Bry membawa kue tart dengan sebelah tangannya dan sebelah tangannya yang lain mengulur pada Vara yang langsung digenggam oleh Vara.
"Kita makan di pantry saja ya."
"Baiklah.."
Vara dan Bry keluar dari kamar itu menuju dapur untuk menikmati kue ulang tahun Bry. Namun seolah merasa tidak cukup, Vara bukan hanya menghabiskan setengah kue ulang tahun Bry yang setengahnya dihabiskan Bry, tapi juga melanjutkan acara makan lewat tengah malamnya dengan memakan beberapa buah-buahan segar yang ada di lemari es.
Bry hanya tersenyum dan tidak berniat menghentikan apa yang dilakukan istrinya. Kebutuhan makan Vara dan 2 bayinya tentu saja berbeda dengannya, jadi selama makanan yang dimakan Vara baik dan aman, maka Bry akan membiarkannya.
HARI WISUDA & ULANG TAHUN VARA (2 Bulan Kemudian)
Vara menghadiri acara wisudanya ditemani oleh Bry, Mama Irena dan Papa Devan. Kedua orangtua Vara itu merasa bangga sekaligus terharu melihat anaknya bisa lulus dengan IPK yang tinggi sehingga membuat Vara masuk kedalam jajaran Lulusan Terbaik.
Bry pun merasa bangga dan bahagia dengan pencapaian istri tercintanya itu. Tentu saja di hari special Vara ini, Bry sudah menyiapkan begitu banyak kejutan dan hadiah untuk Vara. Kejutannya bukan hanya di tempat wisuda, tapi juga dirumah. Bry memang menyiapkan segala sesuatunya dengan matang, dibantu oleh Kevin dan Daniel.
Setelah melaksanakan semua urutan acara wisuda, Vara keluar dari gedung wisuda dengan perasaan senang sambil menggenggam tangan Mama Irena dan Papa Devan disebelah kanan dan kirinya.
__ADS_1
Namun saat mereka sampai di halaman aula yang dipenuhi banyak wisudawan lain, pandangannya tertumpu pada Bry yang sejak beberapa saat lalu menghilang tanpa kata. Tangan kanan Bry memegang sebuket bunga mawar putih berukuran besar dan tangan kirinya memegang balon-balon berwarna biru.
Hal ini mengundang perhatian orang-orang yang berada disekitar mereka, yang merasa apa yang dilakukan Bry sangat romantis. Sehingga mereka mengeluarkan ponsel mereka untuk mengabadikan moment romantis tersebut.
Vara yang begitu terkejut sekaligus terharu berjalan sedikit cepat kearah Bry. Diambilnya sebuket bunga yang diulurkan Bry, lalu dihirupnya aroma mawar yang wangi dan menenangkan itu.
"Terima kasih Sayang.."
Diciumnya pipi kiri Bry yang langsung dibalas Bry dengan senyuman super manisnya.
"Ayo kita terbangkan balonnya Sayang!"
Vara menitipkan buket bunganya kepada Mama Irena lalu memegang balon yang dipegang Bry dan bersiap-siap menerbangkannya.
"Vara sayang.."
Vara menolehkan wajahnya ke sumber suara, begitupun Bry yang berada disamping Vara. Alangkah terkejutnya mereka karena Mommy Jhena dan Daddy Dave juga datang.
Vara langsung menghampiri dan memeluk kedua mertuanya itu dengan wajah sumringah. Disusul Bry yang juga memeluk kedua orangtuanya itu.
"Mommy.. Daddy.. Terima kasih sudah datang. Aku kira Mommy dan Daddy tidak bisa datang."
"Tentu saja kami akan datang di moment bahagiamu ini, dan Mommy akan berada di Indonesia sampai kamu melahirkan Sayang."
"Wah terima kasih Mom.."
Vara kembali memeluk ibu mertuanya itu dengan erat.
"Sama-sama Sayang."
Setelah mengobrol cukup lama, Vara dan Bry kembali pada aktifitas mereka yang sempat terjeda. Mereka menerbangkan balon yang mereka pegang diiringi banyak harapan dan doa yang terselip didalam hati mereka.
********************************************
Image Source : Instagram (Edited)
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1