Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 47 Tersenyumlah


__ADS_3

Vara melangkahkan kakinya menuju dapur dan mendapati Bi Rahmi tampak sedang sibuk membuat puding cokelat kesukaan Vara.


"Wah.. Puding cokelat ya Bi?" Bi Rahmi yang baru saja selesai menuang puding di cetakan tampak terkejut, kemudian langsung berlari kecil menghampiri Vara.


"Non Vara semalam menginap dimana? Bibi sama Pak Rahman khawatir."


"Maaf Bi, Vara menginap di rumah Vanny. Tadi pagi-pagi baru Bry jemput dan mengantar Vara pulang." Vara kembali berbohong agar Bi Rahma tidak khawatir dengan keadaannya.


"Oh begitu Non. Lain kali tolong bilang dulu ya Non kalau mau menginap di rumah teman, Bibi khawatir. Bibi juga takutnya Ibu dan Bapak menelpon dan menanyakan Non."


"Iya Bi.. Maaf ya Bi. Tapi saya sudah membalas pesan Mama kok Bi. Saya sudah bilang kalau semalam saya menginap di rumah Vanny."


"Iya Non, syukurlah kalau begitu." Vara tersenyum melihat Bi Rahma yang selalu perhatian dengan keadaannya.


"Non, mau Bibi siapkan puding cokelat & susu hangat?"


"Iya Bi, tolong sekalian siapkan juga buat 3 orang tamu saya, dan 3 Caffe Latte instan ya. Terima kasih Bi.."


"Baik Non.. sama-sama Non.." Bi Rahma menjawab sambil mengembangkan senyumnya lalu segera menyiapkan permintaan Vara.


Vara melangkah menuju kamarnya, melewati ruang tamu dimana Bry, Kevin dan Daniel duduk bersantai. Ketiganya tampak sibuk dengan gadgetnya masing-masing.


Bry yang menyadari Vara hendak menaiki tangga, langsung menghampiri kekasihnya itu. Vara memandang Bry yang terlihat sangat khawatir.


"Sayang, aku simpan tas dulu ya ke kamar."


"Aku boleh ikut?"


Bry tidak ingin meninggalkan Vara di dalam ruangan sendirian. Bry masih takut kejadian semalam akan terulang lagi. Dimana Vara mengunci diri di kamar mandi dan berniat mengakhiri hidupnya sendiri. Dan Vara memahami kekhawatiran kekasihnya itu.

__ADS_1


"Baiklah, kamu boleh ikut. Tapi hanya boleh berdiri diluar kamar. Aku hanya akan menyimpan tas saja." Senyum manis terurai dari wajah Bry yang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Bukan hanya karena bisa menjaga Vara, tapi juga karena bisa melihat kamar dimana kekasihnya memghabiskan sebagian besar waktunya di rumah.


"Vara.. Maaf bolehkan kami meminjam kamar mandi? Kami perlu membersihkan diri dan berganti pakaian. Meskipun sudah mandi tapi kami tidak sempat berganti pakaian saat di mansion Satya." Perkataan Kevin menghentikan langkah Vara dan Bry yang baru saja akan menaiki tangga.


Kevin dan Daniel memang disediakan kamar untuk mereka mandi dan beristirahat selama di mansion Satya. Tapi mereka merasa tidak cukup sopan jika mengganti pakaian formal mereka dengan hanya kaos dan celana jeans. Mereka merasa perlu menampilkan sikap profesional sebagai orang kepercayaan Bry di depan Satya dan anak buahnya. Berbeda dengan Bry yang tidak memperdulikan itu, dan bahkan sudah mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek sejak semalam. Dan tadi pagi setelah ikut mandi di kamar yang ditempati Vara, Bry mengganti bajunya dengan kaos dan celana jeans robek yang sama-sama  menampilkan kesan santai.


"Silahkan.. Kalian bisa menggunakan kamar tamu di sebelah kanan untuk membersihkan diri, dan kalian juga bisa beristirahat jika merasa lelah." Vara mengulas senyumnya ke arah Kevin dan Daniel.


"Terima kasih Vara, mungkin kami juga memang perlu merebahkan sebentar tubuh kami." Kevin menjawab perkataan Vara dengan senyum sumringahnya.


"Terima kasih Vara." Daniel ikut menimpali perkataan Kevin kepada Vara.


"Iya sama-sama.."


Vara lalu mengarahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya, diikuti oleh Bry. Sedangkan Kevin dan Daniel sudah memasuki kamar yang ditunjukan Vara setelah sebelumnya mengambil baju ganti di mobil dengan secepat kilat.


Bry langsung masuk ke dalam kamar tanpa meminta izin Vara. Vara yang menyadari masuknya Bry ke dalam kamar, mengarahkan pandangannya ke arah Bry yang sedang menurunkan photonya bersama sahabat-sahabatnya. Bry juga mengambil beberapa photo Vara dan sahabat-sahabatnya yang dipajang diatas meja. Bry lalu turun dan membawa photo-photo itu ke mobilnya, lalu secepat kilat kembali naik ke kamar Vara.



Vara terlihat muram dengan posisi duduk diatas tempat tidur sambil menumpukan kepalanya diatas bantal, saat Bry kembali memasuki kamar Vara. Bry menumpukan kedua lututnya di atas permadani, tepat di depan Vara yang sedang duduk. Perlahan Bry menggenggam kedua tangan Vara dan mengecup kedua punggung tangan Vara dengan sangat lembut.


"Aku mencintaimu, Sayang. Tersenyumlah.." Vara mengulas senyum tipisnya.


Bry melepaskan genggaman tangannya, lalu berdiri dan ikut duduk di sebelah Vara. Vara menyandarkan kepalanya di bahu Bry yang kokoh. Namun sesaat kemudian menengadahkan wajahnya ke arah Bry.


"Terima kasih Sayang, untuk semua hal yang sudah kamu lakukan untukku."


Perkataan Vara terdengar sangat tulus menyiratkan perasaan terdalamnya pada kekasihnya itu. Bry yang merasa sangat bahagia mendengar perkataan Vara, mengelus pipi kiri Vara dengan tangan kanannya.

__ADS_1


"Terima kasih juga karena ada disampingku saat ini. Berjanjilah untuk tidak akan pernah meninggalkanku dan menyakiti dirimu sendiri."


"Iya, aku berjanji."


Bry mengecup puncak kepala Vara, lalu beralih ke kening, hidung dan berakhir mengecup bibir Vara dengan sangat lembut. Vara dan Bry saling menatap sambil tersenyum.


"Bry, ayo kita turun. Tidak baik berlama-lama di kamar berduaan."


Bry hanya mengangguk kemudian mengikuti Vara yang berjalan keluar kamar. Mungkin dalam situasi yang biasa, Bry akan menggoda Vara dengan candaan-candaan nakal. Namun kali ini Bry memilih menjaga mulutnya, karena takut Vara yang sedang sensitif akan berpikir Bry adalah laki-laki bejat yang suka memanfaatkan kesempatan.


*****************************


Image Source : Instagram


 


 


 


Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.


Biar Author tambah semangat nulisnya 😊


Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..


 


 

__ADS_1


__ADS_2