
Mobil Daniel sudah sampai di resort, terlihat juga mobil Bry sudah terparkir cantik di area parkir. Brandon bergegas menggendong Sharon menuju kamarnya ditemani Reyvan dan Daniel. Sesampainya di kamar, Brandon menghubungi Danila dan meminta bantuannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Vara, untuk mengganti gaun Sharon dengan baju yang lebih santai.
Sementara Danila mengganti baju Vara, Brandon bersama Daniel dan Reyvan menunggu diluar kamar. Brandon masih terlihat sangat panik dan khawatir dengan keadaan Sharon, karena Sharon masih belum bangun dari tidur lelapnya.
"Brandon, tenanglah.. Sharon akan baik-baik saja, kami sudah mengurus Park Hyeon Joong dan anak buahnya. Yang harus kamu lakukan adalah selalu menemaninya dan tidak membiarkannya sendirian."
"Daniel benar, Brandon.. Tetaplah disampingnya, jangan biarkan dia melalui ini sendirian."
"Iya Kak Rey, Daniel.. Aku tidak akan pernah meninggalkannya."
Danila keluar dari dalam kamar Brandon. Danila sudah mendengar kejadiannya dari Daniel saat menuju kamar Brandon, jadi Danila tidak berniat membuat Brandon semakin kalut dengan pertanyaan-pertanyaan saat melihat keadaan Sharon yang terlihat mengenaskan.
"Aku sudah mengganti baju dan membersihkan tubuhnya. Jaga di baik-baik Brandon."
Danila menepuk pelan bahu Brandon, lalu beranjak pergi diikuti Daniel dan Reyvan yang sebelumnya sudah memberikan nasihat yang sama, untuk selalu menjaga Sharon dengan baik.
Bry belum memperbolehkan Vara menjenguk Sharon, dengan alasan Sharon perlu beristirahat. Bry hanya mengatakan kepada Vara, kalau Sharon baik-baik saja dan sedang dirawat dengan baik oleh Brandon. Vara berusaha mengerti, karena menyadari Brandon adalah calon suaminya, tentunya dia berhak merawat Sharon.
Mama Irena, Papa Devan, Mommy Jhena dan Daddy Dave juga sengaja tidak diberitahu untuk mencegah kekhawatiran dan kepanikan. Sedangkan Kevin, Samuel dan Vanny terpaksa harus menahan keinginan mereka menjenguk Sharon, meskipun mereka mengetahui kejadian yang sebenarnya. Karena menurut mereka, yang diperlukan Sharon adalah beristirahat, dan cukup Brandon yang berada disamping Sharon saat ini.
Brandon merebahkan dirinya disebelah Sharon yang masih tertidur pulas. Diciumnya kening Sharon dengan sangat lembut. Digenggamnya tangan Sharon, berusaha menyalurkan kehangatan dan perasaan yang ada dihatinya.
"Bangunlah Sayang.. Jangan pernah pergi lagi dariku. Aku benar mencintaimu.."
******************************
FLASHBACK ON
Brandon dan Sharon berbaring diatas tempat tidur Brandon dengan sedikit canggung. Perlahan Brandon mengubah posisinya menjadi menyamping agar bisa melihat wajah Sharon dengan leluasa. Sesaat kemudian Sharon melakukan hal sama seperti Brandon, dan mulai memandang wajah laki-laki yang dicintainya itu.
"Terima kasih Sharon, karena kamu mau menemaniku malam ini. Saat ini aku benar-benar membutuhkanmu. Hmm.. Aku tahu saat ini ada yang mengganggu perasaanmu, apa tidak ada yang ingin kamu tanyakan?"
"Tidak.. Aku hanya akan menunggu kamu menceritakan semuanya."
"Aku akan menceritakan semuanya, sebelum aku memulai semuanya dengan kamu."
"Maksud kamu?"
"Aku ingin menceritakan segalanya dan mengakui semua kebohonganku sebelum kita menikah."
Sharon cukup terkejut dengan pengakuan Brandon mengenai niatnya menikah. Padahal beberapa saat yang lalu, Sharon sudah melupakan niatnya untuk menikah dengan Brandon, setelah menyadari perasaan Brandon ternyata bukan untuknya.
"Apa kamu yakin untuk menikah denganku disaat perasaanmu bahkan bukan untukku?"
Brandon tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya saat mendengar perkataan Sharon.
"Ka.. Kamu tahu?"
"Aku tahu kamu mencintai Vara."
"Maafkan aku.. Aku akan mengakui semua kebohonganku padamu."
Brandon menarik nafasnya pelan mengumpulkan keberanian untuk mengakui semua kesalahannya terhadap gadis dihadapannya itu.
__ADS_1
"Sebenarnya, alasanku mendekatimu adalah agar aku bisa masuk kedalam keluarga Vara dan bisa bertemu dengannya sesering mungkin. Aku sengaja melakukan pendekatan yang intens agar kamu bisa segera jatuh cinta padaku. Aku menyelidiki semua hal tentangmu, dan melakukan semua hal yang kamu sukai agar aku bisa mendapatkanmu secepat mungkin. Tapi seiring berjalannya waktu, kebersamaan kita justru membuatku bahagia. Aku selalu ingin bertemu denganmu, bukan karena Vara, tapi ada sesuatu yang berubah didalam hatiku. Awalnya aku mengelak, dan menganggap kalau perasaan ini hanya karena sudah terbiasa bertemu kamu setiap hari. Tapi ternyata aku salah, aku akui kalau saat ini aku sudah jatuh cinta padamu."
Pengakuan Brandon membuat perasaan Sharon menghangat, rasa bahagia begitu merajai hatinya saat ini. Ketulusan perkataan Brandon begitu dalam menyelusup kedalam hati Sharon.
Sharon memang sudah menyukai dan mencintai Brandon sejak Brandon selalu memberikan perhatiannya pada Sharon. Meskipun saat ini Sharon menyadari bahwa sikap Brandon diawali dengan kebohongan, tapi Sharon tahu apa yang dilakukan Brandon beberapa hari terakhir ini bukanlah kepalsuan. Hanya saja Brandon terlambat menyadari perasaannya.
"Aku pernah melakukan kesalahan yang fatal terhadap Vara lebih dari 1 tahun yang lalu. Aku.. Aku pernah menjebak Vara dengan memasukan obat perangsang kedalam minumannya dan hampir memperkosanya."
Seketika raut wajah Sharon berubah marah, Sharon mengubah posisinya menjadi duduk bersila diatas tempat tidur, yang langsung diikuti Brandon.
"Brandon, kamu tega sekali melakukan hal seburuk itu terhadap Vara. Aku benar-benar tidak menyangka. Kamu benar-benar br*ngsek."
Sharon meluapkan kemarahannya membuat Brandon tergugu dan seketika ekspresinya berubah sendu.
"Aku sadar aku memang br*ngsek. Aku sudah meminta maaf pada Vara dan mengakui kesalahanku. Dan aku bersyukur, Vara masih mau memaafkanku."
"Benarkah Vara sudah memaafkanmu?"
"Iya, aku tidak berbohong. Mungkin saat itu aku terlalu mencintainya, sehingga membuatku gelap mata karena begitu menginginkannya."
"Jika saat itu kamu memang mencintai Vara, seharusnya kamu tidak melakukan hal itu. Karena hal itu jelas menyakitinya."
Sharon menekankan perkataannya yang langsung menusuk hati Brandon begitu dalam.
"Iya, kamu benar Sharon. Aku benar-benar gila saat itu."
Brandon menundukan kepalanya menghindari tatapan Sharon yang sangat tajam seolah penuh kebencian.
"Maafkan aku Sharon.. Aku sudah mengecewakanmu."
"Terima kasih Sharon."
Brandon memegang tangan Sharon, yang dibalas dengan senyuman dan anggukan Sharon.
"Sejak kapan kamu mulai menyukai Vara?"
"Sejak aku SMP kelas 3. Saat itu aku sedang liburan sekolah dan ikut ke Indonesia bersama kedua orangtuaku. Saat itu aku tidak sengaja bertemu dengan Vara dan juga temannya di Mall. Aku tidak sengaja menabrak danย menumpahkan minuman oranglain di foodcourt Mall. Orang itu marah dan aku meminta maaf dalam bahasa Korea. Orang itu semakin marah karena tidak mengerti dengan apa yang aku katakan. Aku meminta maaf dalam bahasa Inggris, tapi orang itu tetap marah. Tiba-tiba teman Vara datang dan membantuku menjelaskan pada orang itu bahwa aku minta maaf padanya. Barulah orang itu mau memaafkanku. Teman Vara bahkan menanyakan namaku dengan menggunakan bahasa Korea. Sejujurnya aku menyukainya pada pandangan pertama. Terlebih rambut keritingnya begitu menggemaskan. Tapi itu adalah pertemuan pertama dan terakhirku dengannya. Saat SMA, aku meneruskan sekolahku di Indonesia. Ternyata aku bersekolah di SMA yang sama dengan Vara. Aku sempat berharap bertemu lagi dengan teman Vara itu, tapi tidak pernah terjadi. Aku malah mulai menyukai Vara."
'Kenapa ceritanya begitu familiar? Aku pernah mengalami hal sama dengannya. Aku pernah menolong seorang anak Korea saat berlibur di kota B. Apa anak itu adalah Brandon? Seingatku namanya adalah Wang Byun Dan. Dan apakah gadis berambut keriting itu adalah aku? Rambut asliku lurus, namun saat itu aku memang mengeriting rambutku karena ingin mengikuti idolaku. Aku masih mempunyai photoku bersama Vara saat berlibur waktu itu.' Batin Sharon.
"Sharon, apa kamu percaya dengan perasaanku padamu?"
"Hmm.. Sebelumnya aku ingin bertanya padamu, kenapa tadi kamu menyanyikan lagu dengan terus menatap Vara? Apa memang hatimu hanya menginginkan dia?"
"Aku hanya sedang menguji hatiku apakah benar yang aku inginkan adalah Vara. Saat aku menatapnya, aku memang merasakan cinta, tapi tidak sekuat dulu. Tapi saat menatapmu, aku merasakan debaran yang aneh, perasaanku menghangat, bahkan senyummu mampu membuat hari-hariku indah. Aku akui, perasaanku pada Vara masih ada, tapi aku mohon bantu aku melupakan Vara. Karena kini, aku mencintaimu."
Seketika air mata Sharon menetes di pipinya. Brandon menghapus air mata Sharon dengan ibu jarinya.
"Sharon Makaio Anarghya.. Maukah kamu menikah denganku?"
Tangis Sharon mengalir semakin deras, isakan mulai terdengar dari mulutnya. Sharon ingin mengatakan "IYA" tapi mulutnya seperti kelu.
"Sayang.. Tolong katakan iya. Aku ingin sebuah jawaban."
__ADS_1
Sharon tidak mampu menjawab, hanya anggukan mantap yang mewakili jawabannya.
"Kamu mau menikah denganku?"
Lagi-lagi Sharon mengangguk memberi jawaban atas pertanyaan Brandon yang begitu antusias.
Brandon seketika memeluk erat tubuh Sharon, kemudian ditatapnya wajah yang begitu cantik dihadapannya. Tiba-tiba Brandon mendaratkan bibirnya di bibir Sharon, sedangkan Sharon hanya diam mematung karena terkejut dengan apa yang dilakukan Brandon.
Brandon melepas pertautan bibir mereka lalu mengulas senyum tipisnya. Brandon mengelus lembut pipi Sharon, dan kembali menautkan bibirnya di bibir Sharon dengan sangat lembut. Kali ini Sharon mulai membalas ciuman Brandon, meskipun sedikit kaku.
Setelah Sharon kehabisan nafas setelah saling mel*mat dan memainkan lidah, Brandon memeluk tubuh Sharon dengan sangat lembut. Namun tiba-tiba Sharon mendorong pelan tubuh Brandon, membuat Brandon mengerutkan keningnya penuh tanya.
"Ada apa Sharon?"
"Apa yang akan kamu lakukan seandainya teman Vara yang kamu sukai itu muncul?"
"Hmm, sepertinya tidak ada yang akan aku lakukan. Mungkin hanya menanyakan kabar. Dia sudah tidak penting lagi, karena aku sudah memiliki kamu."
Brandon kembali memeluk tubuh Sharon, tapi lagi-lagi Sharon mendorong tubuh Brandon.
"Apa kamu yakin?"
Brandon mengangguk mantap kemudian mencubit pelan kedua pipi Sharon karena gemas.
"Aku sangat yakin Sayang."
Sharon tersipu mendengar panggilan "Sayang" yang diucapkan Brandon. Sesaat kemudian Sharon mengeluarkan ponsel dari saku celananya, mencari-cari sebuah photo yang ingin diperlihatkannya kepada Brandon.
"Apakah anak ini yang kamu sukai itu?"
Brandon membelalakan matanya, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Iyaaa.. Kenapa kamu bisa memiliki photo anak itu?"
"Hmm.. Tebak sendiri."
Sharon mengerlingkan matanya dengan ekspresi jahil kearah Brandon. Brandon memperhatikan lebih teliti photo dihadapannya, dan langsung menutup mulutnya dengan kepalan tangan saat menyadari apa yang selama ini tidak diketahuinya.
"Apa anak ini adalah kamu Sharon?"
Sharon mengembangkan senyum manisnya dan mengangguk dengan sangat mantap. Brandon seketika memeluk tubuh Sharon dengan sangat erat, seolah tidak ingin lagi melepasnya.
"Ternyata perasaan cintaku memang hanya milikmu. Sejak awal memang hanya untukmu."
******************************
Terima kasih banyak sudah mampir di novel ini. Semoga selalu sehat, bahagia, sukses dan banyak rezeki ya.. ๐
#staysafe #stayhealthy
Jangan lupa Like, Comment, Vote, rate bintang 5 & jadikan favorit ya.
Biar Author tambah semangat nulisnya ๐
__ADS_1
Terima Kasih banyak atas dukungannya ya..