
Apa yang dikatakan Bry terasa bagaikan petir yang menyambar hati Vara dan meluluh lantakan luka berbalut yang sudah hampir kering. Pandangan Vara terasa berkunang-kunang, lubuhnya melemas dan nafasnya seketika berubah sesak. Bry hendak menyentuh lengan dan menahan tubuh Vara yang limbung, namun Vara menepis tangan Bry yang sudah hampir menempel di lengannya.
"Katakan semuanya.. Jangan pernah berbohong lagi."
Mata Vara mulai berkaca-kaca, namun sebisa mungkin dia menahan perasaannya untuk mendengar cerita buruk dari Bry.
"Waktu itu aku pulang bekerja, saat tiba-tiba ada 3 mobil yang mengikutiku dari belakang. Mereka menembakiku dengan membabi buta. Aku menghubungi Kevin untuk melacak posisiku dan memintanya agar Daniel mengirimkan bantuan untukku. Saat itu aku berusaha menghindari tembakan, namun lenganku terserempet saat itu."
Bry menarik nafasnya sejenak, mengumpulkan keberanian juga menahan perasaannya yang saat ini terasa akan meledak. Vara menarik nafasnya menahan air matanya yang sudah tidak sabar hendak menerobos keluar, namun Vara berusaha untuk tidak membiarkannya jatuh.
"Daniel, Kevin dan beberapa anak buahku datang memberi bantuan. Sehingga terjadilah baku tembak antara orang-orang yang mengejarku dengan anak buahku. Aku mengendarai mobil sesuai arah yang ditunjukan Daniel dan Kevin yang mengikutiku dari belakang. Namun aku kehilangan konsentrasi karena rasa sakit pada luka di lenganku. Tiba-tiba aku mengambil arah yang salah, sehingga membelokan mobilku ke arena balap liar.."
Air mata Vara sudah mulai menetes di pipinya. Vara sudah mulai bisa menebak bahwa cerita tentang kejadian buruk yang menimpa Arya sebentar lagi akan keluar dari mulut Bry.
"Baku tembak terus terjadi. Tiba-tiba terjadi kecelakaan dimana sesama pembalap liar saling bertabrakan. Hal ini disebabkan karena salah satu pengendara motor itu.. tertembak."
Vara seketika menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tangisnya yang sempat tertahan seketika pecah. Sesekali digigit bibirnya menahan rasa sakit dihatinya juga teriakan yang ingin sekali dia keluarkan saat ini. Meskipun sebenarnya tidak masalah, karena Private Room ini di design kedap suara, sehingga tidak akan menimbulkan keributan ke luar ruangan.
Bry bergerak menghampiri dan merangkul tubuh Vara dengan erat. Vara meronta sekuat tenaga hendak melepaskan diri, namun Bry tidak mau melepaskan pelukannya meskipun Vara memukul punggungnya sekuat tenaga, mendorong dadanya dengan kedua tangannya, bahkan mencakar juga menancapkan kuku panjangnya pada lengan dan punggung Bry dengan sangat kuat. Tapi Bry tidak peduli dengan rasa sakit di tubuhnya, karena menyadari hati Vara lebih merasa sakit saat ini.
"Maafkan aku Sayang.. Tolong maafkan aku.."
__ADS_1
Tangis Vara semakin keras berubah menjadi raungan pilu yang semakin menyesakan dada Bry.
"Sayang.. Aku bersalah.. Kamu boleh menghukum aku, tapi tolong jangan pernah tinggalkan aku Sayang."
Setelah menangis lebih dari setengah di dalam dekapan Bry, tubuh Vara lemas. Tangannya pun sudah tidak kuat untuk meronta, memukul atau melakukan apapun untuk lepas dari pelukan Bry. Tangisnya masih terdengar pilu membuat Bry semakin merasa bersalah dengan keadaan kekasihnya saat ini.
"Tolong lepaskan aku. Aku mau pulang."
Bry melepaskan pelukannya. Diambilnya beberapa lembar tissue lalu diberikannya pada Vara yang lamgsung diterimanya untuk membersihkan sisa-sisa air mata di wajahnya sudah sangat berantakan.
"Aku antar pulang ya. Aku tidak bisa membiarkanmu menyetir dalam keadaan seperti ini."
Pandangan Bry terlihat sangat khawatir, dia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada kekasihnya.
Vara berdiri mengambil tasnya kemudian membuka pintu Private Room itu.
"Aku sudah membayarnya."
Perkataan Vara menghentikan Bry yang hendak mengeluarkan Black Card-nya, saat pelayan masuk ke Private Room itu. Lalu Bry mengikuti langkah Vara menuju parkiran Restaurant S.
Vara hendak masuk ke dalam mobilnya, saat Bry menahan tangan kanannya.
__ADS_1
"Sayang.. Kamu berhak marah, aku pantas dibenci. Aku siap menerima hukuman apapun darimu, tapi tolong jangan pernah ragukan perasaanku padamu. Aku begitu mencintaimu, tolong jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku."
Bry merengkuh kepala Vara dan mendekap tubuh Vara begitu erat. Air mata yang menggenang di sudut matanya mulai turun membasahi pipinya, seiring nafas sesak karena menahan perasaan sakitnya yang hendak meluap.
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1