Star On A Dark Night

Star On A Dark Night
Episode 105 Kembali Bersama


__ADS_3

Vara terbangun dari tidur singkatnya, tapi badannya tertahan lengan kekar Bry yang memeluknya begitu erat dari belakang. Bry menempelkan dada dan perutnya ke punggung Vara seakan tidak rela ada jarak diantara tubuh mereka yang masih polos.


Vara berusaha melepas tangan Bry dari tubuhnya, namun usahanya sia-sia karena Bry malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Honey, aku mau mandi."


"Nanti saja, ini kan weekend, kita bermalas-malasan saja ditempat tidur ya."


"Ah kamu.. Aku mau mandi, sebentar saja Honey."


Bry tidak menjawab, fokusnya malah tertuju pada tengkuk dan punggung Vara yang terlihat menggoda.


'Kalau aku minta lagi 1 ronde, boleh tidak ya?' Batin Bry.


Bry menyelusupkan kepalanya di ceruk leher Vara dan mengelus perut Vara dengan sangat lembut.


"Aku mual Honey.. Aku mau muntah."


Bry melepas pelukannya lalu mendudukan tubuhnya seketika, sedangkan Vara segera berlari ke kamar mandi.


Vara memuntahkan isi perutnya kedalam closet, Bry yang menyusul ke kamar mandi segera mengelus-elus tengkuk Vara agar memudahkan Vara mengeluarkan isi perutnya.


Bry sama sekali tidak merasa jijik melihat isi perut Vara yang keluar lewat muntahannya. Bry lebih mengkhawatirkan keadaan istrinya saat ini, yang terlihat begitu pucat dengan butiran keringat dingin yang tiba-tiba muncul di dahinya. Bry mengelap keringat di dahi Vara dengan handuk kecil yang dia ambil di laci meja kamar mandi, tanpa melepas tangan lainnya dari tengkuk Vara.


Perlu waktu lebih dari 15 menit untuk membuat perut Vara kembali merasa nyaman. Bry memapah tubuh Vara menuju tempat tidur dan merebahkan tubuh Vara diatas tempat tidur.


Bry lalu menuju dapur, mengambilkan segelas air hangat untuk Vara.


"Sayang minumlah.. Apa setiap pagi, kamu selalu mual dan muntah-muntah seperti ini?"


Vara mengangguk pelan sambil meneguk segelas air hangat yang diberikan


Bry. Wajah Bry muram seketika melihat anggukan Vara. Vara kemudian menyerahkan gelasnya kepada Bry yang langsung menyimpannya diatas nakas.


"Maafkan aku.. Selama sebulan ini, kamu melewati semuanya sendirian. Maafkan aku Sayang!"


Bry menatap Vara dengan tatapan bersalah, tapi Vara menggelengkan kepalanya seraya tersenyum manis.


"Ini salahku, aku yang memilih melewati semuanya sendirian tanpa kamu, aku yang egois. Maafkan aku Honey!"


Bry memeluk Vara dan mengelus punggung Vara untuk menenangkan.


"Sayang.. Kita tidak usah membahas lagi siapa yang salah ya, yang penting sejak saat ini kita akan melewati semuanya bersama-sama. Aku akan selalu ada disampingmu dan menemanimu menjalani kehamilanmu."

__ADS_1


"Iya Honey.."


Bry melepaskan pelukannya dan tersenyum kearah Vara, begitupun Vara yang membalas dengan senyuman bahagianya.


"Kamu mau makan apa? Biar aku pesankan."


Bry bertanya sambil mengelus lembut rambut Vara.


"Aku mau makan chocolate cake di cafe bawah Honey."


"Ya sudah. Ayo kita kesana sekarang."


Jawab Bry seraya beranjak dari duduknya, tapi perkataan Vara menghentikan niatnya.


"Kita mandi dulu Honey."


"Baiklah.. Ayo kita mandi bersama.."


Bry terlihat bersemangat sambil memegang tangan Vara dengan lembut. Tapi lagi-lagi perkataan Vara menghentikan langkahnya.


"Aku mandi duluan Honey, nanti baru kamu."


Wajah Bry berubah muram, bibirnya mengerucut karena tidak setuju dengan perkataan Vara.


"Tadi kan kamu bilang KITA. Berarti kita mandi bersama."


Bry kembali mengerucutkan mulutnya, yang dibalas senyum jahil Vara.


"Pokoknya kita mandi bersama Sayang.."


Bry seketika menggendong Vara ala bridal style menuju kamar mandi, tanpa menghiraukan Vara yang memukul-mukul bahu Bry minta diturunkan. Bry tetap bersemangat menggendong Vara, karena yakin Vara tidak akan menolak keinginannya, meskipun saat ini minta dia turunkan. Dan akhirnya pagi yang dingin kembali menjadi pagi yang panas bagi mereka berdua.


1 jam kemudian, Vara sudah menikmati segelas teh hangat dengan chocolate cake yang diinginkannya, sedangkan Bry memilih cheese cake dan segelas espresso.


Vara memakan chocolate cake-nya dengan sangat lahap, bahkan ini sudah potongan kue yang ketiga. Bry hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Bry senang, meskipun Vara sering kali mual dan memuntahkan makanannya, tapi nafsu makannya tidak bermasalah. Sehingga Bry bisa sedikit tenang dengan keadaan kedua bayi mereka yang ada di perut Vara, karena mereka tetap mendapat asupan makanan yang cukup.


Bry mengarahkan camera ponselnya seolah sedang berphoto sendiri, tapi sebenarnya dia mengambil photo dirinya bersama Vara yang sedang menikmati chocolate cake-nya dengan semangat, tanpa memperhatikan tingkah Bry. Bahkan Vara malah asyik melihat-lihat jenis kue lain yang menggugah seleranya.



Bry yang sejak tadi tidak berhenti tersenyum saat memperhatikan Vara, tiba-tiba merasa terkejut saat ada panggilan Video call dari Mommy Jhena. Bry langsung mengangkat panggilan itu dengan tetap mengarahkan camera ponselnya ke wajahnya dan Vara.


"Hai Mom.."

__ADS_1


"Wah kalian berdua sedang sarapan ya. Vara Sayang, Mommy sangat merindukanmu. Sudah berkali-kali Mommy video call ke Bry, tapi kamu selalu tidak ada. Nomor kamu juga tidak aktif."


Vara seketika merasa bersalah pada Mommy Jhena, dan Bry menyadari ekspresi bersalah di wajah istrinya itu.


"Maafkan Vara ya Mom. Handphone Vara rusak."


Vara terpaksa berbohong yang diangguki Bry seolah mengatakan hal yang dilakukan Vara sudah benar.


"Tidak apa-apa Sayang, yang penting kamu dan bayi kalian baik-baik saja."


"Kami baik-baik saja kok Mom.."


"Syukurlah.. Besok Mommy dan Daddy akan ke Indonesia. Halmeoni dan Harabeoji (Nenek dan Kakek) menitipkan banyak makanan dan hanbok (pakaian khas Korea) untuk kalian. Mereka mendoakan kelancaran untuk kehamilanmu Sayang."


"Terima kasih ya Mom. Vara doakan perjalanan besok lancar, hati-hati dijalan ya Mom. Tolong sampaikan juga terima kasih Vara kepada Halmeoni dan Harabeoji ya Mom."


"Iya Sayang.. Kalian baik-baik ya. Mommy mau packing dulu untuk besok."


"Ok Mom.. Bye."


Setelah saling melambaikan tangan, Bry mematikan panggilan video callnya lalu menyeruput espressonya.


"Sayang, hari ini kita kembali lagi ke mansion ya. Aku tidak mau Mommy dan Daddy, juga Papa dan Mama tahu kalau kita tidak bersama selama 1 bulan ini."


Ekspresi Bry terlihat khawatir karena takut Vara akan menolak langsung permintaannya.


"Iya Honey.."


Namun akhirnya Bry bisa tersenyum mendengar jawaban Vara, dikecupnya kening Vara tanpa mempedulikan tatapan dan suitan kecil pengunjung cafe kepadanya. Yang terpenting hatinya merasa sangat bahagia karena Vara bersedia kembali ke mansion bersamanya.


Bry berjanji dalam hatinya, tidak akan lagi membiarkan Vara meninggalkannya apapun yang terjadi. Karena hanya Vara yang bisa memberinya kebahagiaan dan membuat hidupnya terasa sangat sempurna.


*********************************


Image Source : Instagram (Edited)


 


 


 


Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.

__ADS_1


Biar Author tambah semangat nulisnya 😊


Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..


__ADS_2