
Selesai makan malam.. Mommy Jhena, Daddy Dave, Bry dan Vara menghabiskan waktu dengan membicarakan banyak hal di ruang keluarga. Mommy Jhena banyak bertanya tentang Vara, kesibukannya dan keluarganya. Mommy Jhena juga tanpa segan menceritakan banyak hal tentang Bry.
"Bry itu hanya terlihat dingin dari luar, tapi kalau bersama orang-orang terdekat dia berubah sedikit gila."
Daddy Dave dan Vara tidak bisa menahan tawa mereka, berbeda dengan Bry yang memasang wajah cemberut meskipun tidak bisa kesal kepada Mommy-nya itu.
"Mommy seharusnya mengatakan hal-hal baik tentangku di depan Vara. Bagaimana kalau dia berubah pikiran dan memilih pergi dariku karena perkataan Mommy?"
Bry mengeluh dengan nada cukup manja pada Mommy-nya, yang malah ditanggapi tawa Mommy Jhena, Daddy Dave dan Vara.
"Kamu lihat sendiri kan Vara, haha.. Bry ini manja saat bersama orang-orang terdekatnya, hahaha.." Mommy Jhena tidak bisa menahan tawa disela-sela perkataannya
"Tentu saja tidak Mom.. Aku hanya seperti ini di depan Mommy dan Vara."
Bry terpaksa menjawab komentar Mommy-nya meskipun harus menahan rasa malunya, yang seketika dibalas tawa lebih kencang dari ketiga orang terkasihnya.
Mommy Jhena menyandarkan kepalanya di dada Daddy Dave sambil menatap kearah Bry dan Vara.
"Adeul.. Apa kamu bahagia bersama Vara?"
Mommy Jhena yang memanggil Bry dengan panggilan khusus kepada anak laki-laki dalam bahasa Korea terasa begitu lembut namun juga terkesan serius.
__ADS_1
"Tentu saja Mom."
Bry menjawab pertanyaan Mommy Jhena dengan penuh keyakinan. Lalu ditatapnya mata Vara sambil menggenggam sebelah tangan Vara dengan sangat erat.
"Aku mencintai Vara Mom. Aku bahagia bersamanya. Dan sekarang aku tidak akan iri melihat kemesraan Mommy dan Daddy, karena aku pun bisa melakukannya."
Daddy Dave melempar bantal sofa ke arah Bry yang ditanggapi tawa Bry yang lepas.
"Tapi ingat jangan keterlaluan, jangan membuat malu nama baik keluarga."
Daddy Dave mengingatkan Bry dengan nada santai, tapi Bry tahu Daddy-nya sangat serius dengan perkataannya.
"Adeul apa kamu tidak pernah mengatakan pada Vara tentang keyakinanmu? Jangan-jangan kamu tidak pernah ikut beribadah bersama Vara?" Bry menggeleng pelan.
"Inilah yang selalu Mommy khawatirkan, kenapa kamu selalu harus diingatkan untuk beribadah." Mommy Jhena mulai mengomel namun hanya ditanggapi senyuman oleh Bry.
Vara seketika menoleh pada Bry yang mengulas senyum manisnya membalas tatapan penuh tanya dari Vara.
"Keyakinan kita sama Sayang." Bry memegang lembut tangan Vara dengan kedua tangannya.
"Pantas saja kamu selalu mengingatkanku saat masuk waktu shalat, tapi kenapa kamu tidak pernah ikut shalat bersamaku?"
__ADS_1
"Selama ini aku belum bisa jadi umat yang baik.. Tapi kedepannya aku akan belajar beribadah dengan baik agar bisa menjadi Imam yang baik untuk kamu."
Vara mengembangkan senyumnya mendengar perkataan Bry, terselip rasa lega di hati Vara. Karena Vara sempat khawatir lambat laun masalah keyakinan akan menjadi hambatan dalam hubungan mereka. Namun kali ini Vara bisa merasa tenang karena mereka bisa melangkah di jalan yang sama.
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..
__ADS_1