
Vara sudah kembali ke mansion. Tentu saja kepulangan Vara memberikan kebahagian bagi seluruh penghuni mansion, karena akhirnya Tuan Muda mereka bisa kembali bahagia dan menemukan keceriaannya kembali. Terlebih saat mereka mengetahui Nyonya Muda mereka ternyata tidak kehilangan kedua bayinya. Mereka lebih antusias menyambut kehadiran 2 orang bayi yang akan membuat mansion semakin hangat dengan tangis dan tawa 2 bayi sekaligus.
Mommy Jhena, Daddy Dave, Mama Irena dan Papa Devan akhirnya bisa berkunjung ke mansion Bry dan Vara, setelah selama 1 bulan ini Bry menolak kunjungan mereka dengan alasan yang berbeda.
Saat ini mereka sedang menikmati makan malam keluarga yang hangat dan penuh canda tawa. Kebahagiaan terlihat jelas di wajah keempat orang tua yang menatap kedua anaknya yang sebentar lagi akan menjadi orangtua seperti mereka.
"Vara Sayang.. Jaga kandungan kamu baik-baik ya. Kan sekarang kamu sudah memiliki kesibukan, tapi jangan sampai melupakan kesehatanmu ya. Jangan lupakan juga kewajibanmu sebagai seorang istri."
"Iya Ma.. Vara akan menjaga kandungan dan kesehatan Vara sebaik mungkin. Vara juga lebih banyak bekerja dari rumah kok. Hanya sesekali ke kantor jika ada meeting penting."
Mama Irena tersenyum lega mendengar jawaban anaknya. Papa Devan pun memegang tangan istrinya dengan lembut.
"Tenang Sayang, Vara pasti bisa menjaga dirinya dengan baik, apalagi ada Bry. Vara selamat ya Sayang, akhirnya kamu serius dengan hobi dan bakatmu. Papa memang sudah yakin kamu akan berhasil."
"Papa.. Jadi benar semua apartemen Papa, Vara yang mendesign interiornya?"
Bry bertanya pada Papa Devan dengan ekspresi sangat penasaran, tapi Vara lebih dulu memberi jawaban.
"Tidak semua Honey, hanya sebagian."
Papa Devan tersenyum melihat anaknya yang terlihat merendah didepan suaminya.
"Sebagian besar iya Bry. Istrimu ini sebenarnya hebat, dia membantu Papa meskipun dari rumah. Karena dia belum mau bekerja di kantor Papa. Tapi sekarang dia malah bekerja di SEC Corporation."
"Hanya sementara Pa.. Aku tidak berniat berlama-lama disana. Aku akan mengembangkan perusahaan Papa nantinya."
"Wah.. Terima kasih Sayang. Tapi Bry, kamu tidak apa-apa jika Vara bekerja?"
"Semua terserah Vara, Pa. Apapun yang bisa membuatnya bahagia, aku akan selalu mendukung."
Vara memegang tangan Bry dengan lembut lalu menatap mata Bry sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak ya Honey."
"Tapi Mommy minta kamu tidak terlalu cape ya!"
Mommy Jhena ikut memberi nasehat pada Vara.
"Iya Mom.. Pasti."
Vara tersenyum manis kearah Mommy Jhena.
"Jaga Vara dengan baik Son, dan jangan lupa tempatkan pengawalmu untuk menjaga Vara."
__ADS_1
Kali ini giliran Daddy Dave yang mengingatkan Bry untuk menjaga Vara.
"Siap Dad.."
Setelah makan malam, mereka melanjutkan obrolan mereka di ruang keluarga. Mommy Jhena mulai mengeluarkan oleh-oleh dari Korea berupa kosmetik yang aman bagi ibu hamil, baju-baju untuk ibu hamil juga titipan dari Halmeoni dan Harabeoji berupa makanan khas Korea, obat-obatan herbal juga hanbok untuk Vara dan Bry.
Mama Irena juga tidak kalah dari Mommy Jhena, segera dikeluarkannya oleh-oleh makanan khas yang merupakan titipan Kakek dan Nenek Vara, penyangga perut untuk ibu hamil, vitamin untuk ibu hamil, sampai pencegah strech mark untuk perut Vara yang mulai membesar."
"Wah banyak sekali, terima kasih banyak Mommy, Mama, Daddy & Papa. Tolong sampaikan juga terima kasih untuk Halmeoni, Harabeoji, Kakek dan Nenek. Aku senang sekali."
Bry merangkul bahu Vara yang sudah mulai terharu.
"Jangan dulu membeli barang-barang untuk bayi kalian ya. Tunggu sampai 7 bulan."
"Iya Ma.."
Bry dan Vara menjawab pesan Mama Irena bersamaan, lalu mereka mulai membongkar oleh-oleh mereka dengan semangat.
***********************************
Vara dan menjalani hari-hari mereka dengan penuh kebahagiaan. Meskipun selama kehamilannya Vara sering kali mengalami morning sickness, tapi Vara tetap menjalani pekerjaannya dengan baik. Vara masih ke kantor meskipun tidak sesering sebelumnya, atau meninjau proyek dengan tetap dikawal oleh pengawal yang ditugaskan Bry.
Bry pun sibuk dengan bisnisnya yang semakin maju dan berkembang. Bry bisa membuktikan bahwa dia bisa berhasil tanpa bantuan Daddy-nya dan nama besar keluarga Harrison. Meskipun kelak dia akan tetap mewarisi sebagian aset keluarga Harrison, bersama dengan Kendrick adiknya.
Sesudah mandi dan berpakaian, Bry kembali masuk ke kamarnya. Namun Vara tidak ada. Bry kemudian masuk ke ruangan walk in closet yang terdapat didalam kamar ternyata memang Vara berada disana, tampak cantik dengan gaun pestanya.
"Sayang mau kemana?"
Bry menatap heran kearah Vara, dan Vara yang baru menyadari kehadiran suaminya tersenyum manis sambil melihat pantulan dirinya didepan cermin berukuran besar.
"Eh Honey.. Aku kira kamu akan pulang malam. Aku lupa harus menghadiri pesta pernikahan temanku. Aku hanya sebentar kok Sayang. Kamu pasti lelah jika harus mengantarku."
"Aku tidak lelah Sayang, dan tentu saja aku tidak akan keberatan mengantarmu ke pesta. Tapi Sayang, apa kamu akan memakai gaun itu Sayang? Apa tidak terlalu terbuka?"
Bry menampakan wajah khawatirnya karena melihat gaun Vara bermodel punggung terbuka dengan belahan dada rendah.
"Tenang Honey, aku akan memakai outer lagi kok, yang menutup bagian dada dan perutku yang mulai membuncit."
"Ok.. Aku kira kamu akan berpakaian seperti itu. Tentu aku tidak akan rela."
__ADS_1
Bry tersenyum manis kearah Vara yang dibalas dengan senyum dan gelengan kepala.
"Oh iya Sayang, besok kita ada sesi photo kehamilanmu ya. Kan sekarang usia kandunganmu sudah 16 weeks. Kita sama sekali belum pernah melakukan sesi photo sekalipun."
"Iya, baiklah Sayang.."
Bry menghampiri Vara dan memeluknya dengan erat. Vara menatap Bry dengan ekspresi heran, karena ada yang berbeda dengan pandangan Bry padanya.
"Sayang maafkan aku, tapi jangan salahkan aku jika penampilanmu membuat aku ingin melahapmu saat ini."
"Sayang aku harus pergi. Tunggu aku ya, nanti malam aku pasti akan mengikuti semua maumu."
"Tapi bagaimana ini, seseorang sudah tidak sabar Sayang."
"Hah? Siapa?"
Bry mengarahkan pandangannya kebawah, dan Vara mengikuti arah pandang Bry ke bagian bawah tubuh Bry yang sudah jauh berubah.
"Ah Honey.. Kenapa harus saat ini sih?"
Bry tidak peduli dengan keluhan Vara, dia langsung membawa Vara ke tempat tidur sambil mendengarkan omelan Vara.
"Honey, kalau aku tidak datang, temanku akan marah."
"Nanti aku akan kirimkan kado yang sangat mahal untuk temanmu."
Vara memutar kedua bola matanya dengan ekspresi malas, yang justru mengundang tawa Bry.
Setelah merebahkan Vara di tempat tidur, Bry segera melakukan aksinya tanpa menerima penolakan dari Vara yang juga menikmati setiap sentuhan Bry padanya. Bry tentu saja semakin bersemangat dan merasa bahagia.
'Terima kasih Sayang.. Aku semakin mencintaimu.' Suara hati Bry.
*****************************************
Image Source : Instagram (Edited)
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
__ADS_1
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..