Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 17 Aku Juga Mencintaimu


__ADS_3

Bry masih sibuk dengan Kevin dan Daniel di ruangan kantornya. Padahal jam tangannya sudah menunjukan jam 10 malam. Masalah kali ini memang menguras tenaga, pikiran dan emosi mereka bertiga. Bry mengambil handphone-nya yang sejak siang dia lupakan. Bry menatap handphone-nya dengan ekspresi tidak percaya. Nama Vara terpampang jelas di layar handphone dengan 3 kali panggilan tidak terjawab. Bry merutuki kebodohannya yang sudah mematikan dering handphone-nya. Bry menyambar jas dan tasnya dengan tergesa-gesa.


"Kamu mau kemana?" Daniel mengerutkan keningnya. Kevin yang sedang menguap langsung mengarahkan pandangannya ke arah Bry.


"Aku harus menemui Vara. Temukan orang-orang itu. Laporkan padaku kalau kalian sudah menemukannya." Kevin dan Daniel menggeleng-gelengkan kepala mereka, lalu melanjutkan kembali pekerjaan mereka.


Bry melajukan mobil sportnya ke arah rumah Vara. Bry tidak peduli kalau Vara akan keheranan, karena Bry tahu alamat rumahnya. Yang terpenting saat ini, Bry dapat menemui gadis yang dicintainya.


Bry menghentikan mobilnya didepan rumah Vara. Bry mencoba menelpon Vara sambil melihat ke arah sebuah ruangan dengan lampu menyala terang di lantai 2. Tentu saja Bry mengetahuinya karena sudah beberapa kali mengikuti Vara dan melihatnya berdiri di balkon sambil melihat ke arah halamannya yang luas. Saat ini, meskipun jarak antara kamar Vara dan mobil Bry jauh, tapi Bry masih bisa melihat Vara yang bergerak mondar-mandir, karena posisi Vara tepat di dekat jendela kamarnya.



"Hallo Bry.." Suara Vara terdengar sangat antusias saat menjawab telepon Bry. Tak sadar Bry melengkungkan senyumnya.


"Kamu belum tidur?" Bry memperhatikan Vara yang tidak henti-hentinya bergerak mondar-mandir.


"Aku belum mengantuk."


"Tapi ini kan sudah malam. Tidurlah."


"Tidak. Aku mau menonton drama Korea." Bry tertawa.


"Kenapa kamu menonton drama Korea. Lebih baik kamu menontonku. Oppa Korea yang real." Vara tertawa dengan keras.


"Baiklah.. Bry Oppa." Jawab Vara dengan nada yang sangat lembut.


"Bisakah kamu mengatakannya lagi? Aku suka mendengarnya." Vara diam tapi tetap bergerak kesana kemari, membuat Bry lelah melihatnya.


"Vara.. Bisakah kamu berhenti mondar-mandir seperti itu." Vara seperti menyadari sesuatu. Vara berlari keluar menuju balkon kamarnya, dilihatnya mobil sport Bry terparkir di sebrang rumahnya. Bry senang akhirnya bisa melihat Vara, meskipun dari kejauhan. Tapi kemudian Vara masuk kedalam membuat Bry sedikit kecewa. Bry tidak tahu, kalau Vara yang hanya memakai piyama langsung berlari hendak menemui Bry.


Dengan nafas terengah-engah, Vara mengetuk kaca mobil Bry. Bry yang terkejut melihat Vara, langsung membuka kaca mobilnya.


"Vara, kenapa kamu keluar? Ini sudah malam. Hmm.. masuklah ke mobil." Lalu Vara masuk ke dalam mobil Bry tanpa mengatakan apapun. Setelah duduk, Vara baru menyadari pakaian dan penampilannya. Piyama bergambar kartun, wajahnya yang tanpa make-up, bahkan Vara masih memakai sandal bulu kesukaannya.


"Ah.. Aku malu, kenapa aku menemuimu seperti ini?" Bry tertawa.

__ADS_1


"Apa yang salah Sayang? Kamu selalu cantik.." Bry menatap Vara dengan tatapan tulusnya. Wajah Vara merona, terlebih karena Bry memanggilnya "sayang".


"Bry kenapa kamu kesini malam-malam?"


"Maafkan aku, tadi aku sangat sibuk. Sampai melupakan handphone-ku. Aku langsung kesini saat tahu kamu menelponku."


"Tapi dari mana kamu tahu alamat rumahku?" Bry tersenyum jahil.


"Maafkan aku.. Aku pernah mengikutimu pulang." Vara langsung cemberut mendengar jawaban Bry.


"Maafkan aku Sayang.." Bry memohon dengan nada manja, membuat Vara semakin tersipu.


"Bry, jangan panggil Sayang ah."


"Kenapa tidak boleh?" Ada nada kecewa di dalam pertanyaan Bry.


"Karena kan kita belum pacaran." Bry membelalakan matanya karena terkejut.


"Kalau begitu maukah kamu jadi pacarku? Agar aku bisa memanggilmu Sayang.." Vara menatap manik mata Bry yang indah. Vara melihat ada ketulusan disana. Mungkin inilah saatnya. Vara tidak ingin lagi membohongi dirinya sendiri.


"Terima kasih Vara." Bry lalu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Vara dengan lekat.


"Vara, aku mencintaimu." Vara mengembangkan senyum manisnya.


"Aku juga mencintaimu Bry." Bry benar-benar merasa bahagia dengan apa yang dikatakan Vara. Bry bahagia karena Vara sudah bisa jujur dengan perasaannya sendiri.


Perlahan Bry memegang kedua bahu Vara, lalu mencium kening Vara dengan sangat lembut. Ada rasa haru dan bahagia di hati Vara.


"Vara, tolong beri aku kesempatan untuk selalu membuat kamu tersenyum. Dan tolong jangan tinggalkan aku, meskipun aku tidak sebaik yang kamu pikir. Aku benar-benar mencintai kamu." Vara tersenyum, lalu memegang sebelah pipi Bry.


"Iya Bry.." Tapi tiba-tiba ekspresi Vara berubah kesal.


"Kenapa Sayang?" Bry terlihat kebingungan, dia khawatir ada yang salah dari perkataannya, atau bahkan Vara berubah pikiran setelah menerima cinta Bry.


"Kenapa kita pacaran dengan cara seperti ini? ย Sangat tidak romantis. Dan penampilanku benar-benar merusak suasana." Vara merengek seperti anak kecil, Bry tertawa dengan lepas.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Sayang.. Nanti kita buat perayaan ya. Dinner di tempat romantis." Vara menganggukan kepalanya dengan cepat. Bry kembali tertawa. Perlahan Bry memeluk Vara dan mencium bibir Vara dengan lembut dan cukup singkat.


"Masuklah, ini sudah terlalu malam."


"Baiklah." Meskipun Vara merasa berat berpisah dengan Bry saat ini, tapi dia harus masuk sebelum kedua orangtuanya sadar kalau anak gadisnya tidak ada di rumah.


Bry keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Vara. Vara tersenyum merasa seperti putri berpiyama.


"Masuklah Sayang..Langsung tidur ya. Jangan mondar-mandir terus." Kata Bry sambil mencubit pipi Vara.


"Ih kamu..sakiiiit.." Vara mengelus-elus pipinya. Tiba-tiba Bry mencium pipi Vara yang sudah kemerahan karena dicubitnya.


"Biar tidak terlalu sakit ya. Masuklah." Vara membalikan badannya, lalu berjalan dengan cepat kedalam rumahnya. Vara segera berlari menuju balkon kamarnya untuk kembali melihat Bry di sebrang rumahnya.


Bry melambaikan tangannya sambil tersenyum, lalu tidak lama langsung masuk kedalam mobilnya. Karena Bry tahu, Vara tidak akan masuk kedalam kamarnya, jika dia masih disana. Bry membuka kaca mobilnya dan melihat ke arah balkon kamar Vara. Dan benar, Vara masih setia menunggunya disana. Bry tersenyum dan melambaikan tangannya lagi. Perlahan Bry menjalankan mobilnya menuju apartmentnya.


Vara akhirnya masuk ke kamar, berusaha memejamkan matanya. Meskipun akhirnya, yang dilakukan Vara hanya senyum-senyum mengingat kejadian tadi.


*************************


Image Source : Google


ใ€€


ใ€€


ใ€€


Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.


Biar Author tambah semangat nulisnya ๐Ÿ˜Š


Terima Kasih banyak atas dukungannya..


ใ€€

__ADS_1


ใ€€


__ADS_2