
Setelah merasa adegan penuh haru antara Bry dan Vara sudah selesai, Satya memutuskan untuk masuk dan sedikit berdehem agar Bry dan Vara menyadari kedatangannya di dalam ruangan yang sama dengan mereka berdua. Bry berdiri dari duduknya di sisi tempat tidur, bergerak mendekati Satya yang tampaknya tidak berniat untuk duduk dan berlama-lama di kamar itu. Vara yang masih menyisakan isakannya pun ikut berdiri dan berjalan menghampiri Satya. Tatapannya terpaku pada manik mata yang selalu berubah melembut saat memandangnya. Tiba-tiba tangis Vara pecah, membuat siapapun yang mendengarnya ikut merasa sesak.
"Sayang, kenapa menangis lagi?" Bry kembali merengkuh Vara ke dalam pelukannya, membuat Satya menghela nafas panjang untuk menenangkan hatinya yang kembali serasa dihujam pedang.
Vara sesungguhnya merasa malu saat mengingat kejadian semalam, Vara sudah bersikap sangat agresif dan liar terhadap Satya. Dan Vara pun sempat merasa marah karena menganggap Satya seolah mengambil kesempatan saat Vara dalam keadaan setengah sadar. Tapi setelah otaknya sudah bisa mencerna semua yang terjadi, Vara menyadari dialah yang bersalah karena bersikap liar terhadap Satya dan membuat Satya terbawa suasana. Sungguh tidak bisa Vara pungkiri, kalau bukan karena Satya, mungkin Brandon sudah berhasil mengambil mahkotanya saat itu.
Vara perlahan melepaskan diri dari pelukan Bry dan menatap wajah Satya yang menatap Vara dengan tatapan yang tidak terbaca.
"Terima kasih, kamu sudah menyelamatkanku."
Air mata masih mengalir di pipi Vara. Bry mengelus punggung Vara dengan lembut, berusaha menenangkan kekasihnya itu.
"Kalau bukan karena kamu, pasti aku sudah..." Vara menggantung perkataannya dan menangis lebih keras.
Satya bergerak maju dan merengkuh Vara dalam pelukannya. Tidak memperdulikan Bry yang sangat terkejut dengan pemandangan di depannya. Tapi Bry segera menyingkirkan egonya, menyadari Vara dan bahkan dirinya sangat berterima kasih pada Satya yang sudah menyelamatkan Vara dari kebejatan Brandon. Bry merasa tidak tepat jika dia menunjukan rasa cemburunya saat ini.
'Vara.. Aku Mencintaimu. Aku tidak ingin kamu terluka. Izinkan aku untuk terus menjaga dan melindungimu. Aku benar-benar mencintaimu Vara.' Batin Satya.
__ADS_1
Keheningan membentang di udara, Satya sama sekali tidak mengatakan satu kata pun, terlebih lagi tentang perasaan di hatinya. Begitu pun Vara yang hanya meluapkan perasaan dan beban di hatinya dalam tangis di dada Satya. Sedangkan Bry sekuat tenaga menahan perasaan cemburunya, tetap memaksakan bertahan disana meskipun perasaan dihatinya seakan meluap-luap ingin dilampiaskan.
Selang beberapa detik kemudian, Satya melepaskan pelukannya kemudian berlalu pergi untuk menata hatinya yang penuh luka tidak tergambar. Sedangkan Vara yang mulai berhenti mengalirkan air matanya, duduk di tepi tempat tidur sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Bry menghampiri Vara dan duduk disampingnya, tangan kirinya mengelus pundak Vara sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan Vara dengan lembut seakan menyalurkan kekuatan dan kasih sayang untuk menenangkan hati Vara yang suram.
"Bry, kamu sudah tahu kan, apa yang sudah dilakukan Brandon padaku?" Vara menatap dalam ke manik mata Bry.
"Iya." Bry menjawab dengan nada yang lemah.
"Kenapa dia setega itu Bry?" Mata Vara sudah kembali berkaca-kaca.
"Mungkin selama hidupku, aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian itu." Tatapan Vara berubah kosong dengan ekspresi muram.
"Sayang, sesuatu yang buruk memang akan sulit dilupakan. Tapi aku akan menghapus semua ingatan buruk itu dengan banyak kenangan indah. Izinkan aku melakukannya."
Bry menggenggam tangan Vara dengan kedua tangannya berusaha meyakinkan Vara dengan semua harapannya. Seolah berusaha meyakini, Vara tersenyum tipis diikuti dengan anggukan lemah. Bry mengurai senyum meskipun merasa tidak cukup puas dengan tanggapan Vara.
__ADS_1
"Sayang, makan dulu sarapannya. Hmm.. Tapi sepertinya sudah dingin." Bry mengangkat Bubur ayam special itu, namun urung memberikannya pada Vara.
“Tidak apa-apa, aku makan ini saja."
Vara mengambil mangkuk bubur di tangan Bry, lalu menyuapkan bubur ayam special yang sudah dingin dan mulai mengental itu ke dalam mulutnya, namun rasanya yang sangat enak membuat perut Vara yang sudah cukup lama tidak terisi makanan seolah meminta diisi terus menerus.
Bry yang melihatnya, hanya tersenyum dengan perasaan lega. Masih teringat jelas beberapa jam yang lalu, saat dia hampir kehilangan gadis yang sangat dicintainya itu. Tapi sekarang perasaannya terasa hangat melihat Vara yang terlihat lebih tenang.
Jangan lupa Like, Comment, Vote & jadikan favorit ya.
__ADS_1
Biar Author tambah semangat nulisnya 😊
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..