
Selepas mandi, Vara dan Bry memutuskan untuk makan malam di kamar saja dengan memesan makanan favorit mereka melalui layanan kamar. Malam ini mereka cukup lelah, karena Bradley dan Briley sangat rewel setelah ditinggal beberapa jam oleh kedua orangtuanya. Tapi hal itu cukup melegakan bagi Bry, karena Vara sedikit teralihkan dari keinginannya melihat keadaan Sharon.
Senyum Bry mengembang, melihat Vara yang begitu lahap memasukan makanan kedalam mulutnya. Sejak menyusui, memang Vara memiliki nafsu makan yang lebih besar. Tentu saja hal itu melegakan bagi Bry. Karena kebutuhan nutrisi dari Vara, dan kedua anaknya bisa terpenuhi dengan baik.
Vara duduk di sofa dengan menyandarkan kepalanya sambil mengelus perutnya yang penuh. Tawa kecil Bry lolos memperhatikan istrinya yang kekenyangan.
"Kenyang Sayang?"
"Iya Honey, perutku penuh."
Bry mendekati Vara dan memijat kedua lengan Vara.
"Eh.. Tidak usah Honey, tanganku tidak pegal kok."
Senyum manis Bry terulas di wajahnya yang tampan.
"Tidak apa-apa, biar badanmu rileks saja, agar kamu bisa tidur nyenyak malam ini."
Vara mengembangkan senyumnya sambil mengusap pelan pipi Bry.
"Terima kasih Honey, aku memang cukup lelah hari ini."
Vara merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur setelah lebih dari setengah jam dipijat sambil berbincang dengan Bry.
Bry memeluk tubuh Vara dan mendekapnya erat, menyalurkan kehangatan dan ketenangan pada istrinya itu. Hanya perlu beberapa menit saja, sampai akhirnya Vara terlelap dalam dekapan Bry. Bry tersenyum lalu mengecup pelan kening Vara, berusaha untuk tidak mengganggu tidur Vara yang lelap.
'Selamat tidur Sayang, istirahatkan tubuh dan pikiranmu. Berhentilah memikirkan sesuatu yang akan membuatmu sedih dan khawatir. Aku akan selalu ada disini bersamamu.' Batin Bry.
******************************
Sementara itu di kamar Brandon, Sharon masih belum bangun dari tidur lelapnya. Brandon sudah makan malam dan menyiapkan banyak makanan juga, jika nanti Sharon terbangun nanti.
Brandon memilih naik keatas tempat tidur dan merebahkan dirinya disamping Sharon. Dengan sangat pelan & hati-hati, didekapnya tubuh Sharon kedalam pelukannya yang hangat. Dikecupnya kening Sharon tanpa berniat membangunkan Sharon dari tidurnya. Namun kehangatan bibir Brandon yang mendarat di keningnya, ternyata cukup membuat Sharon terganggu. Sehingga kini Sharon mulai membuka matanya perlahan.
Brandon yang memejamkan matanya hendak menyusul Sharon untuk tidur, tidak menyadari bahwa Sharon sudah terbangun. Sharon sedikit mendongakan kepalanya dan menatap wajah Brandon dengan sendu.
Kesedihan seketika menyeruak dihatinya, mengingat kejadian buruk tadi siang. Pikirannya mulai jelas mengingat dirinya yang diculik oleh partner bisnis Brandon, dibawa ke hotel dan dilecehkan dengan sangat kejamnya. Namun Sharon bersyukur, Brandon tidak datang terlambat menyelamatkannya. Sharon masih dalam keadaan setengah sadar, saat melihat Brandon menghajar orang yang hampir saja memperkosanya.
Air mata Sharon lolos membasahi pipinya, Sharon menahan isakannya agar Brandon tidak mengetahui dirinya tengah menangis. Tapi tubuh Sharon yang bergetar membuat Brandon seketika membuka matanya.
"Sharon.. Syukurlah, kamu sudah bangun."
Brandon mencium kembali kening Sharon dengan sangat lembut.
"Sharon, maafkan aku yang membuatmu mengalami hal seburuk ini. Karena aku, kamu jadi celaka."
Air mata jatuh di pipi Brandon, tanpa bisa ditahannya. Sharon menggelengkan kepalanya tanpa menjawab.
"Mungkin ini karma untukku, aku pernah melakukan hal yang sama kepada Vara. Dan saat ini Tuhan menghukumku dengan membuat seseorang yang aku cintai mengalami hal yang sama. Tapi kenapa harus kamu yang menderita? Apa memang Tuhan ingin aku tersiksa dengan melihatmu terluka?"
Isakan Brandon pecah, perasaan yang ditahannya kini meluap begitu saja. Sharon menghapus air mata Brandon dengan ibu jarinya, lalu mengecup kedua mata Brandon yang tertutup.
"Berhenti menyalahkan dirimu Brandon, aku bersyukur kamu datang menyelamatkanku sebelum terlambat. Terima kasih."
"Maafkan aku Sharon, aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungimu. Aku tidak akan membiarkanmu mengalami hal buruk lagi, apapun itu."
Sharon tersenyum tipis dengan matanya yang sendu.
"Buktikan..!!"
__ADS_1
Nada datar yang keluar dari mulut Sharon, sukses membuat Brandon terkejut. Namun sesaat kemudian Brandon menatap manik mata Sharon dengan ekspresi yang sangat serius.
"Sharon menikahlah denganku. Aku ingin menikahimu secepatnya."
Sharon yang sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Brandon, berusaha menguasai dirinya.
"Aku mau. Kapan kamu akan menikahiku?"
Brandon membelalakan matanya mendengar pertanyaan Sharon. Namun giliran Sharon yang membulatkan matanya saat mendengar jawaban Brandon.
"Besok aku akan menyampaikan maksudku kepada keluargamu, jika mereka mengizinkan, aku akan menikahimu 3 hari lagi."
************************
Keesokan harinya Bry, Vara dan seluruh keluarga juga sahabat-sahabatnya menikmati sarapan bersama-sama di Private room di restaurant resort itu. Suasananya sangat hangat dan ramai. Mereka tidak berhenti bercanda dan tertawa.
Brandon dan Sharon muncul dan menghampiri mereka dengan wajah penuh senyuman dan tangan yang saling menggenggam. Hal ini menarik senyum kelegaan semua orang yang melihat jelas keadaan mereka yang baik-baik saja, bahkan terlihat sangat bahagia.
Brandon menarik kursi untuk Sharon duduk, dan langsung menikmati sarapan saat pesanan mereka datang.
Di sela-sela sarapannya, Brandon sesekali memegang tangan Sharon dengan sangat lembut, dan dibalas senyum manis di wajah cantik Sharon. Hal ini, tentu saja menarik perhatian semua orang yang berada di meja itu.
Setelah selesai sarapan, Papa Devan yang sejak tadi ikut memperhatikan tingkah Brandon dan Sharon mulai bertanya.
"Brandon.. Apa kamu serius dengan Sharon?"
Pertanyaan Papa Devan yang to the point, cukup mengejutkan semua orang tapi tidak bagi Brandon.
"Saya sangat serius Om.."
Papa Devan menganggukan kepalanya mendengar jawaban Brandon. Papa Devan cukup lama mengenal Brandon sebagai sahabat Vara, jadi dia sudah hapal sifat Brandon yang sangat penyayang dan selalu melindungi. Kali ini pun Papa Devan melihat keseriusan di wajah Brandon, sehingga dia tidak perlu khawatir dengan Sharon yang mungkin akan tersakiti jika Brandon hanya menjadikan Sharon sebagai pelampiasan.
Brandon menggenggam tangan Sharon dan meletakannya diatas pahanya.
"Saya meminta izin Om dan Tante sebagai pengganti orangtua Sharon, untuk menikahi Sharon lusa nanti."
Semua orang diam mematung, terkejut dengan apa yang mereka dengar.
"Kenapa kamu tiba-tiba memutuskan hal ini?"
Seolah bisa membaca arah pikiran Papa Devan, Brandon langsung memberi penjelasan untuk menghindari kesalahpahaman.
"Tolong Om tidak berpikir macam-macam tentang kami. Kami tidak melakukan kesalahan yang membuat kami harus segera menikah. Saya memang mencintai Sharon. Dan saya ingin selalu bersamanya juga melindunginya setiap saat. Terlebih beberapa hari lagi, kami akan kembali ke Korea. Saya ingin kami sudah dalam ikatan pernikahan saat itu, sehingga saya bisa menjaga Sharon sepenuhnya di Korea. Tolong restui kami."
Papa Devan melihat kesungguhan di mata Brandon, tidak ada sedikitpun keraguan disana. Semua orang pun merasakan hal yang sama. Terlebih saat mereka mendengar kata "mencintai Sharon" dari mulut Brandon, terselip rasa lega dan bahagia di hati mereka.
Mama Irena tersenyum kearah Brandon dan Sharon yang terlihat sangat gugup dan tidak sabar mendengar jawaban dari Papa Devan dan Mama Irena.
"Sebelum kami menjawab, kami ingin tahu perasaanmu Sharon. Apa kamu bersedia menikah dengan Brandon? Dan Brandon ingin menikahimu lusa, bukankah itu terlalu cepat?"
Sharon tersenyum lembut kearah Mama Irena.
"Tante, kami hanya ingin menikah secara agama dengan acara yang sederhana, dan sesampainya di Korea kami akan langsung mendaftarkan pernikahan kami. Kehadiran Om, Tante, Kak Reyvan, Vara dan semuanya sudah cukup bagi kami. Nanti keluarga Brandon juga akan datang untuk menghadiri pernikahan kami."
Mama Irena mulai berkaca-kaca, anak dari kakak suaminya itu sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Rasanya sedikit berat melepas Sharon untuk menikah. Tapi Mama Irena yakin, Sharon akan lebih aman jika kembali ke Korea dalam keadaan sudah menikah. Terlebih Mama Irena sangat yakin Brandon akan menyayangi dan melindungi Sharon dengan sepenuh hati.
Papa Devan dan Mama Irena sejenak berpandangan seolah sedang bertukar pendapat mempertimbangkan keputusan apa yang akan mereka buat. Lalu arah pandangan mereka kembali beralih pada Brandon dan Sharon.
"Kami merestui kalian.. Menikahlah jika itu memang keputusan kalian."
__ADS_1
Senyum bahagia seketika terpancar dari wajah Brandon dan Sharon, begitupun semua orang yang sejak tadi menunggu keputusan Papa Devan dan Mama Irena dengan tidak sabar.
Brandon menghampiri dan memeluk Papa Devan. Sedangkan Sharon masih duduk ditempatnya, menahan tangis haru dan syukur yang menyeruak melewati kelopak matanya. Vara menghampiri dan memeluk tubuh Sharon, diikuti Vanny dan Danila.
Mommy Jhena yang menangis tersedu-sedu melihat pemandangan dihadapannya, sedang ditenangkan oleh Daddy Dave.
Reyvan, Bry, Kendric, Daniel, Kevin dan Samuel berpandangan dan mengulas senyum. Mereka lega, karena kedepannya tidak akan lagi ada drama cinta yang rumit diantara Bry, Vara, Brandon dan Sharon. Karena kini, Brandon sudah menemukan seseorang yang dicintai dan mencintainya.
"Terima kasih banyak, Om sudah merestui kami."
Brandon memeluk Papa Devan dengan air mata yang sudah menetes di pipinya. Papa Devan menganggukan kepala sambil menepuk bahu Brandon.
"Jaga Sharon baik-baik.."
Brandon mengangguk dengan mantap, pelukannya beralih pada Mama Irena yang sudah menangis karena rasa haru.
"Terima kasih Tante, aku akan menjaga Sharon dengan baik."
Mama Irena menganggukan kepala dengan menahan tangisnya sekuat tenaga.
Vara, Vanny dan Danila melepas pelukan mereka dan membiarkan Sharon mendekati Papa Devan dan Mama Irena. Sharon menghambur, memeluk keduanya dan menangis tersedu-sedu.
"Terima kasih Om.. Tante.. Karena menyayangi dan menjaga Sharon selama ini. Terima kasih sudah menjadi orangtua untuk Sharon. Aku mencintai Om dan Tante.."
Tangis haru kembali pecah di ruangan itu, bahkan kini Vara sudah sesenggukan di dada Bry.
Tiba-tiba Brandon mendekati Vara dan Bry dengan memasang senyum tipis. Brandon meminta Bry dan Vara untuk berbicara dengannya di pojok ruangan, agar tidak ada yang bisa mendengar mereka.
"Vara, aku minta maaf atas semua kesalahan yang telah aku lakukan padamu. Maafkan aku, karena belum meminta maaf dengan benar. Aku sadar, aku sudah terlalu banyak menyakitimu. Tolong maafkan segala kesalahanku. Aku ingin memulai kehidupan bahagia dengan Sharon, dan aku membutuhkan maafmu sebelum melakukannya."
Vara tersenyum menatap Brandon, digenggamnya tangan Brandon.
"Aku sudah memaafkanmu. Aku mendoakan yang terbaik untukmu dan Sharon. Berbahagialah dengan Sharon."
"Terima kasih banyak Vara. Semoga kamu dan Bry juga selalu bahagia."
Vara mengangguk dan mengulas senyumnya. Brandon melepas genggaman tangan Vara karena Bry terus saja melihat kearah genggaman tangan mereka.
"Bryllian.. Terima kasih kamu telah membantuku menyelamatkan Sharon. Aku juga minta maaf karena sudah melakukan banyak hal buruk terhadap Vara. Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengganggu Vara lagi, karena aku sangat mencintai Sharon."
Bry menyunggingkan senyumnya, lalu tanpa aba-aba langsung memeluk Brandon dan menepuk-nepuk punggung Brandon.
"Aku turut bahagia, Brandon.."
"Terima kasih Bryllian.."
Senyum bahagia menghiasi semua wajah di ruangan itu. Terselip banyak doa agar kebahagiaan selalu menyertai mereka semua, dan kebersamaan ini akan menjadi awal kebahagiaan-kebahagiaan yang lainnya.
**********************************
Terima kasih banyak sudah mampir di novel ini. Semoga selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. 😊
#staysafe #stayhealthy
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1